
" Tapi kenapa om Bram kelihatannya sayang banget dengan gadis itu dan tadi kok dia memanggil om dan tante dengan sebutan papah dan mamah ?" Tanya Clara penasaran.
" Tante sendiri juga tidak tau kenapa suami tante bisa begitu menyayangi gadis kampung itu."
" Memangnya dia itu siapa sih tante kok bisa dia tinggal di rumah ini?"
" Dia itu anak dari sahabatnya suami tante, ayahnya Gadis kampung itu meninggal karena menolong suami tante. Dia disini karena sudah tidak punya siapa-siapa lagi jadi ya suami tante membawanya tinggal dirumah ini sekedar balas budi saja kepada orangtuanya. tapi ya namanya juga gadis kampung sungguh tak tau diri bersikap semaunya. sudahlah kita tidak usah membicarakan gadis kampung itu lagi !" ucap widia lalu menyudahi sarapannya.
" Sayang, bisakan hari kamu menemaniku menemui orang tuaku?" ucap Clara dengan manja.
" Maaf sepertinya aku tidak bisa, hari ini adalah hari pertamaku kekantor aku tidak mau mengecewakan papah !" ujar Reihan.
Di dapur▪
Cahaya duduk bersama mbok ijah di kursi yang ada didapur. Air bening menggenangi kelopak matanya, sekuat hati ia menahan rasa perih yang menggores semakin dalam.
" Non, Jangan bohong lagi sama si mbok, kalau non mau nangis, menangislah non jika memang itu bisa membuat hati non lebih tenang!"
Mendengar ucapan mbok ijah airmata yang ditahannya akhirnya meluncur dengan derasnya. " Ihiikk....ihikk...ihiikkkk" tangis Cahaya pecah untuk kesekian kalinya. belum hilang mata sembabnya Cahaya sudah kembali menangis.
" Non yang sabar ya non..!" mbok ijah ikut menangis ia mendekatkan tubuhnya lalu memeluk tubuh Cahaya yang bergetar dengan isak tangisnya.
" Mbok mengapa sebentar saja mbok, aku ingin merasakan kebahagiaan tapi kenapa harus luka lagi mbok yang aku dapatkan? kenapa mbok...? ihikkk....ihiiikkkk" Mbok ijah hanya terdiam dan terus memeluk Cahaya dengan erat.
__ADS_1
" Non, yang sabar mungkin dibalik ini semua ada kebahagiaan yang sedang menunggu non., non harus kuat non" mbok ijah membelai punggung Cahaya dengan lembut.
" Mengapa rasanya sakit sekali mbok, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya mbok?" ucap Cahaya disela isak tangisnya.
" Non.."
Tanpa disadari ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dan ketika Cahaya mulai terlihat tenang barulah pria itu pergi.
♢Flashback on♢
" Maaf sepertinya aku tidak bisa, hari ini adalah hari pertamaku kekantor. aku tidak mau mengengewakan papah " ujar Reihan
lalu bangun dari duduknya menyudahi sarapannya. ia hendak ke atas mengambil tas kerja dan kunci mobilnya. namun langkahnya terhenti saat melihat mbok ijah yang menghampiri Cahaya lalu memeluknya.
REIHAN💜
kau harus kuat Cahaya, ku mohon jangan menangis lagi. aku tahu ini semua karena kesalahanku tapi aku juga tidak mau kau semakin terluka. aku masih tidak bisa melupakan Clara. aku masih mencintainya dan maafkan aku Cahaya karena aku juga mencintaimu ".
♢Flashback off♢
Di meja makan.
" Tante !" panggil Clara
__ADS_1
" Ada apa sayang ?" jawab widia
" Tante, apa boleh aku memanggil tante dengan sebutan mamah?"
" owhhh.... tentu boleh dong sayang, kamu ini udah tante anggap seperti anak tante sendiri tentu saja boleh sayang." widia membelai rambut Clara lembut.
" Terima kasih tan... ehh..mah!" Clara lalu memeluk widia.
Widia mengajak Clara menemaninya di ruang Tv Reihan datang menghampiri keduanya untuk pamit pergi kekantor. " Mah Rei berangkat ke kantor dulu !" Reihan mencium pipi sang mamah. " Clara kapan kau akan pulang, maaf aku tidak bisa mengantarmu !"
" Nanti siang aku akan pulang, kau tidak usah khawatir sayang aku bisa pulang sendiri !" Ucap Clara sambil merapihkan dasi Reihan.
" Kalian sungguh terlihat sangat serasi, seperti pasangan suami isteri " ucap widia dengan senyum yang mengembang.
" Mamah bisa saja" Clara tersenyum dan membelai dada bidang Reihan.
" ya sudah kalau begitu aku pergi dulu !" pamit Reihan lalu mengecup pucuk kepala Clara.
Prakkkkk....
gelas yang berada ditangan Cahaya terlepas. Reihan dan Clara sontak menoleh kesumber suara. Tangan Cahaya gemetar, airmata sudah menggenang dikedua matanya. ia segera membersihkan pecahan gelas yang berserakan dilantai, karena kurang hati-hati tangan Cahaya berdarah terkena serpihan gelas. " aww... !" pekiknya.
Reihan yang melihat Cahaya meringis kesakitan ingin menghampirinya namun tangannya ditarik oleh Widia.
__ADS_1
" Rei... sudah sana berangkat, nanti kamu telat !" titah Widia dengan sorot mata yang seakan menyuruhnya untuk jangan memperdulikan Cahaya.
Reihanpun menuruti ucapan Mamahnya untuk segera pergi kekantor. ia memang tidak ingin datang terlambat pergi ke kantor dihari pertamanya.