Sang Pangeran

Sang Pangeran
48. Diusir


__ADS_3

Di ruang tamu.


"Kau!" 


Dua perempuan cantik beda tipe itu saling pandang. Mata mereka saling terpaut, dan berkomunikasi. Reflek, Kia bangun dari duduknya dengan nafas yang memburu,  seperti maling ketahuan. 


Bu Mina yang menyaksikan kejadian itu semakin yakin,  Kia adalah wanitanya Tuan Aslan yang disembunyikan selama ini. Pantas saja Aslan tidak peduli terhadap kelakuan Paul. 


Karena ini juga pertama kalinya Aslan pulang membawa orang lain selain Rendra. Jelas Kia pasti orang yang istimewa buat Aslan. Dan sekarang tatapan Paul penuh dengan kebencian,  bahkan di sorot matanya tampak api berkobar-kobar. 


"Kau perempuan udik itu kan? Hah tidak bisa dipercaya" ucap Paul sinis dan berkacak pinggang.


Paul merasa terancam dengan kemunculan Kia. 


Kia menelan ludahnya,  kemarahan Paul sangat Kia mengerti. Jika membayangkan seorang istri yang cinta suami,  ada perempuan masuk ke rumah bersama suaminya pasti marah. Meski dikatai udik, Kia mencoba bersabar dan memaklumi.


"Maaf Nyonya, ini tidak seperti yang anda kira" ucap Kia mengalah dan berbaik hati,  karena dia merasa, dia salah. 


Bu Mina yang mendengarkan respon Kia dan hafal sifat Paul menjadi kagum ke Kia. Kia sangat lembut dan santun menghadapi Paul. 


"Maaf? Dasar ular berbisa.  Kau bilang kau tidak kenal suamiku? Lalu sekarang apa?  Kau bahkan datang ke rumahku.  Tidak tahu malu! Untuk apa kau mendatangi suami orang? Hah!" ejek Paul lagi ke Kia lebih kasar. Mengingat perkataan Kia saat pertama kali mereka bertemu.


Waktu di audisi Kia memang belum tau siapa Aslan Narewara.  Kia juga merasa kemiripan anak kecil terhadap seseorang itu wajar, dan masih berubah-berubah. Apalagi di dunia ini ada banyak orang mirip. Kia bukan berbohong tapi memang dulu tidak tahu. 


Dikatai ular berbisa kuping Kia panas,  sakit dan kesal. Tapi Kia masih merasa kemarahan Paul berdasar.  Justru Aslan yang menurut Kia tidak punya otak dan sangat amat menyebalkan. Kia kemudian masih menahan diri tetap sabar. 


"Saya, saya tidak sengaja datang kesini,  saya saya dijebak, sehingga saya berada di sini" jawab Kia mencoba memberitahu kenyataanya.  


Tapi Paul tetap saja marah. Marahnya bukan karena cemburu. Tapi Paul khawatir tujuan pernikahan palsunya dengan Aslan akan sia-sia, jika Aslan bahagia dengan orang lain. Apalagi jika rencananya gagal, habis sudah nasibnya. 


"Dijebak? Hebat sekali kamu mengarang cwrita? Apa yang kamu inginkan hah?" 


"Tidak ada!" 


"Bohong! Kamu mau diakui kan? Kamu mau menggoda suamiku? Iya? Katakan, anak sialan itu bukan anak Aslan? Aku tidak mau anakku bersaudara dengan anak haram. Dasar kamu perempuan sundel, jangan ngimpi kamu ya!" ucap Paul dengan emosi dan menghina Kia. 


Kia mengepalkan tanganya. Meski Kia merasa kemarahan Paul wajar, tapi Kia tidak terima kalau Ipang dikatai anak sialan dan anak haram. Bu Mina pun ikut geram tapi memilih diam tidak ikut campur. 


"Cukup Nyonya,  anda boleh menghina saya tapi jangan hina anak saya. Saya dan anak saya tidak seperti yang anda tuduhkan! Saya juga tidak mau anak saya bersaudara dengan anak anda" jawab Kia mulai melawan. 


"Oh iya?  Terus ngapain kamu di sini? Untuk apa kau mendatangi suamiku?" ejek Paul lagi. 


"Susah saya katakan. Saya tidak mendatanginya,  tanyakan saja pada ibu ini.  Suami anda yang menjemput saya dan membawa saya kesini" jawab Kia lantang mulai terpancing emosinya.


Emosi Paul semakin membuncah. 


"Kurang ajar, berani kamu ya? Pergi kamu dari hadapanku!" ucap Paul geram


"Saya akan pergi secepatnya dari sini,  sebentar lagi teman saya akan menjemput saya" jawab Kia tidak mau harga dirinya turun. 


"Aslan pasti akan menjaga Ipang,  aku harus pergi.  Tapi bagaimana kalau dia menyakiti Ipang?Ah bagaimana ini" Kia menggigit bibirnya ragu dan melihat ke lantai atas rumah itu.  Anaknya masih berada di kamar Singa Gila itu. 

__ADS_1


"Oke,  pergi secepatnya dan jangan muncul di depanku apalagi menginjakan kaki di rumahku! Jangan harap kamu bisa jadi istri Aslan" Paul mengusir Kia dengan kasar. Tidak tahu kalau Aslan dan Ipang ada di lantai dua. 


"Baik, tanpa anda usir saya akan segera pergi, saya juga tidak pernah menginginkan menjadi istri suamimu. Anda tidak usah khawatir" jawab Kia tidak tahan. 


Kia keluar dari rumah itu, meski langkahnya berat karena Ipang ditahan Aslan. Tapi itu pilihan Kia, Kia tidak mau mengejar Aslan sampai ke kamar,  yang ada Kia bakal dikerjai oleh Aslan. 


"Aslan menyayangi Ipang,  Ipang akan baik-baik saja,  besok akan aku jemput lagi kesini.  Ipang tidak akan bisa lama-lama jauh dariku. Aku yakin itu"  batin Kia memandang gerbang masuk rumah Aslan. 


Bu Mina tidak berani berbuat apa-apa. Paul mendorong Kia kasar dan menutup pintunya keras. 


Karena Cyntia sedang galau dan kesepian, mendapat telepon dari Kia merasa terselamatkan. Cyntia dengan secepat kilat menjemput Kia.  Dan saat Kia diusir tidak berapa lama Cyntia datang. 


Meski meneteskan air mata mengkhawatirkan Ipang,  Kia tetap masuk ke mobil dan meminta Cyntia jalan. 


****


"Apa Aslan di rumah?" tanya Paul tiba-tiba melihat Bu Mina berdiri menunduk.


"Iya Nyonya" jawab Bu Mina mengangguk. 


"Oh,  ternyata dia di rumah? Lucu sekali" gumam Paul lalu berniat menghampiri Aslan. 


****


Kamar Aslan


Aslan sangat percaya diri, kalau Kia tidak akan pergi tanpa Ipang.  Apalagi Kia tidak membawa dompet, uang apalagi pakaian. 


Bahkan Aslan tidak menutup pintu kamar mandi,  berharap saat Kia menggedor pintu kamar,  Aslan mendengarnya. 


Aslan juga tidak peduli Paul,  karena Aslan kira Paul akan pulang pagi atau tengah malam. Aslan pikir, Paul juga tidak akan peduli. 


Dan kini Aslan menikmati waktu bersama Ipang. Tanpa tahu malu Aslan bahkan menampakan semua miliknya di hadapan anaknya itu. Pikir Aslan, toh Ipang jagoan juga,  masih kecil dan anak kandungnya. 


"Ayah, kok punya ayah ada rambutnya?" tanya Ipang polos melihat perbedaan dirinya dan ayahnya. 


"Nanti punya jagoan ayah juga ada, kalau udah besar" jawab Aslan sambil mengoleskan sabun ke benda pusaka yang sudah bertapa bertahun-tahun itu. 


"Oh iya?" jawab Ipang memperhatikan ayahnya dengan seksama.  Menurut Ipang bentuk tubuh orang dewasa itu sangat unik. 


"Iya dong!"


"Punya ayah kok beda sama punya Ipang? Punya ayah ada kepalanya?" tanya Ipang lagi. 


"Hehe" Aslan merasa geli dengan pertanyaan anaknya. 


"Anak Ayah kan belum sunat Nak,  nanti kalau udah sunat ada kepalanya juga.  Kapan anak ayah mau sunat nih?" jawab Aslan hendak mengajarkan organ reproduksi ke anaknya. 


"Apa Dafa juga sudah sunat dan punya kepala? Apa sunat itu sakit? Kata teman Ipang sakit, Ipang jadi takut" 


"Seingat ayah belum, nggak sakit Nak. Jagoan kan memang harus sunat, jagoan ayah hebat nggak boleh takut,  harus berani" 

__ADS_1


"Iya, ibu juga selalu tanya ke Ipang kapan Ipang siap, Ipang mau pas sudah SD. Ipang sunat bareng Dafa aja ya Yah" 


"Oke Jagoan" 


"Apa nanti kalau Ipang sudah sunat akan besar seperti punya ayah?" tanya Ipang lagi. 


"Iya dong" jawab Aslan sambil tersenyum, punya Aslan memang besar dan gagah. 


"Anakku sudah besar,  lihatlah anak kita bahkan ingin sepertiku Kia,  kenapa kamu masih terus menghindar dariku" batin Aslan. 


"Ipang mau seperti ayah. Ayah apa ibu akan ke sini? Kok ibu belum ke sini?" tanya Ipang mulai ingat dan rindu ibunya.  


"Ditunggu sebentar lagi ya.  Makanya ayo selesaikan mandi mu, kita temui ibu" ucap Aslan. 


"Oh iya Ayah,  kalau ayah sudah menikah,  apa kita, akan mandi bersama?" tanya Ipang lagi. 


Mendengar pertanyaan Ipang, Aslan bersemangat. 


"Iya Nak" jawab Aslan. 


"Jadi kalau ayah menikah dengan ibu,  kita akan liburan bersama, renang bersama dan mandi bersama juga?" tanya Ipang lagi.


Aslan mangangguk lagi tersenyum. 


"Hore" Ipang bersorak bahagia membayangkan dirinya punya keluarga sempurna.


Aslan sendiri ikut terstimulus membayangkan jika dirinya berhasil menikahi Kia.  Tapi tentu saja isi otak anak bapak itu berbeda. 


Jika Ipang di otaknya tergambar kebahagiaan kebersamaan mempunyai orang tua lengkap. Di kepala Aslan tampak Kia berbaju seksi,  dengan semua kekayaan yang dimilikinya. Lalu Kia bergabung dengan mereka, bermain air bersama dan Aslan menikmatinya.


Aslan membayangkan indahnya beristri yang sesungguhnya. Hal itu pun membuat adik kecil Aslan yang tadi menggantung menjadi berdiri kokoh. 


"Wuaah, Ayah,  punya ayah jadi besar sekali?" ceplos Ipang lagi mengagumi ayahnya. 


"Sudah,  sudah ayo berhenti mandinya,  pakai handuknya!" ucap Aslan menjadi tersipu dan segera mengambil handuknya. 


"Iya,  Ayah!" jawab Ipang bangun. 


Aslan pun melingkatkan handuk ke tubuh Ipang dan menggendongnya ke atas kasur.  Lalu mengambilkan pakaian Dafa.


"Iya Nak, hanya dengan mengingat ibumu,  punya ayah akan tumbuh dan besar maksimal.  Apalagi jika ibumu ada di sini bersama kita, senjata ayah akan bisa sangat ampuh, makanya ada kamu. Semoga hari itu segera tiba,  kita akan jadi satu dalam ikatan keluarga" batin Aslan, senyum-senyum sendiri sambil membantu Ipang memakai baju. 


Di saat yang bersamaan,  pintu kamar Aslan diketuk.  Ipang dan Aslan menoleh ke pintu.  Mereka berdua tersenyum,  dikira Kia yang mengetuk. 


"Sepertinya ibu,  Nak" 


"Iya,  Yah! Biar Ipang yang buka" jawab Ipang girang.


"Ayah saja, pakai celanamu. Bisa sendiri kan?"


"Bisa Yah"

__ADS_1


Pikiran nakal Aslan datang.  Dia ingin menggoda Kia dengan dirinya yang hanya memakai handuk.  Aslan pun berjalan dengan semangat 45 membuka pintu kamar. 


__ADS_2