
Reno dan Intan masuk kedalam lif dengan bergandeng tangan. namun pada saat tiba di lobi Intan dengan segera melepaskan genggaman tangan Reno dan mundur selangkah berjalan dibelakang, Reno menghentikan langkahnya dan menoleh, sorot matanya mengisaratkan sebuah pertanyaan dan dengan santai Intan melemparkan senyum termanisnya sambil berbisik pelan.
" Lebih baik seperti ini, sudah ayo cepat jalan!" bisik Intan sepelan mungkin. Reno hanya menggeleng melihat tingkah laku isterinya.
Setelah diluar gedung Bima membukakan pintu mobil untuk Reno dan Intan.
" Aku akan menyetir sendiri suruh mang Yana pulang naik taksi!" Titah Reno yang langsung di anggukan oleh Bima.
Reno dan Intan sudah berada didalam mobil dengan laju kecepatan sedang. Intan tiba-tiba ingin memakan bakso super pedas yang ada di pinggir jalan dekat taman kota. membayangkannya saja air liur Intan seakan ingin menetes.
" Mas jangan langsung pulang ya, kita mampir ke taman kota dulu ya sebentar!" Intan tersenyum manis dan memperlihatkan puppy eyes nya.
Milihat manik mata Intan yang membuatnya gemas Reno mengacak -acak rambut Intan" Untuk apa kita kesana sayang, kau harus istirahat dirumah!"
" Mas, tapi aku ingin makan bakso yang ada dipinggir jalan di dekat taman kota itu" rengek Intan manja.
" Tidak sayang, makanan itu tidak sehat, tidak baik untuk kandunganmu, mas tidak mau kamu dan calon anak kita kenapa-kenapa".
" Apa sih mas, siapa bilang makan bakso itu tidak sehat , aku dan Cahaya dari dulu sering kok makan bakso ditempat itu" Protes Intan dengan memberengut. " Lagi pula yang ingin makan itu kan anak kita sayang!" Intan menunduk menatap perutnya yang sedikit membuncit dan mengelus-elusnya pelan.
" Sayang, daddy mu tidak mengizinkan kita untuk makan bakso, daddy pelit mommy kesal sama dady kalian!" Intan berbicara pada calon bayi kembar yang ada didalam kandungannya dengan nada sedih.
Reno yang mendengar ocehan isteri tercintanya hanya mengulum senyum lalu menjulurkan tangan kirinya mengusap perut Intan lembut ." Baiklah sayang kali ini daddy mengalah , karena anak-anak daddy yang ingin makan bakso maka akan daddy turuti"
Intan menoleh ke Reno dengan wajah cemberut " Apalagi sayang, kan mas udah turutin kemauan kamu. apa mas salah lagi?" Reno mengusap kepala Intan penuh sayang.
" Jadi kalau mommy nya yang minta gak dituruti gitu?"
__ADS_1
"Itu kan sama saja sayangku, anak-anak yang mau mommy nya juga pasti mau, udah satu paket kan?" Reno mengacak acak rambut Intan dan dengan segera Intan menyingkirkan tangan Reno yang mengacak-acak rambutnya.
" ihhh... mas berantakan kan rambutnya !" Kesal Intan.
" Udah ah.. jangan cemberut terus jelek tau, nanti dedeknya ikut cemberut didalam sini!" tangan Reno mengusap lembut perut Intan yang sedikit membuncit.
Reno melajukan mobilnya menuju taman kota mencari penjual bakso yang diinginkan oleh Isteri tercinta.
💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧💧
Sementara di kantor .
Teman-teman Intan masih merasa terheran-heran karena perlakuan Reno hari ini yang diluar kebiasaannya. Reno yang terkenal dingin, galak dan tegas terlihat jauh berbeda dari biasanya. sikapnya mendadak terlihat romantis dan begitu perhatian dengan pegawainya. apalagi saat itu mereka melihat dengan mata kepala sendiri Reno menggendong Intan dan membawanya pergi begitu saja dari hadapan mereka.
" Apa tadi aku gak salah liat ya, yang tadi itu benar pak Reno kan ya, CEO kita yang terkenal dingin dan galak itu?" Lintang menopang wajahnya diatas meja dengan kedua telapak tangannya masih merasa tidak percaya dengan apa yang baru dilihatnya.
"Emmm...kira-kira bagaimana keadaan Intan sekarang ya?" Lintang jadi khawatir karena kondisi Intan yang tiba-tiba pingsan.
" Apa dia lagi sakit, kok bisa tiba-tiba pingsan gitu Lin?" Tanya Andra
" Entahlah, setau aku sih tadi Intan baik-baik aja, ya sebelum tuh rubah betina datang menghampirinya!" Lintang menunjuk Murni dengan dagunya dan spontan Andra menoleh kearah yang dimaksud Lintang.
" Tapi tumben ya Lin, gak biasanya loh Intan semarah itu"
" Iya juga sih" Lintang pun sedikit berpikir.
" Eh...bukannya tadi itu pak Reno sedang ada tamu ya?" ucap Edo yang ikutan nimbrung obrolan Lintang dan Andra.
__ADS_1
" Emmm...Iya juga ya, tapi kenapa tau-tau muncul disini. bukannya tadi itu kata si rubah betina tamunya itu pacarnya pak bos ya?" Lintang melirik Murni yang masih pucat karena mendapat tatapan mematikan dari bosnya.
Murni menoleh dan kesal dengan teman-teman satu timnya yang memandangnya dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
" Kenapa kalian menatapku seperti itu?" ketus Murni. " Cih.. itu hanya akal-akalan teman kalian yang sedang cari perhatian dari pak Reno. paling juga pingsannya hanya pura-pura, dasar wanita licik, pelakor!" Cibir Murni.
" Ehh.... rubah betina, jaga tuh mulut! Intan bukan orang seperti loe yang suka tebar pesona sana sini hanya buat cari muka dan sayangnya gak ada satupun ya yang terpesona sama loh" Ejek Lintang. " Loe bilang Intan pelakor? hello....pelakor dari mana woyyyyy emangnya pak Reno udah nikah!" Kesal Lintang.
" heh.... asal loe tau ya semua, Amira wanita yang tadi masuk keruangan pak Reno itu dia sepupu gue dan dia itu calon isteri pak Reno, sebentar lagi mereka akan bertunangan dan setelah itu mereka akan menikah di bali!"
" Baru calon, belum tentu jadi.. yang udah nikah aja bisa cerai apalagi yang baru calon. kalau emang yang loe bilang itu benar si.. siapa tadi dia bilang nama tuh cewek?" Lintang mengingat-ingat.
" Amira!" Sahut Andra mengingatkan.
" Ahh.. iya Amira. kalau memang si Amira itu calon isteri pak Reno kenapa pas dia datang tadi pak Reno malah pergi ninggalin sepupu loh itu dan datang kemari?" sungut Lintang membuat Murni semakin emosi.
" Ya pak Reno kesini itu pasti disuruh Amira buat manggil gue !" Murni dengan P'D nya membuat Lintang memutar bola matanya malas.
" Halu loh..!" ketus Lintang langsung kembali fokus dengan pekerjaannya begitu juga dengan Andra dan bang Edo malas menimpali ocehan Murni yang gak penting itu.
Murni merasa kesal dengan sikap teman satu timnya itu dan dengan malas ia terpaksa mengerjakan laporan yang tadi sempat ia berikan pada Intan.
setelah sekian jam mereka berkutat dengan pekerjaan mereka masing-masing akhirnya jam pulang kerja pun tiba. Murni berjalan dengan tergesa-gesa melewati Lintang yang sedang berjalan bersama Edo dan Andra. Murni menabrak bahu Lintang kasar hingga membuat Lintang hampir terjatuh jika tangan Andra tidak cepat meraih pinggang Lintang sampai terperanjat dalam dada bidang Andra.
Tatapan mata Lintang dan Andra saling bertemu tiba-tiba saja degup jantung keduanya berdetak begitu cepat.
" Ehemmm!" Suara deheman bang Edo membuat Andra melepaskan tangannya dari pinggang Lintang, keduanya jadi salah tingkah membuat bang Edo tertawa melihat kecanggungan antara Andra dan Lintang.
__ADS_1