
“Kenapa nggak telepon Aslan aja?” gerutu Rendra.
Begitu mendapat panggilan dari Kikan, Rendra langsung pulang ke rumah.
Semua juga sudah berkumpul di apartemen Cyntia menjaga Alena. Mereka mau membawa Alena ke dokter tapi semuanya tak paham jalan rumah sakit.
Meski Kikan terpelajar, Kikan juga baru pertama ke Ibukota, jadi mereka semua sepakat menunggu Cyntia dan Rendra datang.
Saat genting seperti ini, Rendra dan Cyntia pun jadi kompak. Seperti ada kontak batin mereka juga sampai di apartemen bersamaan. Saat dikabari keduanya sama- sama meninggalkan pekerjaan untuk memenuhi amanah dari sahabatny.
Bahkan Rendra tanpa canggung masuk ke apartemen Cyntia. Cyntia pun tak mempermasalahkan hal itu.
“Maaf Den. Kami tidak berani, Den! Takut mengganggu, mereka, kan katanga Den Rendra yang bertanggung jawab semua di sini!” jawab Mbok Mina. Mereka memang menjaga agar tidak mengganggu bulan madu Aslan.
“Alena kan anak mereka?” jawab Rendra masih menggerutu dan terkesan memarahi Mbok Mina. Menurut Rendra ini bukan hal yang perlu dibesar- besarkan. Harusnya para perempuan bisa menanganinya, tanpa harus mengganggunya.
“Apa susahnya sih telpon, kamu kan yang tiap hari teleponan dengan Aslan? Kamu juga kan yang sanggup diamanahi jaga anak- anak!” sahut Cyntia tidak terima Mbok Mina dimarahi Rendra.
Dibentak Cynta Rendra langsung terdiam menelan ludah, entah kenapa sekarang Rendra jadi tidak berkutik kalau berhadapan dengan Cyntia apalagi di situasi berhadapan dengan banyak orang.
“Ipang juga udah usaha telpon Ayah dan Ibu, Om. Tapi dialihkan!” jawab Ipang nyemlong.
Kia dan Aslan sengaja ingin memberi kejutan ke Ipang dengan menghapus jadwal video call dan telepon untuk hari ini. Setiap panggilan dari Pangeran Kia tolak.
Kia ingin tahu- tahu telepon Pangeran setelah sampai di depan apartemen. Pasti anak- anak mereka akan bahagia karena Ibu dan Ayahnya pulang lebih cepat.
“Tuh dengerin! Tinggal telpon doang kasih kabar!” sahut Cyntia kembali menekan Rendra, sungguh meski belum ada hubungan apapun di antara mereka, Cyntia bersikap seolah dirinya adalah istri yang galak. Rendra jadi tunduk dan patuh.
“Ya... bentar!” jawab Rendra mengalah.
“Nah, bisa kan? Nggak usah ngeluh!” sambung Cyntia lagi.
Rendra benar- benar kehilangan harga dirinya di depan para perempuan tua itu.
“Iya, Om. Kasian Kak Alena. Dia harus segera diobati! Kasih tau ayah dan ibu agar segera pulang!” ucap Ipang lagi, selalu nimbrung memojokan Rendra.
"Oke Bos. Om telpon ayahmu ya!"
Rendra segera memencet tombol panggilan telepon ke Aslan. Sialnya telepon Rendra pun tidak nyambung padahal tadi pagi Aslan dan Rendra video callan, meeting jarak jauh.
“Haish!” desis Rendra kesal.
“Gimana?” tanya Cyntia.
“Nggak nyambung!” jawab Rendra. Aslan dan Kia tidak bisa dihubungi karena sekarang sedang dalam mode pesawat.
“Hmmm!" Cyntia berdehem.
"Ya udah kita bawa ke rumah sakit sekarang!” tutur Cyntia memberikan solusi.
“Kita?” tanya Rendra mendadak Rendra salah tingkah.
“Ya siapa lagi? Kita yang diamanahi Aslan dan Kia jaga anak- anak! Kalau Mbok Mina pergi sendiri dan ada orang Paul yang melihat terus ambil Alena, kamu mau dihajar Aslan?” jawab Cyntia sambil cemberut. Entah kenapa buat Cyntia Rendra selalu menyebalkan, tidak bisa berfikir thing smart.
“Oh ya, ok!” jawab Rendra mengagguk lesu.
Mereka tidak tahu kalau sekarang Paulina di luar negeri mengobati ibunya dan sudah menyerahkan Alena sepenuhnya pada Kia.
Cyntia kemudian bersiap dan mengajak Mbok Mina.
“Kita ke rumah sakit sekarang!” ucap Cyntia.
“Ya Non!”
__ADS_1
“Kikan ikut boleh Kak? Kikan pengen tahu ibukota! dan keluar apartemen?” celetuk Kikan meminta. Sudah 10 hari Kikan cuma bolak balim aprtemen Rendra dan Cyntia.
“Boleh! Pangeran sama Umma sama Mbak Narti, di rumah aja ya!” tutur Cyntia mengatur tim layaknya seorang ibu.
“Ya, Tante!” jawab Ipang patuh.
Rendra kemudian mengalah menggendong Alena yang tampak menggigil, wajahnya merah karena suhu badan yang terlalu tinggi.
Cyntia pun mengambil dompet dan tasnya. Kikan dan Mbok Mina ikut sebagai emban.
“Pakai mobilku!” ucap Cyntia memberikan kunci. Mereka berempat pun ke rumah sakit.
Rendra membaringkan Alena dalam pangkuan Mbok Mina dan Kikan, sementara Cyntia di depan bersama Rendra. Itu pertama kalinya mereka akur dan satu mobil bersama, layaknya ayah dan ibu mengantar anak sakit ditemani dua pengasuhnya.
“Ehm...!” selama di jalan, sesekali Rendra mencuri pandang pada perempuan di sampingnya itu.
Sayangnya Cyntia fokus menatap ke depan dan sesekali ke luar jendela mobil. Tidak ada obrolan di antara mereka. Hanya ada diam dengan hembusan nafas masing- masing mengemban tanggung jawab.
Meski begitu, entah kenapa Rendra jadi bahagia.
Sesampainya di rumah sakit, mereka berdua pun yang bertugas sebagai wali layaknya orang tua lengkap Alena memberikan informed consent dan beberapa persetujuan pembayaran.
Sementara Mbok Mina dan Kikan yang mendampingi Alena dilakukan tindakan.
Emosi dan semua permusuhan Rendra dan Cyntia tersisihkan untuk sesaat. Mereka berganti menjadi partner om dan tante yang baik. Meski tetap saja ada kecanggungan yang menyertai.
“Kalau begini? Jahat nggak sih kita nggak kasih tau Paulina? Dia kan ibunya!” celetuk Cyntia saat mereka berdua berjalan berdampingan di lorong rumah sakit.
“Tunggu, kabar Aslan, aku sudah mengirimkan pesan padanya, perlu atau tidaknya kita libatkan Paulina! Kamu tidak tahu apa- apa tentang Paulina!” jawab Rendra.
“Oke, gue cuma tanya!” jawab Cyntia manyun.
“Ehm!” Rendra berdehem, dan berhenti. Tiba- tiba Rendra merasa ada peningkatan suhu tubuh tatkala mereka memasuki lorong sepi hanya berdua.
“Apa kau mau minum kopi bersamaku? Ke kantin yuk!” tanya Rendra sopan meski sedikit gemetaran.
Cyntia pun melihatnya aneh, pertama kalinya Rendra ramah dan sopan terhadapnya.
“Sory, gue nggak ngopi!” jawab Cyntia dingin menolak. Cyntia berlalu meninggalkan Rendra. Cyntia berjalan lebih cepat.
“Haisshh!” desis Rendra sangat malu karena ditolak. “Kenapa gue ngajak dia ngopi segala sih, duh, pamorku jadi cowok keren turun kan? Gue kira udah melunak dan baik, susah banget sih” sesal Rendra melihat Cyntia pergi, ternyata keputusan mengajak Cyntia akur mempermalukan dirinya.
Padahal Rendra sangat ingin mengajak Cyntia ngobrol berdua. Dia ingin memberikan tas mahal sebagai ucapan terima kasih dan maaf.
Sayangnya Cyntia memilih bergabung bersama Kikan dan Mbok Mina. Karena sesungguhnya, Cyntia pun jadi canggung jika harus berduaan dengan Rendra. Tidak bisa dipungkiri, bayangan kejadian panas malam itu masih terus mengejar Cyntia.
****
Begitu masuk IGD, Alena langsung mendapatkan penanganan medis dan melakukan serangkaian pemeriksaan.
Kini Alena langsung mendapat terapi lewat infus untuk menurunkan panas dan membuatnya tenang.
Rendra, Cyntia dan yang lain kini berkumpul di tepi bed Alena memastikan Alena tidur nyenyak. Di saat yang bersamaan ponsel Rendra berbunyi. Rendra pun segera mengangkatnya.
“Dimana lu?” terdengar suara yang tak asing baginya langsung melontarkan pertanyaan tanpa bosa basi dengan lantang sampai Rendra menjauhkan ponselnya.
“Alena gimana?” tanya Aslan lagi
Begitu turun dari pesawat dan mengaktifkan ponsel, Aslan membaca pesan Rendra dan langsung telepon.
“Gue ada di rumah sakit, Citra Medika ruang VVIP kamar 1!” jawab Rendra memberitahu. "Alena sudah ditangani!".
“Oke gue kesitu!” jawab Aslan.
__ADS_1
“What? Kesini? Lo dimana sih?” tanya Rendra kaget belum tahu kalau Aslan sudah tiba di ibukota. Sayangnya Aslan tak menjawab dan langsung mematikan ponsel.
"Malah mati? Nggak jelas banget sih? Dia mau pulang apa gimana?" gumam Rendra melihat cahaya ponselnya meredup.
Rendra pun masuk dengan ekspresi tidak jelasnya.
“Siapa?” tanya Cyntia kepo.
“Aslan katanya mau kesini!” ucap Rendra datar. Karena Rendra sendiri bingung, dia salah dengar atau tidak.
“What?” tanya Cyntia ikut kaget. "Kesini?"
Mbok Mina dan Kikan ikut kaget dan menoleh.
“Kak Aslan pulang?” tanya Kikan.
“Entahlah? Kita tunggu aja!” jawab Rendra asal.
"Gimana sih?"cibir Cyntia.
“Ya sudah, pumpung Non Alena tidur, Simbok Sholat dulu ya!” tutur Mbok Mina pamit untuk dzuhuran mengajak Kikan.
“Ya...!” jawab Cyntia.
"Ayo Non Kikan!" ajak Mbok Mina.
"Ya Mbok!" jawab Kikan ceria, Kikan hanya jalan- jalan di rumah sakit besar bak hotel itupun sudah sangat senang.
Cyntia dan Rendra, mereka berdua kembali dibuat berada di situasi berduaan. Rendra dan Cyntia pun kembali dibuat canggung.
“Ehm... ehm...!” Rendra mengusap tengkuknya plintat plintut bingung mau ngomong apa.
“Kasian ya, Alena!” celetuk Cyntia memecahkan kecanggungan dan mengajak ngobrol baik- baik.
“Iyah, untung ada Bu Kia yang mau merawatnya!” jawab Rendra.
“Gue nggak nyangka ada ya, ibu seperti Paulina!” ucap Cyntia lagi.
“Ya.. jadi pelajaran tuh. Kalau mau hamil harus nikah dulu. Nggak sembunyiin juga identitas ayahnya!" tutur Rendra sok menasehati dan terdengar waras.
"Ya benar!" jawab Cyntia.
"Kamu juga, jangan jadi seperti dia makanya, hati- hati kalau mau tidur sama orang! Jangan asal!” sambung Rendra nyeletuk tanpa dosa. Maksud Rendra baik mengajari Cyntia, tapi di telinga Cyntia kembali membuatnya gatal.
“Maksud kamu apa?” tanya Cyntia langsung emosi dengan mata tajam penuh aura ingin membunuh.
“Ehm..... emang tadi aku ngomong apa sih? Benarkan” jawab Rendra pura- pura tidak paham.
Rendra yakin Cyntia berubah jadi memusuhinya lagi. Muka Cyntia sudah seperti mengeluarkan tanduk. Padahal maksud Rendra kasih tahu Cyntia jangan kecolongan lagi, udah terlanjur sama Rendra ya udah sama dia aja, kurang lebih ingin bilang begitu.
“Kamu pikir aku perempuan apa yang suka tidur sama orang sembarangan! Hah, enak aja nyamain gue sama Paul!” omel Cyntia tidak terima dan tersinggung, pas sesuai perkiraan Rendra.
“Bukan, bukan itu maksudku!” jawab Rendra gelagapan, kenapa Rendra selalu salah ucap sih.
“Apa emangnya? Ingat ya. Gue juga dalam pengaruh obat. Malam itu, elu juga yang mabuk. Lu yang maksa yang nidurin gue. Gue bukan sep...!” Cyntia langsung ngomel tidak terima kalau mau dijelek- jelekin Rendra. Sayangnya omongan Cyntia terjeda saat mendengar suara minuman jatuh.
“Pyurr!” Satu kresek es boba rasa coklat jatuh dan tumpah.
Rendra dan Cyntia pun menoleh ke belakang.
“Kikan!” pekik Rendra dan Cyntia pucat. Apa Kikan dengar ucapan Cyntia.
“Kak Rendra, Kak Cyntia! Kak Rendra maksa apa? Kalian? Ehm?” tanya Kikan gelagapan paham arah pembicaraan kedua kakaknya. Kikan sangat yakin pendengaranya tidak salah.
__ADS_1