RAHASIA DALAM PERNIKAHAN

RAHASIA DALAM PERNIKAHAN
Mengunjungi Makam ayah


__ADS_3

Reihan dan cahaya keluar dari kamarnya berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan. disana sudah ada bramantyo dan widia yang sedang duduk dikursi meja makan sambil memandang kehadiran anak menantunya yang berjalan mendekat.


Reihan menarik kursi untuk cahaya duduk kemudian iapun duduk dikursi samping cahaya.


Cahaya dengan cekatan mengambilkan nasi dan lauk pauk kepiring suaminya, Reihan tersenyum manis mendapatkan pelayanan dari sang istri.


" Terima kasih sayang !" ucap Reihan lembut pada cahaya.


cahaya tersenyum sambil mengambil sarapan untuk dirinya sendiri dan melihat sikap dua insan yang berada dihadapannya, widia menatapnya sinis.


" Pah... Mah, Hari ini aku mau izin mengajak cahaya ke kota xxxxx mengunjungi makam ayahnya dan kami akan tinggal disana untuk beberapa hari". ucap Reihan mengawali obrolan di meja makan.


" itu bagus, pergilah dan jangan lupa ajak cahaya jalan-jalan disana.!"


" iya, papah tenang aja" jawab Reihan.


"terima kasih pah" ucap cahaya yang dibalas senyuman dari sang papah.


" Rei untuk apa kamu pergi kesana? kalau cahaya mau mengunjungi makam orangtuanya biarkan saja dia pergi sendiri. lebih baik hari ini kamu temani mamah kerumah tante lina mamahnya clara. mamah ada perlu dengannya" kata widia yang mengejutkan Reihan.


mendengar nama clara yang keluar dari mulut mertuanya dada cahaya terasa sesak terhimpit rasa cemburu ia tertunduk diam airmata mulai menggenang dipelupuk mata, menahan kesedihan.

__ADS_1


" Kalau memang ada perlu dengan lina teman mamah itu, mamah pergi saja sendiri tidak usah mengajak Reihan, sekarang dia sudah beristri, apa perlu papah yang menemani mamah?" sahut Bramantyo


" tidak perlu" sahut widia lalu menghentikan sarapannya dan beranjak pergi.


" pah kalau mamah memang butuh Reihan temani gak apa-apa pah, pergi ke makam ayahku lain waktu saja" kata cahaya yang merasa tidak mau widia tambah membencinya.


" sudah jangan kamu hiraukan ucapannya, dia memang seperti itu, kalian pergi saja" kata bramantyo menenangkan hati cahaya dan mengelus lembut punggung menantunya.


" Terima kasih pah" ucap Reihan sambil menggenggam punggung tangan istrinya.


usai aktifitas sarapan bramantyo pergi kekantor sedangkan widia mengunjungi butik miliknya. Reihan dan cahaya berkemas mengepak barang yang akan mereka bawa.


Selesai mengepak Reihan membawa satu koper kelantai bawah memasukkannya kedalam bagasi mobil cahaya mengikutinya dibelakang.


" mbok kami berangkat ya mbok!" pamit cahaya pada mbok ijah yang berdiri mengantar sampai pintu gerbang.


" hati-hati yang non, jaga kesehatan non cahaya " ucap mbok ijah dengan sedikit mata berkaca-kaca karena mbok ijah sudah menganggap cahaya seperti cucunya sendiri.


" iya mbok, si mbok juga jaga harus jaga kesehatan" jawab cahaya sambil mencium punggung tangan si mbok. buat cahaya si mbok juga sudah seperti keluarga.


" kita berangkat sekarang?" tanya Reihan yang duduk disamping cahaya dan siap mengemudikan mobilnya

__ADS_1


" iya kita berangkat" jawab cahaya.


Reihan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kota xxxx


diperjalanan didalam mobil cahaya memandangi sudut jalan dan pohon-pohon yang berdiri melambai-lambai. pancaran rasa bahagia terukir jelas diwajah cantiknya. Reihan yang sekilas memandangpun turut merasakan kebahagiaan istrinya.


" apa kamu merasa senang?" tanya Reihan yang memecah kesunyian.


cahaya menoleh kesumber suara melontarkantersenyum manisnya menganggukan kepala mengisyaratkan bahwa ia merasa sangat bahagia.


" Rei...!" panggilnya


" bisakah kau ganti panggilanmu dengan yang lain?" ucap Reihan sambil tersenyum


" maksudnya?" cahaya bertanya dengan polos.


" maksudku bisakah kau tidak memanggil namaku, panggil aku dengan sebutan yang lain!" Reihan menghela napas panjang.


" sebutan apa? "


" Terserah,ya boleh mas boleh juga sa....!" ucapan Reihan terpotonh

__ADS_1


" Sayang.." lanjut cahaya dengan tatapan lembutnya


__ADS_2