
Suara jangkrik terdengar bersahut- sahutan memecah keheningan. Aslan termangu menunggu dengan berbagai rasa dan banyak terka.
Sementara Kia tampak menunggu dengan anggun. Satu hal yang pasti, yang membuat Kia tenang. Kia yakin, Pak Sentot adalah orang baik, walau dia hanya seorang teknisi komputer di masa lalu.
Pak Sentot dulu termasuk karyawan ahli, Azam anaknya juga ketrima kuliah jurusan teknik di salah satu universitas negeri. Mereka orang-orang yang sebenarnya mempunyai otak brilliant.
Satu hal yang membuat Kia sangat percaya bahwa Pak Sentot berhati tulus dan jujur. Seharusnya dia bisa mendapatkan pundi- pundi rupiah yang sangat banyak jika mau bekerja pada perusahaan besar, tapi Pak Sentot dan Azam, memilih membuka toko kecil di desa. Pak sentot hidup sederhana, berkecukupan tapi tenang.
Ruang tamu tampak mencekam, Pak Pengacara yang tunduk pada Aslan juga tenang di posisi duduknya. Azam yang daritadi menyimak di ruang sebelah pun berniat memecah suasana diam itu.
“Sambil nunggu bapak, diminum dulu kopinya, Kia, Tuan!” Azam keluar ke kamar tamu, melawan rasa malunya, mempersilahkan minum sambil malu- malu dan menundukan kepala.
“Ehm!” Aslan kemudian berdehem menampakan muka rese dan kesal. Sementara Kia tersenyum.
Azam pun semakin menundukan kepalanya, mau minta maaf tapi bibirnya terasa kelu. Berani menampakan muka pun sebuah prestasi besar, sampai Azam keluar keringat besar- besar padahal malam hari dan udara terasa dingin.
“Mas Azam, Kia numpang ke kamar mandi dong!” ucap Kia ramah membuyarkan kecanggungan Azam.
“Heh!” Aslan langsung melotot ke Kia. “Ngapain?” bisik Aslan posesif.
Kia belum menjawab, Azam bicara lebih dulu.
“Silahkan! Ayo ke belakang!” jawab Azam.
“Ya Mas, bentar ya, kamar mandinya masih sama kan tempatnya?!” jawab Kia ke Azam, lalu Kia menoleh ke suaminya tersenyum.
“Iya, sama, ada Ani kok!” jawab Azam lagi.
Kia mengangguk, dan mendekatkan kepalanya ke Aslan.
“Kia mau ke kamar mandi, sekalian cuci muka, Kia ngantuk banget Bang!” tutur Kia ijin.
“Abang ikut!” jawab Aslan pelan berbisik ke telinga Kia posesif, lalu melirik ke Azam.
“Ngapain? Abang tunggu Pak Dhe aja di sini!” bisik Kia lagi.
“Kamu mau pacaran sama dia? Enak aja, nggak! Abang temenin!” bisik Aslan lagi menampakan cemburu butanya secara terang-terangan.
“Astaga, Bang, di dalam ada istrinya!” jawab Kia lagi berbisik dengan gemas.
Azam dan Pengacara melihat Kia dan Aslan berdebat jadi malu sendiri. Di saat seperti itu, Pak Sentot keluar membawa sebuah brankas. Aslan tidak bisa berkutik dan Kia berhasil meloloskan diri.
Kia berjalan ke dalam rumah Pak Sentot, di ruang tengah istri Azam sedang tiduran melihat acara televisi. Karena ada tamu, ibu hamil itu jadi tidak bisa tidur.
“Eh, mbak Kia.” Sapa Ani istri Azam melihat Kia bangun.
“Dhek, temani Kia ke kamar mandi” ucap Azam menyusul Kia.
“Hush! Mas Azam nih, istri lagi hamil,, biarin Kia ke belakang sendiri!” jawab Kia tidak mau dan mencegah Ani bangun.
“Sebenarnya nggak apa- apa sih Mbak! Saya biasa bolak- balik ke kamar mandi!” jawab Ani.
“Udah, Mba Ani istirahat, maaf ya kami bertamu malam- malam begini, jadi ganggu!” jawab Kia sungkan.
“Nggak apa- apa Mba, barangkali penting!” jawab Ani lagi.
“Ya udah saya ke belakang dulu ya!” jawab Kia.
Kia kemudian ke kamar mandi belakang. Rupanya rumah Pak Sentot banyak berubah, meski letak beberapa kamar sama, tapi sekarang jauh lebih luas dan rapih. Jika dulu pekarangan dan semak belukar, kini diubah menjadi taman belakang yang indah dan bersih.
Di halaman belakang pun tidak gelap sama sekali, malah ada beberapa koleksi hewan peliharaan Pak Sentot dan Azam. Ada burung cantik beberapa sangkar, Kia yakin itu mahal. Ada juga kura- kura dan akuarium cantik. Kia mengambil kesimpulan meski di desa, hidup Pak Sentot sekeluarga, lebih dari cukup.
Setelah menuntaskan hajatnya Kia kembali ke ruang tengah. Saat Kia berjalan, di dinding taman belakang rupanya ada pajangan seperti plakat atau piagam dari you tube seperti kepunyaan Ipang. Rupanya Azam juga aktif mencari nafkah dengan media internet.
“Ki... kok kamu nggak cerita sih kalau suami kamu, Aslan Nareswara!” ucap Azam mencegah langkah Kia.
Azam memilih masuk ke ruang keluarga lagi menemanu istrinya nonton film, daripada mendengarkan pembicaraan serius bapak dan tamunya.
“He...” Kia nyengir.
“Dia beda sama di foto soalnya, kan aku malu, Ki! Jadi nggak enak tau, dia marah nggak?" tanya Azam.
“Nggak apa-apa, suamiku baik kok, dia bisa paham, santai aja!” jawab Kia membawa nama baik suaminya, padahal Aslan tidak baik- baik saja.
“Mba Kia maaf, bukanya dia ayahnya Alena si bintang kecil itu ya?” ceplos Ani, Ani ternyata penggemar Alena.
__ADS_1
“Iya.” Jawab Kia mengangguk dengan ekspresi sedikit tidak nyaman, walau bagaimanapun orang luar akan memandang negatif istri kedua.
“Jangan- jangan Pangeran itu anakmu Ki!” tebak Azam kemudian. Azam suka menemani istrinya menonton Alena dan Ipang.
"Yap betul!” jawab Kia.
“Woah!” pekik Azam dan Ani kaget.
Kia mengusap tengkuknya dan mengigit bibir bawahnya tidak nyaman lalu melirik ke ruang tamu. Pak Sentot tampak sedang berbicara serius dan menunjukan bebrapa hal. Kia ingin segera bergabung tapi sepertinya Kia harus menjelaskan ke Azam dan Ani tentang statusnya.
“Bang Aslan dan Ibunya Alena sudah berpisah, Mas! Kia nikah baru 2 hari lalu. Kia kesini sekalian mau undang Mas Azam sekeluarga, ke nikahan kami yang kedua!” tutur Kia menjelaskan.
“Oh kalian penganten baru?” tanya Azam.
“He... iya!”
"Maaf, Ki, tapi Pangeran sangat mirip dengan Tuan Aslan. Apa gosip itu benar?" tanya Azam lagi.
"Ehm ehm!" Kia berdehem menunduk. Kia mai bercerita tapi itu aib.
"Maaf!" ucap Azaam dan Ani merasa tidak nyaman.
Kia kemudian tersenyum, Azam buat Kia oranf terdekat akhirnya Kia menceritakan dengam jujur. Kia memang pernah bertemu Aslan di masalalu, tapi merela terpisah dan baru bertemu sekarang. Kedatangan Kia juga mencari benang kusut tentang istri Aslan dan perjodohanya.
“Kalau boleh tau, kayaknya Bapak sama suamimu serius banget, bahas apa sih?” tanya Azam.
“Mas Azam tanya sendiri lah ke Pak Dhe. Agak rahasia sih Mas, Seperti yang kubilang tadi, semua ini kuncinya ada di Pak Dhe, tentang orang tua Paul, Kakek Neneknya Alena dan orang tua Bang Aslan!” tutur Kia memberi bocoran ke Azam.
Azam mengangguk.
"Rumit banget ya Ki. Kaya sinteron. Yang penting kamu bahagia terus ya!" tuturr Azam.
Kia mengangguk.
“Makasih doanya. Ya udah Kia ke depan lagi ya!” tutur Kia berpamitan ke Azam.
Kia kembali ke ruang tamu. Aslan tampak mendelik kesal ke Kia. Kia kemudian menganggukan kepala memberi hormat ke Pak Sentot. Di atas meja ada banyak tumpukan kertas, kaset- kaset rekaman tempo dulu dan beberapa foto. Kia menoleh ke Aslan, tapi Aslan mengacuhkan Kia.
Sementara Pak Pengacara tampak melakukan scan dengan aplikasi scanner dari ponselnya ke file- file itu. Pengaracar ingin mebuat salinan file itu. Kia jadi bingung karena ketinggalan cerita dan berita. Pak Sentot tersenyum ke Kia.
“Secepatnya kami susun bukti- bukti ini dan kita serahkan ke polisi Pak!” jawab Pengacara.
“Maafkan saya, saya tidak kuasa dan tidak cukup keberanian menyerahkan ini semua ke polisi!” ucap Pak Sentot lagi.
“Sebenarnya saya sangat menyayangkan tindakan bapak! terhadap, apa yang bapak khawatirkan dan bapak pertahankan, kami bisa hargai itu!” jawab Aslan.
“Saya hanya ingin melindungi keluarga saya, dan anda Den Aslan!” ucap Pak Sentot lagi.
“Saya?” tanya Aslan.
“Ya, saat itu anda masih kecil, Tuan Alex akan melakukan apa saja jika dirinya terancam, saya lebih baik menyingkir agar Anda tetap di posisi Anda dengan selamat!” ucap Pak Sentot lagi.
Kia semakin tidak mengerti ada apa ini? Ah menyesalnya Kia kenapa harus ada acara kebelet segala sih tadi.
“Terima kasih atas semua yang bapak lakukan dan berikan kepada keluarga saya!” ucap Aslan lagi.
“Den Aslan tidak perlu begitu! Ini sudah tugas saya, saya yang memohon maaf karena tidak segera mencari anda setelah anda dewasa, sampai anda yang mencari saya!” jawab Pak Sentot lagi.
“Tidak apa- apa, yang penting sekarang sudah saya dapatkan ini semua. Mohon maaf saya bertamu tidak mengenal waktu!” jawab Aslan lagi.
“Justru ini bisa menyelamatkan saya Den, tolong, jangan jadikan saya saksi, cukup barang ini yang menjadi saksi, tolong lindungi anak dan cucu saya! Menantu saya sedang hamil!” tutur Pak Sentot lagi memohon.
Kia diam memperhatikan Pak Sentot dengan tatapan tidak mengerti dan kemudian menoleh ke suaminya. Aslan tampak mengangguk tenang.
“Saya juga titip anak perempuan saya ini ya Den! Tolong maklumi segala kekuranganya, terima kasih sudah menjaganya!” ucap Pak Sentot melirik ke Kia, anak perempuan yang dimaksud Pak Sentot adalah Kia, tapi Kia tidak mudeng.
“Tentu Pak!” jawab Aslan tersenyum melirik Kia yang tampak bengong masih berusaha menyambungkan benang.
“Sudah cukup?” tanya Aslan ke pengacaranya.
“Sangat cukup, tinggal kita susun dan olah lagi!” jawab Pengacara Aslan.
“Ya sudah, Pak, terima kasih atas semuanya. Kami pamit dulu, maaf mengganggu!” jawab Aslan hendak berdiri.
“Bentar Bang!” bisik Kia menyela dan menghentikan Aslan.
__ADS_1
“Hmmm!” Aslan berdehem tampak marah ke Kia.
“Pak Dhe, mohon doanya, ya, sebentar lagi, Kia dan Bang Aslan mau resepsi dan nikah yang kedua, Pak Dhe datang ya!” ucap Kia menyempatkan memberitahu sahabat ayahnya itu.
Pak Sentot tersenyum.
“Ya! Bisa atau tidak bisa datang nanti, Pak Dhe selalu doakan kamu Nduk!” jawab Pak Snetot.
“Makasih Pak Dhe!” jawab Kia tersenyum.
“Ya sudah, kalau kalian mau pulang hati- hati di jalan!” jawab Pak Sentot bermaksud mempersilahkan tamunya menyelesaikan urusanya.
Kia kemudian berpamitan kepada semua dan meminta nomer ponsel Azam. Kia ingin mengundang mereka ke acaranya. Setelah berpamitan mereka pergi.
Pengacara Aslan membawa brankas file itu. Aslan berjalan lebih dulu dan mengacuhkan Kia. Sementara Kia berjalan di belakang sendirian.
“Bang Aslan aneh banget deh! Dia kenapa sih mendadak cemberut gitu? Jalanya cepet banget lagi! Emang ada yang salah denganku?" gerutu Kia melihat Aslan berjalan cepat tanpa menggandeng atau menunggunya.
Padahal jalanan sempit, Kia kan mau dengar cerita Aslan tentang info dari Pak Sentot. Aslan sangat menyebalkan.
*****
Di sebuah hotel.
Jeje panik dan gusar menunggu di sebuah kamar president suit.
Lalu Jeje mengambil ponselnya dan menghubungi temanya.
“Kok dia belum kesini juga?” tanya Jeje ke temanya.
“Bentar gue cari dia dulu!”
“Lo berhasil buat diaminum obat yang dari gue kan?” tanya Jeje .
“Berhasil kok!” jawab teman Jeje.
“Bagus! Seharusnya obat itu udah mulai bekerja, cepat bawa dia kesini!” perintah Jeje ke temanya.
“Oke...” jawab teman Jeje.
Jeje kemudian bersama temanya menyiapkan kamera dan semua rencana jahatnya terhadap Cyntia. Jeje ingin membuat video senonok Cyntia yang akan dia gunakan sebagai senjata memperdayai Cyntia.
“Ready?” tanya Jeje ke tim jahatnya.
“Ready Boss!”
“Siip!” jawab Jeje tersenyum puas.
“Gue akan lihat kehancuran lo Cyn. Lo berani nantangin gue, ini pelajaran yang tepat buat Lo!” batin Jeje merasa rencana mengelabuhi Cyntia berhasil. Belum ada 5 menit telpon Jeje berdering.
“Apa?” tanya Jeje.
“Sory, kata Katty, Cyntia udah pulang sejak satu jam lalu!” jawab temann Jeje.
"Apa!" bentak Jeje.
"Maaf!"
Jeje langsung naik darah dan mengumpat.
“Gobl*k! Anj*ng gitu aja nggak becus lo!”
“Aaaaarrrggggh!” Jeje kemudian berteriak melempar ponselnya sangat kesal.
*****
Terima kasih yang setia menunggu.
Maaf Up malam2, Author ngetik sesuaiin hati dan jadwal author ya.
Makasih.
Dukung author terus dengan kasih like koment dan vote ya!
❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1