
Reihan datang ke cafe setelah bertemu Reno.
Flashback on:
Reno sedang bertemu dengan rekan bisnisnya di sebuah restoran dan disaat itu juga Reihan sedang bersama dengan rekan bisnisnya. Reno terkejut saat melihat Reihan karena setahunya Reihan sedang ada janji dengan Cahaya. karena penasaran Reno menghampiri Reihan.
" Permisi, Maaf jika saya mengganggu !" Reno menghampiri Reihan yang sedang asik berbincang-bincang dengan rekan bisnisnya.
" Owh... pak Reno, ada perlu apa ya?" Reihan berdiri dari duduknya.
" Maaf kalau saya mengganggu, tapi ada hal yang ingin saya bicarakan, bisa kita bicara sebentar?" tanya Reno sopan.
" Emmm... baiklah, mari silahkan!" Reihan berjalan mencari tempat untuk mereka bicara Reno mengekor dari belakang.
Setelah sampai ditempat yang agak sepi Mereka berhenti. " Apa yang mau pak Reno bicarakan dengan saya?" tanya Reihan pada intinya.
" Kenapa pak Reihan ada disini, bukannya saat ini kamu sudah janjian untuk bertemu dengan Cahaya di cafe monalisa jam 10. tapi kenapa kamu malah ada disini?" tanya Reno bingung.
" maksudnya apa, aku gak ngerti?" Reihan bertanya-tanya.
" Cahaya bilang kamu ingin bertemu dengannya hari ini jam 10 dicafe monalisa?"
" Janji bertemu? tidak. aku tidak pernah membuat janji dengan cahaya karena hari ini aku sibuk dengan rekan bisnisku!" Reihan mengernyitkan alisnya.
" Lalu yang membuat janji dengan Cahaya siapa?" Reno berpikir keras.
" Aku tidak tahu, tapi kemarin memang hp. ku sempat hilang. apa mungkin ini ulah Clara?" Reihan menerka-nerka.
" Sial..!" Reno geram lalu pergi meninggalkan Reihan begitu saja. Reno setengah berlari pergi keluar dari Restoran tersebut dan dia menghubungi Bima untuk menghandle semua kegiatannya hari ini.
Reno mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. dia menuju cafe monalisa hatinya penuh dengan kekhawatiran takut terjadi sesuatu terhadap cahaya.
Setelah sampai didepan cafe Reno segera turun dari mobil dan mencari keberadaan cahaya dan saat mau masuk kedalam cafe tersebut Reno sempat berpapasan dengan Clara dan widia. Perasaan Reno semakin gelisah dan dia langsung mencari keberadaan Cahaya. dia tengok kanan dan kiri mencari keberadaan cahaya. akhirnya dia merasa lega saat melihat keberadaan cahaya namun seketika raut wajahnya berubah saat melihat Cahaya menangis sesenggukan.
" Kamu kenapa menangis, apa mereka menyakitimu?" tanya Reno khawatir.
_____
Reihan setelah kepergian Reno ia langsung kembali ke tempatnya menemui rekan bisnisnya. pikirannya menjadi tidak tenang ia memikirkan ucapan Reno yang mengatakan Dia dan cahaya janjian bertemu. Reihan menjadi tidak fokus pikirannya jadi bercabang. akhirnya dia memutuskan untuk pergi dan menyuruh Bayu menggantikannya.
Reihan bergegas pergi ke cafe yang dikatakan Reno. sesampainya di cafe ia langsung mencari Cahaya. dan betapa terkejutnya Reihan saat melihat Cahaya berada didalam pelukan laki-laki lain sambil menangis, Reihan terbakar api cemburu tangannya mengepal kuat dan sorot matanya begitu tajam. ia berusaha meredam emosinya dan berjalan mendekati Cahaya dan dengan kuat ia menarik tangan Cahaya sampai terjerabah jatuh kedalam pelukannya.
Flashback off...
Reihan mendekap tubuh mungil Cahaya dalam pelukannya, namun Cahaya terus berontak dia tidak mau dipeluk oleh Reihan.
Reno melihat penolakan Cahaya langsung menariknya dan melepaskannya dari pelukan Reihan.
" Jangan menangis dalam pelukan orang lain, walau bagaimanapun aku ini suamimu!" Reihan mengusap rambutnya kasar.
Cahaya masih terus menangis membuat Reno semakin cemas, " Dek sudah ya jangan menangis terus!" Reno berusaha menenangkan Cahaya.
" Sayang, katakan siapa yang membuatmu menangis?" Reihan menggenggam tangan Cahaya namun lagi-lagi ditepisnya.
" Aku benci sama kamu mas, aku benci. pergi saja kamu mas dengan wanita itu dan buat ibu mu bahagia tapi aku mohon jangan ganggu kehidupanku lagi mas. aku ingin hidup tenang bersama anakku!" Cahaya berbicara dengan isak tangisnya.
"Apa maksudmu? jadi yang membuatmu seperti ini mereka, Clara dan mamah iya?" Reihan geram.
" Sudahlah mas, kamu pergi saja sana, aku gak mau terus menerus berharap sesuatu yang semu.!" Cahaya berusaha menguasai emosinya.
__ADS_1
" Aku tidak akan pergi, aku tidak akan meninggalkanmu!" Reihan menatap lekat Cahaya dan mencium tangan Cahaya.
" Aku akan mencari mereka dan membuat perhitungan pada mereka!" Reihan mengepalkan tangannya dan emosinya mulai memburu.
" Mas jangan lakukan apapun sama mamah, walau bagaimana pun dia mamahmu!" Cahaya tidak mau Reihan ribut dengan mamahnya sendiri
" Jika mamah yang sudah membuatmu menangis, aku tidak peduli akan aku beri perhitungan!" Reihan geram.
" Mas aku tidak apa-apa, jangan membuatku takut dengan emosimu yang seperti itu. aku... aku tidak mau kau menyakiti mamah!" Cahaya merasa khawatir.
" Sudahlah, maafkan aku !" Reihan melepaskan tangan Cahaya yang menggenggam pergelangan tangannya dan pergi meninggalkan Cahaya dan Reno.
" Mas aku takut!" Ucap Cahaya lirih.
" sudah kamu gak usah khawatir. dia tidak mungkin menyakiti mamahnya sendiri!" Reno mencoba menenangkan.
" Kita pulang ya!" Reno merangkul Cahaya dan membawanya ke mobilnya.
_______
Reihan sampai dikediaman orangtuanya. dengan emosi yang memuncak Reihan masuk kedalam rumah dan berteriak memanggil mamahnya.
" mah... mamah...!" Teriak Reihan.
Bram yang memang sudah lama tidak pergi kekantor semenjak perusahaan diambil alih dengan Reihan keluar dari kamarnya.
" Ada apa kamu datang-datang berteriak seperti itu Rei?" tanya Bram.
" Maaf pah, Rei mencari mamah ada hal penting yang mau Rei tanyakan ke mamah!" Reihan mencari mamahnya namun tidak menemukannya.
terdengar suara dua orang wanita sedang tertawa gembira memasuki ruang utama. dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Reihan berdiri dan menatapnya tajam.
" Rei... kamu kok ada disini, kamu gak kerja?" tanya Widia dengan wajah tersenyum.
" Apa yang sudah kalian lakukan?" tanya Reihan dengan sorot mata yang tajam.
Widia dan Clara berhenti tertawa dan terlihat gugup.
" Apa yang sudah kalian lakukan hah?" Tanya Reihan dengan berteriak.
Bram sedikit kaget dengan pertanyaan Reihan, ia menatap Reihan dan widia bergantian seakan mencari jawaban.
" Ada apa ini, kamu kenapa Rei?" Bram sedikit bingung.
" Papah bisa tanyakan kepada kedua orang ini pah!" ucap Reihan dengan dingin.
" Rei, kamu kenapa sih sayang ?" Widia mencoba mencairkan ketegangan yang ada.
" Mamah tanya Rei kenapa? ha.. haaa...!" Reihan tertawa sinis.
" Sayang!" Clara bersikap sok manja namun ditepis oleh Reihan.
" Jangan menyentuhku!" Ucap Reihan dingin.
" Kamu kenapa sih sayang?" Clara sedikit bingung mencoba mendekati Reihan namun yang didekati malah menghindar.
" Hp Rei kemarin sempat hilang ternyata mamah yang mengambilnya, iya kan?"
Tenya Reihan membuat mamahnya gelagapan.
__ADS_1
" Emmmmm... mamah... mamah kemarin melihat hp kamu tertinggal dimeja jadi mamah mengambilnya dan menyimpannya dan mamah lupa memberitahu kamu!" ucap Widia dengan gugup.
" Benarkah?" Reihan mengernyitkan alisnya.
" Iy...iya sayang!" Widia semakin gugup
" Terus mamah dari mana tadi, apa baru menemui seseorang?" Reihan mendekati mamahnya.
" Emmmm... mamah, mamah abis menemani Clara belanja ke mall!" jawab Widia berbohong.
" Benarkah? beli apa mah banyak barang yang mamah borong?" Reihan menyelidik.
"Mamah..... mamah hanya menemani Clara belanja saja, benarkan sayang?" Widia menoleh ke Clara.
" Iy... iya benar. mamah hanya menemaniku saja!" Clara meyakini Reihan.
" owh hanya ke mall!" Reihan berjalan dengan santai duduk di sofa.
" Rei kira mamah dan Clara pergi ke cafe!" Sindir Reihan.
" ke cafe? emmm... tidak kami hanya ke mall kok!" Widia semakin gugup.
" Memang ada apa di cafe?" tanya widia
" Tidak ada, tadi aku hanya melihat ada yang menangis di cafe!" jawab Reihan santai
Widia semakin gugup dan salah tingkah. Bram yang melihat isterinya terlihat gugup semakin penasaran.
" Apa yang sudah kamu lakukan mah?" Tanya Bram tegas
" Aku... aku gak melakukan apa-apa pah!" jawab widia semakin gugup.
" Jangan berbohong mah!"
"Mamah gak berbohong pah!" Widia mengelak.
" Rei... kamu dengar ucapan mamahmu barusan?" Bram menoleh ke Reihan.
" Iya pah, Rei hanya merasa geram pah dengan orang yang sudah membuat Cahaya menangis pah!" Ucap Reihan jujur.
" Apa katamu, jadi yang kamu bilang menangis di cafe itu Cahaya?" Tanya Bram penasaran.
" Iya pah, dan Rei harap bukan mamah yang melakukannya!" Ucap Reihan penuh penekanan.
Widia bangun dari duduknya. " jadi kamu dari tadi menanyai mamah seperti itu hanya karena wanita kampung itu menangis, apa wanita itu yang sengaja menuduh mamah iya, kurang ajar wanita kampung itu!" Widia geram.
" Cahaya tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menangis!"
" Baguslah, dia tidak mengatakan apa-apa!":gumam clara pelan namun masih terdengar oleh Reihan.
"Owh, jadi benar kamu bertemu dengan Cahaya tadi dan kalian menggunakan namaku untuk bertemu dengannya?" Reihan geram menatap tajam pada Clara.
" Tidak... tidak.. aku.. aku tidak bertemu dengannya, aku dan mamah hanya ke mall dan ke cafe sebentar!" Tanpa sadar Clara keceplosan bicara.
" Ke cafe?" Tanya Reihan menegaskan.
" Maksudku.. emmm... cafe yang ada di mall tersebut. iya.. cafe yang di mall!" Clara semakin gugup.
" Benarkah?" Reihan mendekati Clara.
__ADS_1
Clara semakin gugup dan berusaha menghindari tatapan mata Reihan.
" Aku tidak akan membiarkan siapapun mengusiknya lagi, jika sampai terbukti kau menyakiti isteriku aku tidak akan mengampunimu, ingat itu!" bisik Reihan pelan ditelinga Clara dan membuat Clara merasa kesal dan geram terhadap Cahaya.