RAHASIA DALAM PERNIKAHAN

RAHASIA DALAM PERNIKAHAN
Menikah sekarang


__ADS_3

Sinar mentari masuk menembus kaca sebuah kamar dihotel mewah nan megah. sepasang suami isteri yang tengah tertidur pulas terperanjat dari tidurnya karena aksi seseorang yang menggedor-gedor pintu kamarnya.


" Mas!" Cahaya panik karena saking terkejutnya lalu melihat baby Raka yang menggeliat sebentar lalu tidur kembali.


" Ishh.. siapa sih ganggu orang tidur aja pagi-pagi, keamanan hotel ini buruk sekali?" kesal Reihan mengusap rambutnya kasar dan beringsut turun dari tempat tidur.


Ceklekk...


Reihan menghela napas kasar saat melihat sang pelaku tak lain adalah kakak iparnya sendiri.


" Mau apalagi sih, ganggu orang tidur aja?" Kesal Reihan.


Reno cengar cengir tanpa merasa berdosa.


" Ditanya malah cengar cengir gak jelas, nasib ya nasib susah menghadapi orang yang lagi bucin mah!" Reihan menepuk jidatnya sendiri dan Reno malah tergelak melihat ekspresi wajah sang adik ipar yang kesal karena ulahnya.


Reno berhenti tertawa dan tersenyum tipis


" Aku dan Intan akan pergi ke rumah Bibinya, apa kalian mau ikut?" Reno celingak celinguk mencari keberadaan Cahaya.


" Dia masih tidur!" sergah Reihan tau kalau Reno celingukan mencari keberadaan sang adik.


" Jam segini masih tidur?"


" Iya, semalam kami tidak bisa tidur karena Raka rewel dan baru tidur setelah subuh!" Reihan menyenderkan tubuhnya dibibir pintu.


" Apa keponakanku yang ganteng sedang sakit?" Raut wajah Reno berubah cemas.


" Semalam Raka demam mungkin karena kecapean. Raka itu anak yang sangat aktif sedang senang -senangnya belajar jalan!" terang Reihan.


" Terus bagaimana keadaannya sekarang?"


" Sudah turun panasnya tapi rencananya pagi ini aku dan Cahaya akan membawanya ke dokter!" Reihan menguap menutup mulut dengan satu tangannya. rasa kantuknya masih menderanya.


" Sebaiknya begitu, semoga saja tidak kenapa-kenapa dan keponakanku yang ganteng selalu sehat!" Reno mendo'akan keponakan kesayangannya.


" Amin!" Reihan mengaminkan ucapan Reno


" ya sudah kalau begitu lanjutkan tidurmu. aku pergi sekarng!" Reno pamit


" Hemmm...!" jawab malas Reihan yang kemudian menutup pintu kamarnya dan sebelum lanjut merebahkan tubuhnya dikasur empuknya Reihan melihat keadaan baby Raka dahulu yang tidur disebelah sang isteri.


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


Reno mengetuk pintu kamar Intan dan tidak butuh waktu lama intan membuka pintu kamarnya dan tersenyum manis.


" Cantik sekali calon isteriku!" Goda Reno saat melihat Intan yang sudah rapih dengan baju dres berwarna marun dan rambut yang di ikat dihias dengan polesan makeup yang tipis dan tas selempang yang senada dengan dres yang dipakainya membuat Intan terlihat sangat anggun dan cantik.


Intan tersipu malu karena Reno terus saja menatapnya lekat. " Mas jangan ngeliatin aku kaya gitu terus dong. risih aku jadinya tau!" Kesal Intan yang saat ini sudah berada didalam mobil bersama Reno.


" habis kamu cantik banget sih hari ini!" Reno tersenyum tipis


" Jadi selama ini aku jelek ya mas?" Intan cemberut


" Cantik setiap hari kamu itu cantik tapu hari ini tuh kamu cantiknya double pake banget!" Goda Reno dan mampu membuat wajah Intan merah seperti tomat.


" Gombal ih..!" Intan mengerucutkan bibir mungilnya yang berwarna pink.


" Aduh sayang jangan digituin dong bibirnya, aku jadi gak tahan nih!" Gemas Reno pada Intan.


" Gak tahan apa?" Intan berlaga polos


"Gak tahan buat ngawinin kamu. ha..ha...!"


Reno tergelak dengan ucapannya sendiri


" Ihh.... mas Reno main kawinin aja. nikah dulu yang bener baru kawin!" Intan meralat ucapan Reno.


" Kalau mas maunya kawin dulu gimana?" Reno mengerlingkan mata genit.


"Kalau mau kawin dulu sono kawin sama kambing!" Jawan Intan enteng.


" Emang kamu rela kalau mas kawin sama kambing?"


" Teruuussss... emang masnya mau gitu kawin sama kambing?" Intan balik bertanya kepada Reno.


" Emmm....ya enggaklah, masa punya calon isteri secantik ini malah mau sama kambing. rugi dong!" Reno mencubit gemas pipi Intan.

__ADS_1


" Mas ihhh.... sakit tau!" Kesal Intan dan mengerucutkan bibirnya.


" Tuh bibir pingin dicubit aja gemesin!" Goda Reno lagi


" Mas udah ya fokus aja deh nyetirnya, gak kapok apa kemarin. lihat tuh jidat masih ada layarnya juga!" Intan menunjuk dahi Reno yang masih menempel perban didahinya dengan memajukan dagunya.


" Ini mah cuma hiasan doank biar tambah ganteng!" Reno terkekeh.


" Ishhh... mas Reno habis kecelakaan jadi sedikit oleng ya!" Kesal Intan dan cemberut membenarkan duduknya pandangannya lurus ke depan.


" Duhhhh.... calon isteri marah ni ceritanya punya calon suami yang rada oleng!" Reno menoel noel bahu Intan.


" Mas Reno ihhhh...!" Intan melirik tajam dan melipat kedua tangannya didada.


" Cie... cie... yang cemberut makin cantik aja, bikin lope-lope dihati mas pada terbang semua ini !" Reno menoleh dan menyenggol lengan Intan dengan lengannya.


" Ihhh... apaan sih mas Reno garing tau.!" meskipun kesal tapi tak bisa dipungkiri saat ini Intan merasa senang dengan sikap Reno yang begitu hangat dan banyak berkelakar tidak seperti biasanya yang hanya tertawa sekedarnya. Intan pun selalu tersenyum mendengar setiap ocehan yang Reno lontarkan dan sesekali mereka pun tertawa bersama .


saat mereka sedang tertawa lepas yang entah apa yang mereka tertawakan tiba-tiba dering ponsel Reno menghentikan tawa mereka.


Reno mengambil ponselnya dari saku jasnya dan senyum diwajahnya seketika hilang. Reno terlihat kesal dan muak terhadap si penelpon dan Reno lebih memilih mengabaikan telponnya.


" Mas kok telponnya gak diangkat sih?" Intan merasa aneh karena Reno tidak juga menganggkat telponnya.


" Biarkan saja. telpon gak penting!" raut wajah Reno berubah dia menjadi dingin dan lebih banyak diam.


" Mas, itu telponnya berdering terus kali ja penting!" Intan berucap dengan hati-hati.


"Biarkan saja. aku sedang menyetir!" Ucap Reno datar.


karena dering ponsel Reno terus saja berbunyi membuat Intan tidak sabar dengan sikap Reno yang mengabaikan dering ponselnya.


" Ya udah aku aja yang angkat!" Intan langsung menyambar ponsel Reno yang terus berdering dari saku jasnya tanpa meminta persetujuan dari sang empunya. sontak saja hal itu membuat Reno terkejut dan marah besar.


" Sudah aku bilang gak penting ya gak penting. untuk apa kau ingin mengangkatnya. jangan melakukan apapun tanpa persetujuanku. ngerti!" Bentak Reno dan tentu saja itu cukul membuat Intan merasa bersalah sekaligus kecewa.


Intan diam tak angkat bicara dia akui dirinya salah karena terlalu lancang dan ia langsung meminta maaf .


" Maaf!" Lirih Intan dan menunduk karena merasa bersalah.


Reno tak menggubris ucapan Intan dia diam dan fokus dengan mengemudikan mobilnya. Reno memang sangat kesal tapi bukan karena sikap Intan yang ingin mengangkat telponnya melainkan kepada si penelpon yang seandainya saja tadi Reno tidak mencegah Intan entah apa yang akan terjadi pada mereka.


Reno menoleh sekilas ke Intan yang tengah membuang pandangannya ke jendela mobil dengan tubuh yang terlihat sedikit bergetar. Reno tahu Intan sedang menangis tapi dia tetap diam memilih untuk menenangkan dirinya dulu takut kalau ucapannya malah akan membuat Intan bertambah sedih.


30 menit berlalu diantara keduanya tidak ada yang memulai pembicaraan. sampai akhirnya ucapan Reno membuat Intan tercekat dan menoleh kesumber suara.


" Kita akan menikah sekarang!" ucap Reno tidak ada penolakan.


Intan terkejut dengan ucapan Reno baru saja ia membuat Intan menangis dan seketika mengajaknya menikah.


Reno masih melihat dengan jelas mata Intan yang basah karena ulahnya tapi dengan tegas Reno ingin Intan menjadi isterinya.


" Kau sudah tidak waras!" Geram Intan yang sambil menangis merasa seakan dipermainkan oleh Reno.


Reno langsung menepikan mobilnya dan mengusap rambutnya kasar.


" Aku tidak tahu harus bagaimana, aku minta maaf karena tadi sudah membentakmu!" tutur Reno


" Begini cara minta maafmu mas?" Intan kesal karena nada bicara Reno yang tinggi.


Reno menghela napas berat dan berusaha untuk tenang. " Aku minta maaf, aku... aku hanya takut.. takut dia melukaimu jika dia tau kau sedang bersamaku saat ini. !" Lirih Reno dan menyenderkan tubuhnya dibangku kemudi.


Yang tadi menelponku terus menerus adalah Amira. aku kabur dari rumah sakit karena hari ini dia akan membesukku kerumah sakit. aku hanya ingin bersamamu tapi aku takut dia melakukan sesuatu padamu namun untuk jauh darimu aku juga tidak akan mampu. aku sangat mencintaimu tapi aku takut kau terluka bila bersamaku. aku harus bagaimana?" kecemasan dan rasa cintanya terhadap Intan membuat seorang Reno menjadi begitu lemah. Reno memukul stir mobil dan menangisi kelemahannya kali ini yang takut kehilangan orang yang sangat ia cintai.


Intan menangis dan tidak menyangka Reno yang dikenalnya dingin, arogan, tegas dan humoris berubah dihadapannya menjadi pria lemah dan cengeng menurut Intan.


" Berhenti menangis, kau lelaki macam apa menangis seperti itu?" Ucap Intan tegas setelah menyeka kasar airmatanya.


Reno menoleh kesumber suara dan terlihat Intan duduk dengan angkuh dan tegap dengan tangan dilipat didada.


" Kita akan menikah sekarang bukan, jadi berhentilah menangis. aku tidak mau suamiku bermata sembab didepan penghulu. apa katanya nanti , bisa mereka


aku yang memaksamu menikahiku!" Intan berbicara dengan santai.


Reno menatap lekat manik mata Intan lalu tersenyum tipis.


" Aku juga tidak akan rela jika wanita itu merebutmu dariku, aku Intan tidak akan membiarkan dia menyentuhkan. jangan pandang remeh calon isterimu ini!" Tiba tiba Intan berubah menjadi wanita yang kuat.

__ADS_1


" Ha..ha... padahal aku juga takut kalau benar benar menghadapinya langsung!" Ucapan Intan seketika membuat Reno ikut tertawa dan menarik Intan dalam pelukannya.


" Terima kasih sayang, kita hadapi wanita itu bersama-sama. aku tidak akan membiarkannya menyentuhmu apalagi sampai melukaimu!" Reno memeluk erat tubuh mungil Intan.


" Aku percaya padamu!" Intan mendorong pelan tubuh Reno dan menatap lekat mata calon suaminya itu. Reno melirik ke bibir Intan yang berwarna merah muda dan mendekatkan bibirnya tapi secepat kilat Intan menutup mulut Reno dengan tangan mungilnya.


" Bersabarlah, bukannya kau bilang ingin menikahiku. jika sudah halal kau bebas melakukannya!" Intan tersipu malu dengan ucapannya sendiri.


" Ha...ha.... wajahmu lucu merah seperti tomat.!" Reno tertawa terbahak bahak dan Intan memukul bahu Reno sampai Reno menjerit sakit.


Reno langsung menyalakan mesin mobilnya dan melaju kembali menuju rumah Ratih satu-satunya keluarga yang Intan miliki.


" Mas jangan ngebut-ngebut. aku takut!" Intan merasa takut karena Reno menyetir dengan kecepatan tinggi.


" ahh.. maaf sayang, aku terlalu bersemangat ingin segera sampai di rumah bibimu agar secepatnya kita bisa dinikahkan hari ini juga!" Jawab Reno semangat dan menurunkan laju mobilnya.


"Mas kita itu kan belum menyiapkan semuanya mana bisa secepat itu?" tutur Intan.


"Kau tenang saja sayang, aku akan menyuruh Bima mengurus semuanya!"


Reno langsung menelpon Bima dan memintanya untuk mengurus semua persiapan pernikahannya. tanpa menunggu lama Bima langsung menjalankan semua yang diperintahkan Reno termasuk urusan penghulu.


💝 🍀 💝 🍀 💝 🍀💝 🍀 💝 🍀 💝


Di rumah Bayu


Mobil Reno sudah terparkir dihalaman rumah Bayu. Reno dan Intan turun dari mobil dan keduanya berjalan bersama. sampai didepan pintu Intan mengetuk pintu.


Tokkkk.... tokkk.. tokkkk...


"Assalamualaikum !" Intan mengetuk pintu dan mengucapkan salam.


" Wa'alaikum salam!" Sayup-sayup Intan mendengar suara sahutan salamnya dari dalam.


" Alhamdulillah, sepertinya ada orangnya mas!" Ucap Intan menatap wajah Reno yang berada disampingnya.


" Syukurlah kalau ada, kita tidak perlu menundanya lagi" Sahut Reno senang


" Maksudnya?" Tanya Intan dengan polosnya.


" Gak usah nunda bilang ke bibi untuk segera nikahin kita!" Bisik Reno sambil terkekeh.


" Mas Reno, ih kirain apa!" Intan memukul bahu Reno kesal.


CEKLEKKKK....


Pintu terbuka dan menyembul seorang gadis cantik dengan rambut yang dikuncir dua dan poni menutup dahinya ya siapa lagi kalau bukan si cantik Citra.


" Kak Intan!" teriak Citra dan langsung memeluk Intan." Kangen!" ucapnya.


" sama kak Intan juga kangen!" Intan melepaskan pelukan Citra dan membelai pucuk kepalanya lembut.


" Kamu gak kangen sama kak Reno?" Goda Reno pada Citra.


" Eh... ada kak Reno juga!" Citra cengengesan karena gak melihat sosok sebesar Reno.


" Masa kamu gak lihat ada cowok setampan kakak berdiri disini sih. wah pelanggaran ini!" kelakar Reno.


" Kak Reno sih wajahnya kelewat tampan sampai gak keliatan deh saking kelewatnya!" Reno dan Intan tegelak dengan ucapan Citra.


Reno dan Intan masuk kedalam rumah sementara Citra membuat minum untuk mereka setelah sebelumnya memberitahukan kepada ibunya perihal kedatangan Reno dan Intan.


" Kamu kemana aja Intan, kok pulang ke ibu kota gak bilang-bilang dulu sama bibi?" Tanya seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari kamarnya.


Intan berdiri di ikuti oleh Reno lalu keduanya menyalami tangan Ratih bergantian.


"Maaf bi waktu itu aku ada keperluan mendadak, jadi gak sempat bilang!" Ucap Intan sedikit berbohong karena kenyataannya Intan pergi gara-gara pria yang saat ini duduk disampinhnya.


Citra datang membawa nampan berisi 3 cangkir teh manis yang ia letakan diatas meja.


" Kak Reno kak Intan silahkan diminum tehnya!" Ucap Citra sopan.


" Terima kasih Cantik!" Reno


" Terima kasih sayang!" Intan


Reno dan Intan menyambar cangkir yang Citra letakan diatas meja lalu meneguk air tehnys yang Citra suguhkan.

__ADS_1


Intan merasa gugup untuk mengatakan tujuan kedatangan mereka, Intan melirik Reno lewat tatapan matanya seolah Intan meminta agar Reno yang mengatakan semuanya tapi mata Renopum saat melirik Intan seakan mengatakan hal yang sama. Ratih yang melihat tatapan aneh kepada keduanya jadi penasaran dengan tujuan mereka.


__ADS_2