
Di sebuah Club
Clara merasa kesal dengan Reihan karena sudah berulang kali Clara menelpon Reihan selalu saja diabaikan. Clara juga sempat mencari keberadaan orangtua Reihan berharap Widia mamah Reihan mau membantunya kembali mendapatkan Reihan. dia menyuruh orang suruhannya untuk mencari tahu keberadaan orangtua Reihan. dan dia merasa kecewa karena setelah berhasil bertemu dengan Widia ternyata wanita paruh baya itu menolak untuk membantunya bahkan dengan tegas ia meminta Clara untuk menjauhi putranya Reihan dan keluarganya.
Clara merasa prustasi dan akhirnya memutuskan untuk bersenang -senang di sebuah club dan saat tengah asik berjoget dia menubruk seorang wanita cantik yang tidak asing baginya.
" Maaf.. aku tidak sengaja!" Ucap Clara sambil memperhatikan wajah wanita yang tengah tersenyum yang ada dihadapannya.
" Emmm...apa aku mengenalmu, sepertinya wajahmu terlihat tidak asing?" Tanya Clara memastikan.
" Apa kau tidak mengenaliku Ra?" ejek wanita itu.
" Kau tau namaku?"
" Siapa yang tidak mengenalmu Clara?"
" Ahhh.... kau ini siapa, bikin bingung saja?" Clara berjalan kembali ke mejanya dan meraih minumannya. saat ingin meneguk muniman yang sudah berada ditangannya tiba-tiba gelasnya dirampas.
" Sudah jangan minum lagi!"
" Siapa kau berani melarangku?"
" Ha...ha... rupanya kau benar - benar tidak mengenaliku Ra?"
" Sudah jangan bertele-tele, kau ini sebenarnya siapa ?"
" Aku Amira Ra, apa kau sudah lupa padaku?" Ya wanita itu adalah Amira sahabat Clara waktu di paris, mereka bertemu saat Clara sedang melakukan pemotretan disana dan kebetulan Amira perusahaan Ananta Grup yang menjadi sponsornya.
" Amira? benarkah ini kau?" Clara merasa tidak percaya bisa bertemu kembali dengan Amira.Clara langsung memeluknya. " Aku dengar bukannya kau ada di Amerika ?" Tanya Clara saat sudah meleraikan pelukannya.
" Aku sudah kembali 6 bulan yang lalu"
" Seorang Amira pulang tiba-tiba tidak mungkin jika tidak ada apa-apanya, iyakan?" Terka Clara.
" Aisss.... kau memang sahabatku Ra, kau tau betul tentangku!" Senyum terukir diwajah cantik Amira.
" Ceritakan padaku apa yang membuatmu kembali?" Clara menunggu dengan sabar cerita dari Amira.
__ADS_1
" Tidak sabaran sekali, lain kali saja aku ceritanya. dan bagaimana kabarmu? apa kau sudah mendapatkan kembali cinta kekasihmu dulu?" Clara sewaktu di paris memang sempat menceritakan tetang kisah cintanya kepada Amira dan begitu juga sebaliknya Amira pun tidak segan menceritakan kisah hidupnya pada Clara.
Clara mendesah pelan matanya kembali berkaca-kaca mengingat sikap Reihan yang semakin sulit untuk ditahlukan.
" Sepertinya aku memilih menyerah!" Amira mengerutkan dahi mendengar ucapan Clara yang terdengar putus asa.
" Kenapa? bukannya kau sangat mencintainya?"
" Aku memang masih mencintainya tapi dia sudah berubah dia sudah tidak mencintaiku lagi!" lirih Clara.
" Apa kau benar-benar akan menyerah begitu saja? dimana Clara yang ku kenal dulu?" Tanya Amira dengan seringai senyuman mengejek.
" Entahlah!" Clara meraih gelas yang tadi sempat dirampas oleh Amira dan langsung meneguknya sampai tidak tersisa.
" Sudah Ra jangan minum lagi!" Amira mencegah Clara yang hendak menungkan minuman ke gelasnya.
"Sebaiknya kau pulang sekarang, biar aku antar!" Amira merangkul bahu Clara dan memapahnya untuk berjalan keluar dari club tersebut menuju mobilnya.
Sesampainya di mobil Amira langsung menyuruh Clara untuk masuk. " Aku bawa mobil Mir".
" Mobilmu biar anak buahku yang membawanya, sini kunci mobilmu!"
Amira mengangkar tangan ke udara dan mengibaskannya dan tidak butuh waktu lama seorang pria dengan stelan jas hitam datang menghampirinya. Amira memberikan kunci mobil Clara padanya setelah itu mobil Amira melesat meninggalkan Club malam tersebut.
🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒🍒
Di kediaman Sekar.
" Ma... !" Panggil Cahaya pada saat mereka berada di meja makan menikmati makan malamnya.
" Ada apa sayang?" Sekar meletakkan sendok dipiringnya pandangannya sudah mengarah ke Cahaya.
" Emmmm... sebenarnya ada yang mau Cahaya dan mas Reihan bicarakan sama mama?" dengan ragu-ragu Cahaya akhirnya memberanikan diri untuk bicara sebelumnya ia menoleh ke Reihan.
" Memang apa yang ingin kalian bicarakan, ya sudah bicara saja kenapa terlihat kaku seperti itu sih?" Sekar jadi penasaran dengan sikap Reihan dan Cahaya yang terlihat sedikit gelisah.
" Mah!" Kali ini suara Reihan yang memanggil.
__ADS_1
" Ada apa? bicara saja!" Sekar semakin dibuat penasaran. " kalian mau bicara atau masih mau diam seperti ini terus?"
" Emm... kami mau izin sama mamah, jika mamah mengizinkan kami ingin pindah ke rumah kami sendiri mah tapi..... itu jika mamah mengizinkan!" Ucap Reihan dengan sangat hati-hati karena takut Sekar akan tersinggung dengan ucapannya.
" Pindah rumah?" Sekar mengerutkan dahi.
" jadi kalian tidak betah tinggal dirumah ini dengan mamah?" wajahnya yang sudah ada kerutan namun masih terlihat cantik nampak begitu sedih.
" Bu.... bukan begitu mah. maksud kami berencana untuk pindah karena kami sudah membeli sebuah rumah dan sayang jika tidak kami tempati mah!" Suara Cahaya yang terdengar sudah sedikit bergetar karena menahan tangis.
" Baiklah terserah kalian saja!" Sekar bangkit dari duduknya tidak menyelesaikan makan malamnya dan langsung pergi meninggalkan Cahaya dan Reihan di meja makan. Sekar berjalan menuju kamarnya dan saat melewati ruang tamu utama langkahnya terhenti dengan suara yang datang dari arah luar.
" Assalamualaikum!" ucap Reno dan Intan bersamaan.
" Wa'alaikum salam!" Sahut Sekar
Reno dan Intan menghampiri Sekar mencium punggung tangannya.
" Kalian baru pulang?" Tanya Sekar mengelus rambut Intan lembut. " Bagaimana keadaan kandunganmu?" Senyum tipis terukir diwajahnya.
" Iya mah kami baru pulang" jawab Reno lalu menoleh ke arah dapur dimana Reihan dan Cahaya tengah menyantap makan malam.
" Kandunganku Alhamdulillah baik-baik saja mah" Intan tersenyum hatinya ada desiran rasa bahagia karena mendapat perhatian dari sang mertua.
" Syukurlah kalau begitu, apa kalian sudah makan? kalau belum sebaiknya kalian makan dulu sana!"
" Aku masih kenyang mah, tadi sebelum pulang mampir dulu ke kedai bakso!" jawab Intan dengan menyengir.
" Tapi aku lapar" Celetuk Reno.
" Ya sudah sebaiknya kamu makan dulu sana !" Sekar mendorong pelan bahu Reno.
" Iya mah!" Reno cengir kuda " Apa kamu mau makan dulu sayang, tadi itu kan kamu cuma makan bakso aja" Reno menyenggol bahu Intan.
" Gak deh mas, aku masih kenyang. mas aja yang makan ya aku mau langsung mandi ja terus tidur. aku rasanya capek banget!"
" Ya sudah kalau gitu mamah mau kekamar dulu, kau istirahat saja Intan kalau merasa lapar suruh bi Susan saja untuk mengantarkanmu makanan ke kamar!" Sekar menepuk bahu Intan lembut lalu perg ke kamarnya.
__ADS_1
Setelah Sekar pergi Intan pun pergi ke kamarnya dan Reno pergi ke dapur menju meja makan.