RAHASIA DALAM PERNIKAHAN

RAHASIA DALAM PERNIKAHAN
Kepanikan Reno


__ADS_3

Reno dengan panik menggendong Intan masuk kedalam mobil. Reihan tidak membiarkan Reno yang membawa mobilnya. dengan cepat Reihan mengambil alih kemudi dan menyuruh Reno menemani Intan dibelakang.


Murni sedikit syok dengan kejadian yang tidak pernah dia sangka sebelumnya sampai runyam dan membahayakan.


Awalnya Murni hanya berpikir Amira hanya menyekap dan mengancam Intan saja tapi ternyata Amira membohonginya dan hampir membuatnya terseret ke ranah hukum.


" Amira sungguh keterlaluan, untung saja Pak Reno datang tepat waktu kalau tidak nasib intan.... " Murni sudah tidak dapat membayangkan bagaimana nasibnya dan juga Intan bila Reno dan timnya tidak datang tepat waktu.


" Semoga Intan dan bayi yang ada didalam kandungannya baik-baik saja!" ucap Murni dalam hati.


Mobil Reno sudah berada di depan ruangan IGD, Reno langsung turun dari mobil dan beberapa suster langsung datang menghampirinya dengan membawa stretcher atau brankar. Reno mengangkat tubuh Intan yang terkulai lemas dan meletakkannya di atas stretcher dengan sangat hati-hati.


Para suster berjalan membawa Intan ke ruang IGD Reno berjalan mengikutinya.


Reihan berjalan mengikuti Reno yang langkahnya terhenti saat sudah berada di depan pintu ruang IGD.


" Sabar Reno, banyaklah berdo'a semoga Intan dan calon anak kalian dalam keadaan baik-baik saja" ucap Reihan menghibur.


" Amin"! Reno duduk di kursi tunggu dengan gelisah sesekali dia bangun dan berjalan didepan pintu ruang IGD lalu kembali duduk sampai akhirnya pintu pun terbuka dan dengan segera Reno menghampiri dokter Harry yang kebetulan menangani Intan.


" Bagaimana keadaan istriku dan calon anakku?" tanya Reno cemas


" Alhamdulillah, mereka baik-baik saja, sebenarnya apa yang terjadi pada isterimu Reno, kenapa dia terlihat begitu tertekan apa kau melakukan sesuatu padanya?" tanya Harry penasaran.


" Ceritanya panjang, intinya dia baru saja mengalami penculikan!" jawab Reno


" apa penculikan? pantas saja dia nampak begitu syok dan tertekan " Harry terkejut


" Saran ku buat isterimu merasa senyaman mungkin usahakan dia tidak mengingat kejadian yang membuatnya stres dan tertekan. karena jika dia stres akan sangat berpengaruh pada kesehatannya dan juga kandungannya!" Saran Harry.


" Akan aku usahakan, terima kasih!" ucap Reno


" Sama-sama!" Harry menepuk-nepuk bahu Reno pelan setelah itu pergi.


••••


Saat ini Intan sudah berada di ruangan VVIP Reno tengah duduk disampingnya menggenggam erat tangan Intan, tidak berapa lama Intan tersadar dan membuka matanya.


" Alhamdulillah, Kau sudah sadar sayang!" Reno tersenyum gembira melihat Intan sudah sadar. Reno bangkit dari duduknya dan mendekati Intan.


" Apa ada yang terasa sakit, hem?" tanya Reno selembut mungkin.


Intan hanya diam menatap lekat wajah Reno sampai akhirnya terlihat butiran bening menetes dari sudut matanya.

__ADS_1


" kamu menangis sayang, kenapa? apa ada yang terasa sakit, dimana katakanlah sayang. biar aku panggilkan dokter ya?" Reno nampak khawatir dan panik saat melihat Intan menangis tanpa mau bicara. dan disaat Reno ingin memencet tombol darurat Intan menahan tangan Reno dan menggelengkan kepala.


Reno menatap lekat wajah Intan yang terlihat pucat hatinya begitu sakit ia merasa gagal menjadi suami dan calon ayah yang baik karena tidak bisa melindungi dan menjaga isteri dan calon bayinya. di sudut matanya pun sudah menganak sungai. Reno berusaha menenangkan dan menghibur Intan yang terlihat masih begitu syok.


" Sayang maafin mas, karena mas sudah gagal menjaga dan melindungi kamu dan juga calon anak kita!" ucap Reno lirih dan air mata yang di tahannya sedari tadi akhirnya mengalir juga. Intan terkesiap melihat Reno menitikkan air mata.


Intan menggelengkan kepalanya dan meraih tangan Reno mengusap lembut punggung tangan suaminya lalu Intan tersenyum tipis.


" Aku tidak apa-apa mas!" Intan menghapus air mata Reno dengan ibu jarinya lembut.


" Mas tidak perlu minta maaf, jika saja mas tidak datang waktu itu mungkin aku....!" Reno langsung menempelkan jarinya dibibir Intan menghentikan ucapannya.


" Sudah jangan diingat lagi, yang terpenting saat ini kamu sudah selamat dan calon bayi kita juga dalam keadaan sehat . mas berjanji tidak akan membiarkan wanita itu lolos begitu saja.!" Reno mengusap lembut rambut Intan penuh kasih.


" Iya mas" Intan berhambur memeluk Reno erat Reno pun membalas pelukannya.


Ceklekk


Pintu terbuka menyembulah Reihan dan Cahaya, Intan dan Reno melepaskan pelukan mereka dan tersenyum kearah keduanya.


" Intan bagaimana keadaanmu?" tanya Cahaya khawatir langsung mengecek tubuh Intan


" Aku tidak apa-apa Ca!" Intan meraih tangan Cahaya dan mengusapnya lembut. Reno dan Reihan tengah duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut menatap keduanya.


" Bagaimana Amira Rei apa sudah ada info tentang keberadaannya?" tanya Reno


" Belum, tapi kau tenang saja aku sudah memerintahkan Tio dan Bima untuk melacaknya. aku juga meminta Tio untuk menghubungi Direktur Anan, besok kita akan adakan pertemuan dengannya. dan kau hubungi karyawan mu yang bernama Murni itu dia adalah saksi kunci kejahatan yang dilakukan putri keluarga Ananta." ucap Reihan panjang lebar.


" Baiklah kalau begitu, aku setuju dengan rencanamu!"


" Mama tidak tahu tentang kejadian ini, aku meminta Cahaya untuk tidak mengatakannya. kondisi kesehatan Mama akhir-akhir ini terlihat menurun aku takut dia cemas. jadi aku mengatakan kalau aku dan Intan manginap di apartemen untuk beberapa hari." Reno memberitahu Reihan.


" Ya, lebih baik seperti itu" Reihan menyandarkan tubuhnya ke sofa.


" Reno, sebaiknya kau perketat penjagaan. entah kenapa aku merasa sedikit tidak tenang aku khawatir kalau sebenarnya direktur Anan sudah mengetahui perbuatan putrinya. !" tutur Reno.


" Kau benar, kita tetap harus waspada selama Amira belum tertangkap" Reno menghela napas berat " Aku juga takut Amira berbuat nekad. Amira orang yang ambisius dan g*la " Reno memijat pangkal hidungnya.


"Aku akan memerintahkan Tio dan Bima untuk memperketat penjagaan baik di rumah sakit dirumah Mama, rumahku dan juga apartemenmu" Reihan meraih ponselnya dan segera menghubungi Tio.


Tutt.. tutt...


" Tio kerahkan semua anak buahmu dan juga Bima untuk memperketat penjagaan. pasang cctv di kediaman mama tapi jangan buat mama curiga, pasang juga dirumahku dan apartemen Reno!" titah Reihan

__ADS_1


(.......)


" Bagus, aku percayakan semuanya padamu"


(...)


" Terima kasih Tio!" Reihan pun mematikan sambungan teleponnya dan menghampiri Cahaya.


" Sayang, sebaiknya kita pulang sekarang. biarkan Intan istirahat!" ajak Reihan yang diangguki oleh Cahaya dan tersenyum manis.


" Intan aku pulang dulu ya, Kamu harus banyak istirahat jaga kesehatanmu dan juga bayi mu baik-baik ya!" pamit Cahaya


" Terima kasih ya Ca!" ucap Intan seraya memeluk tubuh Cahaya.


" Terima kasih Rei!" ucap Intan menoleh ke Reihan


" Sama-sama!" Jawab Reihan datar


"Mas jaga Intan dengan baik, awas saja kalau mas Reno lengah lagi!" ancam Cahaya


" Iya bawel!" jawab Reno singkat mengacak rambut Intan gemas kalau melihat adiknya yang nampak kesal.


" Mas Reno ih kebiasaan!" Cahaya mendengus kesal.


" Ha..ha.." Reno senang jika Cahaya sudah memberengut.


" Mas..!" kesal Cahaya memukul bahu Reno berkali kali


" Apa?" Reno mencubit pipi Cahaya yang nampak berisi.


" Aww... sakit ih!" Cahaya mencubit pinggang Reno sampai Reno meringis kesakitan.


" Yang udah..!" ucap Reihan dan menarik pinggang Cahaya menghentikan kekonyolan kakak beradik itu. intan tertawa senang melihat tingkah Reno dan Cahaya yang begitu menghibur menurutnya.


" lihat rencanaku berhasil!"ucap Reno tertawa renyah


" Rencana?" tanya Cahaya bingung


" Akhirnya, lihat wajah isteriku kembali ceria!" Reno menghampiri intan dengan senyum yang mengembang dan menarik tubuh Intan dalam pelukannya.


Reno tahu Intan sangat suka jika melihat dirinya dan Cahaya bertengkar, bukan bertengkar dalam arti sebenarnya tetapi tepatnya Reno dan Cahaya yang slalu berdebat dan bersenda gurau.


" Kau ini!" intan tersenyum malu-malu

__ADS_1


" ya sudah lanjutkan kemesraan kalian, kami pulang dulu, ayo sayang!" Reihan menggandeng tangan Cahaya dan mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit .


__ADS_2