Sang Pangeran

Sang Pangeran
41. Negosiasi


__ADS_3

"Tuan Aslan, aku tahu batas, tolong diam di tempat kita masing- masing. Jangan melangkah melebihi tempat kita. Kenapa dia melakukan sejauh ini?"


Kia diam mematung melihat Ipang digendong Aslan masuk ke kamarnya. Sebenarnya ada rasa hangat dan haru melihat kedekatan mereka. Seandainya saja Aslan masih sendiri, Kia tidak akan sekacau dan serisau ini.


Kia tau, Kia tidak sesuasi dengan kualifikasinya untuk bekerja di kantor Nareswara mengingat ijazah SMA nya. Semua karena Aslan, ternyata dari awal Aslan merencanakan sesuatu.


Hanya Kia penulis yang tiba-tiba direkrut kartawan, seharusnya penulis ya tetaplah penulis. Berkarya di tempatnya sendiri.


Dan sekarang semakin jelas. Kalau bukan urusan pribadi seharusnya Aslan membiarkan Kia lolos pergi. Untuk apa membiarkan orang seperti Kia bertahan di perusahaanya. Aslan juga bukan orang yang suka memeras uang dari karyawanya.


"Sebenarnya apa mau mu Aslan?" gumam Kia lagi.


****


Aslan masuk ke kamar Ipang. Ruangan kecil berukuran 2x3, di dalamnya ada kasur kecil dengan seprei bermotif bola.


Di sudut kamar, terpajang lemari kaca kecil yang berisi banyak piala. Meski usianya menginjak 6 tahun belum genap, Ternyata Ipang banyak memenangkan lomba. Mulai lomba menyanyi di acara kabupaten, lomba mewarnai dan lain sebagainya.


Lalu di tembok ada foto yang terpajang. Foto perempuan cantik dengan rambut panjang sedikit bergelombang menggendong bayi imut.


Aslan berdiri terpatung di hadapan foto itu, ditatapnya lekat- lekat. Hati Aslan bergetar melihatnya.


Itu foto Ipang kecil, seharusnya Aslan mendampingi Kia di masa itu. Melihat dan ikut mendampingi tumbung kembang Ipang.


"Ayah Ipang takut" celetuk Ipang menyandarkan tubuhnya ke dada Aslan dalam gendonganya. Meski sudah berhenti menangis ternyata Ipang masih bernafas sesenggukan.


"Takut kenapa Ma Boy?"


"Ibu sangat marah Ayah, Ipang takut sama ibu" ucap Ipang polos.


Aslan menatap Ipang hangat. Ada rasa bersalah di hatinya. Kemarahan Kia akibat rencana busuk Aslan. Aslan juga tau Kia sebenarnya bukan ibu yang galak.


Dan akibat perbuatanya membuat anaknya ikut merasakan imbasnya. Ipang jadi tersakiti. Ipang harus melihat ayah dan ibunya bertengkar.


"Ibumu tidak galak Nak. Jangan takut sama ibumu, ibumu bukan marah sama kamu, tapi marah sama ayah. Ayah memang salah. Biar nanti ayah yang minta maaf ya?" tutur Aslan membelai Ipang.


"Hiks hiks" Ipang tiba-tiba menangis lagi.


"Ayah akan tenangkan ibumu lagi" ucap Aslan dengan penuh keyakinan.


"Jangan penjarakan Ibu Yah"


"Tentu saja tidak Ma Boy, Ayah tidak akan menyakiti ibumu. Ayah hanya ingin kalian selalu di dekat Ayah" jawab Aslan lagi.


Aslan diam menyadari Kia sangat marah. Ternyata idenya Aslan kalau dipikir-pikir sedikit kejam.


Pasti ada banyak luka juga hati Kia. Tapi Aslan juga kehabisan akal bagaimana caranya membuat Kia tetap berada di sisihnya sampai Aslan menceraikan Paul.


Ternyata watak Kia sangat keras. Jika Aslan kembali terang- terangan mengajak Kia menikah dengan statusnya sekarang pasti Kia akan kembali berontak dan semakin menjauh. Aslan harus lebih memberi kelonggaran ke Kia.


Kemudian Aslan menidurkan Ipang. Membelaianya lembut. Tapi Ipang terlihat meringkuk dan masih gemetaran dengan nafas sesenggukan.


"Ibu...maaf, ibu.. " Ipang ternyata masih mengigau ketakutan karena dimarahi Kia.


Setelah Ipang tidur, Aslan berniat kembali mengajak Kia bicara baik- baik.


****


Kia terlihat duduk di meja makan, tanganya di atas meja menutup wajahnya. Ada suara isakan tangis yang terdengar.


"Gue nggak mau ke Ibukota lagi" gumam Kia berfikir. Kia melirik ke arah kamar Ipang. Aslan terlihat tidur memeluk Ipang.


"Hah... ck" Kia menghela nafasnya melihat pemandangan itu.


Kia bukan tidak suka, tapi Kia tidak mau berharap lebih melihat kedekatan itu. Sebagai wanita normal, meski Kia pernah bertekas untuk tidak jatuh cinta kepada laki-laki tapi tetap saja. Naluri seorang wanita datang, menjadi ibu, menjadi istri menjalani kehidupan yang lengkap dan bahagia itu impian semua orang.


Kia harus usir itu semua. Dia tidak mau melewati batas. Menjadi ibu tanpa ayah sebuah kesalahan. Apalagi jika ditambah menghancurkan rumah tangga orang.


"Amit- amit" begitu pikir Kia.


Kia tidak tahu kalau pernikahn Aslan memang sudah hancur dari awal. Bahkan secara agama pernikahan mereka tidak sah. Mereka hanya terikat pada perjanjian keluarga.


"*B*agaimana caranya aku bisa bebas dari tuntutan kontrak setan ini?" batin Kia lagi berfikir.

__ADS_1


"Uang 5 M, uang dari mana aku? Melawanya memang bukan solusi, aku kalah telak"


"Aah, kenapa aku bodoh?" gumam Kia lagi mengusap kepalanya kasar.


"Apa aku bohong dan pura-pura aja ya?"


Kia bermolog dalam hati memikirkan solusinya.


"Ehm"


Tanpa diketahui Kia, Aslan keluar kamar dan mengampirinya. Kini tercipta suasana canggung di antara keduanya.


"Apa kau akan membiarkan sopir dan sekertarisku masuk?" sindir Aslan karena Kia tidak menunjukan keramahan sama sekali pada tamunya itu.


"Untuk apa aku membiarkan kalian masuk. Kalian tamu tak diundang dan tidak diharapkan. Sebaiknya kalian pergi saja!" jawab Kia ketus.


"Ck. Kenapa kau masih saja bersifat keras begini?" tanya Aslan lagi bukan pergi tapi justru duduk di depan Kia.


"Ishh" Kia hanya mendesis menatap kesal ke lelaki di hadapanya itu.


"Berpikirlah dengan tenang Nyonya Kia. Tolong berfikirlah positif" tutur Aslan mulai mengajak bernegosiasi.


"Positif? Setelah melihat apa yang anda lakukan terhadapku? Positif darimana?" tanya Kia lagi emosi.


"Dengarkan dulu penjelasanku"


"Dengar apalagi? Sebenarnya apa mau anda? Aku tidak mau menikah denganmu, aku tidak rela serahkan Ipang ke kamu, tolong jangan ganggu kami. Biarkan kita bahagia sesuai dengan hidup kita sebelumnya"


"Kamu jangan GR dulu" ucap Aslan tidak ingin terlihat mengejar- ngejar Kia.


Aslan tau jika Aslan bilang ingin menikahi Kia saat ini Kia akan marah. Tamparan Kia masih jelas terasa. Aslan ingin Kia menerima cintanya baik- baik.


"Memang aku GR kenapa?" tanya Kia lagi.


"Aku janji tidak akan ganggu hidup kalian. Aku hanya ingin tetap melihat pertumbuhan dan perkembangan anak kita. Tetaplah di dekatku, jangan jauh dari ku, bekerjalah di kantorku! Walau bagaimanapun keadaan sekarang sudah terlanjur berbeda. Ipang sudah tau siapa aku"


"Aku tidak mau!"


"Ayolah Nyonya Kia yang terhormat, kenapa kau sangat keras kepala?"


"Bagaimana? Apa kau mau? Sekarang juga aku akan suruh Rendra menarik gugatanku. Bekerjalah kembali. Biarkan Ipang tinggal di asrama. Kita bisa mengawasi bersama" tutur Aslan lagi merayu.


"Apa perkataanmu bisa kupercaya?"


"Tentu saja!"


"Apa benar kau hanya ingin melihat dan mengawasi pertumbuhan Ipang? Tanpa ada niat lain?"


"Memang apalagi, apa kau ingin aku menikahimu, tentu saja aku mau, tapi bukankah kamu sendiri yang menolakku? Aku tidak akan memaksamu"


"Ehm, siapa yang ingin menikah denganmu, aku hanya khawatir terhadap Ipang. Apa yang orang katakan jika Ipang tetap berada di dekatmu dan tau dia anakmu?"


"Aku akan mengurusnya?"


"Benarkah kau mengurusnya hanya untuk mendampinginya? Aku tidak mau kau mengambilnya dariku"


"Apa aku terlihat sejahat itu?"


"Tentu saja. Kau saja mau memenjarakanku? Kau sangat jahat"


"Aku hanya ingin mengajarimu disiplin. Kau tau kau sangat emosional dan ceroboh?"


"What, kau masih saja mengataiku?"


"Ayolah Kia, kenapa kau masih saja tidak terima. Bahkan penawaranku yang baik ini masih saja kau menolaknya. Coba pikirkan apa yang dirugikan darimu jika kamu ikut kami dan kembali bekerja? Apa itu namanya bukan bodoh?"


"Aku tidak mau kau mengambil Ipang dariku" jawab Kia lagi.


"Aku tidak akan mengambilnya darimu, sudah kukatakan itu! Bagaimana mungkin aku menyakiti perasaan darah dagingku sendiri. Aku ingin bertanggung jawab terhadap kalian. Ijinkan aku menebus kesalahanku" tutur Aslan lagi.


"Tapi aku tidak mau berurusan denganmu dan menimbulkan masalah di hidupmu atau hidupku"


"Kau tau apa tentang hidupku. Kenapa kau memutuskan sendiri sebelum tau apa- apa. Benarkan kamu bodoh, setelah Ipang tahu siapa aku, apa kau tidak memikirkan perasaan Ipang?"

__ADS_1


"Berhenti mengataiku bodoh. Itu salahmu sendiri kenapa kau datang dan mengaku sebagai ayahnya? Kalau saja kau diam saja. Ipang tidak akan bergantung padamu seperti sekarang. Saya kan tetap hidup bahagia berdua denganya"


"Ck. Kau benar-benar egois. Apa kau tidak bisa membaca isi hati dan perasaa Ipang. Bahkan dia menangis di depan juri. Dia butuh aku. Dia harus tau aku"


"Aku egois? Apa kamu tidak berfikir apa kata orang jika orang tau siapa Ipang? Bagaimana perasaanku, bagaimana perasaan Ipang. Lalu apa yang akan istrimu perbuat pada kami. Aku tidak mau masuk ke masalah seperti itu" jawab Kia lagi.


"Sudah kukatakan aku akan mengurusnya"


"Mengurus bagaimana?"


"Baik aku akan pastikan tidak ada gunjingan untuk kalian. Aku akan rahasiakan Ipang sampai waktunya tiba. Aku hanya mau kalian tetap ada di dekatku. Aku mau Ipang tetap dalam pengawasanku"


"Kau janji?"


"Janji. Aku tidak akan mengambil Ipang darimu. Tapi ijinkan aku bebas menemui Ipang"


"Aku harap kau bisa menepati janjimu"


"Aku akan pastikan itu. Bagaimana kau mau kembali bekerja?"


"Kau harus janji. Jangan ganggu hidupku!"


"Iya"


"Jangan bertindak semaunya terhadapku"


"Semaunya, maksudnya? Memangnya apa yang aku lakukan?"


"Ehm" Kia berdehem maksud Kia. Kia tidak mau Aslan melakukan hal- hal seperti menciumnya. Membawanya ke tengah-tengah keramaian seperti waktu kemarin.


"Lakukan apa? Bukankah aku selalu menghormatimu? Kau yang selalu menamparku"


"Kau masih tidak merasa bersalah. Apa kau tidak ingat apa yang kau lakukan padaku saat mengantar Ipang ke karantina?" ucap Kia kesal mengingatkan ciuaman mereka.


"Oh itu?" jawan Aslan mengusap tengkuknya merasa malu.


"Apa kau bisa berjanji untuk tidak melakukanya lagi?"


Aslan diam tidak berkata. Menurut Aslan itu janji yang sangat berat. Setiap Aslan melihat bibir Kia, rasanya Aslan selalu ingin melakukanya lagi. Tapi demi agar Kia mau ikut, terpaksa mengiyakan.


"Ya aku janji, bagaimana, kau mau? Bekerjalah kembali" jawab Aslan malas.


"Masih ada syarat lagi"


"Ck. Banyak sekali maumu. Katakan!"


"Cabut tuntutanmu sekarang"


"Iya"


"Satu lagi" jawab Kia sekarang Kia justru yang menang.


"Apalagi, ya Tuhan?"


"Tempatkan aku di kantor cabangmu yang lain" tutur Kia mantap dengan ide yang lain.


"Kenapa? Seharusnya kau suka di kantor pusat, gajimu lebih tinggi dan kau terlihat keren"


"Aku tidak mau setiap hari bertemu denganmu" jawab Kia mengejek.


"Aih sialan" batin Aslan. Aslan kan ingin tetap melanjutkan rencana pedekatenya.


"Denganku? Kenapa" tanya Aslan tidak langsung setuju.


"Aku ingin memukulmu setiap melihatmu" jawab Kia terus terang. Membuat Aslan semakin gemas.


"Aish. Aku pikirkan nanti. Deal ya kamu mau kembali bekerja?"


"Setujui dulu!"


"Maksudku aku pikirkan di bagian mana tempat yang cocok untukmu bekerja!" jawab Aslan dalam hati. Yang penting sekarang Kia mau dulu. Masalah nanti di Ibukota Aslan bisa ubah perjanjian sesukanya. Toh Kia tidak secerdas Aslan membuat surat perjanjian tertulis.


"Hemmm ya! Cabut tuntutanku" pinta Kia lagi tidak kalah cerdas.

__ADS_1


Kia berfikir urusan polisi harus diselesaikan dahulu. Akan dia ambil surat kontraknya, ke ibukota atau tidak, akan Kia pikirkan nanti.


"Ya" jawab Aslan merasa puas.


__ADS_2