
Reihan duduk disamping tempat tidur matanya menatap gadis yang sedang berbaring diatas ranjang pasien, dengan ragu ia menggenggam jemari cahaya.
" Gadis bodoh, kenapa kau begitu nekat melakukan ini hah...?" tanya Reihan pelan.
" seputus asa itukah gadis bodoh... kau melakukan ini sama saja kau menolak menikah denganku" gerutu reihan.
" berani benar kau menolakku, sebagai hukuman kau harus segera sadar dan tetaplah bertahan gadis bodoh" matanya menatap lembut cahaya. "akhhh.... kenapa aku jadi mengkhawatirkannya begini ada apa denganku" gumamnya sambil mengacak acak rambutnya sendiri.
sepasang bola mata mengerecip membiarkan cahaya perlahan masuk keretina. mata itu terbuka sempurna dan terbelalak saat melihat seorang pria tertidur disampingnya dengan jemari yang menggenggamnya erat.
cahaya terus menatap pria tersebut dan tidak membangunkannya. entah mengapa dia merasakan ada kehangatan dari genggaman jemarinya.
Reihan menggeliat dan bangun dari tidurnya dengan cepat cahaya kembali memejamkan matanya.
Reihan tersenyum tipis melihat cahaya yang berpura pura tidur.
" gadis bodoh..."! ucapnya sambil tersenyum lalu pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri.
*******
dikediaman rumah bramantyo timbul kepanikan karena dalam semalam Reihan dan cahaya menghilang. kecemasan begitu terlihat jelas diwajah bramantyo dan istrinya.
" pah... apa yang sebenarnya terjadi dimana Reihan?" ucap widia penuh kecemasan.
" entahlah mah papah juga tidak tahu" bramantyo duduk penuh kecemasan berkali kali tangannya memencet nomor Reihan tapi tetap tak bisa dihubungi.
" kemana mereka?" bramantyo cemas
__ADS_1
*******
ceklekkk
Pintu kamar mandi terbuka Reihan keluar lalu menghampiri cahaya.
" untuk apa kau membawaku kesini?" suara itu memecah keheningan. " kenapa kau menghalangiku bertemu dengan ayahku?" kata cahaya dengan tatapan tajam.
Reihan menghela nafas. " gadis bodoh, apa dengan caramu ini kau yakin bisa bertemu dengan ayahmu, apa kau yakin ayahmu mau menemuimu?" Reihan lalu duduk dan tersenyum tipis.
" aku sudah hancur, untuk apalagi aku hidup. kau yang sudah membuatku begitu hina kau yang merusak harga diriku" teriak cahaya.
" tenang... tenangkan dirimu!" bujuk Reihan.
" aku tahu kau hanya berpura pura ingin menikahiku. setelah menikah kau akan kembali pada kekasihmu dan mencampakkan aku, sebegitu hinanya kah aku.. hahhhh ?" kata cahaya penuh emosi.
batin reihan.
" ku mohon kendalikan dirimu!" ujar Reihan yang panik melihat cahaya yang begitu emosi.
ceklekk...
pintu kamar terbuka dokter harry datang untuk memeriksa keadaan cahaya.
" ada apa ini...Rei?" tanya harry yang menghampiri mereka.
" pergi..!" usir cahaya
__ADS_1
" Rei... sebaiknya kau keluar dulu, saat ini emosinya sulit terkendali jangan biarkan dia terguncang rei... " ujar harry.
Reihan manggut lalu berjalan keluar dengan sesekali menoleh ke arah cahaya.
" pergilah.. ! " ucap harry dengan menjulurkan tangannya.
harry lalu memeriksa keadaan cahaya dan mencoba menenangkannya.
diluar ruangan Reihan duduk dibangku tunggu, pikirannya kembali teringat dengan kata kata cahaya.
" bagaimana dia bisa tahu rencanaku itu.. akhh... sial !"
gumam Reihan dalam hati
krukukkk... krukukkk...
" perutku sudah lapar, jam berapa sekarang?"
tanya Reihan dalam hati.
ia lalu melihat kearah benda yang melingkar di tangannya. " sudah jam 09:00".
sebaiknya aku kekantin mencari sarapan.
namun ketika akan melangkah tiba tiba reihan teringat kalau dia belum menghubungi keluarganya. Reihan segera merogoh kantong celananya diraihnya benda pipih berwarna hitam saat ditekan tombol on ternyata batre hp. nya habis.
" akhh...sial batrenya habis!" umpatnya
__ADS_1