
Reno tersenyum tipis menoleh sekilas kearah Intan yang sedang sibuk dengan ponselnya.
" Ehemmm...!" Reno berdehem dan Intan tak bergeming. " Ehemm...!" Reno berdehem lagi dan Intan masih tak bergeming.
" Ehemmmm!" Reno meninggikan suara dehemannya dan kali ini berhasil membuat Intan menoleh sekilas mengambil botol minum yang ada di sampingnya. Intan membuka tutup botol dan memberikan botol minuman tersebut kepada Reno.
Reno menghela napas panjang dan mengambil botol minum tersebut dengan lesu dan meminumnya hingga setengahnya padahal dia sama sekali tidak haus. Reno merasa tiba-tiba panas setelah melihat Intan kembali lagi sibuk dengan ponselnya setelah memberikannya botol minum.
Reno menepikan mobilnya dan diam tak bergeming. Intan yang menyadari mobilnya behenti langsung menoleh dan menatap Reno heran karena Reno diam saja dengan pandangan lurus kedepan tanpa ekspresi.
" Ada apa mas kok berhenti?" tanya Intan bingung dan menepuk pelan lengan Reno.
" Tidak apa-apa!" jawab Reno dingin dan kembali menyalakan mesin mobilnya.
" Mas marah sama aku?" Intan bertanya ragu-ragu.
" Tidak, untuk apa aku marah!" Reno berbohong padahal dalam hati ia merasa kesal karena diacuhkan oleh Intan.
" Benarkah? kalau tidak marah kenapa mas bersikap dingin tidak seperti tadi!" Intan mencoba mencari tahu.
" Sikapku memang seperti ini kalau kau tidak suka tidak apa-apa. lagi pula sikapku seperti apapun itu sama saja bukan untukmu. apa pedulimu denganku kau sibukkan saja dirimu dengan teman diponselmu itu. tidak usah pedulikan bagaimana sikapku!" sahut Reno dengan ketus dan tanpa menoleh.
" Emmmm..... jadi pacar ahhh... tidak tunangan... bukan-bukan calon suami, ahhh... aku terlalu kepedean. Eemm.... apa dong ya atasanku saja deh... ternyata pak bos lagi marah karena aku asik dengan ponselku sedari tadi? aku tahu mas Reno berdehem 3x agar aku menolehkan. aku sengaja tadi diam dan memberikan mas Reno minum agar tidak sakit tenggorokannya karena terus berdehem. aku tadi sedang berkirim pesan dengan Citra adiknya bayu dia memberitahuku kalau bibi kembali dirawat di rumah sakit.!" Panjang lebar Intan menjelaskan dan Reno merasa malu dengan sikapnya yang bodoh marah tanpa alasan yang jelas.
" Maafkan aku!" Tutur Reno
" Iya mas gak apa-apa, mungkin besok aku akan pergi ke kota xxx untuk menjenguk bibiku dan meminta Bayu untuk pulang" Intan menyenderkan tubuhnya lesu dengan raut wajah sedih.
" Besok kita akan pergi sama-sama menjenguk bibimu dan aku akan menyuruh Bayu hari ini untuk segera pulang menemui ibunya!" Ucap Reno membuat Intan menggeser duduknya menjadi tegap dan menatap lekat Reno yang tersenyum tipis.
Reno mematikan mesin mobilnya kembali dan mengambil ponselnya dari saku celananya dan langsung menghubungi Bima meminta Bima untuk menghendle semua pekerjaan Bayu dan mengurus cuti Bayu untuk beberapa hari kedepan.
Setelah menghubungi Bima Reno menelpon Bayu.
" Assalamu'alaikum pak!" Sapa Bima dari ujung telpon.
" Wa'alaikum salam!" sahut Reno.
" Maaf Pak ada apa bapak menelpon saya dihari libur serperti ini?" tanya Bayu yang nampak bingung diujung telpon karena tidak biasanya Reno menelponnya.
" Pulanglah temui ibumu yang sedang dirawat dirumah sakit hari ini juga. ibumu pasti merindukanmu dan berharap kau ada disisinya!" titah Reno.
" Da... dari mana pak Reno tau ibu saya sedang sakit? dan saya juga belum bisa pulang hari ini pak, karena masih banyak tugas kantor yang belum saya selesaikan pak!" Jawab Bayu merasa bingung.
" Kau tidak perlu tau aku tau dari mana yang jelas Kau pulang saja hari ini dan masalah pekerjaan kantor kau tenang saja semua sudah di urus!" Terang Reno.
__ADS_1
" Baiklah pak kalau begitu. Terima kasih banyak pak Reno. Saya akan segera berkemas-kemas!"
"Iya!"
" Assalamualaikum!"
" Wa'alaikum salam!" Sambungan telpon terputus dan Reno memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.
Intan diam mematung melihat Reno yang ternyata begitu peduli dengan orang lain.
" Mas Reno menyuruh Bayu pulang hari ini? lalu bagaimana pekerjaannya dikantor?" tanya Intan
" Aku akan meminta Reihan untuk membantuku dan kalau perlu aku akan meminta dia mengisi kembali kursi CEO di PT SCR Grup!" Singkat Reno.
__________
Di rumah orang tua Reihan
Mobil yang ditumpangi Reihan, Cahaya dan Sekar tiba didepan rumah yang tidak terlalu besar itu. Reihan turun lebih dulu dan disusul dengan Cahaya dan Sekar yang masih menggendong Baby Raka.
Cahaya mengambil alih Raka dari gendongan Sekar. Reihan merangkul pinggang Cahaya dan mereka berjalan beriringan. Cahaya berhenti sesaat ketika berada di depan pintu ia merasa gugup dan cemas. Sekar dari belakang menepuk bahu Cahaya dan meyakinkannya kalau semua akan baik-baik saja. Reihan mengetuk pintu lalu mengucapkan salam dan dari dalam rumah terdengar seseorang menjawab salamnya.
Pintu terbuka dan seseorang yang berdiri diambang pintu membulatkan matanya melihat kehadiran Reihan dan Cahaya.
" Reihan... kamu dan Cahaya?" Tanya Pria paruh baya dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan hampir terjatuh Reihan menopang tubuh papahnya yang memang tidak bisa berdiri terlalu lama karena baru sembuh setelah menjalani terapi.
" Apa kabarmu Cahaya?" tanya Bram menatap lekat Cahaya.
" Aku baik-baik saja pah!" Jawab Cahaya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
" Sini nak dekat papah!" Bram menepuk sofa kosong disampingnya. Cahaya menoleh ke Sekar dan dijawab anggukan oleh Sekar. Cahaya berdiri dan duduk disebelah Bram.
" Papah!" Cahaya menyalami tangan Bram dan menangis. Bram mengangkat dagu Cahaya agar mendongak menatapnya. Bram mengusap air mata Cahaya dan mengecup kening menantunya.
" Jangan menangis sayang, maafkan papa ya!" Bram mengusap kepala Cahaya lembut.
" Papa tidak perlu minta maaf, bukan papa yang salah tapi aku yang salah karena telah pergi meninggalkan rumah dan suami!" Cahaya terisak dan Raka yang ada dipangkuan Cahayapun ikut menangis.
" Ini... ?" Bram merasa haru saat melihat Raka yang menangis di pelukan Cahaya.
" Ini Raka pah putra kami!" tutur Reihan
"Cucuku... !" Bram menangis dan meminta izin untuk menggendong Raka dan entah kenapa Raka langsung diam tidak menangis lagi saat Bram menggendongnya.
" Wahhh... cucuku sudah besar dan sangat tampan. !" Bram terlihat sangat senang bisa menggendong Raka cucunya senyum bahagiapun begitu terlihat jelas diwajah pria berumur yang sudah banyak keriput dikulitnya.
__ADS_1
" Sekar?" Senyum Bram yang tadi mengembangpun seketika lenyap ketika sadar ada Sekar diantara mereka.
" Bram apa kabar?" Sapa Sekar dengan seulas senyum di wajahnya.
" Ada apa sebenarnya tujuan kalian datang kemari?" Tanya Bram tanpa senyum yang mengukir wajahnya dan menyerahkan Raka pada Reihan.
" Aku kesini ingin meluruskan semua kesalah pahaman diantara kita dan anak-anak kita Bram!" Tutur Sekar menunduk.
" Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, masa lalu hanyalah masa lalu untuk apa kita mengungkit-ungkit semua yang sudah lewat. yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan anak menantu dan cucu ku!" ucap Bram panjang lebar membuat Sekar merasa terharu dan menitikkan air mata.
" Maafkan aku Bram!" Ucap Sekar dengan rasa penuh penyesalan.
" Tidak perlu minta maaf, kita sama-sama salah disini. karena ingin melindungi anak masing-masing malah ini yang terjadi.!" Tutur Bram.
" Kau benar Bram!" Sekar teesenyum tipis.
" Ada apa ini? Reihan, pah ada apa ini? kenapa mereka semua ada disini?" Tanya Widia yang baru saja pulang dari pasar.
" Mah, sebaiknya mamah duduk dulu biar Rei jelasin semuanya sama mamah!" Pinta Reihan dan menyuruh ibunya untuk duduk dan menenangkan dirinya.
Widia duduk dan memperhatikan Cahaya yang sudah kembali menggendong Raka.
Reihan bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri Cahaya.
mendapat tatapan tajam dari Widia Muncul perasaan cemas dan gugup pada diri Cahaya.
" Mah anak ini adalah anak Reihan dan Cahaya, namanya Raka!" Beritahu Reihan.
"kami sebenarnya sudah lama bersama dan saat aku kerja di kota xxx aku sudah kembali padanya. Cahaya hamil tanpa ada suami yang menemani sungguh sangat menyedihkan mah, Rei merasa sangat bersalah kepada mereka mah!" Reihan sudah berkaca-kaca dan memeluk tubuh mamahnya yang bergetar dengan isak tangisnya.
" Pergilah!" Ucap widia pelan namun penuh penekanan.
" Mah, jangan bersikap seperti itu!" Tegur Bram.
" Kenapa, apa karena wanita itu?" Tunjuk Widia emosi.
" Mah cukup!" Bentak Bram.
" Kamu jahat pah!" Widia menangis terisak dan Reihan memeluknya erat.
" Mah... pah... maaf kalau kedatangan aku kemari hanya membuat kalian bertengkar. aku mohon maafkan aku!" Cahaya berdiri dan membungkukkan badan berkali kali.
" Maaf, kami permisi!" Lirih Cahaya dan berjalan menuju keluar rumah disusul Sekar yang merasa kesal dengan sikap Egoisnya Widia. kalau bukan karena demi anak dan cucunya Sekarpun tidak mau datang dan meminta maaf.
" Tunggu dulu, aku mohon duduklah dulu sebentar!" Ucap Bram memohon.
__ADS_1
Cahaya menoleh dan berhenti melangkah lalu kembali duduk. Sekarpun dengan terpaksa ikut duduk disamping Sekar.