RAHASIA DALAM PERNIKAHAN

RAHASIA DALAM PERNIKAHAN
Berusaha Kuat


__ADS_3

" Kamu yang keterlaluan mas !" teriak Cahaya.


" Sudah cukup !" bentak Widia yang seketika muncul menghampiri mereka. Cahaya langsung diam membisu.


" Gadis tak tau diri kau seharusnya bersyukur karena putraku masih mau menikahimu. jika di bandingkan dengan Clara kau sungguh tidak ada apa-apanya. jadi sudah sepantasnya kau sadar siapa dirimu, dasar gadis kampung !" bentak Widia lalu mendekati Cahaya dengan senyum menyeringai berjalan memutarinya dengan tatapan mata memperhatikan Cahaya dari ujung kaki sampai ujung rambut.


" Tutup mulutmu , tidak sepantasnya kau mengatakan hal itu pada Cahaya, sungguh keterlaluan kamu!" Geram Bramantyo dengan melayangkan satu tangannya ke udara.


" Jangan pah!" Cahaya menghentikan tangan Bramantyo yang hampir saja mendarat dipipi Widia. " Jangan lakukan itu pah pada mamah, aku tau mamah tidak menyukai ku tapi bagaimanapun mamah adalah isteri papah yang tidak boleh papah sakiti apalagi hanya karena orang seperti aku.!" Cahaya memaksakan senyum dibibirnya.


" Pah terima kasih karena papah sudah baik padaku tapi aku mohon pah apapun yang terjadi jangan pernah papah menyakiti mamah wanita yang sangat papah cintai.!" ucap Cahaya yang masih memegang lengan Bramantyo.


" Tapi nak..!" Bramantyo menatap manik mata Cahaya lekat.


" Pah, aku tidak apa-apa, mungkin memang benar aku yang salah karena sudah pergi dari rumah tanpa pamit dengan suamiku terlebih dahulu."! Cahaya berusaha kuat dan berani menghadapi resiko yang akan terjadi. dalam benaknya ia terus teringat dengan kata-kata yang diucapkan oleh pria yang telah menolongnya.

__ADS_1


" Pah, Sebaiknya papah sekarang istirahat , aku akan membantu mbok ijah menyiapkan makan malam setelah itu kita makan malam bersama, bagaimana pah? " ucap Cahaya dengan sebuah senyuman yang menghiasi wajahnya." Papah janji jangan marah-marah lagi ya, ingat jaga kesehatan papah!"


" Baiklah nak, terima kasih sayang kamu memang gadis yang baik. hatimu sangat mulia sayang!" puji Bramantyo sambil mengusap pucuk kepala Cahaya.


" Pah janan memujiku seperti itu, aku bisa besar kepala lanti!" Bramantyo tersenyum mendengar ucapan Cahaya.


" Aku pergi kedapur dulu pah membantu mbok ijah menyiapkan makan malam!"


Bramantyo menganggukan kepalanya dan Cahaya telah pergi berjalan ke arah dapur.


Bramantyo pergi kekamarnya dengan perasaan sedikit lega sementara widia berjalan mengekorinya dibelakang dengan raut wajah yang ditekuk.


Sementara Reihan pergi kekamarnya dengan raut wajah kesal ia masih ingat dengan tamparan yang Cahaya layangkan ke pipinya.


" Awas saja kau Cahaya, berani-beraninya kau menampar wajahku, lihat saja nanti kau akan menerima balasanku !" Gumam Reihan.dengan raut emosi.

__ADS_1


Didapur Cahaya sedang membantu pekerjaan mbok ijah memasak hidangan makan malam.


" Non !" panggil mbok ijah memecah kesunyian.


" iya mbok ada apa?" sahut Cahaya sambil mengiris bawang.


" Non Cahaya sebenarnya tadi pergi kemana,? melihat non berlari sambil menangis seperto itu membuat si mbok merasa khawatir non.


Non Cahaya tidak apa-apakan?"


" Tidak mbok, tidak apa-apa tadi aku hanya kelilipan saja kok. aku tidak menangis kok mbok.


" tadi mbok liat non menangis"


" mbok udah ya jangan dibahas lagi, lebih baik kita segera menyiapkan makan malam" Cahaya mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Tolong b**antu Vote, Like dan Komennya Ya!😊**


__ADS_2