
Reihan bergegas pulang ke rumah. setelah sampai didepan rumah bramantyo dan widia langsung menghampirinya.
" Dari mana saja kamu, kenapa baru pulang, henponmu juga kenapa tidak aktif, dimana cahaya, apa yang kau lakukan padanya?"
bukannya sarapan setibanya dirumah tapi yang didapat Reihan justru diberondong pertanyaan.
" Pah... Mah... bisa tidak Rei masuk dulu kedalam. nanti Rei akan jelasin semuanya didalam saat ini Rei lapar." kata Reihan sambil mengelus perutnya.
" mbok.. siapin sarapan!" teriak widia.
Mbok ijah menyiapkan sarapan dengan cepat Reihan langsung menyantapnya dengan lahap.
" Rei.. sekarang jelasin sama papah, apa sebenarnya yang terjadi kenapa di kamar Cahaya ada bercak darah? tanya bramantyo.
"pah....cahaya baik baik saja sekarang, saat ini dia ada di Rumah Sakit Kasih Abadi. sudah melewati masa kritis"
" apa maksudmu, Rumah Sakit, jadi darah itu darah cahaya?"
"iya pah, gadis bodoh itu ingin mengakhiri hidupnya semalam."
" jadi gadis itu berusaha bunuh diri maksidmu?" tanya widia
Reihan mengangguk. " mah.. pah.. Rei kekamar dulu ya, Rei mau mandi dulu."
__ADS_1
Reihan beranjak dari meja makan dan bergegas kekamarnya.
bramantyo mendengar cahaya di rawat ia lalu bergegas pergi ke rumah sakit kasih abadi.
bramantyo melaju dengan kecepatan sedang, rasa bersalahnya kembali mencuat. setibanya di rumah sakit bramantyo menuju ruangan cahaya dirawat.
bramantyo memasuki ruang dimana ada seorang gadis terbaring di ranjang pasien .
ia menghampiri gadis tersebut dan tanpa sadar pria paruh baya itu menitikan air mata.
" Nak... !" suaranya lirih memanggil cahaya.
seketika yang punya nama menoleh ke sumber suara.
" kenapa kau lakukan ini sayang, apa kau tega meninggalkan om dengan cara ini? " isak tangis bramantyo pecah.
" om yakin ayahmu pasti marah melihatmu seperti ini sayang, bangkitlah sayang kamu tidak sendirian.om akan selalu ada untukmu sayang"
" maaf!" ucapnya lirih dengan air mata yang berlinang.
******
setelah mandi Reihan bergegas pergi ke rumah sakit. " Mah... Rei pergi dulu"! Reihan pamit pada widia yang sedang duduk di ruang tv.
__ADS_1
"mau kemana kamu sayang?" tanya widia
" Rumah Sakit" jawab Reihan sambil jalan menuju mobilnya yang terparkir depan rumah.
Reihan masuk kedalam mobil dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. setibanya di Rumah Sakit Kasih Abadi Reihan langsung menuju ke ruang cahaya menginap.
" cahaya, jika sampai terjadi sesuatu denganmu om pasti tidak akan bisa memaafkan diri om sendiri, kamu adalah tanggung jawab om sekarang semua yang terjadi pada kehidupan yang menimpamu itu adalah kesalahan om. andai saja om tidak bertemu dengan ayahmu mungkin kau saat ini sedang bahagia. tapi om telah merusak segalanya ditambah apa yang telah anak om lakukan padamu cahaya... om lah yang sepantasnya mati" tutur bramantyo dengan isak tangisnya sambil memukul dirinya sendiri.
" om jangan seperti itu... hentikan om" ucap cahaya sambil meraih tangan bramantyo.
" maafkan om cahaya" pria paruh baya itu menangis sesenggukan.
"om....." ucap cahaya lirih
Reihan dibalik pintu yang tak tertutup rapat merasa terenyuh melihat papahnya menangis karena merasa begitu bersalah pada cahaya.
********
tokk... tokk...tokkk
Reihan mengetuk pintu lalu masuk. bramantyo segera menghapus airmatanya. Reihan berjalan mendekat berpura-pura tidak melihatnya.
" Cahaya menikahlah denganku!" kata Reihan sambil menatap cahaya
__ADS_1