
Intan menggeser layar ponselnya yang berwarna hijau lalu mendekatkannya ketelinga kanannya.
" Hallo...Assalamualaikum!" Suara Cahaya dari seberang telpon.
" Wa'alaikum salam!" sahut Intan
" Intaaaaan, aku kangen!" Cahaya teriak membuat Intan menjauhkan ponsel dari telinganya.
" Ishhhh.... tidak usah berteriak pelankan suaramu, sudah punya anak masih saja seperti itu. nanti baby Raka menangis mendengar suaramu yang berisik!" Jengkel Intan.
" Aaahhh... iya..iya maaf, baby Raka sedang diluar digendong sama mamah jadi dia tidak akan menangis.. he...he..!" ucap Cahaya santai.
" dasar kau ini!" Kesal Intan lalu tertawa kecil.
" Ada apa kau menelponku?" Tanya Intan lalu bersandar dikursi mobil.
" Aku ingin mengundangmu makan malam dirumahku datang ya!" Jawab Cahaya.
" Makan malam dirumahmu, kau ini bercanda ya?" Intan tertawa getir.
" Aku serius, sudah lama kita gak ketemu dan waktu di kota xx Kau sudah buru-buru pulang dan tau-tau kau sudah kembali ke kota tanpa memberi tahuku!" terang Cahaya terdengar sendu.
" Iya aku minta maaf. tapi mana mungkin aku ke kota xx sekarang untuk makan malam bersamamu Ca!" lirih Intan
" Siapa yang menyuruhmu datang ke kota xx Intan sahabatku yang cantik!"
" Lalu?" Intan bingung
"Aku berada dirumah mamah. aku memutuskan untuk tinggal disini sekarang karena tugas mas Reihan dikota xx sudah selesai dan harus kembali ke kantor pusat!" terang Cahaya!"
" Ohh.. jadi kau dan pak Reihan sekarang ada disini, lalu bagaimana dengan ibu mertuamu apa dia tau kalian sudah kembali bersama?" Tanya Intan penasaran.
" Aku juga tidak tau, tapi kata mas Reihan dia akan mengatakannya pada mamah Widia!"
"Semoga saja ibu mertuamu sudah berubah dan merestui hubungan kalian!" Intan penuh harap.
__ADS_1
" Amin. terima kasih ya kakak ipar!" Cahaya tertawa kecil
" Berhenti memanggilku kakak ipar kalau tidak aku tidak mau bertemu denganmu lagi!" ancam Intan.
"Issshhh... kau ini, sensi sekali, ya sudah kalau begitu aku tidak mau ada penolakan nanti malam aku menunggumu dirumah mamah awas kalau tidak datang. aku benar-benar marah!" Cahaya kembali mengancam Intan." Assalamualaikum!" Cahaya mengakhiri telponnya.
"Wa'alaikum salam!" Jawab Intan lalu menatap layar ponselnya. " Cihh... adik dan kakak suka sekali mengancam orang. menyebalkan!" Gumam Intan kesal lalu memasukkan kembali ponselnya kedalam tasnya.
Tanpa terasa taksi yang Intan tumpangi sampai diapartemen miliknya. Ya Intan kini tinggal disebuah apartemen miliknya. meskipun apartemen miliknya tidak terlalu besar tapi ia sudah merasa cukup puas karena bisa membelinya dengan hasil kerjanya selama ini.
Intan memang sosok wanita yang mandiri tidak pernah mau merepotkan orang lain. sejak orang tuanya berpisah dan meninggalkannya bersama neneknya Intan sudah terbiasa hidup susah tidak pernah mengeluh dan selalu berusaha dengan kemampuannya sendiri. meskipun bibinya Ratih adik dari ibunya sudah berkali-kali memintanya untuk tinggal bersamanya Intan selalu saja menolak selain ia kasihan dengan neneknya dia juga tidak ingin bergantung hidup dengan orang lain.
Intan masuk kedalam apartemennya lalu duduk disofa dan meletakkan tas selempangnya disebelahnya. ia menghempas napasnya kasar merasa sangat lelah dan memejamkan matanya.
10 menit sudah Intan duduk sambil memejamkan matanya lalu ia beranjak dari duduknya dan membawa tasnya masuk kedalam kamar. didalam kamar Intan meletakkan tasnya diatas nakas lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
_________
Dikamar yang berbeda Reno merasa sangat gelisah dan teringat dengan sikap dingin Intan kepadanya. " Dia benar-benar membuatku gila!" Reno mengusap wajahnya kasar dan berdiri dibalkon kamarnya.
" Pekerjaanku begitu banyak tapi aku tidak bisa berkonsentrasi, ada apa sebenarnya denganku?" Gumam Reno dan mengacak-acak rambutnya sendiri.
__________
Cahaya sedang duduk sambil menggendong Raka dipangkuannya. Sekar sedang tidak ada dirumah ia pergi keluar sebentar karena ada urusan. Cahaya dirumah bersama Raka dan juga bi susan yang sedang sibuk didapur memasak beberapa menu masakan untuk makan malam.
Suara mobil terdengar dari luar Cahaya menoleh saat Reihan membuka pintu lalu masuk dengan seulas senyum diwajahnya.
" Assalamualaikum!" Ucap Reihan
" Wa'alaikum salam. sayang lihat itu ayah sudah pulang!" Ucap Cahaya tertawa kecil
Reihan memperhatikan Cahaya yang sedang memainkan jari mungil putranya Raka.
Reihan menghampiri Cahaya dan mengecup pucuk kepala Isterinya.
__ADS_1
" Mas mau bersih-bersih dulu ya!" ucap Reihan lalu bergegas masuk kedalam kamarnya.
Setelah selesai mandi Reihan keluar dari kamar dan menghampiri isteri dan anaknya yang berada diruang keluarga.Reihan mendudukan dirinya disebelah isterinya dan memainkan jemari anaknya Raka dan sesekali menciumnya gemas.
" Mas bagaimana pekerjaannya hari ini?" tanya Cahaya memperhatikan wajah suaminya yang nampah lelah.
" Seperti biasa mas harus bisa meyakinkan beberapa klien yang masih ragu untuk bekerja sama dengan PT. WANA GROUP COPORATION. !" jawab Reihan menoleh pada Cahaya dan tersenyum tipis.
" Apa ada kendala mas dalam meyakinkan mereka?" Tanya Cahaya penasaran.
" Sedikit sayang, dan itu sudah biasa dulu mas hanya bisa menyuruh Tio melakukannya tanpa mau tau kesulitan yang dia hadapi dan sekarang mas yang berada diposisinya!" Reihan membelai rambut cahaya dan tersenyum kecil " Tapi kamu tidak perlu khawatir suamimu ini pasti bisa karena ada kamu sayang yang selalu mendukung dan mendoakanku!" Reihan mengecup pucuk kepala isterinya lembut dan Cahaya tersenyum tipis.
" Oia, mas bagaimana kabar mamah dan papah?" suara Cahaya terdengar sendu
" Kabar mereka baik, kenapa?"Reihan menatap Cahaya lekat " Apa kau sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mereka?"Reihan tersenyum tipis.
" Iya mas, aku ingin mereka merestui kita mas terutama mamah!" Ucap Cahaya lirih.
"Mereka pasti akan merestui kita sayang, apalagi sudah ada Raka ditengah-tengah kita!" Reihan tersenyum mengambil alih Raka dari gendongan Cahaya dan baranjak pergi membawa Raka kekamar mereka karena terlihat mata Raka yang sudah terpejam.
Reihan masuk kedalam kamar Cahaya mengekor dibelakangnya. Reihan meletakkan Raka pelan-pelan kedalam box bayi.Raka hanya menggeliat sebentar lalu kembali tidur.
" Anak pintar, bobo dulu ya sayang!" Ucap Reno pelan.
Cahaya tersenyum tipis memperhatikan suaminya lalu berjalan perlahan menghampirinya. " Terima kasih ya mas!" Cahaya memeluk pinggang Reihan dan Reihan tersenyum tipis lalu membalas pelukannya.
" Ya ampun, mas aku lupa!" Cahaya melepaskan pelukannya dan menepuk jidatnya sendiri.
" Ada apa?" Reihan mengernyitkan alis.
" Aku harus membantu bi susan memasak mas untuk mempersiapkan makan malam !"
terang Cahaya.
" Ya sudah sana bantu bi susan, mas yang akan menemani Raka disini!" Reihan mendorong bahu Cahaya pelan. " Masak yang enak ya sayang!"
__ADS_1