
Cahaya menengadahkan kepalanya menatap lekat pria itu. pria yang mengulurkan tangannya berdiri dihadapannya.
" Apa pedulimu, aku tidak mengenalmu. sebaiknya kau pergi dari sini dan tinggalkan aku sendiri!" ucap Cahaya dengan nada tinggi disela isak tangisnya.
Pria itu tersenyum bahkan bisa dibilang tertawa kecil melihat kemarahan Cahaya.
" Kau memang tidak mengenalku tapi aku sangat mengenalmu !" Ucap pria yang masih setia berdiri dihadapannya dengan memayungi tubuh Cahaya yang sudah terlanjur basah terguyur hujan.
" Apa maksudmu?" Cahaya mengernyitkan alisnya.
" Sudahlah sebaiknya kau ikut dengan ku, hujan semakin deras kalau kau masih disini yang ada kau akan sakit !" Pria itu mengulurkan tangannya kembali.
" Aku bukan orang jahat, kau tidak usah takut !" tanpa mendengar jawaban dari Cahaya pria itu menarik tangan Cahaya membangunkannya berdiri.
" Lepaskan aku!" teriak Cahaya. karena guyuran air hujan semakin deras dan langit mula gelap ditambah kilat yang menyambar tanpa pikir panjang pria itu terus menarik tangan Cahaya dan membawanya masuk kedalam mobilnya. setelah keduanya masuk pria itu langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
" Hei..kamu mau bawa aku kemana, cepat turunkan aku?" teriak Cahaya. pria itu hanya tersenyum tanpa menggubris semua kata yang dilontarkan Cahaya.
" Kau ini sebenarnya siapa, cepat antar aku pulang! " Cahaya bertanya dengan emosi.
" Kau ini berisik sekali. tenang saja aku tidak akan menyakitimu jadi duduklah yang manis aku akan membawamu kesuatu tempat.
___________________________________
__ADS_1
Di kediaman Bramantyo.
Mobil hitam milik presdir Bram terparkir di depan rumah. saat ia turun dari mobil bersama dengan pak kardi tangan kanannya ia dikejutkan dengan mobil merah yang masih terparkir di pekarangan rumahnya.
Widia sudah pulang dari shoping bersama bu Mayang mamahnya Clara sekitar 1 jam lalu disaat Reihan dan Clara turun dari kamar.
ia merasa sangat senang karena Clara dan Reihan terlihat sangat mesra ditambah lagi dia tidak melihat keberadaan Cahaya di rumahnya yang dianggapnya sebagai pengganggu.
Bram masuk ke dalam rumah, dia melihat Clara dan widia sedang asik berbincang-bincang di ruang tv sementara Reihan dan sekretaris tio berada di ruang kerja.
widia yang melihat kepulangan sang suami langsung berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Bramantyo
" Papah sudah pulang !" ucap widia lembut.
Pak kardi yang berdiri dibelakang Bramantyo memberi hormat kepada widia lalu berjalan ke ruang kerja dengan menenteng tas kerja Bramantyo.
" Maaf tuan saya kira tidak ada siapa-siapa!" Pak kardi membungkukan badan memberi hormat.
" Tidak ala-apa pak, Papah sudah pulang? "
" Sudah tuan saat ini tuan besar sedang bersama nyonya.!"
" Kalau begitu aku akan menemuinya !" Reihan bangun dari duduknya lalu pergi menemui Bramantyo.
__ADS_1
" Mbok ijah!" teriak Bramantyo dengan mata menatap tajam ke arah Clara.
" Di mana Cahaya mbok?"
" Maaf tuan saya juga tidak tau non Cahaya pergi kemana.!"
" Cahaya tidak ada dikamarnya mbok?" tanya Bramantyo khawatir.
" Tidak ada tuan, tadi saya melihat sekilas non Cahaya berlari sambil menangis tuan.
" Apa? Cahaya menangis?apa yang membuatnya menangis mbok."!
" tidak tau tuan."
_______________
Reihan menghampiri papahnya.
" Pah !"
" Apa yang kau lakukan dengan Cahaya, apa karena ulahmu dia sampai pergi dari rumah ini ditengah hujan deras?"
" Pah... aku.!" ucap Reihan terhenti.
__ADS_1
" kenapa wanita itu masih disini ? kata Bramantyo kesal.
" Maafkan aku pah!" "