
Malam kelam mulai memudar, langit yang hitam mulai berganti. Sang Fajar mulai datang mengintip manja, menghangatakan dunia. Datang membawa terang setelah semalam gelap diguyur hujan.
Hari itu ada hati yang selama bertahun-tahun dingin berselimut salju. Kini mulai menghangat.
Aslan bangun pagi-pagi. Tidak peduli istrinya sudah tiba di rumah atau belum. Aslan tidak peduli lagi. Rasa marah, dan kesal seperti sudah berkarat dan kadaluarsa.
Aslan menjadi acuh, tanpa rasa. Bahkan semenjak tinggal di rumah barunya itu, mereka pisah ranjang. Paul sering pulang malam, begitu juga Aslan.
"Viiuut viiuuut" Aslan justru bersiul dan berdendang sendiri di kamar mandi. Tidak ada kegusaran sama sekali padahal istrinya belum pulang tidak tahu kemana.
Setelah selesai mandi, Aslan memilih baju kerjanya sendiri. Aslan mengambil kemeja dengan warna cerah, biru muda. Padahal biasanya Aslan hampir selalu memilih warna gelap.
Setelah menata rambutnya, memastikan dirinya terlihat ganteng maksimal. Aslan menyemprotkan minyak wangi. Kemudian turun, menyantap sarapan yang sudah disediakan Mbok Mina dan pembantu lain.
"Tumben Tuan masih pagi sudah rapih" puji Mbok Mina bahagia melihat tuanya tampak berbinar-binar.
"Mau mampir, jengukin anak Mbok" jawab Aslan percaya diri.
"Oh titip salam buat Non Alena" ucap Mbok Mina, Mbok Mina mengira Aslan akan jenguk Alena.
"Ya" jawab Aslan mengangguk, dia juga nanti akan ketemu Alena.
Lalu Aslan mengambil sandwich, memakanya dengan tenang, setelah itu meneguk segelas susu.
Dari luar rumah terdengar suara mobil datang. Pintu rumah pun terbuka, suara heels yang menggema terdengar di telinga Aslan.
"Masih ingat jalan pulang rupanya?" tanya Aslan menyindir, saat Paul melewati meja makan. Paul datang langsung masuk tanpa mengucap salam, apalagi mencium tangan suaminya.
"Apa maksud perkataanmu?" jawah Paul kasar.
"Jadi ini alasanmu mengirim Alena ikut audisi? Jadi kau sudah bosan mengurus anakmu sendiri?" tanya Aslan sadis.
"Ck. Bukanya kamu tidak peduli?"
"Aku memang tidak peduli, aku hanya ngeri melihat ibu sepertimu!"
"Kamu pikir kamu ayah macam apa? Hah! Ingat, Alen urusanku! Dan sudah kukatakan, aku hanya ingin dia mengembangkan bakatnya, Alena akan bahagia dan menemukan dunianya di sana" jawab Paul membela diri.
"Hah, hahahaha" Aslan tertawa sinis.
"Ya Alena bahagia, dan terlebih kamu. Kamu lebih bebas pulang pagi tanpa beban, begitu kan?" tutur Aslan lagi
"Cukup ya Aslan! Ingat perjanjian kita, kamu tidak berhak mengaturku lagi, ini hakku untuk melanjutkan karirku, aku bebas memilih jalanku" jawab Paul semakin berani.
Aslan mengepalkan tangan dan mengeratkan rahangnya.
"Baik, silahkan lakukan apa yang kamu suka! Lantas sampai kapan kita akan akhiri sandiwara ini?" tanya Aslan geram ingin segera mengakhiri pernikahanya.
"Terserah kamu saja, kalau kau siap menanggung akibatnya, lakukan kalau kau mau" jawab Paul menang.
Paulina menatap Aslan dan dengan wajah menantang. Paulina tau, Aslan tidak akan mudah menceraikanya.
Aslan diam tidak menjawab perkatan Paul. Wajah yang tadi berseri-seri berubah bermuram durja.
"Ceraikan aku kalau kau bisa, kamu tidak akan bisa menceraikanku, Tuan Aslan!" ucap Paul dengan nada sinisnya kemudian berlalu meninggalkan Aslan.
"Praaang"
Aslan seketika melempar semua piring yang ada di meja. Perabotan cantik dan mahal itu pecah berkeping-keping berserakan di lantai.
"Sialan. Secepatnya akan kuakhiri sandiwara, ini, kamu pikir kamu siapa Paulina?" batin Aslan geram.
Mbok Mina dan pembantu lain gemetaran berlidung di balik dinding mendengar piring berjatuhan. Itu makanan sehari-hari mereka jika kedua majikanya itu di rumah.
Hunian mewah yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman akan berubah menjadi arena perang. Perang adu mulut yang saling bersahut-sahutan.
Kedua insan yang sama-sama merasa hebat tidak ada yang mau mengalah. Saling merasa benar dan melempar kesalahan. Mereka tidak terlihat seperti pasangan. Tapi lebih ke dua orang bermusuhan yang dipaksa bersama.
"Mbok saya berangkat!" pamit Aslan ke Mbok Mina.
Aslan tau di balik dinding ada pembantunya. Pembantu yang justru Aslan perlakukan seperti ibunya.
__ADS_1
Mbok Mina keluar dari tempat persembunyianya. Mbok Mina menatap iba, ke anak kecil tampan di matanya itu.
Aslan mempunyai kehidupan yang sempurna dari segi harta, tapi tidak dengan rumah tangganya.
Hanya Mbok Mina yang tahu persis bagaimana kesepianya seorang Aslan Nareswara menghabiskan hidupnya.
"Hati-hati Tuan" tutur Mbok Mina lembut.
"Iya Mbok. Tolong suruh Tika bersihkan pecahan piringnya" perintah Aslan.
"Iya Tuan. Tuan Muda, baik-baik saja kan?"
"Mbok nggak usah khawatir saya baik-baik saja" jawab Aslan lalu keluar dari rumahnya.
Mbok Mina menghela nafasnya. Entah kenapa Aslan hoby memecahkan piring. Untung saja kaya jadi stok piringnya banyak.
****
Tempat karantina.
Hari itu jadwal pelajaran koreografi. Setelah sarapan bersama anak-anak diarahkan menuju ke ruang khusus yang tampak seperti aula tapi berdinding cermin mengelilingi.
Alena dan anak-anak perempuan tampak ceria dan heboh hendak mendapatkan pelajaran menari itu.
Berbeda dengan peserta laki-laki, Si Ipang dan Daffa. Mereka sangat malas dan tidak berselera. Bahkan mereka tidak ikut masuk dan justru duduk-duduk di teras depan kamar mereka.
"Lihatlah saudaramu itu, aku sangat membencinya" ucap Daffa curhat ke Ipang menunjuk ke Alena.
Meski masih kecil Alena sudah pandai berdandan, memakai baju seksi dan aksesori macam-macam.
Setelah hari kemarin, Aslan memberitahu Daffa dan Ipang, mereka bersaudara. Ipang adalah anak Aslan. Ipang dan Daffa pun sangat senang menyambutnya.
"Apa sungguh dia saudaraku?" tanya Ipang memperhatikan Alena dengan baik dan masih berfikir.
"Kata uncle, kau kan anak uncle, itu berarti dia kakakmu. Kata mommy begitu" jawab Daffa polos.
"Tapi dia terlihat membenciku, dia tidak mau aku menjadi saudaranya"
"Tenang saja ada aku, aku sangat senang kamu menjadi saudaraku" jawab Daffa lagi.
"Benarkah?"
"Iya"
"Alena suka mengadu pada Oma, aku selalu disalahkan. Kau, tinggalah bersama kami" ajak Daffa polos.
"Memang dimana rumahmu?"
"Aku di rumah Utama. Kau bilang saja pada uncle. Pasti Uncle akan mengajakmu!"
"Benarkah? Baiklah nanti akan kuajak Ibuku agar pulang bersama Ayah"
"Iya, ayah dan anak itu seharusnya tinggal bersama, kenapa kamu baru datang? Aku sangat ingin punya saudara laki-laki"
"Iya, selama ini aku menunggu ayah. Ayah telat menemuiku, dia juga bilang begitu"
"Tidak apa-apa, yang penting kau sekarang bersamaku, aku sangat bahagia"
"Iya. Oh ya aku malas mengikuti kelas menari"ucap Ipang jujur.
"Sama aku juga, aku kira kamu masuk ke sini karena kau suka di sini"
"Tidak, aku kesini karena mau bertemu ayah dan keluarga ibuku. Ini alasan untuk amu bisa ke Ibukota. Sekarang aku sudah bertemu ayah. Jadi aku tidak bersemangat lagi" Ipang bercerita dengan polosnya.
"Benarkah?" tanya Daffa kegirangan.
"Iya" Ipang mengangguk.
"Sama aku juga, aku ikut kesini karena aku kesal dimarahi oma terus?"
"Apa omamu, omaku juga?"
__ADS_1
"Tentu saja, ayahmu dan ayahku kan saudara"
"Aku jadi ingin ketemu Oma. Oh iya Dari pada ke kelas menari kita main bola saja yuk!" ajak Ipang nakal.
"Ayok!"
Akhirnya kedua sepupu itu berlari ke tempat olahraga. Mereka membolos dan tidak pamit kesiapapun.
Saat kelas dimulai semua kebingungan mencari Ipang dan Daffa. Dan di saat yang bersamaan, Sang Ayah, Aslan Nareswara tiba.
Pegawai hotel, petugas kamera yang merekam kegiatan anak-anak bintang junior dan pelatih menyambut Aslan dengan hormat. Mereka semua tahu Aslan pemilik hotel dan stasiun ITV.
"Selamat Pagi Tuan" sapa pegawai Aslan hormat menyapa Aslan.
"Saya mau menemui anak saya" ucap Aslan dingin.
"Silahkan" jawab pegawai Aslan membukakan pintu. Mereka mengira Aslan hendak menemui Alena.
"Daddyy" teriak Alena mendengar suara Aslan. Alena langsung lari memeluk Aslan.
Aslan membalas memeluk Alena dengan membungkukan badanya. Alena sangat senang dibuatnya.
Aslan tersenyum dingin, mengusap rambut Alena. Kemudian mata Aslan melihat ke dalam kelas, mencari Daffa dan Ipang.
Aslan melepaskan Alena.
"Berlatihlah dengan baik Nak" ucap Aslan ke Alena. Alena kembali ke rombongan anak-anak.
Aslan pun mendekat ke pelatih dan peserta Bintang Junior.
"Maaf saya mengganggu latian" ucap Aslan dingin.
"Tidak apa-apa Tuan" jawab Pelatih yang sudah kenal dengan Aslan, mengira Aslan ingin mengawasi sekaligus menjenguk putrinya.
"Kenapa hanya ada 8 anak?" tanya Aslan mencari Daffa dan Ipang.
"Daffa dan Pangeran sepertinya telat masuk. Tadi sewaktu sarapan mereka ada, kami sedang mencarinya." jawab salah satu karywan hotel.
Aslan tampak geram mendengarnya. Kenapa pihak karantina sampai lengah menjaga anak-anak.
"Ck. Kalian tau mereka anak kecil? Kenapa bisa teledor. Temukan mereka!" bentak Aslan tiba-tiba.
Semua pegawai tampak kaget, tiba-tiba Aslan marah.
"Maaf Tuan" jawab pegawai.
"Periksa cctv!" ucap Aslan tegas.
Lalu para pegawai, pelatih kameramen semua menurut.
"Kalian lanjutkan latian!" perintah Aslan ke pelatih koreo.
"Baik Tuan"
Pegawai tempat karantina kemudian membawa Aslan ke tempat cctv.
*****
Hai hai semua readers tersayang.
Salam kenal dari Author.
Selamat datang di novel keduaku ya. Maaf Author masih belajar.
Novel ini murni khayalan author dalam rangka mengikuti event lomba.
Meski banyak kekurangan, semoga menghibur dan disukai.
Mohon dukungan like dan koment membangun dan vote favorit ya. Agar Author semangat dan bisa belajar nulis dengan baik.
Oh iya kalau suka, karya ini dibuat untuk dibaca bukan diplagiat. Hargai kerja keras author ya.
__ADS_1
Semoga suka.
Happy reading"