
Makan bersama kali ini terasa berbeda. Cahaya merasa sangat bahagia dan tidak hentinya mengucapkan puji syukur atas apa yang dirasakannya saat ini. melihat suasana yang begitu penuh dengan keakraban dan kehangatan Cahaya sungguh masih tidak percaya ini semua seakan seperti mimpi baginya. Cahaya diam dengan mata yang sudah berkaca-kaca harapan dan impiannya selama ini akhirnya terwujud. mendapatkan restu dari ibu mertuanya dan bisa berkumpul bersenda gurau dalam satu meja makan merupakan harapan terbesar Cahaya selama ini dan betapa bahagianya Cahaya karena akhirnya semuanya kini benar-benar menjadi nyata.
" Kamu kenapa sayang?" bisik lembut Reihan ditelingi sang isteri.
Cahaya menoleh kearah sang suami yang tengah berbisik ditelinganya lalu menggelenkan kepalanya" Tidak apa-apa mas!" Jawab Cahaya yang tidak ingin membuat suaminya khawatir.
" Kalau kau tidak apa-apa kenapa matamu berkaca-kaca? " Tanya Reihan lagi yang merasa gusar.
" Benar mas aku gak apa-apa!" Bantah Cahaya dengan nada selembut mungkin.
" Aku tahu kamu sayang!" Reihan membelai rambut Cahaya .
" Aku... aku hanya merasa ini seperti mimpi mas, dan andaikan ini mimpi rasanya aku enggan untuk bangun dan beranjak dari sini mas!" Cahaya melihat satu persatu wajah-wajah yang sangat berarti dalam hidupnya saat ini.
" Kamu tidak sedang bermimpi sayang!" Sahut Widia membuat mata Cahaya langsung tertuju pada sumber suara." Mama minta maaf atas sikap mama tempo hari Cahaya, maaf karena sudah menyia-nyiakanmu!" Widia menatap Cahaya sendu dan tanpa sadar airmata meluncur dipipi wanita paruh baya itu penuh dengan rasa penyesalan.
" Karena ke egoisan mamah kalian yang menjadi korban, mamah berpikir Reihan akan bahagia bila berpisah denganmu ternyata mamah salah kebahagiaan Reihan justru ada pada dirimu Cahaya!" Seulas senyum menggores diwajah Widia yang sudah nampak banyak kerutan.
" Mah...!" Lirih Cahaya dan airmatanya pun mencelos begitu saja.
__ADS_1
" Sudahlah, alangkah baiknya bila kita tidak lagi membahas semua yang sudah berlalu. lupakanlah semua hal pahit yang pernah ada dan kita awali lagi dengan yang manis-manis saja membuka lembaran baru kehidupan yang lebih cerah kedepannya. waktu yang kita miliki akan terus berputar dan terus melaju kedepan jadi jangan kita menoleh lagi kebelakang jika itu hanyalah sebuah kenangan yang kelam dan juga menyakitkan.
jadi jangan sia-siakan waktu dan kesempatan yang telah Allah berikan dalam kebersamaan kita kali ini. mari kita ciptakan keluarga yang penuh dengan kehangatan cinta dan kasih sayang terlebih sekarang sudah ada baby Raka ditengah-tengah kita!" ucap Bram panjang lebar.
Semua orang yang mendengar ucapan Bram mengangguk pelan membenarkan apa yang telah Bram tuturkan. keharuan dimeja makan terasa begitu tajam airmata yang sudah terlanjur lolos kini berubah menjadi senyuman yang menghias wajah semua orang. Cinta dan kasih sayang yang tulus kini telah mengisi seluruh ruangan dan tak luput canda tawa penuh keceriaan pun turut bergabung memberi sebuah kehangatan.
_______________
Bayu telah sampai di Kota X dini hari. Ia langsung menuju Rumah sakit tempat ibunya dirawat. kecemasan dan kekhawatiran menyelubungi hatinya dengan langkah setengah berlari Bayu melewati lorong rumah sakit menuju ruangan Ratih Ibunya berada.
setibanya didepan Ruang perawatan Ratih Bayu dengan perlahan membuka pintu dan dilihat ibunya yang sedang berbaring lemah dengan selang infus yang menancap dipunggung tangan kanannya. Bayu melangkah dengan pelan takut kehadirannya mengganggu waktu istirahat ibu dan adiknya Citra yang tengah tertidur di kursi samping ibunya. Bayu menepuk pelan bahu sang adik membangunkannya. Citra yang merasakan sebuah tepukan mendarat dibahunya mulai mengercapkan mata dan membukanya perlahan melihat sosok pria yang sangat dirindukannya tengah berdiri disampingnya membuat Citra sontak ingin berterika namun mulutnya lebih dulu dibungkam sang kakak dengan tangannya agar Citra tidak berteriak karena takut mengganggu ibunya yang sedang tertidur.
" Jangan berisik, nanti ibu terbangun. sebaiknya kamu pindah saja tidurnya di sofa biar kakak yang menjaga ibu disini!" ucap Bayu berbisik dan melepaskan tangannya yang tadi menutup mulut adiknya.
" Baru saja. sudah sana tidur lagi!" perintah Bayu dan Citra pun langsung berjalan menuju sofa yang berada diruangan tersebut membaringkan tubuhnya dan tidak berapa lama ia kembali terlelap.
Bayu menatap lekat wajah wanita paruh baya yang kini sedang terlelap dihadapannya hatinya begitu perih melihat orang yang sangat ia sayangi terkulai lemah diatas tempat tidur. " Bu maafkan Bayu karena belum bisa membahagiakan ibu bahkan Bayu tidak bisa menemani ibu disetiap saat. maafin Bayu bu!" Ucap lirih Bayu dengan mata yang sudah berkaca-kaca. dilihatnya wajah ibunya yang masih tertidur nyenyak dan seulas senyum terlukis diwajah Bayu. " Istirahatlah bu, Bayu akan menemani ibu sampai ibu benar-benar sembuh!" ucap Bayu pelan.
Waktu menunjukan jam 3 dini hari. karena merasa sangat lelah dari ibu kota langsung menuju rumah sakit tempat ibunya dirawat membuat Bayu belum sempat mengistirahatkan tubuhnya akhirnya iapun turut terlelap disamping ibunya dengan menjatuhkan kepalanya diatas tempat tidur bertumpu pada kedua lengannya sebagai bantalan.
__ADS_1
Ratih membuka matanya perlahan menyesuaikan bias cahaya yang masuk ke retinanya. Sebuah senyuman menggores diwajahnya saat matanya menangkap sosok seorang pria yang tengah tertidur disisinya.
" Kau pasti sangat lelah nak!" Ucap Ratih pelan. Sentuhan lembut mendarat dikepala Bayu yang masih berada dibawah alam sadar. Ratih membelai pucuk kepala putranya sampai yang disentuh merasakan kehangatan yang membelai hingga menyentuh hatinya dan perlahan ia pun terbangun.
Bayu menggoyangkan kepalanya kekiri dan kekanan meregangkan otot - ototnya yang terasa kaku karena tertidur dengan posisi duduk.
" Ahhh... ibu sudah bangun, bagaimana keadaan ibu sekarang? maafin Bayu ya bu!" Ucap Bayu merasa khawatir.
" Ibu sudah merasa baikan kok Bayu, ibu sudah gak apa-apa. tidak usah terlalu mencemaskan keadaan ibu nak!" Sahut Ratih penuh senyum kehangatan.
Bayu meraih tangan ibunya dan menggenggamnya erat. " Bu bagaimana kalau Bayu berhenti saja bekerja di kota agar Bayu bisa terus menemani ibu dan menjaga ibu setiap saat.!" Ucap Bayu penuh semangat.
" Dasar anak bodoh, posisimu sekarang ini tidak mudah untuk kau dapatkan begitu saja.banyak orang diluaran sana yang mengincar posisimu. kau harus tetap kuat bertahan karena sudah banyak hal yang kamu lakukan selama ini dan hanya untuk memenuhi kebutuhan ibu dan juga adikmu Citra kau selalu bekerja keras tanpa kenal lelah. ibu bangga kepadamu anakku!" Ratih bicara dengan sangat lembut dan matanya pun tak bisa dibohongi yang mulai mengeluarkan cairan bening dipelupuk kedua matanya.
" Mamah.... !" Ucap Bayu lirih. dan mencium punggung tangan Ratih yang tak ada selang infus yang menancap di bahu tangannya.
" Kakak... ibu....!" panggil Citra pelan dan air matanya sudah merembas menjalar dikedua pipinya. Citra sudah bangun namun pandangannya terus menatap lekat kepada dua orang yang sangat ia sayangi menangis.
"Kemarilah sayang!" Citra berhambur memeluk ibunya dan Bayu hanya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Dasar anak manja!" Goda Bayu pada Citra
dan mengusap kasar rambutnya.