Sang Pangeran

Sang Pangeran
101. Jenguk Ipang


__ADS_3

Ki tertegun mendengar ajakan Aslan. Yang benar saja, mereka kan ketemu dan jadian baru beberapa waktu lalu. Kia belum siap kalau ketemu orang tua Aslan. 


“Kenapa diam? Mau kan?” tanya Aslan. 


“Apa tidak terlalu cepat?” tanya Kia. 


“Apa kamu belum yakin sama aku? Kita udah punya anak lho! Emang mau berapa lama lagi? Anak kita udah mau masuk SD” ucap Aslan memaksa. 


“Hhhh” Kia menghela nafasnya berfikir. Iya juga sih, mereka kan bukan ABG. Mereka bukan pacaran seperti anak SMA. 


“Iya, aku mau” jawab Kia. 


“Nah gitu dong!” jawab Aslan tersenyum ke Kia. Kia pun membalas senyuman Aslan tanpa malu lagi. 


Rasa kasihan dan kagum Kia kini berubah menjadi rasa percaya. Lelaki yang tidak pernah Kia bayangkan sebelumnya. Yang menurutnya dulu terlalu tinggi dia gapai, dan harus dia hindari, kini ada di sampingnya. 


Pantas saja Ipang langsung dekat dan melekat pada ayahnya ini. Selain mereka ada hubungan darah, tapi ternyata hati Aslan sungguh baik dan hangat. Sifat menyebalkan dan sombongnya itu hanya untuk menutupi kerapuhan dan hidup menyedihkanya. Aslan sekeren itu. 


“Memang, kamu belikan hadiah apa untuk Ipang?”  tanya Kia lagi. 


“Kok manggilnya kamu lagi sih?” jawab Aslan malah mempermasalahkan panggilan bukan menjawab pertanyaan Kia. 


“He...” Kia nyengir, rasanya malu manggil abang terus. 


“Panggil yang bener!” 


“Ehm” 


“Tadi aja lancar!” ucap Aslan lagi memaksa. 


“Iya Abang, Abang belikan apa buat Pangeran?” tanya Kia mengulangi dengan bibir cemberut. 


“Jangan menggodaku!” jawab Aslan lagi. 


“Hoh? Menggoda? Menggoda apanya?” tanya Kia tidak terima. Ternyata saat melihat Kia cemberut, itu adalah hal terberat Aslan untuk menahan agar tidak mencium dan mencubitnya. 


“Nggak apa- apa!” jawab Aslan tidak mau ketahuan isi hatinya. Kalau bilang nanti Kia marah lagi. 


“Ish... dasar aneh” jawab Kia makin cemberut dan menurut Aslan makin imut. Untung ada stir mobil,  jadi tangan Aslan tertahan untuk tidak kelepasan mencubit pipi Kia. 


“Aku belikan kaos jersey Asli, tim bola kesayangan kita. Kemarin aku menontonya, dan meminta tanda tanganya” 


“Oh benarkah?” tanya Kia kagum. 


“Huum, keren kan aku?” jawab Aslan mengangguk dan menyombongkan diri. 

__ADS_1


“Iyuh” 


“Nggak percaya?” tanya Aslan. 


“Percaya!” 


“Besok ya kita bulan madu kesana” ucap Aslan lagi. 


“Hoh? Bulan madu?” 


“Iya” 


“Emang kemana?” 


“Ke Eropa” jawab Aslan lagi, 


“Ck, nggak usah gaya, kan sekarang udah miskin” jawab Kia mengejek. 


“Oh iya ya, aku kan sekarang miskin” jawab Aslan tertawa, ingin menciptakan suasana dekat dengan Kia. Tapi dalam hati Aslan, dia berkata, nggak ada sejarahnya Aslan miskin. Aslan tidak mau berjanji atau mengatakan apa yang Aslan punya. Biar saja nanti jadi kejutan untuk Kia. 


Aslan mau, Kia tetap tau, Aslan sekarang tidak punya apa- apa dan hendak meniti usahanya lagi. Aslan ingin memulai hidup baru dengan sisi yang berbeda dari hidup Aslan sebelumnya. 


Aslan kemudian menambah kecepatan mobilnya ingin segera sampai ke tempat Ipang menginap dan belajar. Ipang pasti bahagia melihat ayah dan ibunya datang bersama. Lagi pula berduaan denga Kia lama- lama seperti sekarang ternyata menyiksa Aslan. 


“Ayah tepati janji ayah Nak!” batin Aslan dalam hati sambil menatap jalanan ke depan. 


“Jangan diliatin terus, pegang juga boleh kok. Abang kan emang ganteng sayang” ucap Aslan seakan tau isi hati Kia. Aslan memang merasa sedang ditatap.


“Iiih apaan sih?” ucap Kia malu ketahuan sedang menatapnya. Kemudian Kia menatap keluar jendela. 


“Sama calon suami sendiri nggak usah jual mahal dan malu gitu” ucap Aslan lagi. 


“Ge Er!” ucap Kia lirih. 


Aslan hanya tersenyum sendiri, kenapa istrinya chieldiest sekali. Lalu Aslan menyalakan musik romantis untuk memecahkan keheningan. 


Setelah sepersekian menit mereka mengendarai kendaraan, Aslan sampai ketempat yang sudah diberitahu Satya. Aslan bertanya pada Satya melalui pesan whastap saat di jalan tadi. 


Di depan mereka tampak rumah besar dua lantai dengan pagar yang tinggi. Dan di halamanya berjajar mobil- mobil. Sepertinya, tempat itu memang tempat berkumpul. 


Aslan dan Kia, kemudian turun. Seorang pemuda yang ternyata asisten Tuan Alvin, keluar. 


“Selamat siang, ada perlu apa ya?” sapa asisten Tuan Alvin yang bernama Elen. 


“Benar dengan kediaman Tuan Alvin?” tanya Aslan

__ADS_1


“Iya benar, di sini kediaman Tuan Alvin, saya nggak salah lihat, anda Tuan Aslan kan?” jawan Elen balik bertanya. Ternyata, Elen mengenali Aslan. Kepopuleran Aslan memang tidak diragukan lagi. 


“Iya benar” jawab Aslan. 


“Alena tidak di sini, Tuan” jawab Elen spontan. 


Dheg


Mendengar Elen menyebut nama Alena jantung Kia langsung berdegub kencang. 


“Ya Tuhan, kenapa aku tidak berfikir sejauh ini. Semua orang kan memang tahunya Aslan ayah Alena, bukan ayah Pangeran bagaimana ini?” batin Kia tiba- tiba memucat. 


“Aku mau menemui Pangeran, bukan Alena” jawab Aslan santai. 


“Oh gitu, baiklah, dia sedang di studio” jawab Elen lagi, dia berekspresi terkejut dan bingung kenapa mencari Pangeran. 


“Di sebelah mana?” tanya Aslan. 


“Ayo saya antarkan Tuan” ajak Elen. 


“Oke” 


Lalu mereka bertiga masuk ke rumaah itu. Begitu masuk mereka langsung naik ke tangga yang panjang dan berkelok. Di dinding- ding banyak hiasan alat musik dan foto- foto penghargaan menyanyi. Rupanya mentor Ipang sungguh penyanyi berbakat. 


“Oh iya, baru lihat, sekertarisnya Tuan Aslan ya?” tanya Elen spontan menanyai Kia. 


Mendapat pertanyaan Elen, Kia dan Aslan kaget. Mereka menoleh ke Elen, kemudian Kia menatap ke Aslan meminta jawaban. Apa yang harus Kia jawab. 


“Dia calon istriku” jawab Aslan santai. 


“Istri?” tanya Elen kaget. 


“Iya” 


“Oh maaf” jawab Elen kemudian. Oh mungkin istri kedua. 


Lalu mereka tiba di depan ruangan besar yang berdinding kaca. Di situ banyak alat musik dan kamera. 


Langkah Kia terhenti di depan pintu kaca itu. Di tengah alat musik di ruangan itu. Ipang terlihat di pangku seorang laki- laki seusianya. Mereka sama- sama memegang mic, dan terlihat asik berlatih bernyanyi. 


“Jeje? Kenapa Ipang bisa bersamanya?” gumam Kia lirih dengan mulut tercekat. 


Sementara Aslan yang tidak tahu apa- apa berjalan masuk dengan santai. Semua peserta yang mengetahui kedatangan Aslan dan Kia langsung menoleh. Begitu juga Ipang. Ipang pun langsung turun dan berlari mendekati ayah dan ibunya. 


“Ibuuu, Ayah” panggil Ipang berlari. 

__ADS_1


Aslan pun menjongkokan badanya merentangkan tanganya bersiap menyabut Ipang dan memeluknya. Ipang pun langsung menghambur ke pelukan ayahnya.


Sementara Kia dengan langkah gemetaran terdiam. Mata Kia tidak lepas dari pandanganya ke Jeje. Dan Jeje pun menatap Kia dengan tatapan sinis. 


__ADS_2