
" Bu " ucap bayu menghampiri Ratih yang sedang berdiri didepan pintu kamar citra.
Ratih menggelengkan kepalanya ia merasa gagal membujuk putrinya.
" Bu, biar aku saja !" kata bayu dan mengetuk pintu kamar adiknya.
_____________________
Di rumah cahaya.
Cahaya sedang berkemas-kemas karena hari ini ia dan Reihan akan kembali ke kota.
sementara Reihan sedang bersandar ditempat tidur menatap layar ponselnya dengan gusar. entah apa yang ada dalam benaknya sehingga membuat ia tidak bersemangat untuk pulang.
" Mas... mas...!" panggil cahaya namun Reihan tak bergeming.
Cahaya menggerakan tangannya kekanan dan kekiri didepan wajah Reihan tapi tetap suaminya tak bergeming. " Mas... !" cahaya berteriak merasa kesal lalu dengan cepat menarik handphone yang ada ditangan Reihan. Sontak hal tersebut membuat Reihan kaget dan tersadar dari lamunannya.
" Kamu kenapa si mas dari tadi dipanggil diam aja? apa ada sesuatu?" tanya cahaya sambil menatap Ponsel yang sudah berada ditangannya.
" akh... tidak apa-apa kok sayang" ucap Reihan lembut dan berusaha mengambil ponsel ditangan cahaya, ia sangat khawatir takut cahaya tahu tentang kepulangan clara.
" Kamu pasti berbohong mas!" cahaya menatapnya curiga.
__ADS_1
Reihan menghampiri cahaya membelai pucuk kepalanya dengan lembut " Tidak ada apa-apa bener kok sayang, mas hanya merasa sedikit gugup saja karena besok mas sudah mulai bekerja diperusahaan papah. mas takut mengecewakan papah sayang !" ucap Reihan berbohong .
" Mas pasti bisa kok, aku percaya mas bisa membantu papah mengelola perusahaan dengan baik." cahaya tersenyum tapi batinnya entah mengapa masih merasa ada hal yang disembunyikan darinya.
" Mas sebelum pulang kita mampir dulu ya ke makam ayah setelah itu ke toko bunga, bolehkan mas?" ucap cahaya sambil menyeret kopernya keluar.
" iya sayang, terserah kamu saja!". Reihan turun dari tempat tidur dan membantu cahaya membawa koper keluar.
" mbok jum kemana ya mas kok tumben belum datang?" tanya cahaya lalu berjalan menuju pintu membukanya dan melihat kearah jalan namun mbok jum masih belum nampak.
" Sayang!" panggil Reihan lalu menepuk bangku disampingnya yang kosong.
Cahaya menoleh dan berjalan menghampiri Reihan duduk disampingnya.
tak berapa lama. " Assalamu'alaikum...!" Suara mbok jum membuat senyum lebar diwajah cahaya dan menghentikan tangan Reihan yang sedang asik mencium ujung rambutnya.
" Wa'alaikum salam, Mbok jum kok tumben si jam segini baru datang?" tanya cahaya yang menunjukkan hari sudah pukul 09:30.
" iya maaf non tadi ada urusan sebentar" ucap mbok jum sambil membungkuk.
" Apa terjadi sesuatu mbok ?" tanya cahaya khawatir.
" tidak ada non, cuma anak mbok tadi terjatuh dari motor tapi sudah gak apa-apa kok non" terang mbok jum.
__ADS_1
" anak mbok jum kecelakaan? " tanya Reihan
" Iya tuan, anak mbok terjatuh dari motor katanya menghindari mobil yang ugal-ugalan. untung saja tadi jatuhnya kesawah jadi cuma kakinya saja yang sedikit terkilir." terang mbok jum.
" ya ampun mbok, untung saja ya mbok. semoga anak mbok jum cepat sembuh ya mbok" ucap cahaya yang turut prihatin dengan kecelakaan yang menimpa anak mbok jum.
" terima kasih ya non...tuan"
" sama sama mbok " cahaya tersenyum.
" Loh non cahaya sama tuan Reihan mau kemana, kok bawa koper segala?" tanya mbok jum bingung melihat 2 koper besar didekat mereka.
" Kami mau pamit mbok jum, hari ini kami akan pulang. Terima kasih ya mbok udah ngurus semuanya selama kami disini. maaf ya mbok kalau sering ngerepotin." ucap cahaya berpamitan dengan mbok jum lalu meraih tangan mbok jum hendak mencium punggung tangannya namun di tolaknya.
" Maaf non, jangan seperti ini saya tidak pantas diperlakukan seperti ini non. semua kan memang sudah tanggung jawab saya menjaga dan melayani non cahaya dan tuan Reihan sebagai pelayan di rumah ini." tutur mbok jum menundukkan kepala.
" mbok kok bicaranya seperti itu. mbok itu bukan sekedar pelayan dirumah ini tapi sudah menjadi bagian dari rumah ini. mbo udah baik banget sama cahaya, kebaikan dan perhatian mbok selama cahaya tinggal dirumah ini membuat cahaya rindu akan sosok ibu. mbok udah cahaya anggap seperti ibu cahaya sendiri". ucap cahaya lirih dan tanpa sadar menitikkan airmata.
" non maafin si mbok tapi..." ucapan mbok jum terhenti.
" mbok, apa boleh cahaya minta peluk?" tanya cahaya menatap mbok jum yang menunduk sopan.
mbok jum menoleh ke arah Reihan dan menatapnya , seakan mengerti Reihan langsung menganggukan kepalanya menjawan tatapan mbok jum yang seolah sedang meminta izin.
__ADS_1
" boleh non, sini!" mbok jum merentangkan tangannya.