
Setelah diputuskan, Alena dan Pangeran diberi waktu untuk menemui ibunya, mereka ke kamar masing-masing. Ipang pun langsung menghambur ke pelukan ibunya. Melepaskan semua gundah dan pilunya, Kia memang rumah Ipang yang sesungguhnya.
Kia pun meyambutnya memeluk hangat putra kecilnya itu. Di dekapnya erat, memberitahu ke anaknya bahwa dalam hidupnya ada Kia yang siap melakukan apa saja untuknya.
“Ibu maafin Ipang,” bisik Ipang, masih sempat meminta maaf dan membuat Kia terhenyak.
“Kenapa sayangnya ibu minta maaf Nak? Memang kamu salah apa?” tanya Kia lembut, Kia jongkok mensejajarkan tingginya dengan putranya dan memegang pipi Ipang dengan hangat.
“Maafin Ipang, karena Ipang balas memukul Alena, maafin Ipang karena Ipang ibu jadi harus bertengkar dengan ibunya Alena, maafin Ipang karena udah buat ibu sedih” tutur Ipang tulus dan polos dengan mata nanarnya.
Tentu saja sebagai ibu, yang mencintai anaknya, belum lagi dengan Kia yang menyadari kekurangan dan kesalahanya, kata- kata Ipang yang menyambar ke telinga Kia membuat Kia teriris. Hati Kia seperti tersayat, seharusnya Kia yang meminta maaf. Karena ibu dan bapaknya, Pangeran yang tidak tahu apapun harus menanggung semua ini.
Air mata Kia pun memenuhi kelopak matanya. Tidak mau menampakan kerapuhanya, Kia memeluk Ipang lagi agar Ipang tidak melihat Kia meneteskan air mata.
“Apa kamu menyesal karena sudah memukulnya?” tanya Kia pelan. Setelah air matanya lolos.
“Iya Bu, Ipang menyesal, ibu kan sudah berpesan pada Ipang, sebagai laki- laki Ipang tidak boleh memukul perempuan” jawab Ipang polos.
“Kalau ibu boleh tau, kenapa Ipang sampai membalas memukulnya? Ceritakan pada ibu Nak” tutur Kia lembut.
“Alena mendorongku Bu, Alena juga menyiram air kotor padaku. Terus Alena bilang ibu bukan perempuan baik- baik. Seperti yang ibu Alena katakan, ibu perempuan ja*ang, murahan. Ipang tidak mau ibu dikatai begitu, buat Ipang, ibu, ibu yang paling baik sedunia. Ipang benci Alena dan ibunya Bu” tutur Ipang lagi.
Dan kali ini kata- kata Ipang benar- benar semakin membuat Kia teriris, sakit sekali, sekaligus bangga.
Pertahanan Kia pun jebol, kini Kia tidak bisa menyembunyikan buliran air matanya yang keluar tanpa permisi membasahi pipinya. Kia tidak bisa berkata- kata lagi, bagaimana merangkai kata memberi pengertian ke Ipang.
“Ibu kenapa menangis? Ibu jangan menangis!” tutur Ipang lirih, dan Ipang mengulurkan tangan kecilnya menyapu air mata Kia dengan lembut. Kia kemudian memegang tangan Ipang dan menciuminya.
Karena tanpa ayah dan kehadiran sesosok laki- laki, didikan Ipang memang didikan dari prinsip- prinsip Kia yang lembut. Apalagi Kia tinggal di yayasan, jadi Ipang terbentuk menjadi laki- laki yang sensitif, meski dalam beberapa hal, sifat dingin Aslan terkadang masih melekat dan menurun pada Ipang.
“Terima kasih Sayang. Maafkan ibu dan ayah ya, karena kesalahan kami, kamu harus menerima semua ini. Dengarkan ibu ya!” ucap Kia kemudian.
__ADS_1
Kia membiasakan diri mengakui kesalahan meski pada anaknya. Meski Koa belum bisa jelaskan apa kesalahan mereka.
“Iya Bu”
“Kamu tidak pernah membuat Ibu sedih Sayang, Ipang kebahagiaan Ibu. Dan Ipang masih ingat tentang lebah kan? Jika kamu bisa menghindar, contoh terbaik dalam hidup kita memang rosululloh. Yang selalu membalas kejahatan dengan kebaikan dan lemah lembut”
“Kamu memang dilarang memukul orang, siapapun itu. Ibu nggak benci dan marah sama Ipang, karena lebah juga akan menyengat jika terancam. Ibu mengerti kamu menyengatnya karena kamu merasakan sakit. Tapi kalau kamu bisa menghindar, jauhi hal itu ya!"
"Iya Bu"
"Dalam hidup untuk menjadi dewasa dan benar, kita memang akan ditemukan dengan beberapa kesalahan"
“Ibu tidak membenarkanmu, ibu juga tidak salahkan Ipang. Tapi Ipang harus belajar, jika Ipang membalas Alena dengan hal yang sama apa yang Ipang dapat? Lalu kalau Ipang menghindar pergi dan tidak meladeninya apa juga yang Ipang dapat? Mana yang menurut Ipang benar dan banyak manfaatnya itulah jalan yang harus Ipang pilih ke depanya nanti. Apa kamu pahaam maksud ibu?” tutur Kia panjang kali lebar kali tinggi ingin membuat Ipang dewasa dan tidak mudah terpancing emosinya.
“Jadi Ipang harus bagaimana Bu?” tanya Ipang.
“Diakui atau tidak akui oleh Alena, kenyataan ayah Aslan adalah ayahmu, itu tidak akan berubah. Dan tentang ibu, apapun kata orang tentang ibu, kan Ipang yang tau, merasakan ibu seperti apa? Ipang ingat kan pesan ibu, yang berhak menilai kita itu Tuhan. Kita hanya perlu berbuat baik, selalu meminta maaf pada Tuhan. Apa kata orang biarkan saja!” tutur Kia lembut.
“Iya Bu”
“Iya, Ipang harus berfikir manfaat, dan apa yang akan terjadi selanjutnya terhadap apa yang Ipang lakukan” jawab Ipang menangkap nasehat ibunya.
Ki pun tersenyum haru dengan mata nanarnya. Kia berharap Ipang bisa menjadi laki- laki yang pandai menjaga emosinya kelak. Kia ingin agar Ipang menjadi laki- laki yang selalu melangkah dengan tepat dan di jalan kebaikan.
“Sayangnya ibuk memang terbaik, terima kasih sudah jadi anak ibu Nak, ibu sayang sama Ipang” tutur Kia menciumi kepala dan kening putranya.
“Kenapa ibu, menampar ibunya Alena?” tanyab Ipang cerdas. Anak memang mencontoh dan kritis terhadap apa yang dia lihat.
“Ehm” Kia pun terskak matt oleh pertanyaan anaknya, sesaat Kia menelan ludahnya mencari alasan untuk menjelaskan.
“Ibu salah Nak. Ibu minta maaf, ibu melakukan itu, karena dia kan orang tua, tapi dia membuat anak ibu yang masih kecil menangis dan dia menyakiti tanganmu. Jadi ibu ingin memberitahu dia, jangan sakiti anak kecil, dan biar dia rasakan sakit juga. Jangan ditiru ya! Ibu tidak bisa lihat anak ibu menangis” jawab Kia malu kedapatan kesalahan di depan anaknya.
__ADS_1
“Apa mommy Alena yang dulu membuat ibu dan ayaah terpisah?” tanya Ipang tiba- tiba entah darimana Ipang bis berfikir begitu.
“Heh?” tanya Kia kaget. Bagaimana menjelaskan ke anaknya tentang kisah cinta mereka.
Kia berfikir lagi, ternyata mempunyai anak pintar juga ada sisi sulitnya. Anak akan banyak pertanyaan yang membuat Kia pusing. Dan belum sempat Kia menjawab, pintu kamar Ipang diketok.
Kia kemudian bangun dan membukakan pintu kamar Ipang. Rupanya salah satu pengasuk Ipang datang. Dia hendak memberitahu dengan siapa Ipang akan tinggal dan dibimbing.
“Mohon maaf mengganggu Nyonya”
“Iya ada apa Bu?” jawab Kia
“Setelah kami diskusikan, Pangeran akan dibimbing oleh Tuan Alfin Bagaskara, dia salah satu musisi yang menjadi juri di acar bintang kecil. 15 menit lagi tim kami akan berangkat mengantar kan Pangeran ke rumahnya” tutur Pengasuh Ipang.
Tuan Alvin Bagaskara seorang musisi terkenal di negara itu. Dia juga mempunyai rumah produksi yang mengorbitkan beberapa penyanyi terkenal. Salah satunya adalah Jeje. Jeje berhasil menembus pasar nasional semenjak diajak dan diorbitkan Tuan Alvin Bagaskara.
“Baiklah terima kasih” jawab Kia tersenyum dan mengangguk.
“Kami beri waktu 15 menit untuk berkemas Nyonya” tutur Pengasuh lagi.
“Iya” jawab Kia.
Pengasuh itupun pergi meninggalkan kamar Ipang. Kia dan Ipang pun paham, mereka langsung berkemas.
“Sayang, tentang pertanyaanmu, suatu saat akan ibu dan ayah jelaskan ya. Kamu tidak perlu memikirkan itu. Yang penting ingat pesan ibu. Harus hati- hati. Ingat selalu sholat, dan kalau ada yang jahat sama kamu, menghindar, kalau tidak bisa menghindar baru kamu lawan. Minta pertolongan pada orang lain dan kabari ibu ya. Belejarlah dengan baik, raih cita- cita kamu. Tapi menang ataupun kalah Ipang tetap juara di hati ibu,” pesan Kia lagi.
“Iya Bu!” jawab Ipang.
Setelah berkemas Kia mengantarkan Ipang. Ipang diantar oleh tim dari ITV dan Kia hanya bisa pasrah mengantarkan Ipang berjuang meraih impianya.
*****
__ADS_1
Buat yang kangen Aslan sabar ya.
Insya Alloh abis ini Up lagi di hari ini.