
Reihan menghampiri Cahaya dan berdiri disebelah ranjang, Cahaya memeluk pinggang Reihan sambil tersenyum tipis. Reihan ikut tersenyum dan membelai lembut rambut Cahaya.
Sekar ikut tersenyum melihat pancaran kebahagiaan diwajah putrinya. Ia lalu menggendong Raka yang tengah bangun dari tidur.
Reno masuk dan memperhatikan Sekar yang sedang asik menggendong Raka sambil tertawa-tawa kecil lalu menghampiri Cahaya. Reihan bergeser dan Cahaya melepaskan pelukannya yang menempel dipinggang Reihan.
" Kamu benar-benar ya dek membuat mas sama mama panik aja, lahiran gak bilang-bilang!" Mengucek-ucek kepala Cahaya.
" Iiihhhh.. Mas Reno kusut tau!" Cahaya mengerucutkan bibirnya.
" Whaaaa.. haa..!" Reno tertawa dan memeluk adiknya.
" Selamat ya sayang, kamu akhirnya sudah menjadi seorang ibu!" Reno tersenyum hangat dan Cahaya mengeratkan pelukannya.
" Iya mas, terima kasih ya mas karena selama ini aku udah sering banget nyusahin mas dan ngerepotin mas Reno!" Cahaya menangis Reno melepaskan pelukannya dan mengusap airmatanya.
" Hussss... sudah jadi mamah jangan cengeng gini ah, malu sama....emmm.!" Reno mengingat ingat.
" Baby Raka!" sahut Reihan mengingatkan
" Ahhh... iya baby Raka!" Reno mendelik dan melirik Reihan yang tersenyum tipis.
" Mas Reno sudah ah, jangan melihat mas Reihan kaya gitu, Mas Reihan kan suami Ku!" Cahaya menarik manja baju Reno.
" Iya... iya...suami!" Ucap Reno penuh penekanan dengan kata Suami.
" Haa....ha...!" Cahaya tertawa lalu memeluk Reno kembali.
Reno melirik Reihan dan yang dilirik terus saja tersenyum.
" Menyebalkan sekali, Awas saja kalau kau sampai menyakiti Cahaya lagi dan membuatnya menangis!" Ancam Reno pada Reihan.
" Tenang saja kakak ipar aku akan menjaga adikmu dengan baik!" Reihan tersenyum dan Reno terkejut.
" Kau sudah tau kalau aku dan Cahaya...!" Reno menatap lekat Reihan. " kau tau dari mana?" Reno penasaran.
" Tidak penting mas Reno aku tau darimana, yang terpenting adalah mulai sekarang aku akan belajar menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluarga kecilku mas!" Jawab Reihan yang membuat Sekar menoleh dan menatapnya ragu.
__ADS_1
" Lalu bagaimana dengan ibumu yang sombong itu?" Tanya Sekar lalu memberikan Raka kepada Reno karena Reno yang memintanya.
" Aku akan menjelaskannya perlahan jika mamah masih bersih keras tetap pada pendiriannya aku sebagai suami tetap akan memperjuangkan dan menjaga keluarga kecilku.!" Reihan menghampiri Cahaya dan Cahaya memeluk pinggangnya.
"Baiklah aku beri kamu satu kesempatan, awas saja kalau kau sampai menyia-nyiakan kesempatan yang aku berikan ini!" Sekar menghampiri Reno yang terlihat senang saat menggendong bayi.
Reihan dan Cahaya tersenyum bahagia memperhatikan Reno, Mamah dan Raka yang berada dalam gendongan Reno.
" Mas Reno udah cocok, kapan donk mas Cari ibunya buat punya anak!" Reno melotot kepada Reihan saat Reihan mengatakan itu didepan mamah dan Cahaya.
" Benar tuh mas, kapan mas Reno menyusul?" Cahaya terrawa dan Reno semakin mendelik tajam menatap Reihan.
" Iya Reno kamu sudah pantas mempunyai keluarga, kapan kamu punya rencana untuk menikah?" Sekar menimpali ucapan Reihan dan Cahaya.
" Ingat Reno mamah itu semakin hari semakin tua, mamah ingin melihat putra mamah menikah dan mempunyai banyak anak!" Sekar senyum-senyum gemes sambil mengusap Raka yang masih berada dalam gendongan Reno.
" Aishhh.... kalian ini!" Reno semakin cemberut.
" Mas Reno bagaimana kalau sama Intan ja, dia gadis yang baik dan cantik lagi!" Cahaya mengusulkan.
Cahaya, Sekar dan Reihan tertawa melihat sikap Reno yang prustasi karena ulah mereka.
_______
Cahaya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Reno membawa barang-barang Cahaya sementara bayi mungil Raka digendong sang nenek. Reihan yang baru kembali setelah mengurus administrasi berjalan memapah Cahaya.
Cahaya merasa sangat bahagia sesekali ia melirik suaminya yang berada disampingnya.
" Kenapa melihat mas seperti itu?" Reihan sadar jika sedari tadi Cahaya terus memperhatikannya.
"Gak kenapa-kenapa, aku hanya gak nyangka ja mas Reihan ada disisiku saat ini , benar-benar terasa bagaikan mimpi!" Cahaya tersenyum tipis.
" Ini bukan mimpi sayang, Maafkan mas karena tidak pernah berada disisimu!" Cahaya mendongak dan menghentikan langkahnya.
" Ada apa, kok berhenti?" Reihan menatap lekat cahaya.
" Mas jangan terus minta maaf, semua ini sudah jauh lebih dari cukup mas membayar kesalahan mas dimasa lalu. jadi jangan ungkit masa lalu lagi. kita fokus menata masa depan kita bersama baby Raka!" Cahaya berkaca-kaca dan berusaha menahan tangisnya.
__ADS_1
" Iya sayang, maafin mas ya!" Reihan merangkul pinggang Cahaya dan mengajaknya kembali berjalan menyusul Reno dan Sekar.
" Tuh kan minta maaf lagi!" Cahaya mencubit pinggang Reihan.
" Awww... ampun sayang, iya..iya gak akan lagi!" Reihan menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Cahaya terkekeh melihat tingkah suaminya.
____________
Reno pergi lebih dulu pulang sambil mampir membeli makanan. karena Cahaya menolak untuk naik kedalam mobil Reno ia lebih memilih ikut dengan mobil Reihan sang suami.
Cahaya dan Sekar ikut dengan mobil Reihan karena cahaya ingin selalu dekat dengan suaminya sementara sekar karena ia yang menggendong baby Raka mau tidak mau ikut bersama Cahaya takut-takut kalau baby Raka menangis minta disusui.
Cahaya tak henti-hentinya melempar senyum kepada Reihan yang sedang menyetir disampingnya dan Reihan pun sesekali menengok kearah Cahaya membalas senyuman manis sang isteri.
Di bangku belakang Sekar ikut tersenyum melihat pancaran kebahagiaan di wajah putrinya. Dia pun berharap Reihan benar-benar berubah dan bisa membahagiakan Cahaya putri kesayangannya.
Cahaya sesekali menengok kebangku belakang memastikan baby Raka anteng dalam gendongan sang nenek.
" Baby Raka sangat anteng, kamu gak usah khawatir!" Ucap sekar pada saat Cahaya menoleh.
" Terima kadih ya mah!" Cahaya tersenyum lebar.
" Untuk apa berterima kasih, baby Raka kan cucu mamah!" Sahut Sekar.
______________
Reno menepikan mobilnya kesebuah Resto lalu memesan beberapa menu makanan. setelah pesanannya diberikan Reno berjalan untuk pulang dan pada saat berada di depan pintu Resto tersebut Ia bertubrukan dengan seorang gadis sehingga membuat makanan yang ia pegang jatuh tembarakan.
" Maaf pak ... maaf... maaf , saya tidak sengaja!" Gadis itu merasa gugup dan merasa bersalah ia terus menunduk dan meminta maaf.
Reno bukannya malah tapi malah tersenyum tipis saat ia mengenali suara gadis yang tidak asing lagi ditelinganya.
" Maaf ya mas, pak, tuan. saya akan mengganti semua makanannya!" Intan merasa bersalah dan masih menunduk dia juga bingung memanggil pria dihadapannya itu apa karena ia tidak berani menatapnya.
" Dunia begitu sempit, yakin kau akan menggantinya?" Intan mengangkat kepalanya saat mendengar suara yang tidak asing lagi menurutnya.
" Pak Reno?" kedua matanya membulat dan tertegun saat melihat Reno pria yang baru saja bertubrukan dengannya.
__ADS_1