Sang Pangeran

Sang Pangeran
109. Ada Udang di balik batu


__ADS_3

Setelah mendapatkan informasi dan alamat Kak Danu, Kia dan Aslan mengangguk. Lalu mereka menemui Ipang, dan memberi pengertian kalau malam ini ayah dan ibunya hendak pergi. 


“Ipang di rumah sama siapa? Ipang ikut aja, Ayah!” rengek Ipang mau ikut ayah dan ibunya. 


“Sayang, ibu dan ayah perginya bisa lama, ini udah malam lho. Bepergian malam untuk anak kecil kaya Ipang nggak baik. Katanya Ipang mau ayah dan ibu tetap bersama, ayah dan ibu pergi agar kita bisa tinggal serumah?” tutur Kia memberi pengertian ke Ipang. 


“Tapi Ipang mau bareng ayah dan ibu terus, Ipanh mau ikut!” rengek Ipang lagi. 


"Sayaaang dengerin ibu Nak. Ini malam, nggak baik. Ipang di rumah aja ya!"


“Iya Nak..ayah janji deh malam ini tidur bareng Ipang, oke?” imbuh Aslan ikut membantu merayu Ipang.


“Benarkah?” tanya Ipang bahagia akan tidur dengan sesosok ayahnya lagi.


“Huum” jawab Aslan mengangguk.


“Apa sama ibu juga?” tanya Ipang lagi meminta lebih. 


“Ehm!” Aslan berdehem mengusap tengkuknya dan melirik ke Kia, maunya Aslan sih iya. Tapi Kia tampak melirik Aslan dengan tatapan tajam. Lalu Aslan berbisik, “Suer, abang nggak nyuruh atau ajarin dia, dia sendiri yang berfikir begitu” 


Kia menghela nafasnya dan membelai rambut Ipang pelan.


“Sayang, ibu dan ayah kan udah terpisah lama sekali, kalau udah terpisah, kan kalau mau tidur bareng lagi, harus menikah. Dan ayah ibu pergi biar ayah dan ibu bisa cepat menikah, terus kita kita bisa tidur bertiga di kamar yang sama. Kamu mengerti?” tutur Kia pelan. 


“Hemm!” 


"Kalau Ipang ingin Ayah dan ibu tidur bareng Ipang. Doain urusan Ibu dan Ayah lancar. Dan jadi anak yang patuh"


"Ya deh iya. Tapi ibu dan ayah janji cepat menikah dan jangan terpisah lagi!"


"Ya. Ayah janji!" jawab Aslan.


“Jadi giimana? Ayah dan ibu pergi dulu ya, di rumah ada Mbok Mina dan Mbak Narti, apa mau ayah dan ibu antar ke rumah Tuan Alvin lagi?” tawar Kia memberi pilihan agar Ipang patuh. Mendegar kata Tuan Alvin, Ipang langsung berespon. 


“No no no, Ipang mau di rumah Ipang aja, ini rumah Ipang, Ipang mau tidur di sini bukan di tempat lain” 


Akhirnya Ipang pun mengijinkan ayah dan ibunya pergi. Kia dan Aslan saling tatap dan tersenyum lega. 


“Ya udah kita makan dulu ya. Mbok udah masakin ayam goreng buat Ipang,” ucap Kia lembut. 


“Yey asik!” jawab Ipang bahagia.

__ADS_1


Mereka bertiga kemudian ke dapur untuk makan bersama. Dari sampai di rumah, Ipang memang belum bertemu Mbok Mina , karena Ipang tidur dan langsung ke kamar. Saat melihat Mbok Mina, Ipang langsung mengenali dan mengingat saat di rumah Alena. 


“Nenek pembuat sarapan?” seru Ipang mengingat Mbok Siti yang membuatkan sarapan untuk Ipang. 


“Iya Tuan Muda, Mbok di sini” 


“Kok Mbok ikut ibu juga? Mbok kenal sama ibuku?” tanya Ipang. 


“Kenal Tuan Muda” 


“Kenapa pagi- pagi itu nggak panggilin ibuku? Mbok jahat, biarin Ipang menangis dan kehilangan ibu!" ucap Ipang lagi. 


"Maafin Mbok dulu pas saat itu Mbok belum kenal Nyonta Kia" jawab Mbok


Kia yang menyimak kemudian melirik ke Aslan dengan tatapan tajam meminta penjelasan. Pasti terjadi sesuatu saat mereka tidak bersama Kia. Aslan pun langsung pucat dibuatnya. 


“Pangeran, sudah ayo makan, udah adzan maghrib tuh. Pangeran mau ayah dan ibu cepat pulang kan?” ucap Aslan melerai dan menyudahi comelnya Ipang, ternyata Ipang terkadang bahaya juga kalau suka keceplosan.


“Iya Ayah” jawab Ipang. 


Lalu mereka bertiga makan malam dengan lahap. Kali ini Ipang makan sendiri. Sehingga tidak butuh waktu lama mereka berada di meja makan itu.


“Ipang kan udah kenal sama Mbok Mina, baik- baik di rumah sama Mbok Mina ya!” ucap Kia berpamitan ke Ipang. 


“Ya Bu” jawab Ipang. 


Lalu Aslan dan Kia pun pergi menuju ke rusunawa tempat kakak dan keluarganya tinggal. Karena Aslan memanggil sopirnya, Kia dan Aslan duduk bersebelahan di tengah. Aslan bisa melihat raut wajah cemas dari Kia. 


“Apa kau merindukan mereka?” tanya Aslan menanyai Kia. 


“Mereka mengusirku Bang” jawab Kia menunduk menyembunyikan sorot mata sedihnya. Kia tidak tahu rindu atau benci semua jadi satu.


Tapi Aslan justru tersenyum dan mengusap kepala Kia, sebenarnya inginya Aslan menggenggam tangan Kia dan merengkuhnya dalam pelukannya, tapi pasti ditolak. 


“Kita memang jodoh, Sayang, jangan sedih!” hibur Aslan ke Kia, mereka berdua kan sama- sama diusir dari keluarganya. Semuanya karena demi Pangeran. 


Mendengar perkataan Aslan, Kia menoleh dengan mengekerucutkan bibirnya. Orang Kia lagi sedih malah dibercandai. 


“Abang bangga, karenaa kita sama- sama diusir dari keluarga, diusir keluarga itu hal yang menyakitkan dan tidak terpuji, Abang, ih! Kessel!” jawab Kia manyun. 


“Ya abis gimana? Emang jalanya kita udah begitu? Justru karena kita sama- sama ngerasain diusir kita saling mengerti dan bergantung satu sama lain, Abang cuma punya kalian, makanya istri abang dan anak abang harus sayang sama Abang” 

__ADS_1


“Hem yaya. Tapi, kalau nanti lihat kekurangan keluarga Kia, Abang jangan kaget ya!” ucap Kia lagi. 


“Sayang, Abang terima kamu apa adanya, keluargamu, masa lalumu dan semuanya, tenang aja!” jawab Aslan. 


Kia tidak menjawab dan hanya menatap dengan tatapan percaya. Lalu mereka kembali terdiam menikmati perjalanan. 


Setelah kurang lebih 2 jam melalui perjalanan, mereka sampai di rusunawa yang ditunjukan Mbak Narti. Di hadapan mereka tampak rusunawa yang terlihat sederhana dan bisa dibilang kumuh. Seketika ada kegetiran yang datang menyelinap ke hati Kia.


Padahal rumah peninggalan orang tua mereeka cukup bagus dan layak ditempati. Kenapa harus dijual dan berpindah ke rusunawa. Mereka kemudian turun dari mobil. Dan saat mereka turun di samping mobil mereka ada 3 ibu- ibu sedang memperhatikan mobil Aslan. 


“Wiih mobil mewah, tamunya siapa nih?” bisik salah satu ibu-ibu. 


“Tamunya si penghuni kamar no 21” jawab temanya lagi. 


“Oh iya ya, kan hanya dia yang tamunya bermobil, maklum pekerja malam, hihi” 


Tanpa sengaja Ki dan Aslan harus mendengar ibu- ibu julid itu. Kia rasanya jengah sekali, kenapa masih selalu ada ibu- ibu julis dimana- mana. Lalu Kia menoleh ke ketiga ibu julid itu. Dan, dheg! Jantung Kia langsung berdegub kencang. 


Seketika kekesalan dan kejengahan Kia memuncak, bukanya hanya kesal mendengar ibu- ibu menggunjing. Tapi ingatan Kia dituduh menjual diri murahan, benalu dan pembawa sial datang. Kini Kia berhadapan dengan orang yang sama. 


“Kenapa Mba Ranty masih saja tidak berubah dan hoby bergosip sih?” batin Kia kesal.


Ranty pun langsung terbengong dan menjatuhkan sendok yang dia pegang. Rupanya mereka sedang berpesta mi instan. 


“Kia” gumam Ranty dengan mata melotot. Kedua teman Ranty kemudian menatap Ranty penuh tanda tanya. 


“Kak Ranty?” panggil Kia membalas panggilan kakak iparnya. 


Ranty kemudian bangun dari duduknya meninggalkan dua teman julidnya. Pandangan Ranty tidak lepas dari mobi kinclong Aslan yang ranty tau nilainya milyaran. Ranty kemudian menatap Aslan, pria gagah yang bisa ditebak orang kaya, dan pria itu Ranty lihat dengan mata Ranty membukakan pintu mobil untuk Kia yang artinya memperlakukan Kia sebagai orang istimewa. 


Lalu Ranty kemudian mengubah ekspresinya. Ranty langsung memeluk Kia erat. 


“Ah ya Tuhan, Kia, akhirnya kamu kembali, aku sangat mengkhawatirkanmu dan merindukanmu!” ucap Ranty sambil memeluk Kia. 


Kia pun merasa sesak dipeluk Ranty erat. Kia merasa pelukan Ranty aneh, tidak hangat apalagi nyaman. Bahkan rasa sakit Kia seperti tergali lagi. Kia kemudian menatap Aslan meminta pertolongan. Aslan hany mengernyitkan dahi.


“Iya Kak, terima kasih” ucap Kia berusaha melepaskan Ranty. 


“Apa dia pacarmu? Atau suamimu?” bisik Ranty melirik ke Aslan. 


“Apa Kak Danu ada? Kita bicara di dalam saja ya Kak!” ucap Kia mulai tidak nyaman, ekspresi Ranty sudah berubah lagi. Kia pun membau- bau ada udang dibalik batu dari sikap iparnya ini. 

__ADS_1


__ADS_2