
Pagi hari tiba Intan membantu bi susan membuat sarapan. Intan tersenyum saat Reno datang mengambil minum setelah joging disekitar perumahan.
Reno duduk dikursi meja makan dan memperhatikan Intan yang terlihat begitu telaten membantu bi susan. karena merasa gemas dengan Intan Reno berjalan mendekati Intan dan terus saja menggodanya. bi susan nampak bingung dengan sikap Reno yang tiba-tiba berubah menjadi banyak senyum dan nampak ceria padahal semalam bersikap begitu dingin terhadap Intan.
" Mas Reno sana ah.. godain terus dari tadi yang ada gak kelar-kelar ni. kasihan tuh bi susan nanti bisa gak kelar tepat waktu masakannya.!" Intan mendorong Reno pelan keluar dari dapur dan kembali melanjutkan memasaknya namun bukannya keluar Reno malah berdiri dibelakang Intan dan terus saja menjahilinya mencolek-colek Intan.
" Mas Reno ihhh!" kesal Intan dan Reno malah tertawa lebar.
" Duh... gak biasanya nih den Reno kedapur?" Ledek bi susan.
Intan mendelik pada Reno dan melototinya karena Reno mencubit pinggang Intan dari belakang Reno tertawa dan malah mengambil pisau yang ada ditangan bi susan menggantikannya memotong bawang.
" Den Reno mau apa?" tanya bi susan bingung karena pisaunya diambil begitu saja oleh Reno.
" Udah bi susan diam aja gak usah bawel liatin aja ya!" Reno tersenyum tipis dan bergaya memotong bawang bak seorang chef.
" Biar bibi aja den, sini pisaunya!" pinta bi susan yang ingin mengambil pisau dari tangan Reno tapi ditepis oleh Reno dan mendorong bi susan pelan agar duduk saja memperhatikannya memasak.
" Udah bibi diam aja disini, oke!" Reno menjentikan jari dan kembali membantu Intan memasak.
" Memangnya mas Reno bisa mengiris bawang?" Intan menyeringai meremehkan.
" mau lihat? ayo kita mulai memasaknya!" Reno memulai aksinya dari mengiris bawang dan beberapa sayuran. Intan tercengang karena Reno terlihat begitu cekatan dan lihai. Reno menumis dan menggoreng Intan yang awalnya ingin membantu bi susan kini hanya diam melihat Reno melakukan aksi memasaknya. hanya butuh waktu beberapa menit saja hidangan sudah siap tersaji.
" Den Reno ternyata pandai memasak kenapa bibi baru tahu ya?" Bi susan terkagum melihat beberapa menu sudah terhidang.
" Mas Reno benar-benar hebat!" Intan tersenyum dan mrnyenggol bahunya.
"Aaaaaa!" Reno menyuapi Intan mencicipi masakannya.
" Emmm.. ini sangat enak. bi sini coba!" Intan mengunyah makanan yang disuapi Reno lalu mengambil sendok yang baru menyuapi bi susan. " Bagaimana bi, enakkan bi? tanya Intan menunggu komentar bi susan.
" Ini benar-benar luar biasa enak den, wah masakan bibi kalah enak ini!" Bi susan tertawa merasa kalah masakannya.
" Aku memang hebat, kau beruntung jika menikah denganku!" bisik Reno pelan ditelinga Intan dan Intan bergidik geli mendorong Reno.
" Ha.. ha...!" Reno tertawa lebar.
" Kalian itu sudah seperti pengantin baru saja!" Ledek bi susan sambil memindahkan masakan yang telah Reno masak ke atas meja makan.
" Tunggu aja bi sebentar lagi!" Reno mengedipkan matanya genit pada intan membuat intan merona malu.
" beneran den, non intan?" Bi susan penasaran.
" Do'a kan saja bi!" Reno memegang bahu bi susan dan tertawa kecil lalu duduk dikursinya. Intan masih berada didapur membuat jus jeruk dan bi susan mengambil gelas dan juga piring.
" Baru hari ini bibi melihat den Reno seperti ini, banyak tersenyum dan yang lebih mengejutkan lagi den Reno sampai mau memasak dan enak lagi masakannya. !" Bi susan berdiri disamping intan yang sibuk membuat jus jeruk. " Selama bibi bekerja disini ini pertama kalinya bibi melihat den Reno masuk kedapur dan turun langsung memasak. semua pasti karena non Intan.!" Tutur bi susan.
__ADS_1
" Bibi bisa aja, mungkin memang hatinya aja kali bi yang lagi baik hari ini!" kata intan sambil menuang jus yang dibuatnya kedalam gelas." Sarapannyq sudah siap, tolong panggilkan semuanya ya bi!" Intan membawa gelas - gelas berisi jus itu kemeja makan.
Bi susan pergi kekamar Sekar dan baru mau mengetuk pintu Sekar sudah lebih dahulu membuka pintu kamarnya.
" Maaf Nyonya, Sarapan sudah siap!" Ucap bi susan mrmberitahu.
" Iya bi terima kasih ya!"
" Saya permisi dulu mau memanggil non Cahaya dan den Reihan!"
Bi susan pergi menuju kekamar Cahaya dan Sekar memanggilnya. " Bi tolong sekalian panggil Intan dan Reno ya!"
" Den Reno sama non Intan sudah ada di meja makan Nyonya!" Beritahu bi susan.
" Reno sudah ada dimeja makan. tumben sekali!" kata Sekar dan tersenyum tipis.
Bi susan pergi kekamar Cahaya sampai didepan kamar Bi susan mengetuk pintu kamarnya dan tidak berapa lama cahaya dan Reihan keluar dari dalam kamar bersama baby Raka yang berada dalam gendongan Reihan.
" Sini den, baby Raka sama bibi !" Bi susan mengambil alih Raka dari gendongan Reihan dan bi susan membawanya ke ruang keluarga dan menyuapi Baby Raka bubur bayi.
Reihan dan Cahaya duduk dikursinya dan mengernyitkan alisnya saat melihat raut wajah Reno yang tidak biasa.
" kenapa menatapku seperti itu?" Reno melotot pada Cahaya karena menatapnya aneh.
" Isshh... Ge'er, !" Cahaya memakan sarapannya dan merasa ada yang berbeda dengan rasa masakannya hari ini.
" Tumben masakan bi susan rasanya lain?" tutur Cahaya
Sekar yang baru mencicipi sarapannya pun setuju dengan Cahaya dan Reihan ada yang beda dengan masakan bi susan.
" Emmm.... Intan!" Panggil Sekar
" Iya!" Sahut Intan menoleh
" Apa ini kamu yang memasak?" Tanya Sekar dengan tersenyum tipis.
" Bukan saya yang memasak!" Intan jawab sedikit gugup dan merasa canggung. entah apa yang membuatnya merasa canggung atau mungkin karena hubungannya dengan Reno yang sudah memiliki komitmen.
Reno memandang Intan yang terlihat gugup dan canggung lalu di bawah meja Reno menggenggam erat tangan Intan yang berkeringat dingin.
" Dari tadi pada bilang masakan bi susan hari berbeda, memang dimana letak perbedaannya? apa masakannya tidak enak?" Tanya Reno tegas dan dingin.
" Isss.... !" Gumam Cahaya.
" Kenapa?" Reno melotot pada Cahaya
"Tidak ada apa-apa, Hi... hi...hiii..!" Cahaya cengengesan.
__ADS_1
" Masakan bi susan hari ini benar-benar sangat enak lebih enak dari biasanya!" Sekar berpendapat setelah memakan dengan lahap sarapannya.
" Iya benar mah, benar-benar berbeda dari biasanya!" Cahaya menimpali dan masih makan dengan lagapnya.
" Semua suka masakanmu mas!" Bisik intan pada Reno dan Reno tersenyum tipis.
" Bi, hari ini masakan bibi berbeda dari biasanya ini sangat enak bi!" Cahaya berbicara pada bi susan yang datang sambil menggendong Raka dan meletakkan mangkuk bekas Raka makan didapur.
" Enak ya non?" Tanya bi susan dengan senyum diwajahnya dan menoleh kearah Reno.
" Enak banget bi!" Sahut Reihan.
"Syukurlah kalau semuanya pada suka, tapi maaf non sarapan pagi ini bukan bibi yang masak!" Ucapan bi susan menghentikan tangan Cahaya yang hendak memasukkan sendok berisi nasi kedalam mulutnya.
" Kalau bukan bibi lalu siapa dong yang masak?" Sekar mengangkat alisnya dengan wajah bingung.
" Den Reno yang masak Nyonya!"
" Uhuk... uhuk...!" Cahaya tersedak saat mendengar kalau ternyata makanan yang terasa enak itu adalah masakan Reno kakaknya sendiri. Reihan memberikan Cahaya minum Cahaya menerimanya dan meminumnya hingga habis.
" Makanya pelan-pelan makannya!" Reihan menepuk-nepuk punggung Cahaya lembut.
" Serius bi ini masakan mas Reno?" Cahaya masih belum yakin.
" Kamu bisa memasak sayang, sejak kapan?" Sekar tidak menyangka putranya bisa memasak bahkan masakannya sanga lezat.
Reno hanya tersenyum tipis pada sang mamah.
" Den Reno tadi bangun pagi-pagi sekali selepas joging mas Reno malah..!" Ucapan bi susan terpotong Reno buru-buru menyela ucapannya.
" Sudah-sudah kalian ini beruntung karena aku beri kesempatan memakan masakanku yang lezat ini. cepat lanjutkan makannya!" Sahut Reno lalu memakan sarapannya dengan lahap.
" Ya ampun sombong sekali!" Gerutu Cahaya. dan kembali menikmati sarapannya begitu jg dengan yang lain.
Intan hanya tertawa kecil melihat keakraban Reno dan Cahaya.
"Oia, Rei.. kapan kamu akan bertemu dengan orang tua mu dan mengatakan semua ini?"
" Rencana sih hari ini mah !" Sahut Reihan sopan.
" Hari ini?" Sekar nampak berpikir
"Ya udah kalau begitu kita berangkat kesana hari ini bersama-sama untuk menemui dan menjenguk orang tuamu!" Ucap Sekar.
" Baik mah!" Sahut Reihan. Sebenarnya hatinya masih sangat khawatir dengan sikap mamahnya kelak jika tahu dirinya dan juga Cahaya sudah kembali bersama.
" Kamu harus bisa meyakinkan kedua orang tuamu sendiri Rei.!" Sekar mengingatkan.
__ADS_1
" Baik mah!" Jawab Reihan dan melanjutkan sarapannya.
" Reno tolong nanti kamu antarkan Intan pulang ya!" Ucap Sekar menatap lekat anaknya.