
seorang gadis dengan polesan makeup dan gaun berwarna putih menjuntai bagaikan bidadari yang turun kebumi, wajahnya yang cantik mendapatkan polesan makeup dari perias pengantin profesional menambah kecantikan cahaya berkali lipat, tubuhnya yang kecil imut membuat cahaya nampak seperti boneka yang menggemaskan.
Reihan dengan setelan jas berwarna putih senada dengan cahaya, rambut yang tertata rapih menambah ketampanannya.
Reihan duduk didepan penghulu dengan degup jantung seperti pacuan kuda menunggu kemunculan cahaya. dan seketika Reihan tertegun jantungnya berdegup tambah kuat seakan mau melompat keluar ketika pandangannya jatuh pada kecantikan cahaya yang sedang melangkah menuruni anak tangga.
seperti halnya Reihan apa yang dirasakan cahayapun sama detak jantungnya seperti lomba maraton, dengan gugup ia menghampiri Reihan.
Reihan tak lepas pandangan dari cahaya ia menatap sampai gadis itu duduk disampingnya.
" Sudah jangan dilihatin terus nanti saja kalau sudah ijab kobul kamu bisa puas memandanginya" tegur bramantyo membuyarkan pandangannya.
Reihan tersenyum mendengar ucapan sang papah wajahnya memerah menahan malu.
kegugupannya terbayarkan saat kata sah bergeming memenuhi isi ruangan.
Rona bahagia terpancar dari wajah bramantyo, ia memeluk cahaya yang kini sudah resmi menjadi menantunya air mata bahagiapun tak kuasa ia bendung dari kelopak matanya.
" Rei, Mulai sekarang jaga cahaya dengan baik, bahagiakan dia jangan biarkan ia menangis lagi !". pesan bramantyo
" iya pah" Reihan menggenggam erat tangan istrinya dan mencium punggung tangannya.
__ADS_1
Widia menghampiri Reihan dan berbisik ditelinganya " Rei, ingat jangan sakiti clara mamah harap sebelum clara kembali kau sudah mencampakkan istrimu !"
Reihan terkejut mendengar apa yang dibisikkan mamahnya, dadanya terasa sesak dan napasnya bergemuruh dengan tatapan sendu.
widia pergi meninggalkan Reihan yang masih terpaku dengan kegusaran hatinya.
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Setelah seharian menyalami para tamu yang hadir cahaya dan Reihan pergi kekamar melepaskan rasa lelahnya.
" Rei... bangun, mandi dulu sana !" titah cahaya pada Reihan yang sedang berbaring ditempat tidur sambil menarik tangannya.
" Hei... Kenapa kau melihatku seperti itu!" teriak cahaya sambil melempar bantal.
" Bagaimana kalau kita mandi bersama ?" Reihan tersenyum dan mengangkat alisnya.
cahaya menatapnya tajam mengartikan penolakan.
" Baiklah kalau tidak mau, tapi jangan menatapku seperti itu" kata Reihan lalu bangun dan berjalan kekamar mandi.
Setelah beberapa menit dikamar mandi Reihanpun keluar, ia terkejut melihat istrinya yang masih duduk ditepi tempat tidur dengan kepala tertunduk dan menggenggam erat jemarinya sendiri.
__ADS_1
" Ada apa, kenapa kau terlihat sedih?" tanya Reihan yang masih dengan balutan handuk dipinggang dan bertelanjang dada.
cahaya menggeleng dan tetap masih dalam posisinya.
" Apa kamu merasa menyesal ?" tanya Reihan lagi
" Ayah... aku rindu ayahku?" jawab cahaya dengan menitikkan air mata.
Reihan mengelus lembut punggung sang istri lalu menggenggam tangannya.
" Ayahmu pasti sedih melihatmu seperti ini, ia menyukai putrinya yang menghiasi wajahnya dengan tersenyum. jangan menangis lagi besok kita akan mengunjungi makam ayahmu bagaimana?" Reihan mengusap airmata cahaya dan mengecup keningnya.
" Benarkah?" Cahaya menatap Reihan dalam, ia tersenyum bahagia.
"iya, sekarang sebaiknya kamu mandi sana, apa mau aku bantu mandikan?" Reihan bangun dari duduknya dan menjulurkan tangan seperti mau menggendongnya namun cahaya langsung bergegas bangkit dan berlari ke kamar mandi. Reihan menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat tingkah istrinya itu.
Cahaya keluar dari kamar mandi dengan piama, ia duduk di depan meja rias. dari cermin ia melihat Reihan yang duduk bersandar ditempat tidur masih bertelanjang dada tapi sudah mengenakan celana panjang.
" Hei... kenakan bajumu" cahaya melemparkan kaos oblong berwarna putih kepada Reihan.
Reihan mengernyitkan alis dan tertawa kecil sedikit kesal dengan istrinya yang menyuruhnya pakai baju.
__ADS_1