
Di meja makan
Reihan dan Cahaya menjadi salah tingkah apalagi saat ini Reno dan Intan sedang menatap kearah keduanya. Cahaya semakin gugup saat melihat Intan tersenyum menggoda.
" Ca, kenapa wajahmu terlihat merah seperti itu, apa kau sedang sakit? emm... tidak biasanya juga kamu diam seperti ini?" Goda Intan menaik turunkan alisnya.
" Jangan menggodaku seperti itu, lihat saja nanti kau juga pasti merasakan apa yang aku rasakan. apalagi suamimu itu!" Tunjuk Cahaya pada Reno dengan dagunya. " Playboy cap teri!" Cahaya mencibirkan bibirnya ke arah Reno.
" Eh...eh.. kok jadi ngata-ngatain mas dek, enak aja dibilang playboy cap teri" protes Reno yang tidak terima dibilang playboy cap teri.
" Kalau bukan playboy cap teri lalu apa? playboy cap ubur-ubur!" Intan yang sedang mengunyah makanan hampir tersedak dengan kata-kata Cahaya yang bilang Reno playboy cap ubur-ubur.
Intan meraih gelas yang ada di samping tangan kanannya lalu meneguknya hingga setengah.
" Kamu ini ada -ada aja Ca, mana ada itu playboy cap.ubur-ubur, aku baru dengar!" Tawa Intan sambil geleng-geleng.
" its... bagus dong playboy cap ubur-ubur bisa sengat sana sengat sini cewek-cewek pasti pada klepek-klepek sama mas, ha...ha.." Intan melirik Reno dengan tatapan tajam Cahaya yang melihat raut wajah Intah berubah pun mengulum senyumnya begitu juga dengan Reihan. sementara Reno masih dengan santai tertawa tanpa menyadari sorot mata tajam yang mengarah padanya.
" Kenapa kalian diam, dan kamu Ca ada apa denganmu kenapa menatapku seperti itu?" Reno masih belum menyadari aura kemarahan sedang mengarah padanya.
Cahaya menunjuk kearah Intan dengan ekor matanya Reno yang mengerti arti dari mata Cahaya langsung dengan pelan-pelan menoleh ke wanita yang duduk disampingnya.
Deggg...
Reno terasa susah menelan salivanya saat mendapati sang isteri tengah menatapnya tajam. Reno cengar cengir dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu melirik Cahaya untuk meminta bantuan. Cahaya hanya mengangkat bahunya lalu menyelesaikan sarapannya karena melihat piring suaminya yang duduk disampingnya sudah bersih.
Reihan lalu berdiri dan bersiap kekantor Cahaya yang buru-buru menghabiskan sarapannya pun dengan cepat menyusul Reihan yang berjalan keluar rumah.
" Ca!" Lirih Reno dan Cahaya hanya melenggang pergi begitu saja tanpa menghiraukan ucapan Reno dan berjalan menyusul Reihan.
Sementara Reno jadi salah tingkah mendapat tatapan mematikan dari sang isteri..
" Senang ya jadi ubur-ubur bisa sengat sana sengat sini jadi banyak cewek-cewek yang klepek-klepek?" Sindir Intan " Jadi kalau sudah bosan bisa gonta ganti yang lain ya?" Goda Intan dengan senyum getirnya dan sorot mata tajam.
" Ka..kamu kok bicara seperti itu sayang?" Reno sedikit gugup.
"Sudahlah sebaiknya cepat kau habiskan sarapanmu nanti kita telat lagi kekantor!" Intan melanjutkan sarapannya begitu juga dengan Reno namun kali ini tidak ada pembicaraan hangat antara keduanya. yang terdengar hanya dentingan sendok dan piring yang beradu.
________
Reihan sudah beranjak pergi kekantor setelah Cahaya mengantarkannya sampai depan rumah. sebenarnya Reihan ingin sekali Cahaya ikut bersamanya pergi ke kantor namun sayang pagi ini Cahaya harus pergi menjemput sang mama kebandara dan dia berjanji nanti saat jam makan siang Cahaya akan menyempatkan diri untuk kekantor suaminya makan siang bersama.
Sementara setelah sarapan Intan dan Reno berangkat bersama pergi kekantor dan disepanjang perjalanan Intan hanya diam tidak berbicara sekata patahpun pandangannya jua terus menatap keluar . rasa kesal dengan ucapan Reno saat sarapan masih belum hilang membuat Reno berkali kali menghela napas berat.
" Sayang, kau ini kenapa kok diam terus sih, masih marah dengan ucapanku tadi tentang playboy cap ubur-ubur?" Tanya Reno memecah keheningan.
Intan masih tidak menggubris ucapan Reno. rasa kesalnya masih begitu besar apalagi saat itu Reno mengatakan Reno mengatakan sengat sana sini biar cewek-cewek klepek-klepek dia anggap apa Intan kalau masih ingin cari cewek. rasa cemburu Intan tidak tercium oleh Reno karena baginya ucapannya itu hanyalah gurauan semata dengan Cahaya tapi tidak dengan Intan dia menggap serius ucapan Reno. dia terlalu takut Reno akan berpaling darinya apalagi saat ia ingat kejadian Reno dengan Amira.
Reno berkali kali melirik ke Intan yang masih saja diam membisu namun tiba-tiba hatinya terenyuh dan jantungnya berdegup kencang saat sayup-sayup Reno mendengar suara isak tangis dari arah sampingnya Reno yang meligat tubuh Intan sedikit bergetar dengan cepat langsung menepikan mobilnya dan menggeser tubuhnya untuk menghadap kearah Intan yang masih enggan menoleh padanya.
Reno menarik bahu Intan agar menoleh kearahnya dan seketika Intan sudah berhadapan dengannya betapa terkejutnya Reno melihat wajah Intan yang basah dengan airmata.
" Sa.. sayang kamu menangis?" Reno menatap lekat wajah Intan yang masih menundukan pandangannya.
" Sayang, kau ini sebenarnya kenapa?" Reno menarik dagu Intan agar mendongak menatapnya. Intan tetap diam hanya derai airmata yang terus mengalir.
" Kamu ini kenapa sayang, bilang dong sama aku. apa aku sudah melakukan kesalahan , hem?" Reno bertanya dengan selembut mungkin dan mengusap airmata Intan dengan ibu jarinya.
karena tidak jua mendapat jawaban Reno lalu membawa Intan dalam pelukannya dan sontak hal itu membuat Intan kesal lalu mendorong kuat tubuh Reno hingga Reno terjerabah mundur kebelakang.
" Kamu ini kenapa sih saysng?" kesal Reno yang sedari tadi diacuhkan Intan dan tidak menggubris ucapannya.
Intan lagi-lagi hanya diam lalu membuang pandangannya keluar. Reno yang kesal dengan sikap Intan tidak lagi mempedulikan sikap Intan dengan emosi yang tertahan Reno kembali menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Intan sebenarnya sedikit takut tapi karena egonya yang tinggi dan masih kesal dengan Reno dia ridak mempedulikan cara Reno mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
Tanpa terasa mobil Reno sudah sampai didepan pintu kantor dan tanpa menunggu lama-lama Intan yang masih kesal langsung turun dari mobil Reno dan di ikuti oleh Reno yang kemudian memberikan kunci mobilnya pada salah satu penjaga pintu masuk kantor untuk memarkirkan mobilnya.
Semua karyawan menunduk saat melihat Reno berjalan dengan raut wajah dinginnya dan tanpa menggubris sapaan dari beberapa karyawan yang menyapanya. sementara Intan sudah melesat menuju ruangannya.
Reno merasa sangat kesal dan geram atas sikap Intan yang begitu ambigu menurut Reno. marah tanpa alasan yang jelas. Reno masih belum menyadari aksi candaannya dengan Cahaya lah yang sebenarnya membuat Intan marah. entah ada gerangan apa Intan yang biasanya menyikapi candaan Reno dan Cahaya biasa-biasa saja tapi kali ini sampai membawanya kedalam hati.
Reno masuk kedalam ruangannya dalam keadaan suasana hati yang tidak baik, Bima yang melihat kedatangan atasannya dengan mimik wajah yang suram dengan ragu-ragu Bima masuk ke ruangan Reno.
sementara disisi lain Intan menghempaskan tubuhnya dikursi kerjanya dengan kasar dan hentakan tas yang diletakan diatas mejanya membuat semua rekan-rekannya menoleh kearahnya. melihat sikap Intan yang sedikit tidak biasanya membuat Lintang , Edo dan andra saling melempar pandangan satu sama lain sementara Murni hanya menatapnya malas.
Intan langsung menyalakan monitor yang ada dihadapannya dan mengambil salah satu file yang menumpuk dimeja kerjanya. Intan langsung memulai mengerjakan pekerjaannya tanpa menggubris beberapa pasang mata yang sedang memperhatikannya dengan pekiriannya masing-masing.
Intan sesekali melirik ponselnya yang tergeletak diatas meja berharap sang suami menghubunginya dan meminta maaf tapi ternyata harapannya sia-sia karena ponselnya dari tadi hening.
rasa kesal Intan semakin bartambah karena pada saat jam makan siang pun Reno tidak menghubunginya akhirnya Intan memutuskan untuk ikut ajakan teman-temannya makan siang di restoran yang tidak jauh dari kontor mereka.
Di ruangan berbeda Reno sesekali memijat pelipisnya selain pekerjaannya yang menumpuk kekesalannya terhadap Intan pun membuat kepalanya berdenyut.
" Apa sih sebenarnya maunya dia tuh, marah dan ngambek gak jelas gitu. bikin kesal aja!" gumam Reno yang menyandarkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya berharap rasa pusingnya akan segera hilang.
Ceklek pintu terbuka.
Reno langsung membuka mata dan terperanjat menduga yang datang dan masuk kedalam ruangannya adalah Intan namun saat ia menoleh Reno langsung membulatkan mata melihay wanita yang berdiri dihadapannya dengan senyum yang mengembang.
Deggg....
" Dia, mau apa dia datang kemari?" Gumam Reno dalam hati.
Wanita itu berjalan mendekati Reno dan dengan cepat Reno mengangkat tangannya kedepan.
" Stop !" Titah Reno tegas.
Wanita itu langsung menghentikan langkahnya dan menatap lekat wajah pria tampan yang sangat ia rindukan senyum diwajahnya masih terlihat jelas meski ada rasa sedikit kecewa karena sikap dingin Reno.
" Ada apa kau datang menemuiku?" Tanya Reno tanpa basa basi.
" Kau masih sama ya seperti dulu, dingin!" Ucapnya santai dengan suara khasnya yang sangat lembut.
" Sudahlah jangan basa basi, ada apa?" tanya Reno yang tidak suka bertele-tele.
" Apa kau tidak mengizinkan aku untuk duduk terlebih dahulu?" dengan santai wanita itu berjalan mendekati Reno.
" Luna kau ini sudah bosan hidup ya, bikin kesal saja!"
" Ha....ha.... sebegitu enggannya kau bertemu denganku, keterlaluan sekali!"
" Sudah cepatlah pergi sana, mood ku sedang tidak baik hari ini, kau datang bukan pada waktu yang tepat.!" usir Reno
" Cih, aku tidak akan pergi sebelum kau mau menemaniku makan siang, bagaimana?" Tawar Luna dengan santai
" Aku tidak bisa aku sibuk!" tolak Reno
" Ya sudah aku akan tetap disini!" kekeh Luna
" Ish.... menyebalkan!"
" Hari ini Intan mungkin sedang makan siang dengan teman-temannya dikantin. tidak mungkin kan dia menungguku. emmm... baiklah lebih baik aku terima saja tawaran dari Luna biar dia cepat pergi dari sini!" Gumam Luna dalam hati.
"Baiklah aku akan menemanimu makan siang, tapi setelah itu kau harus pergi dan jangan datang lagi kekantorku jika tidak ada urusan penting!" Reno melangkah keluar dan di ikuti oleh Luna.
" Tenanglah setelah ini aku tidak akan datang lagi ke kantormu!" Ucap Luna
" Bagus!" ucap Renk lega
__ADS_1
"Tapi aku akan dagang ke rumahmu!" Ucap Luna santai lalu berjalan menyusul Reno yang terhenti langkahnya akibat ucapan Luns.
" Kau!" Kesal Reno.
" Ha...ha.. tidak usah pasang wajah seperti itu!" Luna melingkarkan tangannya dilengan Reno dan berjalan santai sambil beriringan.
Semua pandangan mata tertuju pada Reno dan Luna yang berjalan sambil bergandengan tangan tepatnya sih tangan luna yang merangkul lengan Reno. banyak yang mengira Luna adalah kekasih dari bos mereka, wajah Luna yang cantik dan sikapnya yang lembut membuat sebagian dari mereka mengatakan Luna dan Reno adalah pasangan yang sangat serasi.
" ***Itu kekasih bos ya..? Cantik!"
" Sepertinya begitu"
" Iya mereka terlihat serasi sekali, yang satu tampan yang satu cantik perpaduan yang sangat indah!"
" Aku setuju dengan ucapanmu pak Reno dan kekasihnya benar-benar serasi!"
" Duh aku jadi iri, he...he....!"
" iya aku juga... kira-kira siapa ya wanita itu, beruntung sekali ya bisa mendapatkan pak Reno?'
" Lihat itu pak Reno terlihat sangat mencintai kekasihnya ya, baru kali ini aku lihat pak Reno senyum seperti itu. duhhh... tampannya***!"
Begitulah sebagian obrolan dari para karyawan yang melihat Reno dan Luna berjalan di lobi kantor.
Sementara ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan mereka merasa terbakar api dan mengepalkan tangannya dengan kuat. merasa penasaran, wanita itu berjalan menuju keluar kantor dan mencari keberadaan Reno saat melihat kanan kiri wanita itu tidak dapat menemukan orang yang dicari namun saat pandangan lesunya melihat kearah depan betapa terkejutnya dia melihat mobil yang lewat didepannya dan dapat dengan jelas wanita itu yang tak lain Intan melihat suaminya berada dalam satu mobil bersama seorang wanita sambil tertawa lepas.
" Pantas saja dia tidak menghubungiku, ternyata playboy cap ubur-ubur sedang beraksi!" Gumam Intan kesal dan tanpa sadar butiran bening meluncur begitu saja dari kelopak matanya.
Bima terkejut saat melihat Intan berada di depan kantor apalagi dalam keadaan tubuh yang bergetar karena menangis. Intan merasa sangat bodoh membatalkan makan siang bersama teman-temannya karena ingin berbaikan dengan suaminya dan makan siang bersamanya namun kenyataannya yang didapat justru sebaliknya bukannya berbaikan dan suaminya meminta maaf luka yang Intan ingin acukan malah semakin tergores lebih dalam lagi setelah melihat Reno bersama seorang wanita dan ditambah lagi dengan ucapan para karyawan yang sempat ia dengar tadi waktu di lobi.
Bima terus memperhatikan Intan dari balik tembok, Intan menengadah keatas berusaha untuk menghentikan tangisannya namun rasanya sulit. Intan jadi teringat dengan ucapan Cahaya pagi tadi saat di meja makan.
"Jangan menggodaku seperti itu, lihat saja nanti kau juga pasti merasakan apa yang aku rasakan. apalagi suamimu itu!" Tunjuk Cahaya pada Reno dengan dagunya. " Playboy cap teri!" Cahaya mencibirkan bibirnya ke arah Reno.
Apakah ini karma buatku yang sudah menggoda Cahaya. sekarang aku merasakan apa yang Cahaya rasakan. tapi ini terlalu sakit dia bukan membujukkan dan meminta maaf tapi malah mengabaikanku dan malah pergi bersama wanita lain. Intan menghela napasnya berat lalu pergi masuk kedalam kantor. Bima masih terus memperhatikan pergerakan Intan tanpa menampakan diri dan betapa terkejutnya Bima saat Intan masuk kedalam lif dan menuju lantai paling atas rooftop.
Bima takut terjadi sesuatu pada Intan apalagi tadi ia sempat melihat Intan menangis. Bima dengan segera mengikuti Intan melalui lif sebelahnya.
Saat sampai di rooftop Intan berdiri di ujung tepi tembok pembatas dan tangisnya pun kembali pecah. Reno bukan membujuk dan merayunya untuk meminta maaf yang didapat malah sebaliknya. Intan merasa sangat bodoh.
" Aaaaaaaaaa.......!" Intan berterial sekeras mungkin
Bima yang tidak mau mengambil resiko langsung menghubungi Reno yang sedang makan siang dengan Luna di restoran yang tidak jauh dari kantor.
_________
" Apa?" Reno terkejut langsung berdiri dari duduknya
"......"
" Terus jaga dia, jangan sampai dia bertindak bodoh. kalau sampai terjadi sesuatu padanya aku pastikan kau akan lenyap dari bumi in!" Ancam Reno.
Bima hanya menghela napas berat atas ancaman bosnya. kenapa bosnya yang berbuat salah malah dia yang kena batunya. dasar bos begitulah sikapnya selalu semaunya.
Intan kembali terisak dan berjalan semakin dekat ke pembatas.
" Reno jahat....!"
"Reno bereng**k..!"
"Dasar playboy cap ubur-ubur!"
Bima melakukan Video call pada Reno memperlihatkan bagaimana keadaan Intan yang sebenarnya tanpa sepengetahuan Intan Bima terus mengawasinya.
__ADS_1
Luna yang melihat wajah Reno penuh kepanikan tersenyum kecut saat Reno pergi meninggalkannya begitu saja belum sempat Reno memakan makanannya yang dipesan Reno sudah melesat pergi tanpa sekata patahpun pada Luna.
" Kau sudah berubah Ren!" Gumam Luna yang menatap punggung Reno yang pergi menjauh.