RAHASIA DALAM PERNIKAHAN

RAHASIA DALAM PERNIKAHAN
Makan Malam


__ADS_3

Makan malampun telah tersaji di meja makan Bramantyo dan widia sudah duduk dikursi meja makan sementara Reihan masih berada didalam kamar. Cahaya membantu melayani kedua mertuanya. Bramantyo terlihat senang dengan sikap Cahaya begitu telaten menyajikan hidangan makan malam untuknya. sementara widia terlihat sangat angkuh dan sombong.


" Dimana Reihan kenapa dia belum turun untuk makan malam bersama?" tanya Bramantyo membuka pembicaraan.


" Mungkin dia dikamarnya enggan untuk turun makan malam bersama isteri yang sudah bersikap kurang ajar dengannya" jawab widia dengan sikap angkuhnya.


" Jaga bicaramu !" Bram melemparkan tatapan tajam ke widia.


" Pah... !" ucap Cahaya dengan lembut dan menggelengkan sedikit kepalanya mencoba menenangkan Bramantyo.


" Aku akan keatas memanggil mas Rei untuk makan malam bersama kita pah!" Cahaya meletakkan piring yang ada ditangannya lalu pergi memanggil Reihan.

__ADS_1


sesampainya didepan pintu kamar Cahaya terdiam sejenak, terlintas dalam ingatannya tentang kebersamaan Reihan dengan Clara didalam kamar tersebut. Cahaya masih belum bisa melupakan kejadian itu rasa sakit dihati kembali mencuat. namun Cahaya lagi-lagi teringat dengan ucapan pria asing yang menyuruhnya berusaha untuk kuat dan berani menghadapi kenyataan. Dengan rasa dag dig dug Cahaya mengetuk lalu membuka pintu kamar tersebut dengan perlahan.


Didalam kamar Cahaya mendapati Reihan yang sedang duduk bersandar di tempat tidur dengan leptop dipangkuannya. saat melihat Cahaya masuk Reihan langsung menutup layar leptop dan meletakkannya diatas nakas. Reihan menatap dingin kearah Cahaya ia melipat kedua tangannya di atas perut.


" Mas turunlah sebentar untuk makan malam bersama papah dan mamah mereka sudah menunggumu sejak tadi!" dengan perasaan berdebar Cahaya meminta Reihan untuk turun.


" Aku tidak mau," ucap Dingin Reihan lalu turun dari tempat tidur menghampiri Cahaya yang sedang berdiri mematung.


Reihen mendekat ke Cahaya lalu menindihnya dengan kasar. " Kau ini isteriku sekarang kau harus melayaniku !" Reihan mencium paksa bibir Cahaya sehingga membuat Cahaya menangis ketakutan.


" Hentikan mas aku mohon jangan lakukan ini padaku. aku minta maaf karena sudah menamparmu tapi aku mohon jangan lakukan ini padaku!" teriak Cahaya disela isak tangisnya.

__ADS_1


" kau harus menerima hukuman yang sudah berani melawan suamimu!" Reihan semakin bengis Cahaya terus meronta namun karena kekuatan Reihan lebih besar Cahaya terkulai tak berdaya.


" Aku akan terima hukumanku apapun itu tapi tidak dengan cara seperti ini mas, dulu kau pernah berjanji tidak akan menyakitiku tapi semenjak wanita itu kembali dalam kehixupanmu kau kembali berubah mas kau kembali menjadi Reihan yang dulu tega menyakitiku. Reihan yang tega merenggut mahkotaku. aku memang isterimu mas sudah menjadi kewajibanku melayanimu tapi aku tidak sanggup bila harus menjalankan tugasku sebagai isteri di kamar terkutuk ini tempat dimana kau telah bercumbu dengan wanita lain. kau anggap apa aku? batu yang tak punya hati .? ucap Cahaya sambil berderai air mata. perlahan perlakuan kasar Reihan mereda. ia kembali teringat dengan ucapannya kepada Cahaya. Reihan pun teringat kejadian dimana Cahaya melihat dirinya tengah bermesraan dengan Clara.


Cahaya terus menangis sesenggukan Reihan lalu turun dari atas tubuh Cahaya. ia duduk ditepi tempat tidur dengan wajah berantakan. ia mengacak -acak rambutnya menggerutui kebodohan dirinya sendiri.


Cahaya kembali merapihkan bajunya lalu turun dari tempat tidur. Cahaya menghapus air matanya dan berusaha menenangkan dirinya sendiri.


" Mas sebaiknya kita turun, papah dan mamah sudah lama menunggu. aku harap mas bisa bersikap baik walaupun itu hanya didepan papah. aku tidak mau mas membuat papah marah aku khawatir dengan kesehatannya."


" Maaf" kata itu meluncur begitu saja dari bibir Reihan yang melenggang pergi meninggalkan Cahaya yang sedang berdiri mematung.

__ADS_1


" Cepatlah turun, jangan biarkan papah dan mamah terlalu lama menunggu!


__ADS_2