Sang Pangeran

Sang Pangeran
138. Foto siapa ini?


__ADS_3

Kia berusaha menguraikan kedua tangan yang melilit di perutnya. Kia menatap suaminya lekat dan penuh dengan kekesalan.


Aslan malah tersenyum melihat istrinya cemberut itu.


"Apa itu artinya istri Abang, cemburu?" tanya Aslan meledek Kia.


Kia tidak menjawab dan justru berjalan maju mendekat ke arah jendela. Jendela itu dibuka sebelah sisi. Karena bentuk jendelanya jendela kayu yang ada dua sisi dan bisa dibuka keduanya. Kancingnya kancing selot ke bawah.


Pemandangan di luar jendela ternyata sangat indah karena langsung dihadapkan pada perbukitan perkebunan teh. Di tempat nan jauh di sana, di bawah bukit terlihat kilauan lampu rumah-rumah. Sangat indah untuk dilihat.


"Hei...!" panggil Aslan mendekat dan kembali merapatkan tubuhnya memeluk Kia dari belakang.


"Sayangnya Abang cemburu ya?" bisik Aslan lagi.


"Nggak usah Abang-abangan, sebbel Kia!" jawab Kia merajuk.


"Kinan itu sudah seperti adik Abang, Sayang. Dia anak kecil!" bisik Aslan tau Kia cemburu.


Aslan menopang dagunga di bahu Kia sambil menghirup aroma tubuh Kia yang menjadi candu buat Aslan.


"Seperti adik berarti bukan Adik?" tanya Kia lagi masih merajuk.


"Dia anak angkat, Umma! Dulu Abang yang temuin dia!" ucap Aslan bercerita.


"Temuin?" tanya Kia memegang tangan Aslan, melonggarkan lilitanya dan berbalik. Sehingga mereka kini berhadapan sangat dekat.


"Huum! Dia anak yatim piatu, korban kebakaran. Dulu Abang temuin dia masih SD! Karena Umma tidak punya keluarga, jadi dia dirawat Umma! Sayangi Kikan ya. Dia anak yang kesepian." tutur Aslan bercerita.


Kia diam masih cemburu itu artinya tidak ada hubungan darah antara Aslan dan Kikan. Karena mereka berhadapan sangat dekat, Aslan langsung mencium kening Kia, dan mengecup bibirnya.


"Percaya sama Abang, hati Abang cuma buat kamu!" ucap Aslan lagi.


"Tetap saja. Dia punya panggilan yang sama sama Kia. Kia nggak suka!" jawab Kia lagi.


"Oh, jadi kamu nggak suka karena Kikan panggil, suami kamu Abang juga?" tanya Aslan mesra.


"Huum!" jawab Kia mengangguk.


"Ya udah, panggil Sayang dong kalau mau beda!" jawab Aslan malah bahagia.


"Ish. Kok Kia yang ngalah?" jawab Kia tidak terima. Kia tidak punya ide panggilan lain ke Aslan. Kia sudah mulai terbiasa panggil Abang.


"Lah kan, Kikan dari kecil udah panggil Abang duluan!" jawab Aslan lagi.


"Tau, ah. Bete!" jawab Kia melepaskan tangan Aslan lagi. Kia langsung berjalan ke arah kasur dan masuk ke dalam selimut.


Aslan baru melihat sisi ke kanak-kanakan Kia itu menggelengkan kepala.


"Ya nanti, Abang bilang ke Kikan buat panggil Abang Kakak, ya!" ucap Aslan menuruti mau Kia.


"Hemmm!" jawab Kia hanya berdehem, Kia sebenarnya merasa lega. Suaminya ternyata penurut.


"Mau kamu dulu apa Abang dulu yang mandi? Apa mau bareng?" tanya Aslan.


"Abang dulu aja. Abang kan ditunggu buat sholat maghrib!" jawab Kia

__ADS_1


"Oke Abang mandi dulu ya!"


Suasana di tempat itu memang sangat dingin. Bergelung di bawah selimut memang aktivitas yang tepat untuk dilakukan. Sayangnya Kia sedang kedatangan tamu bulanan. Untungnya ngambeknya Kia masih dalam batas wajar, Aslan tidak akan kedinginan malam ini.


Setelah Aslan mandi. Aslan keluar kamar dengan lilitan handuk di pinggangnya. Saat mandi menggunakan air hangat jadi badan terasa segar. Tapi setelah itu, udara dingin menyeruak, Aslan langsung gemetaran kedinginan.


"Sayang jendelanya ditutup. Dong!" ucap Aslan.


"Ya!" jawab Kia bangun dan menoleh ke suaminya yang setengah telanjang.


"Mana baju Abang?" tanya Aslan mengira Kia mengerjakan pekerjaan istri.


"He.. maaf lupa nggak Kia siapin!" jawab Kia merasa bersalah. Kia masih belum terbiasa dengan kehadiran suami jadi belum tanggap melakukan tugasnya.


"Hemmm!" Aslan hanya berdehem tapi tidak marah. Karena belum disiapkan, Aslan malah langsung ikut menghambur ke Kia.


"Abang apaan sih?" tanya Kia panik karena Aslan langsung mendekapnya dan handuknya terlepas. Kia bisa merasakan dengan jelas ada benda keras yang menempel di tubuhnya.


"Dingin banget, Sayang!" bisik Aslan mengeratkan pelukanya.


"Abang ini maghrib. Kia siapin baju ya. Kia mau mandi!" jawab Kia menghindar, rasanya aneh sekali dipeluk suaminya dalam keadaan tak memakai apapun itu.


Kia kemudian segera bangun dan mengambil pakaian buat suaminya. Saat Kia mengambik baju, di saku koper Aslan Kia menemukan sebuah foto. Lalu foto itu Kia ambil dan Kia tatap lekat-lekat.


"Ini bajunya Bang" ucap Kia.


Aslan menerimanya dan segera memakai pakaianya tepat di depan Kia tanpa malu. Bahkan benda keras yang tadi menempel di Kia terpampang jelas, seperti menantang Kia.


"Kok gantinya di sini?" tanya Kia menutup matanya, rasanya geli sendiri melihat Ipang versi dewasa itu betubuh polos. Kalau Ipang sih imut.


"Iish!" Kia mendesis dan berbalik.


Kia memilih membelakangi Aslan dan memperhatikan foto itu lagi.


"Liatin apa sih? Fokus banget?" tanya Aslan tersinggung karena dicueki.


"Udah belum gantinya?" tanya Kia enggan melihat Aslan.


"Kamu nggak mau lihat Abang?"


"Ya Abang gitu?" jawab Kia.


"Bukanya kamu suka?"


"Nggak! Ini foto siapa Bang? Bukanya ini sama dengan foto perempuan di ruang tamu?" tanya Kia menunjukan foto yang dia temukan.


Aslan yang sudah memakai baju, mengambil fotonya, mendekat ke Kia dan melihatnya.


"Ini foto ibu Abang. Besok pagi kita temui dia ya!" tutur Aslan


"Temui?" tanya Kia kaget.


"Iya!"


"Bukanya ibu Abang, sudah?"

__ADS_1


"Kita ke makam ibu!"


"Oh, jadi makam ibu di sini?" tanya Kia.


Aslan mengangguk.


"Iya. Abang ajak kamu ke sini agar kita ke makam ibu. Abang mau kamu kenalan dengan ibu Abang!" ucap Aslan sekarang menjelaskan maksudnya.


"Oh. Ini rumah kakek nenek Abang?" tanya Kia.


"Iya!" jawab Aslan mengangguk.


"Ibu Abang cantik ya Bang!" tutur Kia polos.


"Makanya anaknya ganteng!" jawab Aslan tersenyum.


"Ishh. Gr!" jawab Kia manyun, tidak mau suaminya kepedean.


"Udah sana mandi. Abang sholat bareng Umma ya!" tutur Aslan berpamitan keluar.


Kia mengangguk.


"Iya!" jawab Kia.


Aslan bangun, tapi Kia langsung meraih tangan Aslan sebelum Aslan pergi.


"Apa?" tanya Aslan mesra.


"Kia nggak suka Bang, ada orang lain yang bermanja ke Abang selain Kia dan Ipang! Kia nggak mau orang lain sentuh- sentuh Abang. Abang punya Kia." tutur Kia sangat jujur ke Aslan.


Aslan mengangguk mengerti dan tersenyum.


"Ya. Nanti Abang sampaikan ke Kikan. Abang akan jaga jarak dari Kikan mulai sekarang!" jawab Aslan.


Kia melepaskan tangan Aslan dan membiarkan Aslan keluar setelah merasa lega menyampaikan kekesalanya. Kia mengambil pakaianya dan bersiap mandi.


Kamar mandi rumah itu ternyata sangat unik. Dinding dan lantainya semua dari batu alam yang terasa alami dan bersih. Coraknya berbentuk bulatan batu-batu. Di tengahnya terdapat bathub dengan desain seperti mangkuk batu.


Airnya sampai mengeluarkan uap saking dinginya. Untung ada water hitter. Sepertinya kakek nenek Aslan orang kaya.


Kia pun memanjakan tubuhnya dengan air hangat di kamar mandi yang bernuansa alam itu. Sayangnya Kia sedang kedatangan Tamu. Jadi Kia tidak berani berendam. Kia memilih menggunakan shower.


Setelah merasa cukup Kia keluar dari kamar mandi. Kia merapihkan rambutnya duduk di depan meja rias kuno. Setelah selesai dan rapih, Kia iseng melihat isi kamar dan membuka buka laci perkakas kamar.


Di laci meja rias. Kia kembali menemukan album foto usang berselimut debu. Kia bersihkan debu itu. Ternyata buku diary, tapi ada fotonya.


"Ini kan foto ibu Andini?" gumam Kia mengelap foto itu dan menyamakan ketiga foto yang dia temui hari itu.


"Siapa laki-laki ini? Ini tidak mirip dengan Papa mertua?" batin Kia lagi.


****


Semoga ini masih terhitung malam sesuai dengan janji Author ya. Maaf kalau malamnya mepet ke pagi.


Makasih

__ADS_1


__ADS_2