RAHASIA DALAM PERNIKAHAN

RAHASIA DALAM PERNIKAHAN
Bukan Anakku


__ADS_3

" Marah?.untuk apa aku harus marah." Cahaya lalu mengobati luka Reihan hingga membuat Reihan tersenyum bahagia.


Setelah mengobati luka Reihan, Cahaya bersiap-siap untuk pulang, selang infus yang melekat ditangannya pun telah dilepas. Reihan memintanya untuk pulang bersamanya namun Cahaya menolak meski Reihan sudah berusaha membujuknya pendirian Cahaya tetap sama untuk sementara dia masih enggan untuk pulang bersama Reihan.


Reihan merasa kesal dengan sikap keras kepala Cahaya, namun untuk kali ini dia harus menahan egonya dan menuruti keinginan Cahaya.


____________________


Reno berjalan masih dengan menggandeng tangan Intan melewati beberapa lorong rumah sakit. wajah Intan entah sejak kapan sudah terlihat seperti tomat matang merona merah, jantungnya berdegup sangat kencang hatinya berteriak kegirangan. Intan merasa ini seperti mimpi.


" Pak Reno menggandeng tanganku? ini pasti sebuah mimpi.. ahhh mimpi ini sangat indah rasanya. kenapa aku bisa mimpi bersama pak Reno seperti ini sih membuat dadaku sulit untuk bernapas. tubuh kekarnya kini terlihat sangat dekat lihat wajahnya ahhh.. mengapa dia begitu tampan.ahhh.. aku ingin terus merasakan mimpi ini. mimpi indahku bersama CEO tampanku. aku harap tidak ada yang membangunkanku dari mimpi indahku ini. tampannya?"


Batin intan yang merasa sedang bermimpi.


Setelah sampai didepan pintu ruangan yang didepannya tertulis Dr. Ridwan.Tanpa mengetuk Reno langsung masuk kedalam sampai sang dokter terperanjak kaget melihat Reno sudah berdiri dihadapannya.


" Ahh... sial kau, mengagetkanku saja, gak bisa ya sopan sedikit. ketuk pintu dulu sebelum masuk!" gerutu dokter ridwan kesal.


" Haa...haa... !" Reno terbahak melihat ekspresi wajah Ridwan yang terlihat kesal.


" Aku senang melihat wajah tegangmu itu, haaa...!"


" Ada apa kau mencariku?" Tanya Ridwan to the point.


Dokter Ridwan adalah dokter keluarga sekaligus sahabat baik Reno. Mereka teman sekelas saat SMA bahkan saat kuliahpun mereka memutuskan untuk kuliah dikampus yang sama namun dengan jurusan yang berbeda.


" Tunggu dulu, siapa gadis yang kau bawa ?" Tanya Ridwan yang sudah berdiri dan perlahan menghampiri Reno.


" Dia sahabat adikku, Adikku dirawat di rumah sakit ini dan dialah yang selalu menjaga adikku.Tadi aku lihat wajahnya sangat pucat jadi aku membawanya kesini agar kau bisa memeriksanya!" Terang Reno.


Intan masih diam terpaku menatap Reno yang dianggapnya sebuah mimpi. " Hei. Intan.. Intan...!" Reno menggoyangkan tangannya diudara kekanan dan kekiri didepan Intan namun masih tak bergeming.


" Hei...!" Reno akhirnya menepuk bahu Intan . " Akhh.. iya!" Intan terkejut. " ma.. maaf pak!" ucap intan gugup.


" Kenapa mimpiku terasa seperti nyata begini ya?" gumam intan dalam hati.


" Sudah ku duga ada yang tidak beres dengannya, Coba kau periksa dia?" Reno menyuruh dokter Ridwan untuk memeriksa Intan.


" Ikutlah dengan saya nona biarkan saya memeriksamu!" Dokter Ridwan berjalan ke ruang pemeriksaan dan diikuti oleh Intan.


" Aku gak apa-apa kenapa harus diperiksa dokter segala sih?" batin intan.


Setelah melakukan pemeriksaan terhadap intan Dokter Ridwan kembali menemui Reno yang sedang duduk di kursi depan meja kerjanya Sementara Intan berdiri menunggu penjelasan hasil pemeriksaannya.


Ridwan duduk dikursinya menuliskan hasil pemeriksaannya setelah itu ia menulis Resep obat dan vitamin yang harus ditebus.


" Tenang saja Ren dia... siapa tadi namanya?" Ridwan lupa.

__ADS_1


" Nama saya intan dokter!" Jawab intan mendahului yang ditanya.


" Ahh... iya intan, maaf kalau saya lupa. Nona intan baik-baik saja hanya sedikit kecapean dan tekanan darahnya sangat rendah jadi bisa membuat nona.... !" Ridwan mengingat-ingat.


" Intan dokter!" sahut Intan.


" Ahhh iya intan.Tekanan darahmu sangat rendah jadi hal itulah yang membuat nona Intan terlihat pucat dan mudah kelelahan!"


lanjut dokter


" Lalu bagaimana?" Reno menyeletuk.


" Tenang saja aku sudah menuliskan resep obat dan vitamin untuknya!" Ridwan bangun dari kursinya dan menatap wajah pria yang duduk dihadapannya, ia menatapnya penuh curiga.


" Apa kau menyukainya,? sahabat baik adikmu itu" bisik Ridwan ditelinga Reno dengan senyum tipisnya..


"Jaga bicaramu, Sudah berani mati kau!" ancam Reno dengan manik mata mendelik kesal.


Ridwan bergidik ngeri mendapat sorot mata tajam Reno padanya. " Haa...ha... aku hanya bercanda, kau serius sekali. memangnya kau mau jomblo seumur hidup... ha...haaa?" gurau Ridwan berusaha mencairkan ketegangan pada Reno namun alhasil malah sebaliknya Reno malah semakin kesal dengan mulut sahabatnya yang tetap selalu usil padanya.


" Berani bicara lagi ku sumpal mulutmu?" ucap Reno dengan tatapan tajam.


Ridwan tertawa kecil dan kembali ke kursinya.


" Reno... Reno tetap saja kau tidak berubah, oia, tadi kau bilang dia sahabat adikmu kau mau membodohiku ya, sejak kapan kau punya adik?" Ridwan menegakkan duduknya dengan serius menunggu jawaban Reno.


Ridwan menghela napas panjang setelah Reno dan intan menghilang dari pandangannya.


" Ren... Ren... aku tahu siapa kamu!" gumam Ridwan dengan senyum yang mengembang.


***


Setelah keluar dari ruangan Ridwan si dokter kepo Reno dan Intan menyempatkan diri untuk menebus obat.


Ceklekkk.....


Suara pintu terbuka membuat Reihan dan Cahaya terkejut dan menoleh kesumber suara.


Reno dan Intan menyembul dari pintu, Reihan masih menatap sinis ke arah Reno begitupun sebaliknya. mereka saling bersitatap penuh dengan pikiran masing-masing.


Reno berjalan mendekat ke Cahaya yang duduk ditepi ranjang pasien.


" Sudah siap untuk pulang, apa kamu yakin sudah merasa baik?" Tanya Reno dengan raut wajah khawatir.


" Aku sudah baikkan kok mas, lagipula aku bosan dirumah sakit terus!" Ucap manja Cahaya pada Reno membuat Reihan berdecak kesal melihatnya.


" Ya sudah Ayo kita pulang!" Reno memegang lengan Cahaya dan menuntunnya jalan.

__ADS_1


" Hei... apa yang kamu lakukan dia isteriku seenaknya saja kau menyentuh isteriku!" Teriak Reihan lalu melepas kasar tangan Reno dari lengan Cahaya. sehingga posisinya kini bergantian. " Dengar baik-baik ya tuan Reno yang terhormat status Cahaya masih isteri sahku jadi jaga sikap anda!" Tegas Reihan.


Reno merasa kesal dengan sikap Reihan dan ucapannya namun dia masih menjaga emosinya karena tidak mau membuat keributan lagi dirumah sakit.


" Mas kamu ini apa-apaan sih, kaya anak kecil tau gak?" Cahaya melepaskan tangan Reihan dan meminta Intan untuk menemaninya.


Reno tersenyum penuh kemenangan lalu mengikuti Cahaya dan intan berjalan dibelakang mereka, sementara Reihan masih diam terpaku dengan hati kesal namun sebelum Cahaya menjauh Reihan dengan langkah cepat mengejarnya.


sesampainya di depan pintu rumah sakit Reno sudah lebih dulu membukakan pintu mobilnya. Saat Cahaya hendak masuk kedalam mobil Reno tiba-tiba Reihan mencekal tangan Cahaya dan menariknya.


" Apa yang kamu lakukan hah? Kamu....!" Bentak Reihan pada Cahaya. Reihan menguap kasar rambutnya " Aku ini masih sah suamimu dan sekarang bahkan kamu sedang mengandung anakku tapi kau malah memilih pulang bersama laki-laki lain.!" Reihan menunjuk ke Reno. dan yang ditunjuk hampir mengeluarkan taringnya tersulut emosi jika tidak dicegah oleh Cahaya.


" Hah... !" Reno membuang napas kasar dengan tawa getir. " Ahh... jangan-jangan kau pulang bersamanya karena sebenarnya anak yang kau kandung itu bukanlah anakku melainkan....!"


PLAAAKKKKK....


Sebuah tamparan keras mendarat dipipi Reihan sebelum ia menyelesaikan ucapannya. Butiran bening seketika meluncur jatuh membasahi pipi Cahaya.


" Aku gak menyangka mas kamu bisa berkata seperti itu, kau jahat mas. aku membencimu!" Ucap Cahaya dengan tatapan penuh kekecewaan.


Cahaya langsung masuk kedalam mobil Reno sambil menangis. Intan pun merasa kecewa dengan sikap Reihan. ia pu mengikuti Cahaya langsung masuk kedalam mobil. sementara Reno menatap dengan tatapan elangnya sebelum masuk kedalam mobilnya.


Sampai mobil itu menjauh dan tidak lagi terlihat Reihan masih diam berdiri ditempat itu sambil memegangi pipinya yang terasa sedikit panas karena Cahaya menamparnya sekuat tenaga.


" Apa yang telah aku lakukan barusan?" batin Reihan.


Sementara didalam mobil hanya ada kesunyian. Cahaya diam membisu dan melemparkan pandangannya pada sudut jalan. Intan yang duduk dibangku belakang hanya memandang Cahaya penuh kekhawatiran.


" Dek, Maafin mas ya!" Ucap Reno memecahkan kesunyian.


" Maaf mas gak bisa jagain kamu dengan baik dan maaf karena mas kamu jadi menangis!" Reno menoleh sekilas dan kembali fokus menyetir.


" Bukan salah mas, kenapa minta maaf?" ucap Cahaya tanpa menoleh.


" Ya karena mas gak jujur kalau mas ini kakakmu sampai dia berpikir seperti itu!" Ucap Reno dengan tetap fokus menyetir.


" Gak apa-apa mas, begitu lebih baik. jika dia benar-benar sayang dan mencintaiku dia pasti tidak akan mengatakan itu mas. Dia telah menilaiku seperti itu biarkan saja. aku sudah terlanjur kecewa mas!" Cahaya menoleh kearah Reno.


" Lalu apa rencanamu kedepannya dek?"


" Aku ingin pulang ke rumah peninggalan ayah, boleh gak mas?" Entah kenapa rasanya Cahaya ingin sekali kerumahnya yang dulu.


" Tentu boleh dong sayang, nanti kita bicarakan sama mamah, bagaimana!" kata Reno sambil mencubit hidung Cahaya.


" Mas aku tuh bukan anak kecil lagi aku sudah bisa bikin anak kecil begini juga!" Cahaya cemberut sambil memegang hidungnya.


Reno terbahak melihat Wajah cemberut Cahaya yang menurutnya sangat menggemaskan.

__ADS_1


lalu keusilan Reno bertambah dengan mengunyel2 rambutnya.


__ADS_2