
Cahaya langsung mendekati Reno dan Reihan mengekor dibelakangnya.
" Mas Reno kenapa bisa seperti ini? bagaimana keadaan mas sekarang?' Cahaya memperhatikan setiap luka yang ada pada Reno sambil menangis.
" Mas gak apa - apa, dimana baby Raka mas sangat merindukan keponakan mas yang tampan dan menggemaskan itu?" Reno menyapu sekeliling tapi tak melihatnya.
" Baby Raka bersama mba Yati mas dihotel !"
" Apa mamah tau soal ini?" tanya Reno khawatir.
" Belum mas!" Cahaya duduk dikursi samping tempat tidur Reno.
" Baguslah, jangan beritahu mamah. lagi pula mas juga tidak kenapa - kenapa, mas gak mau nanti mamah panik sendiri jika tahu mas kecelakaan.!" ujar Reno yang terus saja menatap pintu berharap Intan datang menjenguknya.
" Apa dia tidak tahu ya?" Gumam Reno dalam hati.
" Mas kenapa, apa ada yang terasa sakit?" Cahaya cemas karena Reno yang seketika raut wajahnya menjadi muram dan terlihat sedih.
" mas Reno kenapa, apa perlu aku panggilkan dokter?" Reihan hendak melangkah keluar namun Reno mencegahnya.
" Tidak usah, aku tidak apa-apa!" Reno membenarkan posisi duduknya agar lebih nyaman.
" Loh, yang Intan mana?" Reihan baru menyadari kalau Intan tidak ada bersama mereka. Cahaya terkejut karena baru teringat dengan Intan.
" Loh iya mas, kemana Intan?" Cahaya bingung menyapu sekeliling.
" Intan?" tanya Reno memastikan
" Iya mas, tadi Intan ikut kesini tapi sekarang gak tau kemana. aku juga sampai tidak menyadari dia kemana!" Cahaya bingung kemana Intan pergi.
" Apa dia sebegitu enggannya melihatku ?" gumam Reno sedih dan menghela napas berat.
" Mas kenapa, kok kelihatan sedih gitu?" Tanya Cahaya yang memperhatikan Reno lekat.
" Mas gak apa-apa!" Reno melempar senyum yang dipaksakan dan kembali murung.
Cahaya menoleh ke Reihan dan saling memandang seakan bertanya pada Reihan ada apa dengan kakaknya, Reihan hanya menjawab dengan mengangkat kedua bahunya. karena dia juga tidak tahu apa penyebab Reno terlihat murung seperti itu.
" Mas aku cari Intan dulu ya?" Cahaya melangkah keluar namun saat baru sampai diambang pintu Intan muncul.
" Intan!" Cahaya terkejut saat berpapasan dengannya didepan pintu. " kamu kemana aja sih, kenapa baru masuk? aku baru aja mau mencarimu!"
" Aku... aku dari tadi ada diluar!" Jawab Intan pelan.
" Kamu kenapa, kok wajahmu terlihat pucat? apa kamu sakit?" Cahaya cemas karena melihat wajah Intan yang pucat dan terlihat lesu.
" Aku gak apa-apa, mungkin karena kecapean aja!" Sahut Intan yang kemudian digandeng Cahaya untuk masuk menemui Reno.
Reno membelalak saat melihat seorang wanita yang sangat dirindukannya berdiri dihadapannya. " Intan!" lirihnya pelan dan berusaha bergeser duduknya untuk menegakkan tubuhnya.
Reno dan Intan saling memandang. Reno terus menatap lekat wanita yang terus berjalan pelan mendekat kearahnya.
dreetttt.... drettt... suara ponsel ditas selempang Cahaya bergetar. Cahaya mengambil benda pipih itu dari dalam tasnya Reihan memperhatikan isterinya yang sedang menempelkan ponselnya ketelinga dan berjalan keluar ruangan.
" Hallo, Assalamualaikum, iya ada apa mba Yati?" Cahaya berbicara dengan mba Yati yang baru saja menghubungi telpon genggamnya.
(.............)
__ADS_1
" Oh... iya..iya... mba, saya akan kesitu sekarang!"
" Ada apa sayang?" Tanya Reno yang tiba-tiba sudah berdiri disamping Cahaya.
" Ya ampun mas , ngagetin aja!" Cahaya terkejut karena tidak menyadari kehadiran suaminya.
" Maaf!"
" Iya aku maafin!" Cubit Cahaya dipipi Reihan gemas.
" Siapa yang menelpon?" Reihan mengangkat alisnya.
" Ohh.. itu, mba Yati yang nelpon. katanya Raka menangis mas dari tadi gak mau diam. mungkin dia merasa asing kali mas berada dihotel tanpa ada mamahnya disampingnya!" Cahaya menjelaskan.
" Mungkin saja, ya sudah ayo kita ke hotel sekarang, kasihan mba yati dan juga Raka!" Reihan khawatir kepada putranya.
" Iya mas ayo, emmm.. Intan bagaimana mas dan mas Reno ?" Ucap Cahaya yang teringat dengan Intan sahabatnya.
" Minta tolong saja pada Intan untuk menjaga mas Reno sebentar. setelah mengantarmu nanti aku yang akan kembali lagi menemani mas Reno disini!"
" Ya sudah, ayo kita masuk mas dan bilang kepada Intan!" Cahaya menggandeng tangan suaminya dan masuk kembali keruangan Reno dirawat.
Reihan dan Cahaya berjalan mendekati Reno dan Intan yang masih saling memandang tanpa ada pembicaraan antara keduanya.
Reno dengan perasaan bersalah dan menduga Intan kini telah membencinya.
sementara Intan dengan hatinya yang merasa galau dan gundah gulana karena bingung bagaimana bersikap didepan Reno.
disatu sisi ia merindukan sosok pria yang berada dihadapannya dan ingin rasanya memeluknya namun disisi lain ia sangat membenci pria yang sudah membuat sakit hatinya karena perbuatannya bermesraan dengan wanita lain ya walaupun pada kenyataannya tidak seperti yang Intan lihat. namun kesalah pahaman dan tidak adanya kejujuran akhirnya membuat jarak diantara keduanya.
Reno hanya melempar senyum tipis begitu juga Intan tersenyum kearah Cahaya lalu mengalihkan pandangannya kelain arah dia enggan matanya kembali bertemu dengan tatapan Reno yang dia sadar Reno masih memandanginya lekat.
" Mas kami pulang dulu ya, ke hotel? gak apa-apa kan mas kami tinggal?" Cahaya berpamitan dan menoleh kepada Intan yang terlihat canggung.
" Ada apa? apa keponakan ku yang tampan sedang rewel?" tanya Reno
" Iya mas!"
" Yaudah, cepat sana kalian pergi, kasihan baby Raka dan mba Yati!" Reno mengangkat tangannya ke udara menyuruh adiknya segera pulang.
" Iya, kami pergi dulu nanti aku akan kesini lagi. Intan maaf tolong ya kamu temani mas Reno. nanti setelah mengantar Cahaya aku akan balik lagi kesini!" Ucap Reihan
" Emmm.... Iy...Iya pak Reihan!" jawab Intan yang sedikit gugup.
" Intan kenapa sih kok kaya gugup gitu dari tadi?" Gumam Reihan dalam hati yang sedari tadi memang tak henti memperhatikan keduanya.
" Makasih ya Intan, ksmu memang sahabat terbaikku, maaf ya jadi ngerepotin kamu untuk jagain kakakku!" Cahaya memeluk sahabatnya itu dengan hangat.
" Ihh.. apaan sih Ca, lebay tau. udah sana pergi kasihan Raka!" Intan mendorong bahu Cahaya pelan dan Cahaya tertawa kecil.
Keduanya berpamitan Cahaya dan Reihan pergi dari rumah sakit tersebut dan menuju hotel yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempat Reno dirawat.
Setelah Reihan dan Cahaya pergi tinggalah dua insan manusia yang masih terdiam dan saling menatap lekat.
" Emmm... bagaimana keadaannya pak Reno?" Tanya Intan yang merasa sedikit canggung dan berdiri disisi ranjang Reno memecah keheningan.
" Mas!" Tegas Reno. "Aku.... aaahhhhkkk...!" Rintih Reno meringis kesakitan memegang kepalanya yang dibalut perban.
__ADS_1
" Mas... mas Reno kenapa?" Intan mendekat dan panik. " Mas Reno, biar aku panggilkan dokter dulu ya mas!" Intan begitu cemas dan takut Reno kenapa-kenapa. wajahnya yang pucat semakin pucat karena terlalu panik dan khawatir dengan keadaan Reno yang meringis kesakitan.
Reno merasa gemas melihat ekspresi Intan yang panik juga mengkhawatirkannya.
" aku.. aku panggilkan dokter dulu ya mas!" Saat Intan hendak melangkahkan kakinya menuju keluar untuk memberitahu keadaan Reno justru langkahnya terhenti karena tangannya ditarik oleh tangan kekar Reno dan membuatnya jatuh kepangkuan Reno. mata Reno dan mata Intan bertemu dan keduanya
saling menatap lekat.
" Mas Reno !" pekik Intan yang tersadar akan posisi tubuhnya yang berada dipangkuan Reno dan langsung terperanjat bangun dan berdiri kikuk begitu juga dengan Reno yang menjadi salah tingkah.
" Ak.. aku panggilkan dokter dulu!" ucap Intan canggung.
" Tidak perlu!" Reno menarik pelan tangan Intan yang hendak melangkah. " Aku tidak apa-apa, gak perlu panggil dokter. karena percuma saja kau memanggilnya, sakitku tidak akan bisa ia sembuhkan!" Tutur Reno sambil menatap Intan lekat.
" Setidaknya biarkan dokter memeriksa keadaanmu, dan berusaha mengobatimu!" tegas Intan dan melepaskan tangan Reno yang masih menggenggam tangannya erat.
" Bukan dokter dan obat yang aku butuhkan!"
" Kau sakit, tangan dan kepalamu terluka kau membutuhkannya!"
" Luka ditubuhku tidaklah seberapa sakitnya tapi yang lebih sakit itu disini. !" Reno menunjuk kedadanya dan Intan terlihat gugup." Dokter tidak akan bisa mengobati rasa sakit disini dihati ini!" Reno menekan nekan dadanya berkali kali. Intan merasakan sesak didadanya ia berusaha untuk tidak menangis dihadapan Reno meskipun butiran bening sudah menumpuk di sudut matanya.
" Cukup mas, sebaiknya mas Reno istirahat sekarang.!" Intan melangkah menjauh dari ranjang Reno.
" Aku tahu kamu marah andai kecelakaan ini tidak terjadi apa kau masih mau menemuiku? ak.. aku kemarin memang sengaja ingin pulang dan segera menemuimu. namun apalah daya tuhan berkehendak lain mungkin ini adalah hukuman untukku karena telah menyakiti hati wanita yang sangat aku cintai. Intan, aku mohon maafkan aku!" ucap Reno panjang lebar penuh harap Intan mau memafkannya dan memperbaiki hubungannya yang renggang.
" Mas tidak perlu minta maaf, aku sudah memaafkan mas sebelum mas memintanya!" Ucap Intan datar.
" Apa kau mau memberiku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita?" Reno penuh harap.
" Mas Reno adalah atasan saya dan kakak dari sahabat saya mungkin selamanya memang akan seperti itu!" Tegas Intan.
" Tidak, aku tetap pada pendirianku aku ingin kau tetap menjadi calon isteriku dan calon ibu dari anak-anakku!" Reno menurunkan kakinya dan melepas kasar selang infus yang menempel di punggung tangan kanannya lalu berjalan mendek kearah Intan.
Intan terkejut Reno melepaskan Infusannya dan segera menghampirinya memaksanya untuk kembali ketempat tidur karena darah yang terus menetes dari tangan Reno.
Terlihat dengan jelas raut wajah Intan yang begitu panik dan khawatir.
" Mas kau sudah gila ya!"bentak Intan kesal dan menatap tajam Reno
" Iya kau benar, aku memang sudah gila. karena kamu aku jadi gila. kau tahu aku sangat tersiksa dengan sikapmu seperti ini. aku tidak bisa hidup tanpamu jika kau terus menerus menghindar dan menjauhiku lebih baik aku mati saja!" Reno berteriak dan menghempaskan tangan intan kasar.
sampai intan terhempas dan munduk dua langkah. Intan melihat Reno yang seperti itu membuat tidak kuasa menahan aimatanya lagi yang sudah ditahan - tahannya sejak ia melangkahkan kaki untuk menjenguk Reno.
" Aku sudah pernah mengatakan padamu untuk tetap mempercayaiku dan tidak mempercayai apa yang akan kau lihat dan kau dengar. banyak hal yang terkadang kau lihat dengan matamu tapi tidak seperti itu kebenaran dan kenyataannya.
aku berharap kau mempercayaiku. hanya kaulah satu - satunya wanita yang ada dihatiku wanita yang sangat aku cintai. aku harap kau percaya itu. !" Reno berkata dengan darah yang masih saja menetes dan begitu juga aimatanya yang terus saja berlinang.
" Aakhhh...!" Reno memegang kepalanya yang berasa berdenyut. " aku mohon percaya padaku Intan!" lirih Reno sambil meringis kesakitan
" Cukup mas, kau harus istirahat aku akan panggilkan dokter!" Intan hendak keluar memanggil dokter.
" Tidak aku tidak mau, sebelum kau memaafkanku dan memberiku satu kesempan lagi!" Lirih Reno dengan wajah pucat. Intan yang melihat wajah Reno sudah pucat pasih membuatnya semakin cemas dan tanpa menghiraukan Reno ia langsung memanggil dokter.
Tubuh Reno lemas dan wajahnya sangat pucat Intan terlihat panik dan terus menatap Reno yang sedang diperiksa oleh dokter.
awalnya Intan ingin keluar saat dokter datang untuk memeriksanya tapi Reno bersih keras agar Intan tetap tinggal dan menemaninya.
__ADS_1