
Reihan menatap punggung Cahaya yang tidur membelakanginya. ada rasa kecewa dan juga benci pada dirinya sendiri karena sikapnya yang tidak tegas lagi-lagi ia melukai hati orang yang sangat ia cintai. luka yang dulu ia berikan pada Cahaya sungguh teramat besar dan kini luka yang dulu sudah mengering tanpa sengaja kembali ia goreskan lagi.
Reihan merebahkan tubuhnya disamping Cahaya dan memeluknya dari belakang. rasa yang amat dirindukannya seharian ini isteri yang terlihat baik-baik saja namun slalu menghindarinya untuk menahan rasa sakit yang dirasakannya.
Cahaya yang merasakan lengan kekar menindih tubuhnya langsung membuka matanya namun tetap tak bergeming ia membiarkan suaminya pada posisi seperti itu memeluknya dari belakang. lama-lama Cahaya merasakan bahunya basah.
Deggg...
" Apa mas Reihan menangis, tidak mungkin keringatkan?" Gumam Cahaya dalam hati namun tetap ia tidak bergeming. dan cahaya semakin tertegun saat merasakan tubuh Reihan bergetar suara isak tangispun terdengar sayup-sayup.
" Apa yang aku lakukan ini salah sampai membuat suamiku menangis seperti ini?" Gumamnya
" Ma...maafkan aku sayang, aku memang bukan suami yang pantas untukmu. aku bukan suami yang baik, Hiks..hiks.. aku hanya membuatmu terluka dan menderita.
melihatmu seperti ini rasanya sangat menyakitkan lebih baik kau pukul aku, maki aku tampar aku sekuat mu. tapi tidak bersikap seperti ini kau seolah bersikap biasa dan baik-baik saja padahal dilubuk hatimu kau memendam luka. sayang maafkan aku tapi aku bersumpah apa yang kau lihat waktu itu bukan seperti yang kau bayangkan. aku juga sama terkejutnya denganmu dia muncul begitu saja dihadapanku bahkan seenaknya memelukku. aku sama sekali tidak mau ada wanita lain memelukku selain dirimu sayang. jika kau tidak percaya kita bisa lihat cctv di ruanganku sayang. tapi aku mohon maafkan aku jangan diamkan aku seperti ini aku tidak sanggup sayang!" Ucap Reihan lirih disela tangisnya. ia tidak peduli Cahaya mendengar atau tidak ungkapan isi hatinya tapi yang pasti besok dia akan berencana mengajak Cahaya ikut dengannya ke kantor untuk melihat cctv yang ada diruangannya.
mendengar curahan isi hati suaminya ditambah lagi dengan adanya drama tangis yang memilukan hati tentu saja hal itu membuat Cahaya merasa tersentuh, ia pun tak kuasa menahan airmatanya yang sudah lolos begitu saja dipipinya. Cahaya berbalik badan dan betapa terkejutnya Reihan saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Cahaya ada rasa malu karena tertangkap basah ia sedang menangis.
Cahaya tersenyum melihat mata Reihan yang masih terlihat merah dan pipi yang basah.
" Jangan melihatku seperti itu!" Reihan segera bangun duduk dan buru-buru menghapus airmatanya. ia tertunduk malu dan salah tingkah.
" Ternyata suamiku kalau sedang menangis seperti ini tampan juga..." goda Cahaya.
" Siapa yang menangis dan mana ada seperti itu....?"Reihan memalingkan wajahnya.
" Ha..ha... utu...utuuu.... menggemaskan sekali si!" Cahaya beranjak dan duduk disamping Reihan dengan pandangan mata yang menggoda.
" Apa sih.... aku malu tau!" Reihan cemberut. Cahaya semakin tergelak melihat wajah Reihan yang merona merah .
" Maafkan aku, aku sudah salah paham dan tidak mendengarkan penjelasanmu lebih dulu.!" Cahaya bersandar dibahu Reihan dan meliriknya.
Reihan menoleh dan mata mereka pun bertemu dan saling menatap dalam-dalam.
" Apa kau mendengar semuanya?" Cahaya mengangguk
__ADS_1
" Aku tidak perlu melihat cctv di ruanganmu aku sudah percaya mas" Cahaya tersenyum tipis lega rasanta Reihan melihat Cahaya yang sudah tidak marah lagi.
" tapi besok kau tetap harus ikut denganku ke kantor dan tidak ada penolakan!" Tegas Reihan. mendengar ucapan Reihan, Cahaya langsung bergeser dan menatap Reihan tajam.
" Jangan melihatku seperti itu, aku hanya ingin kau menemaniku besok siapa tau dia datang lagi dan aku tidak mau mengambil resiko isteriku salah paham lagi!" tuturnya
" Baiklah, tapi lain kali jika dia datang lagi kau kan bisa menyuruh sekretarismu melarangnya masuk !" Tegas Cahaya.
" Iya sayang, emmm... berarti kamu sudah maafin aku kan? dan udah gak marah lagi ?" Tanya Reihan antusias.
Cahaya menggeleng dan mengerucutkan bibirnya membuat Reihan mengernyitkan alis
" Maksudnya?" Tanya Reihan ditengah kebingungannya.
" Siapa bilang aku tidak marah lagi, kau sepertinya menikmati pelukan wanita itu" Cahaya melipat tangan didadanya.
" Mana ada seperti itu, jangan mengada ada!" Kesal Reihan.
" Ada!" Sargah Cahaya
" Tidak ada!"
" Tidak!"
" Ada!"
" Tidakkkkkk!"
" Kau membentakku sayang?" Cahaya memincingkan matanya.
" Ahhh.. tidak sayang, bukan begitu maksudku!"
" Kau membentakku barusan!" Cahaya membuang muka
" Tidak sayang aku tidak membentakmu. maafkan aku sayang!"
__ADS_1
" kau membentakku!" Cahaya berpura-pura kesal lalu kembali merebahkan tubuhnya dengan membelakangi Reihan dan hal itu tentu saja membuat Reihan mengeram kesal.
" Baru sebentar baikkan sudah kembali marah, nasib ya nasib!" gumam Reihan yang ternyata cukup terdengar oleh Cahaya.
" Aku mendengarmu sayang!"
Reihan langsung menoleh dan bertemu pandang dengan tatapan tajam Cahaya.
" Ahh... maafkan aku sayang!" Reihan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal lalu merebahkan tubuhnya dan memeluk Cahaya dari belakan.
Cahaya tidak bergeming dan berbalik badan setelah terkejut dengan ucapan Reihan.
" Kita olah raga dulu ya sebelum tidur?" bisik Reihan tepat ditelinga Cahaya.
Sontak saja hal itu membuat Cahaya kesal dan memukul dada bidang Reihan namun pukulan yang terasa tidak ada apa-apanya buat Reihan membuat tangan Cahaya mudah di cekal oleh Reihan dan tentu saja situasi itu dimanfaatkan oleh Reihan untuk menerkam Cahaya dan sekuat apapun Cahaya meronta pada akhirnya dia pasrah juga dan penyatuan pun terjadi di malam yang penuh dengan cinta tanpa adanya drama dan airmata.
Sampai pagi menjelang keduanya masih berada didalam selimut. entah tidur jam berapa kedua insan yang menikmati malam penuh cinta itu hingga dering ponsel yang menggema seisi ruangan kamar tetap saja tidak membuat mereka bergeming.
Hingga akhirnya....
Tokkk.... tokk... tokk... tokk...
Ketukan pintu yang begitu keras membuat keduanya terhentak kaget. Reihan dan Cahaya saling tatap sorot mata mereka seakan saling bertanya siapa. Reihan meraih celananya yang teronggok dilantai dan memakainya sementara Cahaya tetap bersembunyi di balik selimut tebalnya hingga seleher yang nampak hanya kepalanya saja.
Reihan berjalan menuju pintu yang masih digedor - gedor dari luar.
Ceklek..
Reihan membuka pintu sambil mengucek mata dan mengumpulkan jiwanya yang belum seutuhnya terjaga.
" Ada apa sih pagi-pagi gedor-gedor pintu orang, ganggu orang tidur aja tau gak !" Kesal Reihan yang melihat Reno pelaku yang menggedor-gedor pintu kamar Cahaya dan Reihan.
" Mana Cahaya, apa yang kamu lakukan pada adikku sampai ia belum keluar dari kamar sesiang ini, hah?" Sarkas Reno yang cemas dengan keadaan adiknya ditambah lagi setelah mendengar cerita Intan yang begitu mengkhawatirkan keadaan Cahaya karena semalam merasa sikap Cahaya tidak seperti biasanya. Reno mendorong Reihan kasar lalu menyelonong masuk begitu saja kedalam kamar di ikuti oleh Intan yang berjalan dibelakangnya.
Keduanya tercengang melihat Cahaya yang kaget melihat Intan dan Reno sudah berada didalam kamarnya.
__ADS_1
" Ca?" / " Dek!" Ucap Intan dan Reno bersamaan.
" Kalian !" Karena merasa malu Cahaya langsung menarik selimutnya menutupi wajahnya. Reno dan Intan saling pandang lalu keduanya tertawa terbahak-bahak sementara Reihan yang berdiri diambang pintu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan sudah dipastikan rona merah diwajahnya tidak dapat ia sembunyikan dari kedua kakak iparnya itu.