
Ratih menatap heran pada kedua orang yang duduk dihadapannya. seperti ada yang ingin diutarakan tapi saling melempar pandangan
membuat Ratih begitu penasaran.
" Dari tadi bibi perhatiin kalian saling tukar pandang gitu, sebenarnya ada apa dengan kalian. apa ada yang ingin kalian bicarakan sama bibi?" Ratih menaikkan alisnya menunggu keduanya angkat bicara.
" Emmm.... begini bi sebenarnya ada yang mau mas Reno bicarakan sama bini!" jawab Intan yang melirik pria yang berada disampingnya.
" Mau bicara apa, duh bibi kok jadi khawatir gini ya, apa Bayu melakukan kesalahan dikantor nak Reno?" Raut cemas begitu terlihat jelas diwajah Ratih.
" Ahh.. tidak ada bi!" Reno tersenyum tipis lalu menarik napas memncoba untuk mengurangi rasa tegang dan kegugupan yang sedang Reno rasakan.
" Bi, sebenarnya aku dan Intan sengaja datang kesini ingin meminta restu sama bibi, karena kami sudah memutuskan untuk menikah!" Tutur Reno dengan degup jantung yang tidak beraturan.
"Menikah? kalian akan menikah? Alhamdulillah, bibi senang mendengarnya!" Ratih merasa sangat senang dia meraih tangan Citra yang duduk disebelahnya dan menggenggamnya. senyumnya terus mengembang dan Citra yang turut mendengar penuturan Reno ikut merasa senang. mereka tertawa bersama.
" Lalu kapan rencananya kalian akan menikah?" Tanya Ratih dengan senyum yang terus mengembang dari sudut bibirnya.
" Kalau bisa sih secepatnya bi!" Jawab Reno
" Bagus itu, niat baik itu memang harus disegerakan buat apa nunggu lama-lama!" tutur Ratih
" Betul bi untuk apa nunggu lama-lama kalau bisa hari ini menikah maka kami akan menikah hari ini juga. bagaimana menurut bibi?" Tanya Reno dengan sedikit rasa khawatir Ratih tidak menyetujuinya.
" Mana ada hari ini melamar dan hari ini juga menikah!"
Deggg...
degup jantung Reno seakan berhenti berdetak takut - takut kalau bi Ratih tidak mengizinkannya untuk menikahi Intan hari itu juga. wajah Reno terlihat berubah rasa kecewa menyelimuti hati dan pikirannya.
" Mas!" Lirih Intan menoleh kearah Reno.
drett...dreetttt....
ponsel Reno berdering, Reno menatap layar pada benda pipih yang berada ditangannya tertera nama Bima. tanpa menunggu lama Reno langsung menggeser warna hijau diponselnya.
" Hallo Bima, bagaimana?"
__ADS_1
(......)
" Alhamdulillah, terima kasih Bima!"
(.....)
" Kapan semua bisa terlaksana?"
(.....)
" Malam ini jam 7 ?". wajah Reno terlihat berseri-seri.
(......)
"Baiklah kalau begitu, aku percayakan semua kepadamu .kau pasti bisa mengurus semuanya dengan baik !"
(.....)
" Nanti tolong kau kirimkan semua persiapannya ke sini. nanti alamatnya akan aku sharelock.!"
(.....)
Reno mematikan sambungan telponnya dan menatap Intan dengan penuh Cinta.
" Mas, bagaimana?" Intan penasaran bertanya pada Reno setelah sambungan telponnya terputus.
" Semua sudah diurus dengan baik oleh Bima, dan katanya kita bisa menikah hari ini !" Tutur Reno memberitahu Intan dengan senyum yang merekah
" Apa, hari ini?" Citra dan Ratih terkejut dengan ucapan Reno yang mengatakan akan menikah hari ini.
" Kalian jangan bercanda?" Ratih tertawa kecil menganggap ucapan Reno adalah sebuah lelucon semata.
" Sebentar lagi MUA akan datang kesini jadi mohon bibi restuilah aku untuk menikahi Intan hari ini. karena hanya bibi satu-satunya keluarga yang Intan miliki!" Reno menatap Ratih dengan tatapan memohon.
Ratih terdiam, hatinya bergemuruh tatapan matanya begitu tajam pikiran jelek kini melayang diotaknya. Ratih bangkit dari duduknya dan mendekati Intan yang merasakan tatapan membunuh dari bibinya.
" Bibi!" ucap Intan pelan.
__ADS_1
" Kau akan menikah dengan pria yang berada disampingmu itu begitu terburu-buru, apa kalian sudah melakukan hal yang memalukan dan____?" Ratih merasa lemas dan jatuh duduk disamping Intan takut jika benar apa yang ada dibenaknya itu terjadi.
" Melakukan hal yang memalukan? maksud bibi apa?" Intan tidak mengerti dengan ucapan Ratih dan meraih tangannya lalu mengusap punggung tangannya lembut.
" Apa kau hamil?" Ratih menatap Intan dengan mata yang sudah berkaca-kaca rasa kecewa, sedih dan juga rasa bersalah begitu besar dalam hatinya.
" Hamil?" teriak Intan dan Reno bersamaan.
Ratih menatap satu persatu bergantian. menunggu jawaban dari keduanya.
Reno dan Intan saling menatap satu sama lain dengan tersenyum lebar.
" Bi mana mungkin aku melakukan hal buruk terhadap orang yang sangat aku cintai, Intan adalah sebuah permata yang harus aku jaga dan aku lindungi dengan baik, jadi aku tidak berani merusak keindahannya!" ucap Reno menjelaskan dengan senyum yang menghias wajah tampannya.
" Kau tidak sedang membual kan?" tanya Ratih dengan tatapan tajam.
" Bibi!" lirih Intan " Mana mungkin aku mengecewakan kakek, nenek dan juga bibi yang sudah susah payah membesarkan dan merawatku!" Tangis Intan seketika pecah mengingat orang tuanya dan juga kakek dan neneknya yang sudah meninggal.
" Sayang, maafkan bibi karena bibi sudah memikir hal buruk terhadapmu, jangan menangis bibi minta maaf!" Ratih memeluk Intan dan merasa sangat bersalah.
Tangis Intan semakin pecah, Ratih yang merasa sangat bersalah ikut menangis begitu juga dengan Citra yang duduk dibangku seberang mereka menangis melihat keduanya.
" Sudah jangan pada menangis, Intan berhentilah menangis nanti matamu bisa sembab jika menangis seperti itu. apa kau tidak ingin tampil cantik dihari pernikahan kita. ahhh.... matamu bisa bengkak jika menangis seperti itu!" Tutur Reno mengingatkan Intan.
" Benar sayang, kamu jangan menangis lagi ya. nanti matamu bisa bengkak jika terus menangis seperti ini.!" Ratih menghapus airmata Intan. "masa pengantinnya jelek sih!" Ratih menimpali dan terkekeh.
" Wajar jika bibi memiliki pikiran buruk terhadap kita. karena ini memang begitu mendadak!" Ucap Reno lembut terhadap Intan.
" Tapi Nak Reno sebenarnya ada apa ini, kenapa pernikahan kalian begitu mendadak seperti ini? bagaimana dengan keluarga nak Reno, apa mereka akan menerima Intan dengan baik?" Rentetan pertanyaan menghujani Reno dari Ratih yang merasa begitu khawatir dengan pernikahan mereka kelak.
" Sebelumnya aku minta maaf bi, karena saat ini mamah tidak bisa hadir karena masih ada di LA. sementara adikku sudah pulang ke ibu kota karena ada masalah di butik mamah yang harus dia tangani. pernikahan ini memang untuk sementara kami rahasiakan dulu. sengaja kami menikah mendadak seperti ini karena aku ingin benar-benar menjaga Intan disisiku. jika kami tinggal satu atap kami tidak akan takut merasa dosa. karena kami sudah halal. !" Reno mengutarakan semuanya pada Ratih.
" Lalu apa tujuan kalian merahasiakannya?" Ratih merasa heran kenapa hal yang membahagiakan dan seharusnya dipublikasikan dihalayak ramai tapi malah disembunyikan. bukankah itu sesuatu hal yang sangat aneh dan janggal begitulah isi pikiran Ratih.
" Aku tahu bibi pasti mikir hal yang aneh-anehkan, mengapa hal yang membahagiakan justru dirahasiakan?" tebak Reno akan isi pikiran Ratih.
" Bibi jangan khawatir akan hal itu. ini semua sudah atas kesepakatan kami bersama dan jika waktunya sudah pas kami akan mengumumkannya dan akan menggelar acara pesta pernikahan kami.!" Tutur Reno menjelaskan. " Untuk saat ini yang terpenting adalah jika aku pergi Intan akan ikut bersamaku dan kami tidak perlu lagi takut kebablasan jika sedang berdua!" Reno melirik genit pada Intan dan membuat Intan kesal dengan sikap mesum Reno.
__ADS_1
" Ya sudah kalau memang itu yang terbaik untuk kalian. bibi merestui saja. tapi ingat nak Reno jangan pernah mempermainkan yang namanya ikatan pernikahan, jaga dan perlakukan Intan dengan baik. bibi tidak akan memaafkanmu jika Intan sampai menangis karena ulah mu!" Ratih mengingatkan.
" Bibi tenang saja, aku pasti akan menjaganya!" Reno tersenyum gembira karena Ratih merestui dan mendukung niat baik mereka.