RAHASIA DALAM PERNIKAHAN

RAHASIA DALAM PERNIKAHAN
Makan siang bersama


__ADS_3

Murni kembali ke meja kerjanya setelah mendapatkan tatapan tajam dari Intan.


Edo dan Lintang menahan tawanya melihat wajah murni yang sedikit pucat pasih.


" Rasain dia, baru dapat tatapan ja udah menciut apalagi kalau Intan udah marah" bisik Andra pada Edo yang meja kerjanya letaknya bersebelahan.


Murni yang mendengar ucapan andra merasa tidak terima " sorry aja ya aku tuh bukannya takut hanya males aja berurusan dengan orang yang sok senior!" Murni dengan angkuhnya lalu duduk ditempat kerjanya.


Jam makan siang tiba ponsel Intan berdering Intan yang masih sibuk dengan kerjaannya langsung berhenti dan mengambil ponselnya yang terus berdering. Intan tersenyum melihat layar ponselnya yang tertulis nama My Hubby.


Intan📱" Assalamu'alaikum!"


Reno 📱" Wa'alaikum salam, sayang ke ruangan ku ya sekarang kita makan siang bersama!"


Intan 📱" Iya!"


Sambungan telpon pun terputus.


" Intan ayo kita makan siang ke kantin!" Ajak Lintang yang tiba-tiba sudah berdiri didepan meja Intan dan tentu saja hal itu membuat Intan terkejut.


" Astagfirullah... Lintang ngagetin aja sih!" Lintang tertawa melihat wajah Intan yang terkejut dengan kedatangannya.


" Abis kamu serius banget sih telponannya sampai gak sadar aku udah berdiri disini, kamu telponan sama siapa sih serius banget?" Tanya Lintang penasaran.


" Bukan siapa-siapa, itu tadi pak Reno memintaku untuk ke ruangannya!" jawab Intan jujur


" Pak Reno manggil kamu Tan, ada apa emangnya? apa kamu melakukan kesalahan sampai pak Reno memanggil ke ruangannya?" Lintang sedikit khawatir karena Intan di panggil ke ruangan CEO yang terkenal dingin dan arogan.


" Sudah pasti dia melakukan kesalahan. Cuti sesuka hati sampai menelantarkan pekerjaannya!" Sarkas Murni yang berjalan melewati Intan dan Lintang. " Selamat ya mendapatkan amukan dari pak Reno!" Murni berlalu dari kehadapan keduanya. Lintang merasa kesal dengan sikap Murni yang tidak seperti baru pertama kali bergabung dengannya.


" Kenapa si tuh anak, ngeselin banget dari tadi!" Kesal Lintang.


" Udah biarin aja, gak usah diladenin orang seperti dia mah cuma bikin kerutan aja, emang kamu mau terlihat tua karena marah -marah terus!" Goda Intan


" Ya gak maulah. tapi serius ini Tan, jangan-jangan apa yang dikatakan Murni benar gara-gara cuti kamu yang kelamaan!" Lintang jadi benar-benar khawatir dengan Intan takut kena amukan dari CEO nya.


" Tenang aja Lin, aku gak akan kenapa-kenapa kok kalau pak Reno marah ntar aku marahin balik deh apa perlu aku kasih tatapan tajamku ini!" Intan malah menggoda Intan dengan tatapannya.


" Intan kamu tuh ya, kalau pak Reno sampai dengar bisa habis kamu!" kesal Lintang yang malah ditanggapi lelucon oleh Intan.


" Yaudah cepat sana kekantin nanti keburu jam istirahat habis loh!" Intan mendorong Lintang pelan agar cepat pergi.


" Iya.. iya aku pergi. kamu sendiri bagaimana, gak makan siang?" Tanya Lintang.


Intan malah menjawab dengan tersenyum.


" Udah sana!"


Lintang pun akhirnya pergi kekantin sendiri karena Edo dan Andra sudah pergi lebih dulu.


" Maafin aku ya Lin udah bikin kamu cemas, aku cuma mau makan siang aja sama suami aku!" Gumam Intan menatap kepergian Lintang yang sudah menghilang dari balik tembok.


Setelah Lintang pergi Intan langsung pergi keruangan Reno. tanpa mengetuk pintu Intan langsung masuk kedalam ruangan Reno.


Saat masuk kedalam ruangan kerja Reno, Intan mendapati suaminya sedang duduk dikursi kebesarannya dan sibuk dengan leptopnya sampai kedatangan Intan pun tidak disadarinya. Intan berdiri disampingnya melihat apa yang sedang Reno kerjakan sampai tidak menyadari kehadirannya.


" Ehemm..!" Suara deheman Intan menyadarkan Reno akan kehadiran wanita cantik yang sedari tadi sudah ditunggunya.

__ADS_1


" Sejak kapan kau berdiri disini sayang?" tanya Reno yang menoleh kearah Intan dan menutup leptopnya.


" Apa hari ini mas begitu sibuk sampai tidak menyadari kehadiranku?" Intan berjalan ke sofa dengan wajah sedikit ditekuk.


" Ahh... rupanya isteriku sedang cemburu dengan pekerjaanku?" goda Reno yang bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri Intan yang sedang duduk disofa.


" Siapa yang cemburu hanya saja pekerjaanmu ternyata lebih utama dibandingkan aku!" Intan cemberut.


" Kata siapa?" Ucap Reno lembut. " Jelas isteriku lah yang utama soal pekerjaan itu setelahnya.!" Reno mencubit hidung Intan gemas. " Tapi untuk saat ini aku tidak bisa mengabaikan pekerjaanku sayang, banyak yang masih harus aku selesaikan, aku harap kamu ngerti sayang!" ucap Reno sendu.


" Ha..ha...!" Intan tergelak mendengar ucapan Reno.


" Kok kamu malah ketawa sih?" Reno mengerutkan alis merasa aneh dengan sikap Intan.


" Suamiku sayang isterimu ini gak mungkin seegois itu marah hanya karena suaminya sibuk menyelesaikan pekerjaannya. aku justru bangga jika suamiku ini pekerja keras " Intan mencubit gemas kedua pipi Reno.


" Asalka....!" ucapan Intan menggantung.


" Asalkan apa?" Reno penasaran


" Asalkan mas tidak lupa jaga kesehatan dan jangan lupa kalau mas itu udah punya isteri!" Intan kali ini mendaratkan cubitannya di hidung mancung suaminya.


" Ya enggak dong sayang masa aku lupa sih sama isteriku yang cantik dan menggemaskan ini!" Reno menarik tubuh Intan dalam pelukannya dan mendaratkan kecupan manus dikeningnya


" Mas lepas ih... ini dikantor kalau ada yang lihat bagaimana?" Intan merasa takut kalau sampai ada yang memergokinya berada diruangan Reno sambil bermesraan.


" Gak apa-apa sayang, emangnya ada yang salah ya kalau ada yang melihat aku bermanja dengan isteriku sendiri?" Reno malah semakin mengeratkan pelukannya


" Mas, lepas ih!" Kesal Intan


Tokkk....tokk...tokk...


" Itu pasti Bima!" ucap Reno yang sudah melepaskan pelukannya.


" Masuk!" titah Reno


CEKLEKKK...


Pintu terbuka Bima menyembul masuk dengan membawa tentengan ditangan kanannya


" Maaf Pak Reno ini makan siang yang bapak pesan!" Bima meletakkan bungkusan yang ia bawa diatas meja.


" Terima kasih ya Bim, kamu boleh keluar!"


" Baik pak!" Bima langsung pergi keluar dari ruangan CEO.


setelah Bima pergi dan pintu sudah ditutup Reno membuka bungkusan yang Bima bawa.


" Ayo sayang kita makan dulu!" Intan mengangguk dan menikmati makanan yang Reno pesankan untuknya bersama-sama.


setelah makan siang bersama sang suami selesai Intan bergegas kembali ke ruangannya. Intan merasa bersyukur karena saat tiba diruangannya teman temannya masih belum kembali dari kantin.


Intan menyalakan kembali komputernya dan kembali mengerjakan pekerjaannya yang masih menumpuk. karena Murni tidak mau membantunya menyelesaikan pekerjaannya. bisa saja ia melaporkan tindakan Murni kepada Reno tapi Intan yang memang wanita baik hati dan penyabar enggan untuk memperkeruh suasana.


" Loh Tan kamu gak istirahat ?" Tanya Edo yang baru kembali dari kantin.


" udah bang, aku udah istirahat makan siang kok tadi!" jawab Intan tersenyum tipis.

__ADS_1


" Alah mana mungkin dia istirahat, pasti tadi saat pak bos memanggil dia keruangannya. pak bos tidak mengizinkannya makan siang sebelum kerjaannya beres. iyakan?" sahut Murni yang tiba-tiba menyambar dari belakang.


" Apa, benar kamu tadi dipanggil ke ruangan pak Reno Tan?" Edo terkejut dengan ucapan Murni


" Hemm...!" Intan mengangguk dengan senyum yang selalu menghias wajah cantiknya.


" Apa pak Reno memarahi Tan?" Edo penasaran.


" Ti..." ucapan Intan terpotong.


" Pasti itu, mana mungkin pak bos membiarkan begitu saja seorang karyawan yang sudah merugikan perusahaan!" Jawab Murni yang memotong kata-kata Intan.


" Ehh... muka tembok bisa diem gak si loh dari tadi nyamber aja kaya bensin!" Kesal Edo pada Murni yang selalu ikut campur.


" Ada apa sih bang , kok sewot gitu mukanya?" Tanya Lintang yang baru saja datang bersama Andra.


" Tuh si muka tembok dari tadi nyamber aja kalau orang lagi ngomong!" Sahut Edo sambil menggerakan dagunya kearah Murni.


" Emang apa sih yang bang Edo sama Intan omongin?" tanya Lintang penasaran.


" Gak ada kok Lin" jawab Intan lembut


" Ha...ha... dia pasti malu karena kena hukuman dari pak bos!" sahut Murni dengan gelak tawa mengejek.


" Cih!" Edo dan Lintang berdecak kesal melihat tingkah Murni yang semakin menyebalkan.


" Sudah biarkan saja dia jangan ditimpali!" Ucap Intan lembut dengan senyum dibibirnya.


Lintang mendengus kesal dan kembali ke meja kerjanya begitu juga dengan Edo sementara Andra sudah lebih dulu duduk didepan komputernya dan bergegas menyelesaikan pekerjaannya. dia berharap bisa menyelesaikan pekerjaannya lebih awal agar bisa membantu Intan menyelesaikan pekerjaannya.


Semua yang berada diruangan itu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing hanya Murni yang terlihat santai dengan pekerjaannya.


" Bima laporan tentang kerja sama dengan PT moonlight siapa yang mengerjakan?" tanya Reno tegas.


" Murni Pak, karena saat non Intan cuti Murni sebagai staf baru yang ditugaskan untuk menyelesaikan semua pekerjaan non Intan!" Jawab Bima


" Kalau begitu suruh Murni untuk menyerahkan laporannya dari PT moonlight karena besok kita akan ada rapat penting dan sebelum rapat aku ingin memeriksanya terlebih dahulu.!" Tutur Reno menjelaskan.


" Baik pak, kalau begitu saya permisi!" Bima keluar dari ruangan Reno dan langsung menuju ruangan Murni.


" Murni Pak Reno memintamu untuk menyerahkan laporan kerja sama PT. moonlight ke ruangannya!" Ucap Bima pada Murni yang diam mematung karena terkejut dengan kedatangan Bima yang tiba-tiba meminta laporan tentang PT. Moonlight.


" Aduh gimana ini aku masih belum membuat laporannya.?" gumam Murni ketakutan.


" Emmm.... itu.. anu.. emm!" Murni gelagapan dia bingung mau menjawab apa.


" Murni, jangan katakan kalau kamu belum menyelesaikannya?" Tanya Bima dengan nada tinggi.Bima memang jarang bicara tapi sekalinya bicara dia bisa membuat lawan bicaranya ciut seperti halnya Murni yang ketakutan melihat kemarahan Bima.


" Pak Bima ternyata sangat menakutkan bila marah, bagaimana ini. aku harus jawab apa. karena aku sama sekali belum mengerjakannya" Gumam Murni dalam hati.


" Murni apa kamu tidak dengar dengan kata-kataku?" Bima semakin geram karena Murni hanya menunduk dan tidak menjawab ucapannya.


Sementara diruangan itu menjadi terasa mencekam sejak kedatangan Bima.


Edo, Lintang dan Andra tidak berani bersuara bahkan menatap kearah Bima dan Murni saja mereka sudah takut.


Intan yang melihat Murni dimarahi merasa tidak tega. meskipun Murni selalu mencari gara-gara dengannya Intan tetap tidak bisa melihatnya terpojok seperti itu.

__ADS_1


" Pak Bima!" Panggil seorang wanita dengan has suara lembutnya. seketika semua orang yang berada diruangan itu menoleh kesumber suara termasuk Bima dan Murni.


__ADS_2