
Dengan membiarkan Kia cemberut karena penasaran Aslan menggendong Ipang. Dan berlalu mengajak Kia ke rumah Tuan Agung.
"Ishh..., jahat banget sih, kenapa aku selalu dicueki dan dibuat penasaran?" batin Kia cemberut.
"Mau ketemu calon mertua jangan cemberut Sayang" ucap Aslan meledek Kia karena Kia cemberut terus.
"Bete" jawab Kia.
"Tuh Nak. Ibumu kalau cemberut tambah cantik ya?" ledek Aslan meminta dukungan.
"Nggak Yah. Ibu jelek kalau cemberut. Hihi kaya mak lampir yang galak" ucap Ipang polos membercandai ibunya.
"Hooh" jawab Kia kesal dan mengernyitkan matanya.
"Hehehe" Ipang malah tertawa.
"Kau dengar apa kata anakmu? Kalau cemberut kamu kaya nenek lampir galak!" imbuh Aslan mengatai Kia. Membuat bibir Kia makin manyun.
"Ishhh... " desis Kia.
"Aku toel nih pipimu kalau cemberut terus" bisik Aslan berjalan, meski sambil menggendong Ipang. Aslan masih sempat meledek Kia.
"Ya Abang nggak mau cerita. Maksud Abang apa? Abang tau tentang Jeje? Abang mata-matain Kia?" tanya Kia memaksa ingin tau.
Tapi Aslan tetap diam. Mereka sampai ke parkiran dan tiba di mobil.
"Ipang pangku ibu yah!" ucap Aslan.
"Iya Yah!" jawab Ipang lalu Aslan menyerahkan Ipang ke Kia untuk digendong.
Sebenarnya biasanya Ipang sudah pandai mandiri jalan sendiri. Tapi hari ini hari spesial, hari jadian Ibu bapaknya jadi Ipang bermanja. Puas-puasin manja sebelum nanti emak bapaknya mencetak adik untuknya.
Kia pun menyambut Ipang. Lalu mereka masuk ke mobil. Kia duduk di samping Aslan memangku Ipang. Mereka pun melajukan perjalanan ke istana Tuan Agung.
Sepanjang perjalanan mereka hanya mendengarkan cerita Ipang. Ipang sangat bersemangat menceritakan banyak hal.
Cerita tentang teman-temanya. Tentang guru-gurunya, tentang Daffa. Pokoknya hari ini Ipang sangat ceria. Ipang juga bernyanyi, dan Aslan, Kia menjadi pendengar yang baik.
Sampai akhirnya karena lelah, Ipang tertidur di pangkuan Kia. Aslan pun menoleh ke kedua orang yang berharga di hidupnya itu.
"Apa dia tidur?" tanya Aslan.
"Iya" jawab Kia sambil menyanggah kepalanya.
"Kamu nyaman nggak? Anak kita sudah semakin berat. Kalau pegal gantian posisi aja" tawar Aslan perhatian ke Kia.
__ADS_1
"Abang, Kia nggak pegal kok. Dia anak Kia, memeluknya begini membuatku merasa hangat dan nyaman tidak ada rasa berat. Kia ingin banyak-banyak memeluknya, karena Kia sendiri tidak menyadari tau-tau Ipang sudah besar. Dan nanti Kia tidak bisa memangkunya lagi" jawab Kia
Aslan kemudian tersenyum dan mengelus kepala Kia yang tertutup hijab dengan lembut.
"I love you" bisik Aslan.
"Ishh" desis Kia malu diberi ucapan cinta.
"Balaa dong!" pinta Aslan seperti anak ABG
"Apaan sih? Kia beli oleh-oleh nggak Bang?" tanya Kia memikirkan lagi mau ketemu mertuanya.
"Apa ya? Nggak usahlah, Papa nggak suka oleh-oleh" jawab Aslan.
"Papa Abang emang sakit apa? Kapan Abang bawa Ipang ketemu Papa Abang?" tanya Kia lagi.
"Waktu kamu pergi ke rumah Cyntia. Sebenarnya pagi itu Abang juga mau ajak. kamu. Tapi kamunya masih galak, kaya kuxing sukanya nyakar"
"Ih apa sih. Kia bukan kucing enak aja"
"Ya kan kamu gitu, sok jual mahal malu-malu. Kamu sebenarnya juga cinta kan sama Abang" ucap Aslan lagi menyindir Kia.
"Abang" panggil Kia manja dan memukul lengan Aslan yang sedang menyetir.
"Iya, iya. Kamu bukan kucing, kamu bidadarinya Abang" ucap Aslan lagi menggoda Kia.
Kia pun tersipu-sipu tapi tidak menjawab. Pipi Kia memerah kemudian Kia menatap Jendela menyembunyikan wajah malunya.
Aslan kemudian hanya melirik Kia. Ternyata sebegitu menyenangkan menggoda pacarnya yang sifatnya jaim minta ampun.
Lalu mereka saling diam. Aslan fokus nyetir, dan Kia masuk ke dalam dunia hatinya yang sedang berkembang dengan penuh bunga bermekaran. Karena mobil Aslan yang bagus dan dingin, lama-lama Kia menyusul Ipang tertidur sambil memeluk Ipang di pangkuanya.
Setelah sepersekian detik mereka pun sampai di istana Tuan Agung. Aslan menghentikan mobilnua di halaman dekat dengan air mancur dan patung yang indah.
Pelayan yang mengenal mobil Aslan datang menyambut.
"Bawakan koperku di belakang Pak. Bawa ke kamarku" ucap Aslan ke pelayan.
"Baik Tuan" jawab pelayan.
Aslan kemudian menatap Kia yang terlelap. dan sedikir melompong. Aslan tersenyum untuk yang kesekian kalinya.
"Bahkan sedang melompong begini kamu tetap mempesona Kiaku. Aku tidak sabar menghalalkanmu. Sebentar lagi setiap bangun tidur, aku akan melihatmu begini" batin Aslan membayangkan pernikahan indah mereka.
Dengan sidat isengnya, Aslan mengambil ponselnya. Aslan memfoto Kia yang sedang melompong. Baru membangunkan Kia.
__ADS_1
"Sayang bangun" ucap Aslan mengusap kepala Kia.
Kia membuka matanya. Lalu membangunkan Ipang. Ipang pun menggeliat bangun.
Seketika mata mereka membulat. Di depan mereka tampak seperti istana. Ya istana, bahkan besar luasnya dari tempat wisata taman bangunan yang menyerupai kerjaan ala- ala, dengan bangunan di depanya, masih lebih bagus dan luas bangunan di depanya ini.
"Ayo turun!" ajak Aslan ke Kia dan Ipang.
"Ini rumah Papah Abang?" tanya Kia ragu dan mendadak minder. Ternyata Aslan memang anak sultan
"Iya Sayang, rumah calon mertuamu!" jawab Aslan menegaskan.
Kia pun menelan salivanya.
"Rumah kakek seperti istana di negeri dongeng pantas Daffa kesepian. Apa Oma Ipang juga seperti nenek sihir di negeri dongeng Yah?" tanya Ipang polos, mengingat cerita Daffa tentang Omanya yang cerwet dan galak.
Aslan dan Kia kemudian tertawa.
"Memang Ipang baca dongeng apa ada nenek sihirnya segala?" tanya Kia.
"Banyak Bu" jawab Ipang.
"Oma seperti nenek sihir atau bukan, Ipang buktikan sendiri ya. Ayo kita turun. Kita temui kakek" ucap Aslan kemudian.
Mereka bertiga kemudian turun. Ipang turun lebih dulu. Disusul Kia. Untuk pertama kalinya Kia menapakan kaki di rumah masa kecil anak ayahnya itu.
Entah kenapa tiba-tiba jantungnya berdegub kencang. Ada hunjaman tajam entah itu apa. Kia merasa Kia akan masuk ke keluarga itu dan akan banyak tugas atau misteri. Entah apa yang akan Kia temui, yang penting laki-laki yang membawa Kia ke tempat itu. Kia yakini pria yang akan buat diri dan anaknya bahagia.
"Ayo masuk!" ajak Aslan menggandeng Ipang.
Sementara Kia berjalan mengekor di belakang. Melihat pelayan membawa koper Aslan. Manda dan Daffa heran dan bertanya.
Setelah dijawab pelayan, kalau Tuan Aslan pulang membawa anak kecil laki-laki dan perempuan berjilbab. Manda dan Daffa kegirangan.
"Apa itu Ipang Mom?" tanya Daffa.
"Sepertinya iya" jawab Manda.
"Apa Ipang akan tinggal di sini?" tanya Daffa lagi.
"Entahlah. Ayo kita lihat"
"Ayo Mah!"
Lalu Daffa berlari ke ruang tamu menyambut sahabat usil dan nakalnya.
__ADS_1