
Di kamar rawat Reno.
Pintu terbuka, menyembul masuk Reihan dan Intan dari luar. seketika mata Reihan dan Intan membulat melihat pemandangan yang ada dihadapan mereka. lagi dan lagi hati Intan bagai dihujam ribuan belati sakit yang teramat sangat. Intan langsung keluar dan menjatuhkan kasar tubuhnya di kursi tunggu.
Intan mencoba menenangkan hatinya, mengambil napas dalam-dalam dan berusaha menahan diri. Reihan keluar melihat Intan yang duduk dengan deru napas yang tidak beraturan. Intan tersenyum getir saat Reihan memilih duduk disampingnya.
" Pak sebaiknya aku kembali ke hotel, apa boleh saya meminta tolong!" ucap Intan gugup.
" Tolong apa?"
" Tas saya ada didalam dan untuk mengembilnya sekarang saya rasa itu.... itu.. tidak mungkin pak, maaf pak apa boleh saya meminjam uang untuk naik taksi ke hotel.?
Intan berusaha untuk tegar dan mungkin bersikap seperti ini akan mengobati luka hatinya pikirnya.
" Aku antar kau ke hotel... besok tas mu akan aku suruh Tio mengantarkannya ke kemarmu!" tutur Intan.
" Tidak usah pak, saya pulang sendiri saja lagi pula bapak kesini itu kan untuk menemani mas Reno kalau bapak kembali ke hotel bagaimana dengan pak Reno?" tutur Intan.
" Kamu tenang saja, aku rasa mereka akan lama!" Intan mengangguk bangkit dari duduknya lalu berjalan mengekor pada Reihan yang sudah berjalan duluan.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Reno seperti melihat bayangan Reihan dan Intan didepan pintu sesaat sebelum keduanya keluar. Amira yang yakin akan kedatangan Intan kembali ke ruangan Reno karena melihat tas Intan yang tertinggal di atas meja samping ranjang pasien dengan sengaja mencium Reno paksa.
Reno terkejut saat bibir Amira me***t rakus bibirnya tepat disaat Intan dan Reihan melangkah masuk. Reno merontak dan mendorong kasar Amira saat bayangan Intan menghilang dari balik pintu.
" Apa yang kau lakukan Amira?" Geram Reno.
" Aku hanya ingin mengucapkan selamat malam sayang , karena aku akan pamit pulang dan besok aku pasti akan datang lagi menjengukmu!" Ucap Santai Amira dan tersenyum licik.
" Sebaiknya kau memang pergi dari sini. dan besok kau tidak perlu repot-repot menjengukku!" Sargas Reno.
" Kau tidak usah khawatir sayang, aku tidak merasa repot jika datang menjengukmu!" Amira meraih bahu Reno namun dengan kasar Reno menepis tangan lembut Amira.
" Ya udah kau istirahat ya sayang, aku akan kembali lagi besok!" Amira mendekatkan Wajahnya, Reno dengan cepat menoleh dan membuang muka.
" Pergilah!" Reno mengangkat tangan ke udara dan menunjuk ke arah pintu.
" Baiklah sayang aku akan pergi!" Amira tersenyum licik lalu berjalan keluar dari ruangan Reno.
Didepan kamar rawat Reno, Amira melihat Reihan yang sedang duduk sendirian dengan menatap layar ponselnya. Amira mengernyitkan dahi. " Kemana wanita itu, apa dia sudah pergi? syukurlah kalau memang dia sudah pergi. aku tidak perlu repot-repot lagi mengusirnya!" guman Amira
Flashback on
Reihan dan Intan berjalan melewati lorong rumah sakit, Intan akan kembali ke hotel untuk mengantarkan Intan karena bagaimana pun Intan adalah sahabat baik Cahaya dan Intanlah satu-satunya sahabat Cahaya yang selalu menolongnya dan membantunya disaat Cahaya dalam kesulitan. terlebih ketika rumah tangga Reihan dan Cahaya sedang bermasalah.
Ketika sampai didepan rumah sakit Intan tanpa sengaja menubruk seorang laki-laki yang bertubuh tegap, tinggi dan tidak kalah tampan dengan Reno dan Reihan.
"Ahh...maafkan saya tuan.. maafkan saya, saya sungguh tidak sengaja!" Intan terus saja menunduk dan meminta maaf kepada orang yang ditabraknya.
" Cih, dasar ceroboh!" Pria yang ditabrak Intan mendecik kesal
Intan mendongak dan menatap lekat wajah pria yang tengah berdiri dihadapannya dan sontak saja Intan terkesiap dan mendelik kesal. " Kau !" Intan menatap kesal pria yang sangat dikenalnya itu.
" Apa?" ketusnya.
" Cih, kalau aku tau itu kau tadi aku tabrak sekerasnya aja ya, biar sekalian mental ke afrika.!" Ledek Intan dengan senyum menghias sudut bibirnya.
" Seenaknya aja kalau ngomong" Rambut Intan di acak-acak
" Ha...ha..!" Intan tertawa dan memeluk pria yang ada dihadapannya dan lama-lama tangisnya pun lolos.
Reihan mencari-cari Intan tapi ternyata Intan tidak mengekor dibelakangnya sejak menabrak seseorang di depan rumah sakit.
Reihan menyapu sekeliling dan senyumnya pun mengembang dari sudut bibirnya ketika pandangannya menangkap sosok Intan dan seorang pria yang tengah dipeluknya dan Reihan tahu persis siapa sosok pria yang dilihatnya.
" Kau disini rupanya?" Suara Reihan mengejutkan keduanya dan langsung saja Intan melepaskan pelukannya dan menyeka airmatanya.
__ADS_1
" Selamat malam Pak Reihan!" Sapa pria itu
" Malam, kau baru sampai?" Reihan menepuk bahu Bayu pria yang di peluk oleh Intan sahabat sekaligus sepupunya.
"Iya pak!" Jawab Bayu singkat.
" boleh aku minta tolong?" Tanya Reihan sungkan
" minta tolong apa ya pak?" Tanya Bayu bingung
" Tolong antarkan Intan ke hotel Kejora, disana ada isteri dan juga anakku!"
" Tidak usah pak, saya bisa pergi sendiri, saya bisa naik taksi!" Tolak Intan merasa merepotkan.
" Ini sudah malam, tidak baik seorang wanita dijalan sendirian !" tegas Reihan
" Betul itu Tan, ini sudah malam sangat rawan jika kau pergi sendirian. aku akan mengantarkanmu !" Bayu merangkul sepupunya itu. " Pak Reihan tenang aja saya akan mengantarkan Intan ke hotel kejora.!" Bayu melirik Intan dan memperhatikan wajahnya dia melihat mata Intan yang sembab dan membuat Bayu penasaran hal apa yang bisa membuat Intan sampai menangis dan sesembab itu.
" Terima kasih Bayu, aku akan kembali ke ruangan rawat psk Reno. aku serahkan Intan kepadamu!" Reihsn tersenyum tipis dan menoleh pada Intan " Maaf Intan aku tidak jadi mengantarmu, tidak apa-apakan?"
" Tidak apa-apa pak !" Intan menjadi merasa tidak enak hati sendiri pada atasannya itu.
" Bayu, hati-hati membawa mobilnya. jangan sampai kejadian pak Reno kamu ulangi !" Reihan mewanti wanti.
" Siap pak!" Bayu tersenyum.
Reihan kembali ke dalam ruang perawatan Reno sang kakak ipar. sedangkan Bayu mengantarkan Intan untuk pergi ke hotel tempat Cahaya dan anaknya menginap.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Didalam kamar rawat inap Reno sedang kesal karena ulah Amira yang dengan sengaja menciumnya didepan mata Intan.
" Aaahhhh.... !" Teriak Reno kesal. "Belum juga berbaikan dengan Intan sudah ditambah lagi masalah baru!" Reno melempar satu bantal ke sembarang arah meluapkan emosinya. " Dasar wanita tidak tau diri.. kurang ajar!" seketika Reno terdiam menatap pria yang terkena lemparan bantal tepat diwajahnya.
" kau !" Reihan menatap tajam pria yang melemparkan bantal kewajahnya.
" Hei... hei... tunggu dulu kau mau apa? Jangan mendekat! aku ini sedang sakit jangan macam-macam !" Reno sedikit menciut dengan tatapan Reihan. " aku tidak sengaja!"
" Kau berani mengatakan aku kurang ajar, meskipun aku ini adik iparmu aku tidak terima kau mengatai ku seperti itu. kau sudah tau aku ini seperti apa, aku hanya baik dan lembut dengan keluargaku. isteri dan anakku!"
" Aku ini keluargamu. saudara kembar isterimu apa kau lupa? lagi pula aku hanya melemparmu dengan bantal. terluka juga tidak!" Reno sedikit berteriak lalu beralih pelan.
Reihan semakin dekat dan Reno bingung dengan Reihan yang bersikap seperti itu marah-marah hanya karena terkena lemparan bantal. Reno semakin gusar karena Reihan perlahan semakin mendekat padanya dan saat Reihan berdiri tepat dihadapannya Reihan mengangkat bantal ke udara dan
" Aa.....!" Teriak Reno menutup matanya dan tentu saja hal itu membuat Reihan tertawa terpingkal - pingkal.
" Haaa...haaaa....!" Reno membuka matanya saat gendang telinganya menangkap suara Reihan yang tertawa terbahak - bahak
" kurang ajar, kau mengerjaiku?" sungut Reno dan menarik bantal yang berada ditangan Reihan lalu melayangkan ke udara ingin memukul Reihan dengan bantal tersebut namun sayang tidak kena karena Reihan langsung menghindar.
"Ha.... ha...., kau sangat lucu tuan Reno yang terhormat!" Ejek Reihan melihat wajah Reno yang ditekuk karena kesal.
Reno melempar bantalnya kearah Reihan namun kali ini Reihan bisa menangkapnya.
" Aku tidak menyangka Reno yang terkenal dingin dan arogan serta cuek pada wanita yang banyak menggila gilainya kini dipusingkan gara-gara dua orang wanita!" Ucap Reihan masih dengan tawanya.
" Hei... mana ada seperti itu? aku ini tidak arogan aku ini pria baik hati yang tampan!" Reno dengan P' D memuji dirinya sendiri. " aku juga bukan pria dingin. emang aku beruang kutub apa dingin?" Sanggah Reno tidak terima dibilang dingin.
" Cih, pria baik hati, tampan percaya diri sekali !"
" Memang aku tampan, kenapa kau naksir?" Goda Reno.
" Uweekkk..... aku pria normal, adikmu saja bisa aku hamili dan sekarang sudah ada baby Raka yang menggemaskan. bahkan aku sedang berusaha untuk menghamili adikmu lagi tapi gara-gara kau aku jadi tidak bisa bersama isteriku malam ini...Ha... ha.... !" Reihan berhenti tertawa dan mengatur napasnya.
" Dasar omes!" kesal Reno. lalu bringsut merebahkan tubuhnya diatas kasur.
" Gak apa-apa udah halal ini!" Reihan menarik bangku yang berada disamping tempat tidur Reno duduk dengan memangku satu kakinya.
__ADS_1
Reihan dan Reno memang sudah biasa bercanda semenjak Reihan memutuskan untuk membantu Reno mengurus perusahaan Reno menjadi begitu akrab dengan Reihan. kedekatan diantara mereka bukan hanya sekedar adik dan kakak ipar saja tapi sudah bersahabat baik. setiap Reno ada masalah Reihan selalu membantunya dan begitu juga sebaliknya. mereka juga tidak lagi berbicara formal dan sungkan sungkan. Reihan tau kenapa Reno begitu sulit untuk bersikap tegas pada Amira karena Reno tidak ingin Amira sampai menyakiti orang yang sangat ia sayangi. Reno dan Reihan tau Amira orang seperti apa jika dikerasi Amira akan sukit dihadapi. Inilah dilema yang harus Reno hadapi.
" Apa kau tadi menikmatinya?" Tanya Reihan tiba-tiba membuat Reno menoleh kearahnya dengan ambigu.
" Apa?" Reno dengan wajah bingung
" Menurutmu?" Reihan malah balik bertanya membuat Reno semakin bingung.
" Aku gak ngerti, menikmati apa?" Reno jadi penasaran dan kembali duduk ditengah kasur dengan bersila.
" Aku melihatnya tadi!" Ucap Reihan santai dengan melipat tangan didadanya.
" Ka..kau melihat Amira.....?" Ucapan Reno menggantung.
" Hemmm.!" Reihan mengangguk. " Dan bukan aku saja yang melihat kalian !"
Reno membelalak " Bukan dia saja, apa Intan juga melihatnya lagi apa tadi wanita yang sekilas aku lihat itu Intan? tidak mungkin.. itu tidak mungkin. dia tidak mungkin kembali lagi bisa saja itu orang lain atau bisa saja Cahaya!" Reno terus bicara dalam hati dan melamun.
" Cihh..dia melamun, Renoooo.!" Teriak Reihan dan menepuk bahu Reno yang tengah melamun.
" Akhhhh... sial, mengagetkan aja kau ini dasar kurang ajar!" Kesal Reno
" Siapa suruh kau melamun!"
"Apa yang melihatku dan Amira ........ Cahaya?"
Tanya Reno ragu-ragu walaupun dalam.hatinya sangat khawatir jika yang melihatnya justru adalah Intan.
Reihan geleng kepala dan berdiri lalu berjalan menuju sofa yang tidak jauh dari ranjang Reno.
" lalu siapa?" Reno penasaran. lagi ketakutan akan Reihan menyebut nama Intan membuat hatinya semakin gelisah.
Reihan diam saja dan merebahkan tubuhnya yang merasa lelah diatas sofa empuk.
" Aku bertanya kenapa kau diam ?" Reno kesal
" Ya.. menurutmu siapa?" Reihan malah balik bertanya.
" Kau ini benar-benar menyebalkan ya, ditanya malah balik nanya!" Reno kesal dan memilih untuk merebahkan tubuhnya.
" Aku melihatnya menangis di taman. awalnya aku ragu untuk menghampirinya namun saat mendekatinya ternyata benar dia sedang menangis sendirian. Dia begitu kecewa dan merasa disadari akan siapa posisinya yang tidak sepadan dengan Amira. Dia terisak dan sangat terluka saat lagi dan lagi melihat kalian seperti itu. ini seperti tamparan untuknya yang menyadarkan dirinya kalau yang dilakukannya selama ini salah. ia merasa perasaan terhadapmu salah. oleh karena itu ia memutuskan untuk menyerah.!" Ucap Reihan dengan mata yang terpejam.
Reno yang mendengar penuturan Reihan langsung bangkit dan duduk menoleh kearah Reihan yang merebahan diatas sofa. ucapan Reihan membuat hatinya terasa tercungkil.
" Dia menangis ditaman, maksudmu dia itu In.. Intan?" Tanya Reno terbata bata.
" Hemmm..!" Jawab Reihan pelan dengan mata yang masih terpejam.
" Dia menyerah, dia akan benar-benar menyerah?" Reno bingung harus bersikap bagaiman. " Rei... bantu aku untuk bertemu dengannya. bisa kan?" Ucap Reno memohon.
" Untuk apa?" Reihan bangun dan menoleh kearah Reno.
" Setidaknya kami perlu bicara!" lirih Reno yang merasa sangat merindukan Intan tapi juga takut menyakitinya terus menerus.
" Baiklah!" Reihan kembali merebahkan tubuhnya di sofa empuk dan juga cukup nyaman untuk Reihan tidur malam ini.
" Kau jangan khawatir, besok pagi dia pasti akan kemari!" Reihan memejamkan matanya.
" Kau yakin?"
" Sangat yakin!"
" Kenapa kau begitu yakin, dia sangat membenciku. bagaimana mungkin kau bisa seyakin itu!" Reno menghela napas berat dan merebahkan tubuhnya.
" Besok pagi dia pasti akan datang, lihat apa yang ada diatas lemari loker sampingmu !" Reno menoleh kearah yang dimaksud Reihan dan seketika Mata Reno membulat garis senyum pun menggores dibibirnya.
" it...itu... apa itu milik Intan?" Reno sudah kembali duduk dan memastikannya
__ADS_1
" Iya, tadi setelah menangis di taman ia kembali kesini untuk mengambil tasnya yang tertinggal tapi dia mengurungkan niatnya mengambil tasnya karena saat masuk kalian sedang!..." ucapan Reihan menggantung