RAHASIA DALAM PERNIKAHAN

RAHASIA DALAM PERNIKAHAN
Cahaya Hamil lagi


__ADS_3

" Kamu hamil?" Ke empat nya menoleh kesumber suara, Dan...


Deggg...


Cahaya terkejut suara barito itu milik sang suami yang kini tengah berdiri dihadapannya. oh tidak rasanya Cahaya belum siap untuk mengatakannya karena yang suaminya tahu Cahaya melakukan program KB jadi bagaimana reaksinya setelah tahu bahwa saat ini dirinya hamil meskipun itu juga belum ia yakini seratus persen karena dia belum memeriksakannya langsung ke dokter kandungan tapi dari hasil pemeriksaan Citra mengatakan ia dalam keadaan hamil.


" Emmmm... Ma..mas Reihan!" sahut Cahaya sedikit gugup.


" Kamu hamil sayang?" tanya Reihan lagi dengan tegas.


Cahaya menggeleng" Aku... aku tidak tahu pasti mas, tapi Citra mengatakannya seperti itu" ucap Cahaya dengan terbata.


" Ikut aku" Reihan menarik tangan Cahaya dan membawanya pergi namun sebelum itu ia menitipkan Raka kepada Intan.


" Intan aku titip Raka" yang langsung diangguki oleh Intan.


" Iy..iya mas" Intan ikut menjadi gugup karena Reihan terlihat dingin


Reihan membawa Cahaya masuk ke dalam mobil, lalu dengan segera melajukan mobil dengan kecepatan rata-rata. Cahaya menoleh sekilas melihat Reihan yang hanya fokus menatap ke depan dengan wajah datar. ingin memulai bicara tapi hati Cahaya begitu ciut akhirnya ia lebih memilih diam. entah apa yang ada di pikiran Reihan saat ini Cahaya begitu sulit untuk menebaknya mungkin suaminya marah dan kecewa setelah tahu dirinya hamil itulah yang kini ada dibenak Cahaya.


Suasa didalam mobil masih begitu hening, sesekali Cahaya menoleh tetap saja Reihan bersikap dingin.


" Mas kamu mau bawa aku kemana?" ucap Cahaya memecah keheningan namun sia-sia karena Reihan hanya menoleh sekilas lalu fokus kembali mengemudikan mobilnya.


Cahaya menghela napas panjang, entah apa yang ada di benak suaminya saat ini, Cahaya tidak tahu akan dibawa kemana dia pun tidak ambil pusing terserah suaminya saja mau membawanya kemana dia sudah siap mengambil resiko atas pilihannya yang ingin memiliki anak lagi jika Reihan merasa keberatan biar dia yang akan mengurus anaknya sendiri.


Mobil yang mereka tumpangi pun sampai di sebuah parkiran rumah sakit. Cahaya menatap bingung ke arah suaminya yang masih saja bersikap dingin. Reihan langsung turun dari dalam mobil dan membuka pintu mobil Cahaya menarik tangannya untuk turun tanpa bicara sedikit pun. Cahaya merasa kesal ia pun menghempaskan tangannya yang di pegang oleh Reihan hingga terlepas.


" Kamu kenapa sih mas, dari tadi terus saja diam. ?" Cahaya benar-benar kesal di diamkan


" Sudah ayok ikut" ucap Reihan tegas namun Cahaya tidak mau menuruti ajakan Reihan.


tanpa banyak kata Reihan langsung mengangkat tubuh Cahaya kedalam gendongannya. meskipun Cahaya meronta Reihan tidak peduli ia terus saja berjalan hingga masuk kedalam lift pun Reihan tidak menurunkannya. Cahaya pun pasrah percuma ia meronta juga.


Saat ini Reihan dan Cahaya tengah berada di dalam ruangan dokter kandungan. Cahaya tengah berbaring dan suster sedang mengoleskan jel diperut Cahaya lalu dokter Maya memperlihatkan ke layar monitor kepada Reihan dan Cahaya.


Sikap dingin Reihan membuat Cahaya begitu cemas tak henti-hentinya ia terus berdoa semoga semua akan baik-baik saja.


" Selamat ya pak... Bu.. saat ini ibu Cahaya tengah hamil dan usia kandungannya menginjak 13Minggu". Cahaya terbelalak pasalnya ia sama sekali tidak merasakan gejala kehamilan seperti morning sickness dan gejala lainnya. Cahaya hanya bisa menitikkan air mata rasanya sungguh di luar dugaannya.


" Alhamdulillah ya Allah!" ucapnya bahagia namun seketika wajahnya berubah muram saat melirik ke arah suaminya yang masih menatap datar ke arah monitor.


Dokter Maya tersenyum dan menjelaskan apa yang tengah dilihat oleh Reihan. " Apa ada yang ingin pak Reihan tanyakan?" ucap dokter Maya ramah.


" Sepertinya ada yang berbeda dengan kehamilan istri saya yang kedua dokter" ucap Reihan sambil menatap ke layar monitor.


Deggg...


Cahaya merasa khawatir dengan apa yang di ucapkan Reihan mengenai kehamilannya ia sedikit takut terjadi sesuatu dengan kandungannya.


" Dokter!" ucap Cahaya lirih.


" Wah ternyata pak Reihan sungguh teliti ya" Dokter Maya tersenyum tipis" apa yang dikatakan pak Reihan memang benar, kehamilan ibu Cahaya kali ini memang berbeda dari sebelumnya karena saat ini ibu Cahaya tengah mengandung bayi kembar. lihat dua kantong itu" Dokter Maya menunjuk ke layar monitor.


Cahaya menangkup mulutnya terkejut. " Ak .. aku hamil bayi kembar?" ucap Cahaya sedikit gemetar


" Bagaimana kondisinya dokter?" Reihan masih memasang wajah datar dan hal itu membuat Cahaya sedikit sedih.


" Alhamdulillah, kondisinya bagus. dan mulai sekarang Bu Cahaya harus menjaga kondisi fisik ibu dengan baik jangan terlalu lelah dan banyak makan makanan yang bergizi" jawab sang dokter.


" Satu lagi jangan terlalu banyak pikiran hindari stress" tambahnya lagi.

__ADS_1


" Baik dokter terima kasih" ucap Cahaya.


Cahaya turun dari tempat tidur dibantu oleh Reihan, Setelah itu dokter Maya memberi resep vitamin , Reihan dan Cahaya pun keluar dari ruangan lalu menuju apotik untuk menebus vitamin tersebut. untuk saat itu kondisinya sepi jadi tidak butuh waktu lama Cahaya dan Reihan menunggu


Mobil Reihan kini sudah pergi meninggalkan rumah sakit seperti awal mereka berangkat saat pulang pun suasana di dalam mobil sepi, Reihan masih memasang wajah datar hanya fokus mengemudi entah apa yang ada di pikiran pria ini isterinya hamil bahkan kembar tapi seakan tidak ada wajah bahagia sama sekali membuat Cahaya berkali-kali mendengus kesal dalam hati.


Tidak berapa lama mobil pun sampai di halaman rumah mereka. Reihan keluar dari dalam mobil lalu mengitari mobil untuk membuka pintu mobil tanpa bicara Reihan langsung membawa Cahaya dalam gendongannya membuat Cahaya terhenyak dan langsung melingkarkan tangannya di leher suaminya. tatapan mata Cahaya terus memandangi wajah tampan suaminya. meskipun suaminya bersikap acuh dan dingin tapi berbanding terbalik dengan apa yang dilakukannya. Reihan masuk membawa Cahaya ke dalam rumah menuju kamarnya. namun sebelum menaiki tangga Reihan berteriak memanggil Art dan muncullah bi Tini dengan tergopoh-gopoh karena mendengar teriakkan dari sang majikan.


" Iya tuan" ucap Bi Tini sambil menunduk.


" Bi, tolong pindahkan barang-barang yang ada dikamar utama atas ke kamar bawah" titah Reihan tegas.


" Ba.... baik tuan" Bi Tini langsung pergi melaksanakan tugas yang diperintahkan. sementara Reihan membawa Cahaya ke kamar tamu yang letaknya juga berada di bawah.


Reihan membaringkan tubuh Cahaya dengan sangat hati-hati lalu menyelimutinya sampai pinggang lalu mengecup keningnya. saat Reihan hendak melangkah keluar kamar tangannya langsung di tarik oleh Cahaya hingga langkahnya pun terhenti.


mata Cahaya sudah berkaca-kaca ia sudah tidak sanggup lagi bila terus menerus di diamkan oleh suaminya sendiri.


" Mas bicaralah sesuatu, jangan mendiamkan aku seperti ini!" ucap Cahaya di tengah Isak tangisnya


Reihan membuang napas panjang lalu duduk di tepi kasur. Cahaya pun bangun lalu duduk di sampingnya dengan sesenggukan.


Reihan langsung membawa Cahaya ke dalam pelukannya. " Dasar bodoh" gumam Reihan pelan namun masih terdengar samar-samar oleh Cahaya.


" Mas bilang apa, aku bodoh?" Cahaya mendorong pelan tubuh Reihan mengurangi pelukan mereka.


" Iya, kamu benar-benar bodoh. bagaimana bisa kamu menyembunyikan hal sepenting ini dari mas?" Reihan menyentil dahi Cahaya


" Aww... sakit" Cahaya mengelus dahinya.


Reihan lalu mengecup kening Cahaya yang ia sentil tadi. membuat Cahaya tersenyum tipis.


" Sejak kapan kamu melepas KB?" tanya Reihan penasaran.


" Bagaimana bisa kamu seceroboh ini, sampai tidak menyadari diri sendiri yang tengah hamil, bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu denganmu. bahkan beberapa hari ini kamu begitu sibuk membantu persiapan pesta ulang tahun si kembar. padahal dirimu sendiri sedang hamil anak kembar. akhhh....." Reihan mengacak acak rambutnya sendiri dengan kasar


" Mas... ap.. apa kamu marah karena tahu aku hamil lagi?" tanya Cahaya dengan sedikit takut-takut.


" Iya, aku sangat marah" ucap Reihan tegas.


" Mas maafkan aku. tapi aku mohon jangan benci anak ini aku yang salah jangan limpahkan semuanya kepada anak aku yang tidak tahu apa-apa" ucap Cahaya lirih menangkup tangannya di dada dan hal itu membuat Cahaya memicingkan alis.


" Benci? maksud kamu apa?" tanya Reihan dengan nada tinggi membuat Cahaya terhenyak dan memundurkan wajahnya.


" Bukankah mas Reihan marah karena aku hamil lagi, padahal mas Reihan pernah bilang tidak mau kalau aku hamil lagi" jawab Cahaya lagi-lagi menundukkan wajahnya.


" Iya aku memang sangat marah karena kamu tidak bilang sama mas kalau kamu begitu menginginkan anak lagi. dan mas marah karena kita baru tahu kalau kamu hamil. bagaimana kalau kemarin terjadi sesuatu dengan kamu. sibuk tanpa memikirkan kesehatan kamu padahal kamu tengah berbadan dua" kesal Reihan yang melihat betapa sibuknya kemarin Cahaya yang ikut terjun langsung mempersiapkan pesta ulang tahun Kayla dan Kaysa sampai lupa makan itu pun Reihan yang terus menerus mengingatkannya.


" Maaf mas, tapi Alhamdulillah kandungan aku baik-baik saja kan mas" Cahaya mengelus perutnya


" Iya, Alhamdulillah. dan mulai sekarang kamu tidak boleh capek-capek lagi. ingat kamu hamil anak kembar jadi harus jaga kandungan kamu baik-baik" ucap Reihan mengingatkan


" Iya, mas" sahut Cahaya


" Mas gak marah kan?"


" Marah untuk apa?" Reihan mengangkat alisnya


" Marah karena aku hamil"


" Pertanyaan macam apa itu, bagaimana mungkin mas marah karena kamu hamil. mas marah karena kamu tidak menjaganya dengan baik kemarin untung saja tidak apa-apa" ucap Reihan lalu mendaratkan tangannya di perut Cahaya yang sedikit nampak membuncit. usia kandungan Cahaya memang baru 13 Minggu namun karena ia mengandung bayi kembar jadi perut Cahaya sudah sedikit nampak kentara.

__ADS_1


" Kamu tahu mas itu sangat bahagia mendengar kalau kamu itu hamil tapi mas juga merasa khawatir sayang, melihat waktu kamu melahirkan Raka dan Cery waktu itu membuat mas ingin sekali menggantikan rasa sakit kamu sayang"


" Mas" ucap Cahaya lirih dan tak kuasa menitikkan air mata.


" Jangan menangis dong sayang nanti Dede bayinya ikut sedih jika mamanya menangis" Reihan menghapus air mata Cahaya dengan ibu jarinya.


" Aku bahagia banget mas, terima kasih ya mas" Cahaya menghambur ke dalam pelukan sang suami tercinta.


" Sayang" panggil Reihan dengan lembut


" Iya" Cahaya mendongak melihat wajah tampan suaminya yang tersenyum tipis.


" Apa kamu tidak merasakan sebelumnya gitu tanda-tanda kehamilan?" tanya Reihan penasaran


" Tidak sama sekali mas" sahut Cahaya


" kalau Mas itu sebenarnya sudah menaruh curiga dari beberapa hari yang lalu, karena mas melihat kamu banyak perubahan" ujar Reihan.


" Maksud mas Reihan?" Cahaya mengurai pelukannya.


" Iya kamu itu mudah banget ngambek, sering bersikap yang aneh-aneh kalau malam minta temani makanlah kalau gak dituruti memberengut dan juga ya dari bentuk tubuh kamu yang terlihat lebih berisi.!" ucap Reihan santai


" Maksud mas aku gendut gitu?" Cahaya memberengut.


" Ehhh.. bukan mas loh yang bilang kamu gendut mas cuma bilang kamu terlihat lebih berisi sayang" Reihan mencubit pipi Cahaya gemas.


" Yaitu sama saja mas bilang aku gendutan" Cahaya mengerucutkan bibirnya membuat Reihan semakin gemas dan mengacak-acak rambut Cahaya.


" Mas ih.." rajuknya.


" Kamu sih gemesin, tambah seksi tambah menggoda" Reihan menaik turunkan alisnya membuat Cahaya refleks memukul lengan Reihan.


" Mas apaan sih ihh... mesum" Cahaya langsung merebahkan diri.


Reihan tertawa melihat lucu wajah sang isteri yang sudah bersemu merah.


" Mas!" panggil Cahaya


Reihan menoleh dan tersenyum tipis.


" Apa Hem?"


" Mas gak pergi menjemput Raka dan Cery?"


" Mas mau menemani kamu saja sayang, biar Raka dan Cery minta Reno saja yang mengantarkan pulang" sahut Reihan yang lalu beranjak dari tempat tidur.


" Terus mas mau kemana sekarang?" tanya Cahaya yang melihat Reihan sudah berdiri


" Mas mau keluar sebentar melihat kamar kita, bi Tini sudah memindahkan barang-barang kamu apa belum" jawab Reihan " Kamu istirahat saja ya" Reihan mendaratkan kecupan singkat di kening lalu bibir Cahaya setelah itu keluar dari kamar.


Sebelum melihat kamarnya yang kini pindah ke lantai bawah Reihan terlebih dahulu menelpon Reno untuk memintanya mengantarkan putra dan putrinya pulang.


Reihan juga menelpon Tio sang asisten merangkup sekretaris pribadinya itu untuk menggantikan dirinya beberapa hari ke depan karena ia ingin mendampingi isterinya yang tengah hamil muda. ia ingin lebih siaga bila sewaktu-waktu isterinya membutuhkan dirinya. apalagi kehamilan kali ini berbeda dari yang sebelumnya selain Cahaya yang tidak membenci dan tidak mau dekat-dekat dengannya seperti saat mengandung Cery juga karena Cahaya yang dikatakan hamil bayi kembar jadi sikap Reihan pasti jauh lebih posesif pada sang isteri .


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Terima kasih kepada semua yang masih setia dengan cerita " Rahasia Dalam Pernikahan "


***πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™β˜ΊοΈβ˜ΊοΈβ˜ΊοΈ


masih ditunggu ya like, vote dan komennya πŸ˜‰ Dukungan kalian adalah semangat yang sangat berarti πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°

__ADS_1


Terima kasih πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜***


__ADS_2