Sang Pangeran

Sang Pangeran
145. Kisah dari Umma Part 2


__ADS_3

“Abang kenapa?” tanya Kia meledek Aslan. 


Kia menoleh ke belakang dan menggerakan bahunya agar Aslan keluar dari jilbabnya. Kia kini berasa punya dua anak laki- laki beda usia.


Jika ipang menangis Ipang biasanya lari menyendiri di kamar, menutup pintu dan menutup dirinya dengan bantal, sama seperti Kia. Jika terpaksa tidak di rumah Ipang menghambur ke pelukan Kia dan ke perut Kia. 


Kalau Ipang versi dewasa nyungsep di punggung di balik kerudung Kia. Untung Ipang tidak ikut, jadi Kia tidak kewalahan menenangkan dua bayi laki-laki dalam hidupnya itu. 


“Abang nangis yah?” ledek Kia lagi berusaha membuat Aslan menjauh dari tubuhnya. 


“Enggak! Enak aja!” jawab Aslan. 


“Ya udah duduknya jangan begini! Berat, Abang!” tutur Kia menarik jilbabnya dan menjauhkan Aslan dari dirinya.


Kini wajah Aslan terlihat, dan jelas sekali matanya sembab. 


“Iiih matanya merah!” tutur Kia lagi sambil tertawa. 


“Kena rambut kamu ini!” jawab Aslan mengelak.


“Lagian ngapain sih ndusel – ndusel?” tanya Kia menggerutu. 


Umma tersenyum melihat pengantin baru yang pernikahanya belum tercatat di kantor urusan agama itu. Umma lega Aslan sekarang terlihat lebih tenang dan seperti tidak ada beban saat bersama Kia. Tidak seperti dulu, jika ziarah ke makam Aslan tampak murung.


“Udaranya dingin, meluk kamu kan jadi anget” jawab Aslan lagi masih  mengelak. 


“Masa?” tanya Kia dengan tatapan menyelidik.


“Ya umma aja pake jilbab pake jaket, kamu juga, pake kerudung gede. Abang lengan pendek begini, dingin!” Aslan masih ngeles terus. 


“Alasan!” jawab Kia mencibir.


Tapi udara di situ memang sangat dingin. Kalau musim kemarau air di daerah situ sampai mengkristal.


“Terus mau dilanjutin nggak ceritanya?” tanya Umma menyela pasangan suami istri itu.


“Lanjut Umma!” jawab Kia dan Aslan kompak. 


“Ya!” jawab Umma mengangguk. 


Kia menegakan duduknya, tapi Aslan kembali memeluk Kia dengan manja. Aslan memang tidak punya malu kalau dalam urusan ini.


Karena udaranya memang dingin Kia membiarkanya. Kia menerima pelukan Aslan dan menikmatinya.


Kasian Umma sih sebenarnya. Umma harus melihat keponakanya bermesraan, padahal Umma bertahun- tahun hidup tanpa pasangan. Aslan mah mana peduli hal itu, tapi Umma cukup bijak menghadapi ponakanya itu.


“Ya... waktu itu, pernikahan Ibu Rendra di ramaikan di sini. Semua dibiayai Kak Andini. Pestanya begitu meriah, hangat dan menyenangkan. Kakek dan Nenek juga bahagia. Meski dilompati, Kak Andini sama sekali tidak bersedih. Dia benar- benar kakak yang baik untuk kami! Kak Andini mau berkorban dan berjuang untuk adik-adiknya!"


Aslan dan Kia kini mendengarkan Umma dengan tenang. Umma pun menceritakanya lancar. 

__ADS_1


“Seusai penyelenggaraan pesta pernikahan orang tua Rendra. Kak Andini merenovasi rumah ini menjadi sebagus dan sebesar ini. Dulu rumah ini tidak begini? Kecil, bagian dapur atapnya dari seng. Kalau pas musim angin suka kebawa angin atapnya!” tutur Umma bersemangat menceritakan masa lalu ke Aslan dan Kia. 


"Tuh, yang sebelah sini! Pernah ambruk kebawa angin!" tutur Umma bersemangat menunjukan rumah bagian belakang.


Di kabupaten tempat Umma tinggal, di bulan tertentu, sering terjadi bencana alam angin ****** beliung. Mungkin semua itu karena alam di sekitar situ terdiri dari bukit-bukit yang tinggi dan didominasi tanaman sayuran. Pohon tinggi seperti pohon pinus hanya ada di tempat- tempat tertentu.


Kia mengangguk seakan mengerti. Kia sok- sokan ikut menoleh ke rumah bagian dapur. Padahal Kia tidak bisa membayangkan seberapa kecil rumahnya dulu, yang pasti rumahnya sekarang besar dan sudah bagus, meski masih gaya klasik.


“Tapi selama renovasi rumah Kak Andini sibuk di Ibukota, dia hanya mengirimi kakek dan nenek uang!"


“Hingga rumah ini jadi, Kak Andini jarang pulang! Kami mengerti itu, tau- tau Kak Andini memberi kabar. Dia meminta menikah secepatnya pada Kakek dan Nenek. Itu semua permintaan dari ayah Mas Surya. Itu sebabnya pernikahan Kak Andini tak semeriah pernikahan orang tua Rendra.” 


“Oh gitu?” jawab Kia mengangguk. 


“Setelah menikah, Kak Andini ke Ibukota lagi, menjadi Nyonya besar dari keluarga Mas Surya. Kak Andini semakin jarang menghubungi kami. Saat itu Umma lulus SMA. Karena rindu, Umma telepon. Dan Umma berlibur ke Ibukota. Umma juga berniat mau daftar kuliah di sana!” 


“Umma jadi kuliah di sana?” tanya Kia. 


Aslan langsung mencubit perut Kia. 


“Ih apa sih? Sakit!” ucap Kia memukul tangan Aslan. 


“Nggak usah banyak tanya!” bisik Aslan. 


Umma menghela nafasnya panjang dan menelan ludahnya. Tatapan dan ekspresinya berubah sejenak. Sorot matanya seperti memendam kesedihan, tidak seperti tadi begitu menggebu menyebutkan banyak kebaikan dan kebahagiaan keluarga mereka. 


“Hmmm!” Kia dan Aslan ikut-ikutan diam. 


“3 hari Umma menginap di rumah Kak Andini, Umma  merasa hidup Kak Andini sangat sempurna. Suami yang begitu menyayangi dan memanjakanya. Pelayan juga semua menghormati dan menyayangi Kak Andini, Umma sampai iri dibuatnya” tutur Umma sedikir tersenyum. Tapi kemudian ekspresinya berubah lagi.


“Pagi itu, Kak Andini tidak bekerja, dia mengeluh pada Umma katanya sangat pusing dan mual- mual. Katanya Mas Surya ada masalah di kantor dan harus segera diselesaikan, Mas Surya tidak bisa pulang. Jadi Umma yang menemaninya pergi ke dokter” tutur Umma mulai pelan dan berat. 


Umma mengambil nafasnya lagi. Entah karena suaranya habis banyak bercerita atau memasuki fase berat dalam ceritanya. Aslan dan Kia masih diam menunggu kelanjutanya. 


“Kak Andini sangat bahagia, Umma juga ikut bahagia. Kata dokter, di rahim Kak Andini sudah tumbuh calon bayi, yaitu kamu, Aslan!"


"Umma masih ingat senyum bahagia ibumu, Umma masih jelas mengingatnya. Umma tidak akan lupa!” 


Tiba- tiba Umma menuturkanya dengan terbata. Mata Umma berkaca- kaca. Kia dan Asla diam ikut terhanyut dalam cerita Umma dan membayangkan hari bahagia itu. 


Umma diam sejenak, dan ternyata Umma menetskan air mata. Aslan dan Kia jadi bingung. Kia kemudian berinisiatif memberikan secangkir teh dan tisu. 


“Minum dulu Umma!” tutur Kia. 


Umma mengambil nafasnya, mengelap air matanya dan meminum teh dari Kia. Setelah merasa tenang Umma kembali bercerita. 


“Kak Andini menelpon suaminya memberi kejutan kehamilanya. Mas Surya pun menyambutnya dengan bahagia. Yang Umma dengar sekilas dari percakapanya di telepon. Hari itu Mas Surya berjanji pulang cepat dan memberikan hadiah untuk Kak Andini. Bahkan kata ayahnya Rendra, hari itu, Mas Surya saking bahagianya mengumumkan kehamilan istrinya dan berjanji akan memberikan bonus pada karyawan di bulan itu!” tutur Umma lagi dengan tatapan jauhnya. 


Saat menceritakan kebaikan kedua orang tua Aslan, Bu Arini tampak bersemangat dan tenang. 

__ADS_1


“Tapi, sudah pukul 9 malam. Mas Surya tidak kunjung pulang. Umma melihatnya dengan jelas, Kak Andini begitu gelisah menunggu suaminya pulang. Berkali- kali dia telpon suaminya tapi tidak kunjung diangkat. Umma ikut begadang menemani ibumu, sampai jam 10 malam. Polisi datang!” kali ini Umma menceritakanya dengan pelan tapi sedikit lebih tegar. 


“Mas Surya ditemukan meninggal di parkiran mobilnya. Tidak ada luka tusuk atau memar sedikitpun di tubuhnya, tidak ada yang melihatnya juga!” 


Mata Umma kembali berkaca- kaca, Umma menjeda ceritanya. 


Kia yang cerewet ikut menghela nafasnya. Air mata Kia menetes mendahului air mata Umma. Kia bisa merasakan, pasti perasaan Bu Andini saat itu sangat hancur dan sedih, pasti sangat berat bagi Bu Andini.


Kia juga tidak menyangka Aslan dibesarkan dalam keadaan ibu yang begitu berat. Mereka bertiga diam sejenak dalam isakanya. 


Kali ini Aslan menahan emosinya, Aslan berhasil tetap tenang. Mengetahui Kia terisak, Aslan merengkuh tubuh Kia dengan tangan kekarnya. Aslan mencium kepala Kia lembut dan lama.


Aslan ikut berpikir betapa berharganya waktu bersama pasangan yang kita miliki. Aslan tahu perpisahan ibu dan ayahnya sangat menyakitkan. Aslan ingin mengukir kisah yang berbeda dari ibu dan ayahnya. 


“Tepat di tangan Umma,  ibumu terhuyung dan menjatuhkan badanya di Umma. Kak Andini pingsan dan syok. Jenazah ayahmu kemudian di bawa pulang. Kami sempat melihat jenazah ayahmu, tapi ibumu tidak cukup kuat. Ayahmu pergi masih dalam keadaan tubuh yang utuh dan tampan. Tidak ada yang tahu apa penyebabnya, dari rumah sakit menyatakan ayahmu meninggal karena henti jantung!” lanjut Umma bercerita


”Saat itu ibumu kembali pingsan dan masuk rumah sakit. Ibumu harus dirawat demi kesehatan bayi dalam rahimnya. Karena Umma satu- satunya yang ada di situ. Umma temani Ibumu di rumah sakit. Umma dan Kak Andini tidak tahu menahu, urusan pemakaman ayahmu. Semua diurus anak buah dan rekanya!” 


Mendengar kelanjutan cerita Umma, air mata Kia semakin banyak keluarnya. Kia tidak larut dalam cerita bibi suaminya itu sampai Kia seenggukan.


Entah karena Aslan ikut larut dalam cerita atau karena melihat istrinya menangis, mata Aslan ikut memerah lagi. 


“Jadi ibu mertua dan Umma nggak ikut di penghormatan terakhir ayah mertua Umma?” tanya Kia terbata sambil menahan isak tangisnya dan mengelap air matanya. 


Sementara Aslan mulutnya tercekat tidak bisa berkata apa- apa. 


Umma menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sendu. “Tidak!” jawab Umma singkat. 


Air mata Kia lolos lagi. 


“Lalu gimana dengan kakek dari ayah mertua, terus kakek dan nenek gimana?” meski menangis Kia masih sempat bertanya lagi. 


Belum sempat Umma menjawab, Kikan dari dalam memanggil. 


“Umma, Kakak, sarapan yuuk! Kikan lapar nih!” 


****** 


Hehe 


Cepet kan nyusul Up nya. 


Maaf ya kakak-kakak author barus atur alur perbabnya jadi dibagi. Karena ada ketentuan jumlah kata perbab.


Makasih setia baca, semoga bermanfaat dan menghibur.


Tinggalin koment dan like biar cepet dan semangat UP lagi. 


 

__ADS_1


__ADS_2