
“Kikan??”
Cyntia dan Rendra saling bertatapan sama- sama gelagapan.
“Mampusss gue!” batin Cyntiia mukanya seperti mau ditenggelamkan ke samudera hindia.
“Mati aku!” batin Rendra pula, abis ini pasti dikuliti habis- habisan oleh Umma.
“Kikan nggak salah dengar kan?” tanya Kikan berani dengan tatapan mendeliknya.
Untungnya Alena diberi obat tidur dan tidurnya benar pulas. Kikan mendekat ke Cyntia dan Rendra, dengan ekspresi seriusnya seakan menjadi polisi yang siap jadi penyidik, padahal dalam hati Kikan bersorak.
Bagaimana Kikan tidak bersorak, Cyntia adalah idolanya. Cyntia artis yang sedang naik daun, kan Kikan bisa panjat sosial dan jadi selebgram dadakan. Selain itu, Cyntia juga sangat baik orangnya.
“Kamu dengar apa aja?” tannya Rendra gugup.
Walau bagaimanapun Rendra tidak mau menurunkan harga dirinya di hadapan Umma, Aslan, Satya dan yang lain kalau dia menikah ketahuan udah tidur duluan. Rendra tidak mau menikah dengan cara tidak hormat.
“Apa aja yang kamu dengar Kikan? Biar Kak Cyntia jelasin, Kikan jangan salah paham ya? Oke!” sahut Cyntia menimpali.
“Nggak! Kikan dengar dengan sangat jelas. Kak Rendra dan Kak Cyntia pernah ... pernah tidur bareng kan?” ucap Kikan sedikit kikuk sambil menggerakan kedua telunjuknya menyatu simbol percintaan.
Tentu saja kedua wajah Cyntia dan Rendra sama- sama memerah dan memucat.
“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan! Kak Cyntia bisa jelaskan!” ucap Cyntia sangat malu mengakuinya dan takut Kikan ember.
“Kikan, dengarkan kakak! Jangan bilang Umma, jangan bilang Kak Aslan apalagi Bu Kia. Oke!” sahut Rendra lagi mengimbuhi semakin keliatan kalau yang Kikan dengar. Kikan kini ditekan dua sejoli itu.
Melihat ekspresi itu, Kikan justru tersenyum nakal menatap dua orang dewasa di depanya itu.
“Berarti benar kan? Kalian pernah melakukan itu? Jadi kalian pacaran?” tanya Kikan memulai jurusnya.
“Bukan! Bukan begitu!” jawab Cyntia segera sambil menggerakan tanganya menegaskan tidak.
“Kejadianya, ini seperti kecelakaan, tidak sengaja. Begitu!” sahut Rendra semakin mempertegas kalau benar mereka melakukan itu.
Mendengar perkataan Rendra yang menurut Cyntia bodoh, tentu saja Cyntia geram dan langsung menginjak kaki Rendra.
Kikan yang melihatnya jadi tersenyum, bagi Kikan mereka berdua serasi.
“Kikan nggak mau tahu! Kikan mau bilang ke Umma!” ucap Kikan lagi mengancam.
“Jangan!!” ucap Rendra dan Cyntia kompak dengan cepat.
Hal itu membuat Kikan semakin seperti raja. Meski anak kecil, di sini Kikan berasa berkuasa terhadap dua orang di depanya itu. Kikan kemudian berdiri bersedekap dengan tatapan tengilnya.
“Kenapa?” tanya Kikan.
“Pokoknya jangan! Ini rahasia kita bertiga!” tutur Rendra lagi.
“Tapi kalian salah! Umma pasti marah kalian harus menikah!” ucap Kikan dengan polosnya.
“Ini masalah orang dewasa Sayang, kamu nggak perlu ikut campur! Biar kami selesaikan sendiri. Menikah itu bukan perkara mudah dan sederhana!” ucap Cyntia merayu Kikan.
“Nggak! Kikan harus beritahu, Umma!” ucap Kikan lagi dengan polosnya.
“Kakak akan kabulkan semua keinginan Kikan, kemanapun Kikan ingin pergi, Kak Cyntia temani! Siapaun artis yang ingin Kikan temui, selama masih di negara kita, Kak Cyntia usahain. Atau mau liburan ke luar negeri? Kak Cyntia temani. Yang penting jangan kasih tahu ke Umma, Kia ataupun Tuan Aslan. Oke?” ucap Cyntia dengan buru- buru dan penuh harap mengeluarkan jurus rayuanya agar Kikan patuh dan nurut.
Mendengar itu dalam hati Kikan bersorak sorai. Dia sungguh jadi pemenang kali ini. Tapi Kikan licik dan tak ingin terlihat murahan dan mudah luluh.
__ADS_1
"Hmmmm" Kikan hanya berdehem.
“Kamu mau ambil kuliah jurusan apapun! Dimanapun, Kak Rendra kuliahkan. Tapi jangan beritahu Umma!” imbuh Rendra ikut menyogok.
“Hmmmm!” Kikan bedehem lagi pura- pura berfikir, Kikan diam dan jual mahal padahal kan itu semua adalah tawaran yang sangat menggiurkan.
“Please!” sahut Cyntia memohon. "Kakak mohon, keep silent!"
“Atau, tas mahal itu buat kamu! Tas itu harganya 1 Milyar lhoh, garansi dan sertifikatnya juga ada!” ceplos Rendra lagi memberikan tawaran lebih.
Hal itu membuat tak hanya Kikan yang melongo, bahkan Cyntia ikut menoleh. Tidak diduga, Rendra membeli tas dengan harga fantastis.
“Katanya itu buat calon istri Kak Rendra!” jawab Kikan ngeles, Kikan curiga itu untuk Cyntia. Rendra pas di hotel bilang jomblo, bilang lagi punya calon dan ternyata Rendra tidur barengnya sama Cyntia.
“Ehm... ehm...!” Rendra pun jadi kebingungan dan salah tingkah, tas itu emang mau buat Cyntia awalnya.
“Pokoknya Kikan mau bilang ke Umma!” jawab Kikan lagi memutuskan.
“Jangan!!” teriak Rendra dan Cyntia lagi serempak.
“Tas itu buat kamu, beneran!” ucap Rendra lagi sangat berharap Kikan patuh.
“Kak Cyntia akan kabulkan semua mau kamu! Katakan kemana kamu ingin pergi? Huh!” tawar Cyntia masih merayu lagi.
Di saat yang bersamaan, mereka mendengar langkah sepatu mendekat. Rendra dan Cyntia pun semakin gugup bahaya kalau Kikan tidak segera disumpel mulutnya.
“Kalau sampai kamu bilang ke orang lain! Kakak nggak anggap kamu adek lagi!” ancam Rendra kemudian.
“Kak Cyntia juga nggak akan anggap kita kenal! Semua foto kita, Kak Cyntia hapus” sambung Cyntia balik mengancam.
Kikan pun mengkerucutkan bibirnya, ternyata kakak kakaknya tak kalah licik.
"Sssssttt!" Cyntia segera membungkam Kikan.
Mereka mendengar langkah sepatu itu semakin mendekat. Mereka pun menunggu siapa yang datang dengan hati yang berdebar- debar.
"Klek" pintu terbuka. Semua meoleh.
“Cyntia. Rendra. Bagaimana keadaan Alena?” tanya Kia tanpas bosa basi dan berjalan cepat setelah membuka pintu mendekat ke Alena.
“Kia...!”
Cyntia dan Rendra tidak menjawab pertanyaan Kia. Mereka justru tertegun kaget, dengan sangat cepat Kia sudah sampai di rumah sakit. Aslan juga berjalan di belakangnya. Bagaimana bisa penerbangan dari tempat bulan madu setidaknya kan 1 jam itu paling cepat belum macetnya ibu kota dari bandara ke Rumah Sakit.
“Apa yang terjadi? Maafin kami ya, terima kasih sudah jaga Alena!” ucap Kia duduk di dekat Alena membelai tangan Alena lembut kemudian menoleh ke Cyntia dan Rendra.
“Kamu berangkat jam berapa? Kok udah sampai sini aja?” tanya Rendra ke Aslan.
“Kita memang berencana pulang hari ini!” jawab Aslan.
“Maafin Ibu, Nak!” ucap Kia lembut membelai rambut Alena.
“Alena sudah ditangani dengan baik,kata dokter panas biasa, semua hasil labolatorium darahnya baik kok. Ada sedikit infeksi usus, tapi akan segera sembuh!” ucap Cyntia memberitahu Kia.
Sementara Kikan berada di posisinya duduk manis mendengarkan para orang dewasa berbicara.
“Apa dia menanyakanku?” tanya Kia ke Cyntia.
“Ya!” jawab Cyntia.
__ADS_1
"Dia merindukanku!” ucap Kia senang Alena merindukanya.
“Dia juga menanyakan Mommynya!” sambung Cyntia lirih.
Dheg
Kia langsung tersentak dan menoleh ke Aslan. Walau bagaimanapun, Paulina memang ibu kandung Alena, dia juga ibu yang selama ini merawatnya.
Saat di pesawat Kia dan Aslan memang sudah berdiskusi, lusa akan mengajak Alena menemui ayah kandungnya dan melanjutkan gugatan hak asuh Alena.
“Bang!” panggil Kia ke Aslan lembut.
“Ya!” jawab Aslan mengangguk mesra.
“Sepertinya, kita perlu memberitahu Paul, tidak baik juga kita menyembunyikanya!” ucap Kia kemudian.
“Kamu yakin?” jawab Aslan balik bertanya, selama ini kan Kia yang takut Alena disakiti Paulina lagi.
“Kita dampingi Alena saat bertemu dengan paulina. Kita pastikan Paul tidak menyakitinya,” jawab Kia memberi saran.
“Oke!” jawab Aslan mengangguk.
“Telepon, Paul sekarang ya! Siapa tahu Alena rindu ibunya!” pinta Kia lagi.
“Kamu yang telepon!” ucap Aslan memberikan ponselnya. Aslan menjaga istrinya, tidak mau berhubungan langsung dengan mantan istri.
“Baik!” jawab Kia.
Kia pun berdiri dan menelpon Paulina, tidak menunggu lama sambungan telepon terhubung. Tapi yang mengangkat bukan Paulina melainkan asistenya, terdengar pula suara Paulina memanggil ibunya keras.
“Maaf Nyonya, Nyonya Paulina sedang tidak baik. Kami menyampaikan berita duka. Nyonya Jessy meninggal dunia, 5 menit yang lalu!” ucap asisten Paulina di seberang sana tidak memberi kesempatan Kia menyampaikan niatnya menelpon.
Kia pun menelan ludahnya bingung mau apa.
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun!" lirih Kia spontan.
Aslan, Rendra, Cyntia dan Kikan jadi bingung melihat ekspresi Kia dan mendengar perkataan Kia.
“Mau dimakamkan dimana? Jam berapa?” tanya Kia kemudian.
“Siang ini akan terbang ke Negara...., kemungkinan pemakaman besok pagi!” ucap asisten di sana.
“Terima kasih, sampaikan bela sungkawa kami!” ucap Kia mengakhiri telepon. Kia langsung menatap lemas ke keluarganya.
“Ada apa Sayang?” tanya Aslan mendekat.
“Ibu Jessy meninggal, Bang!”
*****
Selamat menjalankan ibadah di bulan ramadhan Kakak Semuanya.
Terima kasih yang masih setia membaca.
Aslan dan Kia tokoh utama, jadi tetap akan selesaikan mereka dulu ya.
Author juga pengen segera menamatkan, tapi bulan ramadhan keknya pen utamain kehidupan nyata juga. Semoga masih setia.
Semoga kita semua tetap bisa maksimalin ibadah ya. Aamiin.
__ADS_1