
Akhirnya dokter yang ditunggu-tunggu datang juga. Dokter Harry bersama Bima masuk kedalam ruangan Reno dan di ruangan itu sudah ada Reihan dan Cahaya yang sedari tadi gelisah menunggu dokter yang satu ini.
" Lama sekali?"tanya Reihan kesal saat Harry melangkah menghampirinya.
" Kau ini masih saja tidak berubah, kau kira aku ini tidak sibuk apa!" Jawab Harry ikutan kesal namun sikapnya berubah saat melihat Cahaya disamping Reihan dan tersenyum.
" Kau itu aku panggil kesini untuk memeriksa orang sakit bukan menggoda isteriku dengan mata genitmu itu!" Reihan mendorong bahu Harry menggiringnya masuk ke ruangan khusus Reno sementara Harry mentertawakan sikap Reihan yang cemburu terhadapnya dan Cahaya geleng-geleng kepala melihat kekonyolan keduanya.
Tawa Harry terhenti saat sudah masuk kedalam ruangan dimana ada Reno yang tengah menemani Intan.
Reno berdiri saat Harry berjalan menghampirinya. " Tolong Har periksa Istriku!"
" Hemm..!" Harry tersenyum dan menepuk bahu Reno pelan lalu mendekat ke arah Intan dan dengan cekatan Harry memeriksa keadaan Intan.
Setelah selesai memeriksa keadaan Intan Harry menghampiri Reno. " Bagaimana keadaan isteriku Har, apa dia baik-baik saja?"
Tanya Reno cemas
Harry tersenyum dan lagi-lagi menepuk bahu Reno" Kau tidak perlu cemas, isterimu saat ini baik-baik saja bahkan sangat baik malah, dia pingsan karena kelelahan ditambah dengan keadaan perutnya yang kosong. kau apakan memang sampai isterimu kelelahan seperti ini?" Reno menatap tajam Harry mendengar pertanyaan gak penting menurutnya " Tidak perlu menatapku seperti itu, keadaan isterimu sangat bagus hari ini dan bisa tidak bagus jika kau tidak menjaga dan mengontrol emosinya" terang Harry.
" Apa maksudmu keadaannya bisa saja tidak bagus?" Reno bertanya dengan sedikit emosi.
" Tenang Ren, isterimu mulai sekarang harus dijaga pola makannya, ia harus banyak makan makanan yang bergizi dan tingkat emosinya harus dikontrol jangan buat dia lelah pisik maupun pikiran. kau harus menjaganya dengan baik jangan bikin dia stres jika tidak ingin terjadi sesuatu dengannya dan juga calon penerusmu!" Tutur Harry menjelaskan
" Apa maksudmu Har, ca..calon penerusku?" tanya Reno terbata-bata masih mencerna ucapan Harry.
" Iya... calon penerusmu, kau harus menjaga isterimu dengan baik dan untuk mengetahui keadaannya lebih jelas lagi sebaiknya kau bawa isterimu cek kedokter kandungan!"
Cahaya menutup mulutnya dengan kedua tangannya merasa begitu senang saat mendengar ucapan dokter Harry soal dokter kandungan.
" Ja..jadi maksud dokter kakak iparku sedang hamil ?" Tanya Cahaya yang sudah berbinar-binar.dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Harry dengan senyum yang mengembang.
" Ha... hamil. isteriku hamil!" Reno masih merasa tidak percaya kalau sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah. saking bahagianya Reno langsung menghujani wajah Intan dengan kecupan. Ia pun berjanji akan menjaga Intan dan calon bayinya dengan baik.
" Sayang kau akan menjadi seorang mommy!" Reno mencium dengan punggung tangan Intan lembut.
setelah selesai dokter Harry pamit undur diri karena masih ada pasien yang menunggunya di Rumah Sakit. Reihan mengantar keluar Harry sambil diselingi obrol-obrolan kecil.
" Aku pamit Rei... jaga isterimu dengan baik ya!" Ucap Harry menggoda
__ADS_1
" Hei... apa maksud ucapanmu dokter ganjen?" Reihan menatap tajam Harry.
" Ha....ha... kau masih saja cemburu Rei...?" Harry menepuk bahu Reihan.
" Aku tidak akan menggoda isterimu Rei, justru aku memperingatkanmu untuk menjaga istrimu dengan baik jangan sampai kau menyakitinya lagi seperti dulu Rei.. kau pasti mengerti maksudku kan? jangan lengah dan membiarkan ada celah untuk orang lain masuk dan mengusik rumah tangga kalian Rei!" Terang Harry.
Reihan masih tidak mengerti arah pembicaraan sahabatnya yang satu ini. Harry memang jarang bertemu dengan Reihan karena ya memang kesibukan masing-masinglah yang menjadi kendalanya tapi bukan karena jarang bertemu membuat Harry tidak tau apa-apa tentang sahabatnya yang satu ini.
" Maksudmu apa Har?" Reihan mengernyitkan alis merasa bingung dengan penuturan Harry.
" Kau tau maksudku Rei, kau tau arah pembicaraanku.. kau bukan sebodoh itu Rei!"
" Clara?" Tanya Reihan langsung pada intinya.
Harry tersenyum " Dia sudah kembali bukan?"
Reihan mengangguk " Ya, dia menemuiku. membuat Isteriku salah paham dan kami bertengkar untung saja kesalah pahaman itu tidak berlanjut.!" Terang Reihan.
" Jadi dia sudah menemuimu?"
" Ya"
" Kau harus bertindak tegas Rei, kau tau Clara orang seperti apa. bisa saja kemarin masalah kau dan isterimu mudah terselesaikan tapi bila terus seperti itu bisa-bisa isterimu goyah dan termakan oleh kelicikannya!" Kecemasan Harry.
" Sayang!" Ucap Reihan menoleh ke Cahaya.
" Aku tau Clara orang seperti apa dan kali ini aku tidak akan membiarkannya mengganggu dan mengusik keluarga kecilku dan jika sampai dia berhasil menggodamu mas aku pastikan kau tidak akan bisa bertemu denganku dan juga putramu!" Ancam Cahaya.
" Tidak sayang, aku tidak akan sanggup bila harus berpisah denganmu lagi!" Lirih Reihan yang berjalan menghampiri Cahaya.
" Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi sayang, kita akan menghadapinya bersama-sama, dan kejadian di masa lalu akan menjadi pelajaran berharga untukku.!" Reihan memeluk Cahaya dan mengecup pucuk kepalanya.
" Aku percaya padamu mas!"
" Terima kasih sudah percaya padaku!" Reihan dan Cahaya tertawa bersama. Harry yang masih berdiri bersama Bima berdehem. membuat Reihan dan Cahaya menoleh ke sumber suara.
" Sebaiknya kita cepat pergi dari sini Bim, sebelum mata kita ternodai oleh ulah mereka berdua!" Harry mengajak Bima keluar ruangan.
" Syukurlah kalau kau tau diri Ha...ha...!" Harry mendengus kesal
__ADS_1
" Mas...!" Cahaya memukul lengan Reihan dengan wajah yang merah karena menahan malu.
Dokter Harry dan Bima sudah pergi dari ruangan Reno.
🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥🍥
Intan mengernyapkan mata menyelaraskan cahaya yang masuk ke retina matanya. Reno yang melihat mata Intan terbuka langsung berdiri dan mendekatkan wajahnya.
" Alhamdulillah kamu sudah sadar sayang!" Reno terlihat begitu senang isterinya akhirnya tersadar.
Intan tidak mengatakan apa-apa, pandangannya bergerilia ke seluruh penjuru ruangan.
" Kenapa aku ada diruangannya bukankah tadi aku berada di atap, apa yang terjadi denganku, ahhh....!" gumam Intan dalam hati lalu memegang kepalanya yang terasa sedikit berat.
" Kamu kenapa sayang, apa kepala mu terasa pusing?" tanya Reno cemas dan khawatir.
Intan tidak menggubris pertanyaan Reno ia malah tidur memunggunginya.
Reno menghela napasnya berat tau kalau Intan masih marah padanya, dengan perlahan Reno meraih bahu Intan dan menggesernya agar menghadap kepadanya.
" Sayang tidak baik loh memunggungi suami!" Kata yang Reno ucapkan pelan namun dalam maknanya. dan benar saja Intan langsung membalikkan badsnnya dan menghadap Reno. namun betapa terkejutnya Reno saat melihat pipi Intan yang sudah basah dengan air mata.
" Sayang, kamu nangis?" dengan lembut Reno menghapus air mata Intan dengan ibu jarinya dan mengecup keningnya.
" Kamu masih marah?" Tanya Reno lembut sambil menggenggam jari jemari Intan.
" Maafin aku sayang, aku gak tau kalau kamu bakalan seperti ini gara-gara candaan aku dengan Cahaya, Playboy cap ubur-ubur? hadeuhhh sayang-sayang kamu tuh ya...!" Reno ketawa gemas dan mengecup punggung tangan Intan " kalaupun aku jadi ubur-ubur tentu saja aku hanya akan menyengat kamu seorang yang, isteri yang sangat aku cintai, kamu tau yang, sengatan aku ternyata ampuh juga ya yang, langsung jadi!" Reno berbinar-binar dan memperlihatkan kegembiraannya. Intan masih diam belum bisa mencerna ucapan Reno.
" Sengatan aku hebatkan yang sampai membuahkan hasil!" Ucap Reno senang dan mendaratkan tangannya ke perut Intan lalu mengusapnya dengan lembut.
" Kamu jangan mikir yang aneh-aneh sayang, sekarang jagalah calon Reno junior yang ada disini dengan baik!" Titah Reno masih mengelus perut Intan yang masih rata.
" aku sangat mencintaimu sayang dan hanya kamu wanita satu-satunya yang akan menjadi ibu dari anak-anakku!" lanjutnya.
Intan nampak berkaca-kaca dan menatap lekat pria yang ada dihadapannya saat ini.
" A..apa aku sedang ha...hamil?" Tanya Intan terbata-bata.
Reno mendaratkan kecupan dikening Intan.
__ADS_1
"Iya sayang, kau sedang hamil!" ucap Reno sumringah.
" Alhamdulillah,!' Ucap syukur Intan. dengan senyum diwajahnya mengingat ia akan menjadi seorang ibu namun tiba-tiba senyumnya menghilang. Intan memalingkan wajahnya dan isak tangis pun kembali terdengar.