Sang Pangeran

Sang Pangeran
114. Masuk Yuk!


__ADS_3

Satu lagu karya dari Tulus yang 1000 tahun lamanya berhasil dibawakan Satya dan Rendra. Orang-orang terdekat Aslan hari itu bersenang-senang, seru-seruan seperti anak muda.


Tawa Rendra lenyap seketika setelah mengedarkan pandangan tapi gandengan jalanya tidak ada. Rendra kemudian menghampiri Cyntia yang tampak asik memainkan ponselnya di dekat kolam.


"Nyonya Cyntia!" sapa Rendra.


"Ya!" jawab Cyntia santai.


"Apa anda melihat partner saya. Yang tadi duduk di depan anda?" tanya Rendra.


"Tidak!" jawab Cyntia dengan ekspresi bete.


"Baik terima kasih!" jawab Rendra pamit dan pergi meninggalkan Cyntia.


"Hhh... sayang banget sih orang sebaik Pak Rendra dapet perempuan plastik kaya si Meta itu!" batin Cyntia menatap punggung Rendra yang menjauh dan tampak panik mencari pacarnya.


Saat Rendra mencari Cyntia, Rendra berpapasan dengan Ranti yang tampak makan dengan rakus sajian yang dihidangkan Aslan.


"Permisi Bu!" sapa Rendra ke Ranti.


"Eh iya Tuan Ganteng. Ada apa?"


"Apa lihat perempuan yang memakai dress brukat warna peach yang rambutnya sebahu? Yang tadi duduk di sini?"


"Oh mbak cantik itu? Dia tadi bertengkar dengan Mbak artis yang duduk di sana. Terus pergi," jawab Ranti mengadu.


"Bertengkar?" tanya Rendra melirik ke Cyntia yang duduk santai bermain hp.


"Mereka tadi adu mulut dan dorong- dorongan kursi! Terus Non cantik satunya pergi. Kalau nggak salah sih diusir sama Mbak Artis itu!" adu Ranti lagi.


Rendra kemudian mengepalkan tanganya.


"Apa sudah lama?" tanya Rendra lagi.


"Belum!" jawab Ranti.


Mendengar cerita Ranti, Rendra jadi kesal ke Cyntia. Rendra berlari ke luar rumah Kia lewat pintu samping. Rendra mengejar Meta, dari kejauhan Rendra masih melihat Meta berdiri menunggu taksi, Rendra memanggil Meta dan mengejarnya, tapi Rendra keduluan taksi.


"Hah... " Rendra membuang nafasnya yang ngos-ngosan.


Rendra berhenti sejenak mengatur nafasnya. Setela nafas dan deguban jantungnya normal Rendra berjalan pelan dan malas balik ke rumah Kia.


Rendra menyandarkan badanya di bamper mobilnya sambil memegang keningnya. Niat Rendra adalah mengajak Meta bergabung dengan orang terdekatnya, agar Meta tahu kehidupan Rendra, berbaur dan menyatu dengan sahabatnya. Rencanaya Rendra akan melamar Meta dalam waktu dekat.


"Kenapa sangat sulit membuatmu mengerti Sayang?" batin Rendra.


Niat dan rencana Rendra berantakan, sepertinya setelah ini Rendra harus eksra merayu Meta agar mereka baikan. Rendra kemudian masuk kembali ke acara.


Mami Asha dan temanya tampak menyudahi seru-seruan mereka. Satya, Aslan dan lain duduk membentuk lingkaran di meja yang tersedia tampak menikmati hidangan.

__ADS_1


"Eh Ren, darimana lo? Sini makan!" tanya Satya.


"Iya, gue udah makan." jawab Rendra lesu.


"Mana pacar Lo? Kok udah nggak ada?" tanya Mami Asha.


Rendra kemudian melirik ke Cyntia, Manda dan Kia yang tampak sedang selfi-selfie di dekat kolam.


"Sory dia ada perlu, jadi dia pamit pulang duluan." jawab Rendra menyembunyikan kejelekan pacarnya.


"Ehm... ehm... " Aslan kemudian berdehem mengeraskan gesekan sendok dan piringnya.


Mami Asha dan Satya spontan menoleh ke Aslan, tapi mereka salah paham. Mereka mengira gerakan dan bahasa tubuh Aslan itu menyuruh mereka segera makan dan pergi. Padahal Aslan kesal ke Rendra yang membawa Meta tanpa ijinya.


Satya dan Mami Asha kemudian menyegerakan makanya agar cepat selesai. Rendra sendiri sudah tidak mut ada di acara itu. Rendra kemudian pamit mendahului teman- temanya.


Dan setelah makan, Satya, Mami Asha dan yang lain pamit.


"Pokoknya doa baik buat kalian Pak Bos. Hiduplah dengan baik, kasian karyawanmu kalau atasanya marah-marah terus, habis ini harus happy. Kutunggu undangan party sesungguhnya!" ucap Mami Asha ke Aslan.


Aslan mengangguk.


"Siap!"


Mami Asha melirik ke Ipang dan Daffa yang tampak asik bermain mobil remote dengan Rafli. Mami Asha ikut bahagia melihat tawa Ipang sekarang.


Rombongan Mami Asha pergi. Aslan dan Satya berjalan bersama menghampiri para istri mereka yang sedang berfoto ria.


Mendengar kata penganten baru Kia tersipu, meski yang diajak pulang Satya, Manda, tapi Cyntia ikut tersinggug. Kalau Manda dan Satya adik Aslan saja mau pergi, berarti Cyntia juga harus pergi.


"Ayuk! Mommy juga mau shopping Dad, Daffa mana?" jawab Manda memasukan ponselnya dan merapikan dirinya hendak pulang.


"Masih siang kok. Daffa dan Ipang juga keliatanya lagi asik bermain, tinggalah lebih lama! Jangan buru-buru pergi!" sahut Kia menimpali.


"Udah biarin, Sayang. Orang mereka mau jalan-jalan nggak usah dilarang larang!" jawab Aslan malah terkesan mengusir adiknya.


"Ish... " Kia dan Manda mendesis mereka paham kelakuan Aslan.


"Iya ya. Kami pergi, bilang aja mau berduaan!" jawab Manda.


"Daffa, kita pulang yuk!" panggil Manda ke anaknya.


"Daffa masih mau main Mom..." jawab Daffa masih betah bermain dengan sepupunya.


"Hemm," Manda berdehem melirik ke Aslan.


"Katanya mau main ke gamezone. Jadi nggak nih?" rayu Manda.


"Jadi..." teriak Daffa berdiri.

__ADS_1


"Mom, ajak Ipang ya!" pinta Daffa.


"Boleh!" jawab Manda mengangguk. Kalau Ipang diajak, biar Aslan dan Kia bisa berduaan.


Tapi Ipang melirik ke Rafli.


"Daffa, I am sory. Ipang tidak bisa ikut, ada adek Rafli" jawab Ipang baik.


Danu yang paham situasi, meski dari tadi memisahkan diri karena merasa tidak kenal dan bukan komunitasnya, sekarang mendekat.


"Rafli mau pulang juga kok. Pangeran ikut Daffa aja nggak apa-apa!" jawab Danu menggendong anaknya.


Ipang jadi bingung, mau ikut Daffa sepupu dari ayahnya, apa di rumah temani sepupu dari ibunya. Ipang kemudian berlari mendekat ke ibunya yang masih memakai kebaya.


"Ipang ingin ikut?" tanya Kia pengertian.


"Ikut aja nggak apa-apa. Nanti ayah jemput!" sambung Aslan semangat kalau Ipang pergi bisa deketin Kia.


"Iya. Ipang ikut Daffa dulu ya Bu!" jawab Ipang polos


"Harus jadi anak baik, nggak boleh repotin Om Satya dan tante Manda ya!" bisik Kia mengelus rambut Ipang.


"Ya Bu!" jawab Ipang.


Ipang pun melepas genggaman tangan ibunya, tapi mendekat ke Rafli.


"Adek Rafli, Kak Ipang pergi dulu ya. Besok main lagi," pamit Ipang baik ke Rafli.


"Iya..." jawab Rafli dengan ejaan cedalnya. Danu juga ikut mengangguk, sementara Ranti tampak kesal.


Satya, Manda, Daffa dan Pangeran kemudian pergi meninggalkan rumah Kia. Kini tinggal Danu, Ranti, Rafli, Cyntia dan pekerja. Cyntia juga ikut undur diri ke kamarnya. Danu juga pamit ke Aslan.


"Biar, kakak Ipar diantar sopir Kak. Istirahatlah dulu!" ucap Aslan ke Kakak Iparnya.


"Terima kasih, kami bisa pulang sendiri," jawab Danu menolak halus. Danu masih menyimpan rasa bersalah dan tau diri. Berbeda dengan Ranti, saat suaminya menolak, Ranti langsung mencubit pinggang Danu.


Untungnya Danu yang sudah trauma merasakan kehilangan anak pertama dan adiknya bisa menolak tegas istrinya yang menurutnya salah.


"Tidak apa-apa Kak. Masa datang dijemput pulang nggak diantar. Berkemaslah dulu!" sambung Aslan lagi.


"Baiklah, kami berkemas-kemas dulu!" jawab Ranti menyerobot.


"Ya!" jawab Aslan dingin.


Ranti kemudian menarik tangan suaminya agar ikut dirinya ke kamar. Kini tinggal Kia dan Aslan berdua, karena yang lain tampak beberes tempat.


"Ehm," Kia berdehem salah tingkah saat tidak orang, tiba-tiba Kia merasa merinding dan panas dingin. Canggung sekali berduaan dan berhadapan dengan Aslan.


"Kenapa berdiri di sini?" tanya Aslan.

__ADS_1


"Nggak!"


"Kayaknya mendung, sepertinya mau ujan! Masuk yuk!" ajak Aslan ke Kia meraih tangan Kia.


__ADS_2