Sang Pangeran

Sang Pangeran
230. Tunggu Cyntia Sadar


__ADS_3

“Mbak aku pinjam hijab ya!” tutur Kia ke Mbak Narti. 


“Ya Non!” jawab Mbak Narti,


Sambil menunggu Mbak Narti mengambilkan hijab, fokus Kia tertuju pada stik- stik hasil pemeriksaan Cyntia yang bercecer di kamar mandi. 


Kia sudah bilang ke Aslan untuk membawa Cyntia ke rumah sakit terdekat dan dirinya akan menyusul bersama Rendra dan Umma. 


Kia tertegun, mulutnya tercekat memunguti benda yang tergeletak, bercampur darah dan air seni sahabatnya. Meski begitu, tak ada jijik sekalipun untuk Kia. 


Di saat itu juga, Kia meneteskan air matanya. Sekelebat bayangan Kia di masalalu datang. Kia tau bagaimana putus asa dan hancurnya saat kesalahanya membawa dia pada masalah baru. 


Hanya saja Kia lebih bisa bersikap tenang dalam mengambil keputusan. 


“Cyntia...” pekik Kia dalam hati. 


“Kenapa kamu nggak pernah mengabariku? Bayi siapa ini? Huuuft” gumam Kia menghela nafasnya. 


Kia tidak habis pikir kenapa Cyntia mengambil jalan pintas itu. Kalau mungkin mengambil jalan menggugurkan meski itu jahat lebih terdengar normal, tapi kenapa Cyntia menyakiti dirinya sendiri?


“Non!” panggil Mbok Narti mengagetkan Kia. 


“Huugs!” Kia pun segera menghapus air matanya dan menoleh ke Mbak Narti. 


“Den Rendra sama Umma udah nunggu di depan! Ini hijabnya!” tutur Mbak Narti menyerahkan jibab terusan. 


“Iyah!” jawab Kia “Mbak minta tolong bersihkan ya?” ucap Kia kemudian. 


Mbak Narti yang ikut melihat Cyntia tadi juga sempat melihat test pek Cyntia. Mbak Narti juga jadi curiga. 


“Non!” panggil Mbak Narti menghentikan Kia. 


“Ya...!” 


“Apa ini artinya Non Cyntia hamil?” tanya Mbak Narti. 


“Sepertinya begitu, kita pastikan di rumah sakit, berdoa Cyntia baik- baik saja ya!” jawab Kia lembut. 


“Aamiin, tentu saya berdoa yang terbaik untuk Non Cyntia!” jawab Mbak Narti. 


Kia kemudian segera berjalan keluar, tapi belum Kia pergi. Kia berbalik ke Mbak Narti. 


“Oh ya Mba... apa pernah ada laki- laki yang main ke sini? Atau mungkin Cyntia punya pacar? Atau mantan suaminya pernah lihat nggak datang ke sini?” tanya Kia kemudian. 


“Tidak ada Non!” jawab Mbak Narti. 


“Oke!” jawab Kia mengangguk lalu segera keluar. 


Di luar Rendra dan Umma sudah menunggu. 


“Ada apa dengan Neng Cyntia, Nak!?” tanya Umma gusar. 


Kia diam kemudian mendelik ke Rendra yang tampak pucat dan berantakan. Kia jadi ingat kata Kikan, tapi pikiran Kia, kalau Rendra ditolak Cyntia lantaran Cyntia punya pacar. 


Ditatap Kia, nyali Rendra yang biasa tampak cool dan gagah jadi menciut. 


“Kia juga nggak tahu Umma, ayo kita susul bang Aslan!” jawab Kia. 


“Ayo!” jawab Umma tergesa. 


Rendra benar- benar terlihat payah dan wajahnya pucat pasi. 

__ADS_1


“Bu Kia!” panggil Rendra tiba- tiba.


“Ya!” 


“Saya pusing sekali, mohon anda berkenan di depan yang mengendarai mobil!” tutur Rendra memohon. 


“Ya...!” jawab Cyntia. 


“Kamu nanti juga harus periksa!” sambung Umma. 


“Umma, Rendra udah periksa berkali- kali, kata dokter Rendra baik- baik saja!” jawab Rendra kemudian. 


“Hhhhh!” Umma hanya menghela nafas kesal. 


Dengan dikendarai Kia mereka pun segera menuju ke rumah sakit. Kia masih membungkam tentang kehamilan Cyntia. Setelah sampai mereka pun segera menghampiri Aslan. 


“Sayang!” panggil Aslan menghampiri Kia. 


“Gimana Cyntia Bang?” tanya Kia. 


“Tekanan darahnya dan hemoglobinya sangat rendah, tapi masih tertolong sedang ditangani!” jawab Aslan. 


“Apa Kia bisa nemuin dia? Dia sadar kan?” tanya Kia lagi. 


“Kata dokter Cyntia sadar hanya mungkin dia kehilangan banyak darah dan lemah!” jawab Aslan lagi. 


“Boleh aku menemuinya?” celetuk Rendra tiba- tiba. 


Kia dan Aslan termasuk Umma langsung menoleh. 


“Kamu?” tanya Aslan dan Kia.


Rendra pun salah tingkah, heranya, Rendra yang tadi tampak lemah sekarang terlihat sedikit bertenaga. 


“Kamu kan lagi sakit juga, periksa diri sendiri aja!” jawab Aslan ngasal, tapi Kia yang berfikir Rendra patah hati segera menyenggol tangan suaminya memberi kode. 


“Ya... nggak apa- apa silahkan saja!” jawab Kia lalu menyeret Aslan.


Umma yang di pihak netral hanya diam memperhatikan. 


Rendra kemudian masuk ke tempat Cyntia berbaring. Sementara Kia mengajak Aslan menepi. 


“Kia temukan ini di kamarnya!” tutur Kia menunjukan hasil test pek Cyntia. 


“Astaghfirulloh!” gumam Umma langsung beristighfar. 


“Sepertinya Cyntia bunuh diri karena cowoknya nggak mau tanggung jawab?” celetuk Aslan. 


“Benar- benar ya, kiamat sudah dekat, Umma ikut prihatin, orang sebaik Nak Cyntia disiakan begitu? Kenapa juga mereka berhubungan sebelum menikah, begini kan dosanya bertubi- tubi! Apalagi kalau anaknya perempuan. Dia tidak mempunyai nasab ayahnya!” tutur Umma lagi membahas tentang hubungan di luar nikah yang membuat Kia dan Aslan tersindir. 


“Ehmm.!” Aslan kemudian berdehem merasa tidak nyaman.


“Siapa pacar Cyntia ya? Kasian Rendra Bang!” tanya Kia kemudian. 


“Kok kasian Rendra?” tanya Aslan. 


“Liat aja tuh, Rendra patah hati kacau begitu pasti karena ditolak Cyntia!” bisik Kia lagi. 


Aslan diam dan memikirkan kata Kikan lalu mengintip Rendra yang duduk termenung menunggu Cyntia. Entah kenapa Rendra terlihat beda sekali sikapnya kali ini. 


“Hhhh.... kalau memang begitu? Suruh saja Rendra nikahin Nak Cyntia, kasian kan kalau pacar Nak Cyntia kabur. Tapi kasih tau Rendra sebelum anaknya lahir jangan campur dulu, setelah anak lahir nikah ulang!” tutur Umma lagi. 

__ADS_1


Kia dan Aslan menoleh ke Umma bingung. 


“Maksudnya gimana Umma?” 


“Ya kan kalau menikah di waktu perempuan hamil itu menurut agama tidak sah, tapi kan dari pada anak lahir tidak ada ayah kasian!” tutur Umma lagi. 


“Tentang pernikahah tunggu Cyntia pulih saja Umma, kita tanya dulu siapa bapaknya? Jangan- jangan mantan suami Cyntia?” jawab Kia memberi saran. 


“Ya. Aslan setuju, dengan Kia, Umma!” sambung Aslan.


“Semoga Nak Cyntia segera bangun dan segaran. Umma tidak sabar pengen bejek- bejek itu pacarnya kalau bener dia yang buat Nak Cyntia bunuh diri. Kok bisa ya perempuan sebaik nak Cyntia disakiti dan di sia- sia begitu!” gumam Umma lagi. 


Aslan dan Kia pun hanya diam mendengarkan sambil menunggu Cyntia lebih segar.


****


Kakak


Maaf numpang promo.


Karya temen, keren nih.


Punya Kak J Black.


judul cover dan spill ada di bawah.


Semoga berkenan Mampir.


Yg tidak berkenan Mon Maap (Saling bantu yaa) nggak maksa boleh skip



Eps 14. Dijebak


Syakir yang mulai hilang kendali dengan tubuhnya yang terbakar akan gairah segera membuka pakaiannya. Pria itu terlihat sangat tidak sabaran. Kemudian dia juga melepaskan robekan lingerie itu dan melemparnya ke sembarang arah.


Tangannya dengan lihai bergerak kesana kemari. Memberikan sensasi yang begitu seksi dengan diiringi kecupan-kecupan manja di beberapa tempat yang sangat ia sukai.


"Punyamu sedikit lebih kecil, Sayang. Apa kau sudah rajin olahraga?" tanya Syakir saat kedua tangannya bermain di dua gunung dengan begitu lihainya.


Syakir yang memang sudah tak sabar. Langsung membuka kedua kaki wanitanya. Dia menempatkan senjata miliknya tepat di depan goa indah tanpa rawa-rawa tersebut.


"Kau benar-benar masih perawan, Sayang. Milikmu begitu sempit dan mencengkram milikku!" kata Syakir berbisik di telinga Rachel. "Tahanlah sebentar yah. Aku akan memaksanya masuk!"


🌴🌴🌴


Di tempat lain, terlihat enam orang anak manusia sedang tertawa riang di sebuah apartemen. Mereka sedang menikmati malam indah nan panjang dalam hidup mereka.


"Apakah Kekasihmu si Syakir, sudah membuka segelnya?" tanya seorang wanita yang saat ini sedang menenggak minuman di tangannya.


"Pasti. Aku yakin kekasih uangku itu sudah melakukannya berulang kali," balas wanita dengan pakaian seksi yang sedang duduk.


"Apa kau tak cemburu, Sayang?" bisik pria yang tangannya memegang gelas berisi minuman alkohol.


"Cemburu?" ulang Rachel dengan menyusupkan wajahnya ke leher pria yang sedang memeluknya. "Tak ada dalam kamusku."


Rachel terkekeh. Dia menjauhkan kepalanya lalu menatap ke arah dua sahabatnya yang juga bersama pasangannya.


"Aku yakin Syakir berpikir bahwa akulah yang ada dibawahnya. Aku yakin dia melakukannya dengan gila," kata Rachel mengingat apa saja yang sudah dia lakukan pada seseorang.


"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya temannya yang lain dengan posisi duduk di pangkuan sang kekasih.

__ADS_1


"Aku akan menendang Humaira jauh dari kampus kita," balas Rachel dengan mata berbinar.


__ADS_2