
Reno membuka pintu mobilnya " Ayo turun..!" menoleh kearah cahaya yang masih terpaku diam dengan ribuan pertanyaan dibenaknya. Reno dapat dengan jelas melihat raut kebingungan dimanik mata cahaya.
" Maaf mas, kenapa mas Reno membawaku ke sini?" Cahaya sudah turun dari mobil dan matanya memandang ke arah Rumah Sakit besar yang berdiri kokoh dihadapannya.
" Sudah nanti kau akan tau sendiri, Ayo masuk!" Ajak Reno sambil menepuk bahu Cahaya pelan.
Reno dan Cahaya berjalan memasuki Rumah sakit tersebut. Entah mengapa detak jantung Cahaya semakin berpacu tak beraturan.
Mereka sampai didepan ruangan yang tertulis IGD, Reno langsung menghampiri Bi Susan orang yang telah menelponnya sewaktu di dalam mobil.
Bi susan adalah ART yang dipercayai oleh mamahnya Reno untuk mengurus semua pekerjaan rumah. ia sudah lama bekerja dengan keluarga Reno tepatnya hampir 20 tahun lebih.
" Bi, bagaimana keadaan mamah sekarang?" tanya Reno penuh kekhawatiran tentang keadaan mamahnya yang mengalami kecelakaan.
" Bibi juga belum tau den !" jawab bi susan.
" Kata pak polisi tadi mobil Nyonya menabrak sebuah pohon besar disaat ia ingin menghindari mobil yang terparkir ditepi jalan.
" Sudah aku bilang mamah jangan mengemudikan mobil sendiri" ucap Reno sambil mengadu tangannya kedinding.
Cahaya masih bingung dengan situasi yang ada dihadapannya. dia menatap lekat Reno dan bi susan yang juga sedang menatapnya.
" Den jangan begitu den, sebaiknya kita berdo'a den semoga nyonya akan baik-baik saja!" ucap bi susan yang merasa sedih melihat Reno begitu terpukul.Bi susan mengelus punggung Reno mencoba menguatkannya.seketika mata bi susan kembali mengarah pada sosok wanita yang berdiri didepannya."Maaf den, itu siapa?" tanya bi susan pelan.
Reno menoleh kearah yang dimaksud bi susan. " Oh itu Cahaya bi!" jawab Reno pelan sambil menyeka air matanya.
Reno menghampiri Cahaya yang masih diri mematung. " Mas gak apa-apa?" tanya cahaya yang melihat kearah tangan putih Reno yang sedikit merah akibat pukulannya kedinding. Reno melihat tangannya sekilas lalu tersenyum pada cahaya. "Maaf mas, sebenarnya yang sakit itu siapa?" tanya cahaya yang sedikit bingung.
" Mamah, mamah kecelakaan" jawab Reno dengan suara parau.
" Kecelakaan?" tanya Cahaya terbata-bata.
" iya, mobil mamah menghantam pohon besar !"
__ADS_1
" Kecelakaan!" ucap Cahaya pelan namun berulang ulang hingga membuat Reno bingung dengan perubahan sikap Cahaya yang seketika tatapannya terlihat kosong.
" Ca.. Cahaya!" Reno memanggil cahaya pelan. namun tetap cahaya tak bergeming.
Reno semakin gusar. " Ca... Cahaya. Cahaya!" Bentak Reno yang semakin meninggikan suaranya dan menguncang bahunya hingga membuat Cahaya akhirnya tersadar. " Iya Mas Reno!" jawab Cahaya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.":Maaf"! ucap cahaya lirih.
Bi susan yang terlihat bingung akhirnya menghampiri keduanya." non cantik ini kenapa den?" tanya bi susan sambil merangkul bahu Cahaya.
" Non... emmm..???" Bi susan mengingat-ingat. " Cahaya bi!" beritahu Reno.
" Akhhh... iya non Cahaya, maaf bibi lupa maklum sudah berumur.hee..heee.." Bi susan tertawa kecil lalu mengajak cahaya duduk.
" Non Cahaya kenapa, kok mukanya pucet gitu? apa non Cahaya sedang sakit?" tanya bi susan.
" Tidak bi, maaf tadi....., ahhh.. tidak apa-apa bi, bagaimana keadaan mamahnya mas reno bi?" Cahaya mengalihkan pembicaraan. ia enggan mengingat kejadian dimasa lalunya.
Reno yang berdiri tidak jauh darinya dapat mengerti kesedihan yang terpancar dari sorot mata cahaya dan diapun tau dengan jelas apa yang sempat membuat cahaya terguncang.
" Nyonya dalam keadaan kritis non, ya kita berdoa saja non semoga nyonya bisa melewati masa kritisnya".
ceklekk...
Seorang dokter keluar dari ruangan IGD.
Reno langsung berjalan menghampirinya.
" Bagaimana keadaan mamah saya dok?" Reno dengan raut wajah khawatir.
" Pasien sudah melewati masa kritisnya, tapi pasien masih belum sadarkan diri. kita tunggu perkembangan selanjutnya dan pasien akan dipindah ke ruang perawatan!" jawab dokter yang berlalu pergi.
Cahaya berjalan menghampiri Reno yang diam terpaku di depan pintu berkaca.
" Mas Reno yang sabar ya, kita do'akan saja semoga mamahnya mas Reno cepat sembuh!" Cahaya mengusap bahu Reno dan Reno yang merasakan sentuhan lembut dibahunya menoleh sekilas.
__ADS_1
2 orang suster keluar dari ruangan IGD membawa pasien ke ruang perawatan. Reno, Cahaya dan bi susan mengikutinya. setelah sampai didepan ruang perawatan Reno menyuruh bi susan untuk pulang dan mengambil barang-barang keperluan nyonya sekar.
Reno duduk disamping mamahnya yang masih memejamkan matanya. " Mah, bangun mah, coba mamah lihat ada siapa disini mah. Mamah pasti senang mah. ayo dong mah buka mata mamah. " ucap Reno lirih dengan airmata yang tak mampu lagi ia bendung.
Cahaya menatap iba melihat Reno yang menangis disamping mamahnya sambil menciumi tangan mamahnya.
" Ca, kemarilah!" panggil Reno sambil menghapus airmatanya.
"iy..iya mas!" Perlahan Cahaya berjalan mendekati Reno yang duduk disamping mamahnya.
" Ca, bisa tolong aku?" tanya Reno dengan hati-hati.
" Tolong apa ya mas?"
" Mendekatlah ke Mamah Ca, mungkin jika kau yang berada disisinya mamah akan cepat sadar !" Degup jantung Reno berdetak tak karuan sangat mengucapkan kalimat itu.
" Maksud mas Reno apa? apa sebelumnya mamah mas Reno mengenalku?" Tenya Cahaya dengan mengernyitkan alisnya.
" Sangat... sangat mengenalmu" Reno bangun dari duduknya dan menuntun Cahaya untuk duduk dibangku samping ranjang mamahnya yang sedang terbaring.
" Sangat mengen....." belum selesai ucapan cahaya Reno sudah berjalan meninggalkan Cahaya berdua didalam ruangan bersama mamahnya.
Cahaya menatap lekat wajah wanita paruh baya yang sedang berbaring lemas dan dengan matanya yang masih terpejam. Seakan ada rasa yang berbeda saat matanya memandangi wanita yang ada selang infus di tangannya. seperti ada kerinduan yang teramat dalam dihatinya pada wanita yang ada dihadapannya ,dengan perlahan cahaya menyentuh tangannya dan membelainya lembut.
" Bu... apa benar yang mas Reno katakan tadi kalau ibu sangat mengenal saya?" tanya cahaya sambil mengelus tangan Sekar.
" Tapi bagaimana mungkin ya ibu mengenal saya. kita kan baru pertama bertemu dan ibupun dalam keadaan seperti ini. mungkin mas Reno hanya asal ucap." Cahaya tersenyum menatap lekat Sekar yang masih terpejam.
" Mas Reno pasti sangat sedih melihat ibu seperti ini. ibu harus cepat sadar dan lihat betapa khawatirnya mas Reno sama ibu. seandainya saja saya diposisi mas Reno tentu saya juga akan merasa sangat sedih. ibu...!"
ucapan cahaya terhenti tanpa sadar airmatanya sudah membasahi pipinya yang mulus." Sejak kecil saya tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ibu, dia meninggalkan saya diusia 1 tahun. Sungguh beruntungnya mas Reno bisa memiliki ibu yang sangat ia sayangi dan sangat menyayanginya. jika boleh meminta ibu cepatlah sadar dan bolehkah saya merasakan sentuhan kasih sayang dari seorang ibu?" Cahaya tersenyum kecil memandang wajah yang membuatnya merasa begitu sangat merindukan sosok ibunya.
Tanpa disadari wanita itu menitikkan air matanya saat mendengar semua kata-kata Cahaya.
__ADS_1