RAHASIA DALAM PERNIKAHAN

RAHASIA DALAM PERNIKAHAN
Telpon dari Amira


__ADS_3

Usai berbincang-bincang di taman belakang Reihan pergi meninggalkan Reno sendiri ditaman ke ruang kerjanya karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus Reihan selesaikan.


Cahaya menghampiri Reihan yang sedang sibuk dengan layar leptopnya dengan tangan yang membawa nampan berisi secangkir kopi dan cemilan.


Reihan menoleh sekilas dan melemparkan senyuman manisnya saat melihat Cahaya meletakkan kopi dan cemilannya di meja kerja Reihan.


" Terima kasih sayang!" Ucap Reihan Lembut.


" Sama - sama!" Cahaya tersenyum dan melirik ke arah layar leptop Reihan.


" Apa ada masalah sayang, akhir-akhir ini aku perhatiin mas selalu sibuk dengan pekerjaan kantor?" Tanya Cahaya cemas dan seraya mendudukkan dirinya di sofa yang ada diruangan kerja Reihan.


" Bukan masalah besar kok sayang!" menoleh ke Cahaya dan tersenyum manis.


"Kalau bukan masalah besar tapi kenapa mas bisa sampai larut malam terus berkutat dengan leptop mas itu?" Cahaya merasa ada yang disembunyikan Reihan.


Merasa tidak ingin sang isteri terlalu khawatir Reihan lalu menutup leptopnya, bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri Cahaya dan mendudukkan dirinya di sofa sebelah Cahaya.


Reihan tersenyum dan tangannya yang kekar dengan lembut menyelipkan anak rambut yang terurai diwajah Cahaya ketelinganya.


" Jangan khawatir sayang, dalam dunia bisnis memang terkadang banyak masalah yang timbul dan tenggelam dan sebesar apapun masalah yang terjadi di perusahaan mas akan berusaha untuk menyelesaikan semuanya dengan baik, dan kamu!" Reihan mencubit hidung Cahaya." Jangan terlalu khawatir sayang, cukup dengan terus berada disisi mas, mendukung mas, memberi mas semangat dan yang lebih penting selalu mendo'akan masmu ini!" Reihan tersenyum tipis lalu mengecup kening Cahaya lembut.


Cahaya meraih tangan Reihan dan menggenggamnya. " Itu sudah pasti mas sebagai isteri aku selalu mendo'akan mas dan mendukung mas namun tetap saja mas rasa khawatir itu selalu ada karena aku sangat mencintaimu mas aku takut jika...!" Ucapan Cahaya menggantung dan matanya sudah menganak sungai. Reihan yang melihat mata Cahaya berkaca-kaca dengan lembut menarik Cahaya ke dalam pelukannya.


" Takut apa sayang?" Reihan mengusap kepala Cahaya lembut.


"Takut mas akan meninggalkan aku!" Cahaya mengeratkan pelukan Reihan dan menenggelamkan wajahnya didada bidang suaminya.


" Jangan berpikiran seperti itu sayang, apa selama ini kamu masih belum mempercayai mas, mana mungkin mas meninggalkanmu. selama mas masih bernapas dan jantung mas masih berdetak mas tidak akan meninggalkanmu sayang!" Reihan mengurai pelukannya dan menatap lekat manik mata Cahaya.


" Mas sangat mencintaimu sayang, mas tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. cukup mas merasakan betapa sakitnya saat mas kehilanganmu dulu. betapa terpuruknya mas hidup tanpamu sayang tapi kekuatan cintamulah yang akhirnya membawa mas kembali. kamu dan Raka adalah harta yang paling berharga untuk mas. justru mas lah yang takut kamu meninggalkan mas lagi.!" lirih Reihan pilu teringat kenangan masa lalu akan kesalahan yang telah ia perbuat terhadap Cahaya.


" Mas....!" Cahaya memeluk Reihan kembali.


" Maafkan aku mas, bukan itu maksudku. aku bukan tidak mempercayai mas. mungkin karena aku terlalu mencintai mas sampai akal dan pikiranku terlalu berpikir jauh. aku sudah tidak mau mengingat masa lalu mas aku hanya ingin kita selalu bersama dan menua bersama. " Dengan airmata yang tidak bisa dibendung lagi Cahaya menenggelamkan wajah dipelukan Reihan.


Merasakan bajunya basah karena airmata Cahaya Reihan mendorong lembut tubuh Cahaya dan melihat wajah sembab Cahaya yang tengah menangis.


" Jangan menangis dong sayang, haduhhhh mas jadi ingin menangis jika melihat isteri mas yang cantik ini seperti ini!" Reihan mengusap airmata cahaya dengan ibu jarinya lalu mengecup lembut kedua mata Cahaya dengan penuh cinta.


" Udah ya jangan menangis lagi!" Cahaya pun mengangguk lalu tersenyum.


" Nah gitu dong sayang" Reihan tersenyum


" Ya udah kalau gitu bagaimana kalau kita ke kamar aja sekarang?" Reihan bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya dan dengan senang hati Cahaya menyambut tangan Reihan.


Cahaya dan Reihan pun keluar dari ruang kerja dengan tangan Reihan yang merangkul pinggang cahaya. namun saat hendak menaiki anak tangga langkah keduanya terhenti oleh suara seseorang yang memanggil nama Reihan.


" Rei...!" merasa namanya dipanggil Reihan menghentikan langkahnya dan menoleh kesumber suara begitu juga dengan Cahaya.


" Ada apa?" tanya Reihan.


"Bisa bicara sebentar?" Tanya Reno orang yang telah memanggil Reihan


Reihan menoleh ke Cahaya meminta persetujuannya.

__ADS_1


" Pinjam sebentar suami mu dek!" pinta Reno " Nanti mas kembaliin utuh kok tenang aja!" Goda Reno. Reihan pun mengangguk pelan pada Cahaya dan menyuruh untuk masuk kekamar lebih dulu.


" Baiklah, awas jangan lama-lama ya pinjam suami akunya!" Cecar Cahaya memincingkan matanya.


" Iya tenang aja, sebentar kok!" Reno melambaikan tangan pada Reihan untuk segera mengikutinya.


" Ya udah kamu masuk dulu sana nanti mas menyusul!" titah Reihan pada Cahaya.


" Iya mas, aku mau kekamar Raka dulu aja!" ucap Cahaya.


Reihan mengangguk dan kemudian jalan ke arah Reno pergi tadi. Cahaya pun pergi ke kamar Raka untuk melihatnya sebentar.


Reno menunggu Reihan di ruang kerja dan tidak berapa lama pintu terbuka.


Ceklekkk...


Reihan masuk ke ruangan tersebut lalu menghampiri Reno yang tengah duduk bersandar di sofa.


" Ada apa lagi?" Tanya Reihan sambil mendudukan dirinya disofa depan Reno.


Reno menghela napasnya berat. lalu menatap lekat pada Reihan.


" Amira!" jawab Reno berat.


Flashback on :


Setelah Reihan pergi meninggalkan Reno di taman tiba-tiba ponselnya berdering betapa terkejutnya Reno saat melihat layar ponselnya ternyata Amira lah yang tengah melakukan panggilan telpon. awalnya Reno mengabaikannya namun ponsel itu terus saja berdering membuat Reno semakin kesal dan terpaksa mengangkat sambungan telponnya.


Dretttt.... drett...


" Hallo sayang, kenapa kamu lama banget sih mengangkat telponku?"πŸ“²Amira


" Ada apa kau menelponku?"πŸ“² Reno


" isss.... dingin sekali, jangan bicara seperti itu dong sayang"πŸ“² Amira


" Sudah jangan basa basi apa sebenarnya mau mu ?"πŸ“² Reno


" Ow...ow... ow... sabar dong sayang, aku hanya ingin memastikan kamu dalam keadaan baik-baik saja kan sayang?" Suara Amira semakin terdengar manja.


" Aku sangat merindukanmu sayang,aku ingin kita bertemu malam ini bagaimana?" Goda Amira.πŸ“² Amira


" Aku tidak bisa, aku sibuk!" tolak Reno tegas.πŸ“² Reno


" Jangan menolakku seperti itu sayang, apa kau ingin aku mengakhiri kesibukkanmu dan membuatmu hanya meluangkan waktu menemaniku saja setiap waktu tanpa harus disibukkan dengan pekerjaanmu itu?" ancam Amira secara halus.πŸ“² Amira


" Apa maksudmu?"πŸ“² Reno


" Maksudku? ahh... aku yakin kau tau apa maksudku karena kau itu laki-laki pintar dan cerdas.!"πŸ“² Amira


Reno semakin kesal dan hendak mematikan sambungan telponnya.


" Jangan membuat seorang Amira kecewa dengan penolakkanmu. karena Amira tidak suka dengan penolakan dan bila Amira merasa kecewa maka Amira akan menghancurkannya!" Ancam Amira. " aku menunggu malam ini di Club Star, jika kau tidak datang isterimu yang akan menanggung akibatnya!" lanjutnya.πŸ“²


" Kau!" Teriak Reno geram namun sambungan telpon sudah Amira matikan.πŸ“²

__ADS_1


" Kurang a*r!".Reno mengacak acak rambutnya kasar.


" Ternyata dia sudah tau jika aku dan Intan telah menikah, wanita itu benar-benar tidak boleh diremehkan!" Kesal Reno.


Flashback off


Reno menceritakan pembicaraannya di telpon dengan Amira pada Reihan.


" Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang, menemuinya?" selidik Reihan.


" Aku tidak tahu, menurutmu?" Tanya Reno frustasi.


Reno mengangkat bahunya bingung untuk menjawab apa.


" Aku takut jika tidak menemuinya malam ini dia akan berbuat nekat terlebih dia sudah tau statusku yang sudah menikah dengan Intan!"


" jadi kau memutuskan akan menemuinya? bagaimana dengan Intan, dengan alasan apa kau keluar malam- malam begini?" Tanya Reihan.


Reno mengusap wajahnya kasar pertanyaan Reihan membuatnya berpikir lebih keras mencari alasan yang tepat pada Intan agar bisa keluar malam ini.


Reihan merasa tidak tega melihat Reno dengan wajah bingungnya.


" Bilang saja pada Intan ada urusan mendadak di kantor dan harus segera diselesaikan. aku akan menemanimu ke club itu dan juga meminta Tio dan anak buahku untuk mengawasimu nanti disana. Amira wanita yang begitu ambisius aku tidak mau kau kenapa-kenapa disana. !" Reihan beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah meja kerjanya dan membuka salah satu laci dimeja itu dan mengambil sebuah kotak kecil dari laci tersebut.


Reihan berjalan kembali ke sofa dan duduk didepan Reno.


" Ambil ini!" Reihan menyerahkan kotak yang di ambilnya dari laci kepada Reno.


" Apa ini?" Reno bingung.


" Buka saja!" Titah Reihan.


" Jam tangan?" Reno mengerutkan dahi.


" Pakai itu, dan tekan tombol warna merah bila dalam keadaan darurat, jam tangan ini akan otomatis terhubung dengan jam tanganku dan juga Tio!" Terang Reihan.


" Benarkah?" Reno merasa takjub dengan tingkat keamanan yang Reihan lakukan selama ini.


" Kau bisa mencobanya!" Reno menekan tombol merah dan benar saja Jam tangan yang digunakan Reihanpun langsung menyala dan tanpa Reno duga Tio langsung menghubungi Reihan.


Drett... drettt...


" Hallo pak, apa yang terjadi pak ?" Tanya Tio panik.


" Pergilah ke Club Star sekarang dan bawa beberapa bodyguard kesana perhatikan setiap gerak gerik disana dan usahakan tidak membuat kecurigaan. aku dan Reno akan kesana karena wanita yang bernama Amira meminta Reno menemuinya. pastikan semua aman.!" Titah Reihan tegas dan mematikan sambungan telponnya.


" Sudah sana temui Intan dan aku akan menemui Cahaya. jangan membuatnya curiga!" Terang Reihan.


Reno lalu berdiri dan menepuk bahu Reihan." Kau benar-benar adik ipar yang bisa aku andalkan!" Reno bangga.


" Ingat meskipun aku ini adik iparmu tapi usiaku 5 tahun jauh diatas mu!" Reihan mengingatkan.


" Iya pak tua!" Goda Reno lalu pergi keluar dari ruang kerja dengan gelak tawanya.


" Sia*an!" Kesal Reihan yang juga keluar dari ruang kerja dan menuju lantai atas dimana kamarnya berada

__ADS_1


__ADS_2