RAHASIA DALAM PERNIKAHAN

RAHASIA DALAM PERNIKAHAN
Ruang CEO


__ADS_3

" Iya... iya.. isteriku sayang, tapi biarkan mas tetap yang antar kamu ke kantor ya!" bujuk Reihan tak mau dapat penolakan.


" Yasudah terserah mas Rehan aja"


Keduanya akhirnya berangkat bersama. Disepanjang perjalanan sambil mengemudikan mobilnya Reihan tampak tersenyum setiap kali menoleh kearah Cahaya yang sedang duduk disampingnya dengan tangan sibuk menekan layar ponselnya.


" Kamu sedang apa si sayang, wajahmu terlihat tegang begitu, jangan - jangan kau sedang chatingan ya sm bos mu itu?" Reihan sedikit curiga.


" Apaan sih mas, aku sedang membalas pesan intan. Semua gara-gara mas yang membuatku hutang penjelasan kepada intan. hari ini dia menungguku untuk menjelaskannya" ucap cahaya kesal dan pasang wajah cemberut.


" loh kok gara-gara mas sih sayang?" Reihan mengernyitkan alisnya.


" Ya.. iya gara-gara mas yang udah menelpon intan hanya sekedar menanyakan keberadaanku." jawab cahaya sambil membuang napas kasar dan menyandarkan tubuhnya dibangku mobil yang melaju cukup cepat.


" Mas jangan ngebut-ngebut!" ucap cahaya yang sedikit takut dengan cara mengemudi Reihan yang mempercepat laju mobilnya.


" kalau tidak cepat nanti bisa telat sayang" ucap Reihan sambil tersenyum.


" Mas, tadi kan udah aku bilang kita pergi masing-masing aja. tapi mas yang memaksa mengantarkan aku!" Cahaya sedikit kesal dengan keras kepalanya Reihan.


Reihan hanya tersenyum-senyum mendengar ocehan-ocehan Cahaya didalam mobil.


Akhirnya tanpa Cahaya sadari mobil sudah berhenti tepat didepan kantor tempat Cahaya bekerja.


" Apa kamu masih ingin terus mengoceh dan tidak mau turun?" tanya Reihan dengan senyum yang mengembang.


Cahaya menoleh dan memperhatikan kesekelilingnya. " Udah sampai ya, hee..hee?" Cahaya tersipu malu karena sepanjang perjalanan terus nyerocos tanpa sadar kalau mobilnya sudah berhenti ditempat kerjanya.


" Ya udah aku turun. mas harus hati-hati bawa mobilnya, kalau sudah sampai kabarin aku ya?" ucap Cahaya menyalami tangan Reihan.


" iya sayang"


Cahaya keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk kedalam kantor dengan wajah yang berseri-seri. Sedangkan Reihan langsung melajukan mobilnya menuju kantornya.


Setelah sampai di meja kerjanya Cahaya duduk dan meletakkan tasnya disamping meja kerjanya dia menoleh ke meja Intan dan bernapas lega ternyata intan belom datang pikirnya.


Cahaya langsung menyalakan komputernya dan memeriksa hasil kerjanya kemarin saking seriusnya tanpa ia sadari ada seseorang yang sedang berdiri dihadapannya sambil menyeringai. ia lalu meletakkan satu cup kopi diatas meja kerja Cahaya. sontak saja hal itu membuat Cahaya terperanjat kaget. Cahaya mendongak dan dilihatnya Intan sambil mendelik seakan menagih sesuatu padanya.


Cahaya hanya cengar cengir lalu mengambil cup kopi yang diberi intan untuknya lalu meminumnya pelan-pelan.


" Kamu sudah datang rupanya". Ucap Cahaya sambil cengengesan.

__ADS_1


" Aku sudah menunggumu dari tadi, jadi sekarang jelaskan semuanya padaku, Kenapa pak Reihan kemarin mencarimu?"


"Apa, Pak Reihan mencari Cahaya?" tanya Lintang dan edo berbarengan.


Cahaya dan Intan menoleh kesumber suara. membuat keduanya terdiam bersamaan. " Kenapa kalian diam?" tanya Edo.


" Akhh... tidak apa-apa" Ucap Cahaya berusaha menghindari pertanyaan yang semakin menyulitkannya.


" Ca, Kemarin apa pak Reihan sudah bertemu denganmu? Dia menelponku mencarimu. Sepertinya kamu bakalan sibuk ya ketemu sama pak Reihan karena kerja sama dua perusahaan besar ini?" ucap Lintang yang memang sedikit lugu.


" Akhh... iya kau benar sekali lintang" Jawab Cahaya dengan tersenyum. tapi tidak dengan intan dia malah menatap tajam kearah Cahaya.


Obrolon mereka seketika terhenti karena Reno baru saja datang dan di ikuti oleh sekretaris Bima.


" Cahaya, Keruangan saya sekarang!" Ucap Reno tanpa menoleh masuk ke ruangannya.


Semua yang ada didekat Cahaya menatap penuh tanya pada Cahaya,ada hal apa yang membuat Cahaya dipanggil sang bos pagi-pagi.


" Ada apa Ca, kenapa pak bos memanggilmu?" tanya intan menyelidik.


" Entahlah, ya sudah aku masuk dulu takut pak bos marah kalau menunggu lama". Cahaya beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruangan CEO. Ada sedikit rasa gugup dihati Cahaya saat hendak masuk keruangan Reno.


Tokkkk.... tokkkk... tokkk


" Permisi pak, ada apa ya bapak memanggil saya?" ucap cahaya sopan.


" Duduklah !" Reno menunjuk sofa yang ada didepannya.


Cahaya duduk disofa yang ditunjuk dan Renopun bangkit dari bangku kebesarannya berjalan mendekat ke Cahaya lalu duduk disampingnya bersandar disandaran sofa sambil menghela napas panjang.


" Kenapa Pak pagi-pagi udah menghela napas seberat itu?" tanya Cahaya yang melihat raut wajah lelah pada Reno.


" Mamah... ingin bertemu denganmu Ca!" ucap Reno menoleh ke Cahaya.


Mendengar nama mamah Cahaya terdiam dam menundukkan kepalanya. " Aku tahu kamu masih berat menerima kenyataan ini, tapi mamah membutuhkanmu Ca, mamah sangat merindukanmu."


" tapi aku...." ucap Cahaya bingung.


" Dari kemarin mamah tidak mau makan, dan pagi tadi aku sudah membujuknya tapi tetap mamah tidak mau makan, mamah hanya ingin bertemu denganmu" Reno memegang kepala denga kedua tangannya.


Tokkk...tokkkk... tokkk...

__ADS_1


" Masuk!" ucap Reno.


Pintu terbuka, Sekretaris Bima masuk lalu membukukkan badan memberi hormat kepads Reno.


" Ada apa, Bima?"


" Maaf pak, saya ingin memberi tahu kalau jam 10 nanti anda ada jadwal rapat dengan Direktur PT. Alexander!" beritahu Bima.


" Bima, Tolong untuk rapat hari ini kamu yang menggantikan, karena hari ini aku ingin menemani mamah di rumah sakit !".


" Tapi pak, rapat hari ini sangat penting dan pak Reno sudah 2 kali mengundur rapat dengan PT. Alexander. Jika saya yang menggantikan bapak, saya takut Direktur Alex akan kecewa dan membatalkan kontraknya!" jelas Bima.


" Tapi aku harus ke rumah sakit kamu tahu sendiri kan bagaimana keadaan mamah?" Reno sedikit prustasi.


" Saya tahu pak, tapi...." Bima merasa bingung.


" Ya sudah, tidak apa-apa jika memang PT. Alexander ingin membatalkan kontraknya dengan perusahaan kita."


" Tapi pak jika PT Alexander membatalkan kontraknya maka perusahaan kita akan kehilangan investor besar dan pasti akan banyak mengalami kerugian!" terang Bima.


Reno nampak berpikir lagi. dia duduk dibangku CEO nya dan menyandarkan tubuhnya sambil memejamkan mata dan tangan kanannya memijat kepalanya yang terasa pusing.


Cahaya yang sedari tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan Reno dan Bima. Ia tahu kalau rapat itu sangat penting buat perusahaan dan dia juga tahu kalau Reno sangat menyayangi mamahnya. Cahaya bangun dari duduknya dan mendekati meja Reno.


" Jika rapat hari ini sangat penting sebaiknya pak Reno menghadirinya. Aku... aku yang akan menemani mamah" ucap cahaya pelan.


Reno langsung terperanjat membuka mata dan menoleh kearah cahaya, " Ka...kamu mau menemani mamah?" tanya Reno lalu bergegas menghampiri Cahaya. " Benarkah kamu mau menemani mamah di rumah sakit?" Mata Reno berbinar ketika Cahaya menganggukan kepalanya dan langsung memeluknya. " Terima kasih dek, terima kasih!" Reno gembira.


Bima tersenyum melihat Reno yang terlihat sangat gembira. " Bima kamu siapkan semua berkas untuk rapat hari ini dan tolong antarkan Cahaya ke rumah sakit!" Ucap Reno setelah melepas pelukannya pada Cahaya.


" Baik pak!" ucap Bima. " Mari bu Cahaya, saya antar!" Bima membuka pintu ruangan CEO.


"Tidak usah pak Reno aku pergi sendiri saja " Ucap cahaya menolak


" Pak? jangan panggil aku pak aku ini kakakmu" ucap Reno sambil tersenyum.


" Tidak ada penolakkan, Bima yang akan mengantarmu!"


" Baiklah pak!" Reno mengernyitkan alisnya.


" maksudku, baiklah kak!" ucap cahaya tersenyum. " ya sudah aku pergi ya kak!" pamit cahaya pada Reno. " Pak Bima tunggu aku di depan kantor saja ya!" ucap Cahaya.

__ADS_1


" Baik bu!" jawab bima. " saya permisi pak!" Bima membungkukkan badan lalu undur diri.


Cahaya pun keluar dari ruangan CEO dan kembali ke ruang kerjanya lalu membereskan barang-barangnya.


__ADS_2