
Jika di rumah Kia dan Aslan sedang diliputi kebahagiaan, berbeda di rumah mantan instrinya. Sejak bangun pagi Paul merasakan pusing yang amat sangat, perutnya juga mual, untungnya semua kegiatan syuting ditunda.
"O my God. Shi* kenapa kepala gue pusing banget sih?" gerutu Paul memegang kepalanya.
Paul di rumah sendirian. Mbok Mina sekarang sudah pergi, Paul langsung melempar semua yang ada di meja makanya.
"Berani sekali dia melawanku. Ini pasti karena Aslan dan perempuan udik itu!" umpat Paul lagi.
Paul kemudian mengambil air putih, dan obat yang sudah dia pesan via online. Setelah meminum obat, Paul ke kamarnya. Paul diam dipandanginya satu stik berwarna putih yang di kolom tengahnya ada dua garis merah.
"Gue hamil.... Hahaha!" Paul tertawa sendiri, tapi kemudian Paul menangis sendiri. Rambut Paul berhambur ke depan, dan Paul mengacak-acak sendiri rambutnya.
Paul kemudian naik ke ranjang, memeluk lututnya sendiri sambil merenungi nasibnya. Paul yang cantik dan dipuja- puja penggemarnya seakan sirna. Mata Paul yang biasanya indah dengan riasan mahalnya, kini tampak berkantung dan sembab. Bibirnya pucat tanpa warna.
Paul kemudian membaringkan tubuhnya yang lemah karena nyidam. Ditarik selimut mahalnya itu. Paul memejamkan mata berniat mengurangi pusingnya, tapi nyatanya Paul justu mual dan muntah.
Menyerah dengan keadaanya. Paul mencoba mencari pertolongan. Paul mengambil ponselnya dan menghubungi ayah dari anak yang dikandungnya.
"Thuuut... thuuut... "
Sudah hampir 5 kali Paul menghubungi Nicho tapi tetap tidak diangkatnya. Akhirnya Paul memilih menghubungi lewat pesan.
"Sayang, datanglah ke rumahku! Gue butuh bantuan lo. Gue sakit, gue perlu ngomong sama Lo!" ketik Paul ke Nicho.
Pesan itu terkirim, tapi tidak kunjung dibaca. Paul kemudian melempar ponselnya kesal sendiri.
"Apa gue gugurin aja kandungan ini? Oh no... gue nggak mau kejadian itu terulang lagi!" gumam Paul mengacak-acak rambutnya.
Rupanya, 1 tahun sebelum Aslan meminta pergu dari rumah Tuan Agung dan saat Aslan memberikan talak pada Paul yang membuat Tuan Agung sakit, Paul pernah menggugurkan anak keduanya dari laki-laki yang berbeda.
Saat itu Paul sangat takut, karena pria itu jauh lebih muda darinya, dari segi ekonomi dan kedudukan juga jauh di bawah Paul. Aslan juga sudah semakin menjauh, jadi Paul nekat menggugurkan.
Saat Paul melakukan aborsi Paul pendarahan. Paul hampir syok dan sempat dirawat. Paul tidak mau jika harus aborsi lagi.
"Kenapa gue bisa sebodoh ini tidak pakai pengaman?" batin Paul lagi mengingat jejaknya bersama Niko.
Sebenarnya Nicho adalah pacar Paul yang ketiga, dan Nicho satu- satunya pacar Paul yang mempunyai istri dan keluarga.
"Lo kemana sih Bangsa*, kenapa nggak angkat telponku?" gumam Paul lagi geregetan.
Paul kemudian telpon Nicho lagi, dan kali ini telponya terhubung. Paul pun seperti mendapatkan secercah harapan.
__ADS_1
"Halo..."
Terdengar suara perempuan di dalam telepon nan jauh di sana. Paul langsung terdiam, mulutnya seperti terpaku. Nyali Paul ternyata tak sehebat katanya, Paul tak berani menampakan diri pada keluarga Nicho.
Paul kemudian mematikan telponya. Tanpa sadar, air mata seorang Paul keluar dan jatuh. Paul mengepalkan tanganya geram. Rasanya benar-benar menghunjam hati dan perasaan Paul. Paul merasa terhianati dan terhina.
"Thing.... thong... "
Tiba-tiba bel rumah Paul berbunyi, dengan langkah gontai menahan lemah dan pusing, Paul turun membukakan pintu untuk tamunya.
"Selamat pagi Nyonya Paulina?" sapa seorang petugas pengantar surat.
"Pagi, gimana Pak?" tanya Paul.
Lalu pengantar surat itu memberikan surat ke Paul, dan menyodorkan tanda tangan tanda terima. Setelah Paul menandatangani, Paul membuka surat itu, dan surat itu adalah surat panggilan sidah putusan cerainya.
****
Di rumah Kia.
Setelah semua tamu privatnya pergi, mendadak Kia kringetan. Kini dia hanya tinggal berdua dengan laki-laki yang selama ini dia panggil Singa gila yang sekarang di hadapan Tuhan dan teman-temanya sudah jadi suaminya.
Tanpa aba- aba, dan tanpa ragu. Aslan mengulurkan tanganya, diselipkanya setiap jari kuatnya ke jari tangan mungil Kia, tapi Kia tampak menarik tanganya dan salah tingkah.
"Mau hujan, masuk yuk!" ucap Aslan mesra.
"Iya" jawab Kia mengangguk.
Lalu Aslan menggandeng Kia masuk. Kia terus melihat tangan yang kini menggenggamnya, ada rasa hangat yang merayap dari tangan itu, menjalar ke seluruh tubuhnya, menembus sampai ke relung hatinya yang paling dalam.
Kia membeku, rasanya Kia tersihir untuk tetap mengikuti langkah Aslan. Meski hanya berjalan beberapa langkah dari halaman belakang ke kamar Kia yang ada di lantai satu, tapi Kia merasa itu adalah perjalanan terpanjang yang pernah Kia jalani. Kia berjalan dalam genggaman seorang suami, suami kata yang tidak pernah terbersit di hati Kia untuk dia temui.
"Ehm.. " Kia menghentikan langkahnya saat sudah sampai di depan pintu kamarnya.
"Kenapa berhenti, Sayang!" tanya Aslan menoleh ke Kia yang berhenti berusaha menarik tangan dari genggamanya.
"Kamu, ehm, maksud Kia. Abang kan mau ganti di kamar Ipang kan? Ya udah sana!" ucap Kia bermaksud mereka kan pisah kamar ya udah jalan sendiri-sendiri.
"Kok sana sih?" tanya Aslan tidak terima.
"Lah iya, Kia mau ganti Bang. Udah sana masuk!" ucap Kia lagi menyuruh Aslan masuk ke kamar Ipang.
__ADS_1
"Ya ayo masuk bareng!" ajak Aslan lagi, mereka kan suami istri ya berarti bareng.
"Kok bareng?" tanya Kia ingat perjanjian mereka.
"Kan kita sekarang suami istri?"
"Abang lupa perjanjian kita? Ingat lho Bang. Abang udah janji, Abang nggak akan nuntut sampai pernikahan di mata hukum negara kita sah!" ucap Kia memperingati Aslan dengan wajah malu-malunya.
"Iya sayang, iya abang nggak nuntut kok. Emangnya abang mau nuntut apa sih? Kok khawatir gitu?" jawab Aslan malah meledek Kia.
"Ehm... nggak!"
"Ya udah nggak usah khawatir. Ayuk ganti!" .
"Ya nggak mau kalau bareng abang, Kia ganti sendiri. Abang juga silahkan ganti sendiri," jawan Kia mengusir Aslan.
"Yakin bisa ganti sendiri?" tanya Aslan melihat riasan Kia. Di kepala Kia banyak jarum-jarum hiasan jilbab yang dibentuk-bentuk. Belum lagi model kebaya modern yang resletingnya di belakang. Aslan sudah bisa menebak Kia akan butuh bantuan.
"Kia bisa sendiri, kalaupun nggak, kan ada Cyntia" jawab Kia.
"Oh!" jawab Aslan mengangguk. Tapi di saat yang bersamaan, Cyntia keluar kamar dan membawa koper.
Mereka bertiga kemudian papasan dan saling tatap.
"Cyn lo mau kemana?" tanya Kia kaget dan melotot.
"He... " Cyntia kemudian tersenyum mengangguk ke Aslan dan ke Kia.
"Lo apa-apaan sih? Kok bawa koper segala?" omel Kia panik.
"Makasih banget ya... lo selama ini udah nampung gue, kasih tempat tinggal ke gue. Alhamdulillah dari gaji syuting gue, gue udah dapet apartemen. Barusan temen gue telpon. Gue disuruh gantiin punya dia. Temen gue mau keluar negeri soalnya" ucap Cyntia tersenyu.
"Kok gitu? Kok cepet banget?" tanya Kia tidak terima dan tidak siap tinggal serumah dengan Aslan dan hanya ada dirinya dan Mbok Mina.
"Iya soalnya temenku telponya juga baru," ucap Cyntia lagi.
Kia pun memicingkan mata dan menggerakan bibirnya memberi kode ke Cyntia agar membantunya dan tetap tinggal, tapi Aslan justru menjawab dan menimpali.
"Selamat ya Nyonya Cyntia, ikut bangga atas pencapaianmu. Sukses terus dan semoga betah di apartemen barunya!" ucap Aslan justru mendukung Cyntia pergi malah terkesan disuruh sesegera mungkin.
"Bang!" balas Kia menoleh ke Aslan dengan muka cemberut.
__ADS_1
"Lhoh? Kenapa? Abang salah? Bener kan? Temenmu ini keren lho Yang, baru kerja berapa bulan udah beli rumah, kasih selamat dong!" ucap Aslan dengan muka cerahnya.