
“Alenaa....” panggil Aslan di depan kamar Alena.
Aslan memang masih bersikap dingin dengan Alena, tapi sesekali waktu saat tak ada rapat penting Aslan mengantar Alena dan Pangeran. Walaupun tak ada kontak fisik yang intense dari situ, Alena dan Aslan mulai dekat dan terbiasa.
Hari ini, karena Kia sedang bersiap- siap, setelah Kia mengeluarkan rayuan mautnya, meminta tolong suaminya mengecek anak- anak, Aslan mengalah menjemput anak- anak ke kamarnya.
“Yaa... Daad!” jawab Alena membuka pintu.
“Kau sudah siap?” tanya Aslan.
“Sudah!” jawab Alena dengan wajah berbinar, Alena sangat bahagia, yang datang ke kamarnya Aslan.
“Ayo!” ucap Aslan lagi mengulurkan tangan. Alena pun semakin bahagia menyambut uluran tangan Aslan.
“Ya!” jawab Alena menggandeng tangan Daddynya.
Aslan kemudian menggandeng tangan Alena menghampiri Ipang.
“Jagoan ayah, i am coming!” tutur Aslan
“Bentar ayah, Ipang pakai jam tangan dulu!” jawab Pangeran.
Aslan membuka pintu kamar Pangeran sedikit, putranya sudah tampan. Semenjak sekolah, Aslan dan Kia sepakat membiasakan anak- anaknya mandiri. Kia dan Aslan hanya akan membantu mereka setelah mereka selesai mandi. Itupun jika mereka belum berhasil membereskan diri, seperti Alena yang sering kesusahan mengucir rambut.
Untuk baju, alat- alat sekolah dan pekerjaan rumah. Kia membiasakan Pangeran dan Alena mempersiapkanya malam hari. Sejak Alena dan Pangeran sekolah, ada jam khusus untuk Kia berubah peran menjadi seorang guru privat.
“Oke!” jawab Aslan mengangguk lega.
Pangeran sudah memakai baju sendiri dengan rapih, menyisir rambutnya dan memakai minyak wangi.
Tidak menunggu lama, Pangeran berlari ke ayahnya mencium tanganya dan memeluknya. Kontak fisik Pangeran dan Aslan memang lebih intens. Alena mengerti itu, yang penting dari hari ke hari, Aslan juga semakin dekat dan terbiasa dengan Alena.
“Ayo cepat, nanti kalian terlambat!” tutur Aslan segera mengajak anak- anaknya sarapan.
Kia dan Umma ternyata sudah menunggu di meja makan. Hal yang membuat Alena dan Ipang kaget ada Kikan.
“Tante...” pekik Ipang girang melihat Kikan. Kikan kan agaktomboy, usil dan nakal. Kikan sering meracuni anak- anak main game, tapi itu disukai anak- anak.
“Haaai....!” jawab Kikan tak kalah bahagia.
“Tante Kikan tinggal di rumah kita lagi, Yah?” tanya Pangeran ke Ayahnya.
“Ya... ayah terserah Tante Kikan aja!”
“Sementara, Sayang. Sebelum Tante Kikan dapat kos- kosan!” jawab Kikan
“Lhoh.... nggak tinggal di rumah Om Rendra lagi?” tanya Pangeran.
“No...” jawab Kikan menggelengkan kepala.
“Why?” tanya Alena ikut nimbrung
“Tante Kikan mau mandiri!” jawab Kikan beralasan. Padahal karena Kikan tidak tahan dengan Rendra yang sering marah- marah nggak jjelas. Kikan juga tidak nyaman, meski dekat seperti kakak, walau bagaimanapun mereka kan bukan saudara kandung.
“Sudah- sudah ayo makan!” tutur Umma melerai.
__ADS_1
Pagi itu mereka pun sarapan bersama. Setelah itu mereka pergi mengantar Ipang dan Alena.
“Lhoh... Umma, Ibu dan Ayah ikut semua? Alena dan Ipang diantar semuanya?” tanya Pangeran bahagia karena ketiga orang tuanya semua masuk ke mobil. Yang tidak ada malaah Pak Tomo sopir mereka.
“Ya, Sayang. Setelah mengantar kalian. Ibu, Umma dan Ayah mau adaperlu lain!” jawab Kia memberitahu.
“Oh... kalian mau pergi?” tanya Pangeran.
“Iya...!” jawab Kia.
“Kemana Bu?” tanya Alena.
“Kata Taante Kikan, Om Rendra sakit, jadi kita mau jenguk Om Rendra!” jawab Umma.
“Tante Kikan gimana sih? Om Rendra sakit malah ditinggalin, eh sekarang malah Umma dan ibu ngedatengin!” cibir Pangeran tidak mengerti permasalahan orang dewasa.
Kia dan Umma hanya tersenyum. Kikan kan pergi karena jengkel dan sakit hati dibentak- bentak Rendra. Rendra pendiam sekali ngomong kata- kata yang keluar suka absurd tidak disaring dan seenak jidat.
*****
Di Apartemen.
“Thok... thook!” Mbak Narti mengetuk pintu majikanya.
“Ya Mbak!” jawab Cyntia dari dalam.
“Ada paket Non!” tutur Mbak Narti membawa bungkusan paket.
Cyntia pun segera membuka pintu kamaarnya.
“Sini Mbak!” tutur Cyntia segera mengambil paketan itu.
Hanya saja Cyntia tampak selalu sehat, malah badanya terlihat lebih montokk. Payudara Cyntia tampak semakin kencang dan menonjol, bookongnya juga melebar, sekilas menurut Mbak Narti kalau jalan malah Cyntia seperti orang sedang hamil.
“Nggak kok!” jawab Cyntia tersenyum dan gelagapan. “Udah ya kututup lagi pintunya!” tutur Cyntia tidak ingin ketahuan.
Cyntia memesan alat test kehamilan melalui paket. Cyntia tidak malu membeli sendiri ke Apotik, apalagi kalau ada yang mengenalinya.
“Bentar Non. Non mau sarapan apa?” tanya Mbak Narti lagi.
“Aku mau jus strobery Mbak, buatin ya!” jawab Cyntia.
“Buah lagi Non? Itu aja? Daging? Roti kentang?” tanya Mbak Narti menanyakan. Sudah beberapa minggu di rumah Cyntia tak memakan masakan Narti yang berbau nasi dan berbumbu.
“Nggak mual aku, pengen yang seger! Dah ya!” jawab Cyntia segera menutup pintu kamarnya.
“Hoh....!” Narti pun hanya bisa menghela nafasnya. Mungkin itu sebabnya artis- artis tubuhnya bagusm, pikir Narti.
****
Di dalam kamar.
Cyntia segera membuka bungkusan paketannya itu.
“Huuuft, gue nggak mungkin hamil kan? Gimana kalau gue hamil?” gumam Cyntia memandangi alat pemeriksa kehamilan. Cyntia sengaja membeli berbagai merek untuk memastikan.
__ADS_1
“Ayo priksa dan pastikan Cyntia. Gue salah pola makan aja, itu sebabnya diet gue gagal. Gue gangguan hormon aja itu sebabnya dua bulan ini gue nggak mens!” gumam Cyntia lagi.
Cyntia kemudian masuk ke kamar mandi. Melakukan pemeriksaan kehamilan manual sesuai pentunjuk yang ada di bungkus alat itu. Belum Cyntia melihat hasilnya, Cyntia sudah keluar keringat dingin dengan jantung berdebar- debar.
Cyntia memulai memeriksa dengan alat periksa yang paling murah dan berbentuk stik. Tidak lama warna merah menjalar ke atas stik itu, mata Cyntia pun tak lepas dari penjalanan warna itu.
“Hohhh....!” Cyntia menelan ludahnya tidak percaya, jantungnya bahkan sperti mau loncat, terbentuk dua garis merah di stik itu.
“Nggak! ini nggak mungkin.. ini pasti salah!” gumam Cyntia gelagapan dan tidak terima.
Dengan cepat Cyntia menyobek alat lain yang metode tetes. Dengan gerakan penuh amarah, Cyntia meneteskan air kencingnya ke alat itu. Mata Cyntia pun tak lepas dari alat itu.
“Hoooh... bagaimana ini? Ini salah kan?” gumam Cyntia lagi kali ini Cyntia meneteskan air mata kacau melihat dua garis merah lagi terbentuk dari alat itu.
“Ini pasti alatnya rusak!” gumam Cyntia lagi.
Cyntia masih punya dua alat lagi berbeda merek, dengan gerakan cepat dan penuh tenaga, Cynta menyobek alat itu dan segera memeriksanya.
“Hiiikkk hiiikks!” Air mata Cyntia mengalir lebih deras. Keempat alat itu menunjukan hasil yang sama.
“Aaaaaakkkh!” Cyntia kemudian berteriak di kamar mandi tanpa ada yang mendengar.
“Nggak! nggak mungkin gue hamil anak laki- laki nyebelin itu!” gumam Cyntia masih tidak menerima.
Seluruh otot- otot tubuh Cyntia seperti melemas dan Cyntia terduduk di lantai kamar mandi. Bersandar di dinding kamar mandi, Cyntia meringkuk di kedua lututnya dan menangis.
*****
Setelah mengantar Alena dan Pangeran. Rombongan Aslan segera bergegas ke apartemen. Mereka sekarang pun sudah sampai.
“Kia udah lama nggak ketemu Cyntia dan Mbak Narti. Kia ke apartemen Cyntia dulu ya Bang!” pamit Kia di lift.
“Ya!” jawab Aslan langsung setuju. Aslan kan juga tidak suka kalau Kia berinteraksi dengan laki- laki lain siapapun itu.
“Tujuan kita ke Rendra, nggak ke Rendra dulu baru ke Nak Cyntia?” tanya Umma menimpali.
“Nggak apa- apa Umma!” jawab Aslan malah senang. Aslan kan juga mau ngomong laki- laki dengan laki-laki tanpa direcoki Kia.
“Ya, nanti Kia mampir Umma!” jawab Kia.
Mereka keluar lift dan Kia segera mengetuk pintu apartemen Cyntia sementara Aslan dan Umma mengetuk pintu apartemen Rendra.
*****
Maaf ya Kaaak semuanya.
Ipang baru Up.
Makasih yang tetap setia baca sampai episode ini.
Novel ini emang mau tamat. Hehehe.
Sebelum itu, Author udh siapin nupel baru ikut event lagi.
Tadinya mau nunggu ini tamat dulu, tapi waktunya nggak pas, karena event ada batas waktunya.
__ADS_1
Mampir dan ramaikan ya.... Judulnya "Istri Yang Terabaikan!"