Sang Pangeran

Sang Pangeran
BC ~ 2


__ADS_3

Cyntia menunduk merasa tidak nyaman ke Umma kemudian tersenyum ke Kikan, Alena dan yang lain. 


“Insya Alloh, kata dokter 70 % Babynya girl! Tapi karena masih usia 17 minggu, dokter belum berani meyatakan dengan pasti, kita lihat nanti sebulan lagi, tiap bula priksa kan priksa,” tutur Cyntia. 


“Yeaaay! Yes... yes.... pasti girl” Alena langsung berjingkat dan bepelukan dengan Kikan.


Mereka sangat bahagia kelak akan punya mainan baru. Bayangan mereka ponakan perempuan bisa diajak make up make upan, didandani, aah banyak sekali. 


Sementara Umma langsung bernafas lemas. Kia tersenyum getir, bahagia, iri, mengerti apa yang akan terjadi di masa depan dan juga mengerti perasaan Umma. 


“Umma kok sedih? Emang kenapa Umma?” celetuk Alena melihat Umma terdiam..


Kia yang sudah tahu hukumnya, hanya menelan ludahnya merasa tidak nyaman, Alena kan masih kecil. Alena juga sama seperti bayi Cyntia. Mereka tak bernasab. 


Meski pernikahan Rendra dan Cyntia sah, tapi tetap saja anak yang datang sebelum pernikahan tak bernasab. Ayahnya tidak bisa menjadi walinya meski kandung dan sudah menikah.


Warga memang tidak ada yang curiga karena Rendra dan Cyntia warga baru tidak tahu kapan menihah, tahunya keluarga Rendra datang dengan formasi utuh dan baik- baik saja.


Mereka menikah di tempat yang berbeda, tertutup juga.


Cyntia juga tidak mengenalkan diri terhadap ibu- ibu komplek penggemarnya. Cyntia lebih banyak di dalam rumah. Sementara bapak yang datang ke rumah tak pernah detail memperhatikan keluarga Cyntia.


Meski secara hukum negara atau masyarakat, bisa didesain sedemikian rupa, berbohong dan tidak ketahuan agar bisa tertulis di akta kelahiran, tetap saja, di hadapan Tuhan mereka tidak bisa berbohong. Anak Cyntia ada sebelum orang tua menikah.


“Nggak apa- apa, Sayang. Umma nggak sedih kok, Umma Cuma nggak mau cantiknya tersaingi kalau baby Aunty Cyntia girl!” jawab Kia mencairkan suasana agar tidak canggung.


Semua pun tertawa mendengar jawab Kia.


Umma diam karena di saat itu banyak orang, Umma juga tidak mau membuka aib keponakan dan istrinya itu. Tapi Umma tetap akan menyampaikan kebenaran, jika benar kelak anak Cyntia perempuan ada beberapa ketentuan yang harus mereka tanggung sebagai konsekuensi kesalahan yang mereka lakukan. 


Setelah suasana mencair, semua keluarga ikut berdoa, mendegarkan para bapak dan anak laki- laki mengaji, setelah itu mengucap aamin bersama lalu mendengarkan ceramah. 


Setelah acara pengajian selesai, dengan kompak, Rendra dan Cyntia membagikan uang dan makanan untuk anak- anak panti asuhan yang mereka undang. 


“Doakan baby kami sehat dan jadi anak sholeh/ sholehah ya!” tutur Cyntia manis ketamunya di samping Rendra, Rendra pun menemani Cyntia dengan setia, bahkan sesekali merangkul pundaknya. 


Jika di hadapan banyak orang Cyntia akan sangat lembut dan mesra. Cyntia juga banyak melebarkan senyum, berbeda jika mereka sudah masuk ke kamar. Rendra sangat bahagia sekali melihat itu. Sekilas, Cyntia terlihat sangaat menghormati dan mencintai Rendra.  


“Udah selesai?” bisik Rendra ke Cyntia setelah barisan terakhir anak panti melewati mereka. 


“Sepertinya udah!” jawab Cyntia mimik ramahnya mulai munyurut. 


Pengurus panti dan warga kemudian pamitan. 

__ADS_1


“Terima Kasih, Tuan Rendra dan Nyonya Cyntia, semoga kehamilanya selalu sehat, bayi dan ibunya sehay, semoga dilancarkan persalinanya!” tutur para tamu yang berpamitan. 


“Teriman kasih... terima kasih!” jawab Rendra dan Cyntia. 


Sekarang giliran teman- teman dan keluarga inti. 


“Lhoh... Kak Satya, Daffa , Kak Manda pulang juga?” tanya Cyntia melihat mantan bos yang sekarang jadi saudara sepupunya bersiap pulang.


“Bang Satya ada acara lain, Daffa sama aku mau temenin Papa terapi!” jawab Manda memberi alasan, Tuan Agung memang masih perawatan terpi struk, setelah Nyonya Wina dipenjara Manda yang harus telaten merawat Tuan Agung. 


“Oke, salam buat Om Agung! Makasih udah dateng!” jawab Rendra. 


Semua saudara dan teman Rendra berpamitan dan pulang, terakhir keluarga Aslan.


Karena Pangeran tertidur saat mengaji, dan Alena yang tertidur karena capek bermain bersama Kikan, Aslan dan Kia masih ada di situ. 


“Biarin aja, Alena dan Pangeran tidur di sini!” tutur Rendra masuk melihat Kia dan Aslan rundingan hendak menggendong Pangeran yang tertidur. 


“Nanti repotin kalian!” jawab Kia. 


“Iya Kak, nggak apa- apa! Udah sana Kak Aslan sama Kak Kia kalau mau pergi, pergi aja! Alena biar sama Kikan, Pangeran biar  sama Umma dan Mbok Mina. Mbok Mina biar di sini dulu nggak apa- apa kan?” jawab Kikan menyahut.


Aslan dan Kia saling pandang. Aslan pun setuju, biar saja Alena dan Pangeran main di rumah om nya bersama tante dan neneknya. 


Aslan dan Kia kemudian pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan keadaan dirinya. Aslan dan Kia mau program hamil, Kia ingin samaan bareng Cyntia hamilnya. 


Karena lelah, Cyntia dan Rendra masuk ke kamar. 


“Aku pegel!” keluh Cyntia sampai kamar dengan wajah manjanya.


“Hhhh!” Rendra menghela nafasnya sabar.


Rendra juga lelah, gerah dan risih memakai baju warna fanta. Tapi pasal satu dalam menghadapi ibu hamil satu ini, Rendra dilarang mengeluh karena yang boleh bilang lelah dan capek hanyalah Cyntia. 


“Ya... mau aku pijitin?” tawar Rendra sabar.


“Iya...” jawab Cyntia.


“Ya udah sini aku pijitin, mana yang pegel?” tanya Rendra dengan nada sangat malas, karena sebenarnya Rendra juga ingin rebahan dan tidur. 


Cyntia juga ikut melepas kaftanya dan tersisa kaos pendek dan celana legging. 


“Nggak usah ngetawain gue!” bentak Cyntia tiba- tiba karena merasa insecure sendiri setelah hamil badanya melar, bahkan meski hamil baru 4 bulan perut Cyntia sudah melebar karena makanya juga banyak. 

__ADS_1


“Astaga, siapa yang ngetawain sih?” jawab Rendra serba salah, padahal Rendra hanya sedikit memperhatikan perubahan bentuk tubuh istrinya. 


“Kamu pasti mau ngatain aku gendut kan? Jujur!” bentak Cyntia lagi. 


“Astagah... pusing gue ngomong sama lo? siapa yang ngatain sih? Dari tadi gue diam aja, juga!” jawab Rendra lagi. 


“Nggak tadi aku liat, tatapanmu aneh!” jawab Cyntia masih suudzon.


“Allohu akbar! Lo jadi minta pijitin nggak nih? Kalau nggak gue keluar gue mau tidur, gue ke balkon aja deh!” jawab Rendra akhirnya putus asa ngadepin Cyntia. 


“Ya jangan, kakiku, pantatku punggungku pegal semua, tanggung jawab, gue kan begini karena lo!” gerutu Cyntia lagi. 


“Iya... ya sini gue pijitin!” jawab Rendra mengulur sabarnya lagi. Pokoknya semua salah Rendra.


Cyntia menempatkan diri di ranjangnya untuk dipijit, meski dengan malas Rendra menuruti semua keinginan Cyntia.


Sampai lama dan tangan Rendra pegal, Cynta tidak ada cukupnya ingin terus dipijit. Bahkan mereka pijitan dengan berbagai posisi, mulai dari duduk rebahan duduk rebahan, tidak ada berhentinya.


“Bukan sebelah situ! Sebelah sini!” gerutu Cyntia kesal karena lama- lama pijatan Rendra tidak berasa dan tanganya berhenti di satu tempat tanpa bergerak.


Cyntia membalikan badanya dan ternyata Rendra sudah melongo tertidur. 


“Haish... dia tertidur!” gumam Cyntia dalam hati. 


Cyntia kemudian diam melihat wajah lelah Rendra yang tertidur di sampingnya. Ditatapnya lekat setiap pahatan wajah Rendra. 


“Meski mulutnya dulu sangat pedas, tapi sebulan terakhir ini, dia sangat patuh dan mengikutiku, Dia sangat berbeda dengan Nicho. Dia suami yang baik. Sangat baik!” gumam Cyntia tersenyum menyadari kebaikan Rendra.


Cyntia kemudian mendekat ke Rendra, tanpa sadar Cyntia mengulurkan tanganya, menyentuh dan membelai pipi Rendra, kemudian ke atas dan membelai rambutnya.


“Kalau sedang tidur begini dia tampan!” batin Cyntia lagi tersenyum. Tiba- tiba Cyntia merasakan perutnya kedutan. 


“Apa ini gerak bayiku?” gumam Cyntia menyentuh perutnya, kata dokkter usia 4 bulan Cyntia akan mulai merasa kedutan dan semakin lama akan semakin keras seperti tendangan. 


Cyntia pun tersenyum lebar, bayinya mulai tumbuh dan mulai merasakan dia protes karena ibunya sudah banyak menyiksa ayahnya. 


“Apa kamu tidak terima Momy bikin Daddymu lelah? Mommy kan belajar darimu? Kamu juga kan yang bikin Daddy mabok, hihi!” batin Cyntia tersenyum sendiri mengelus perutnya seaakan sedang bersekongkol dengan putrinya. 


Cyntia juga senang karena dia tidak ngidam malah Rendra yang sakit-sakitan dan dibuat ribet. Anaknya memang sangat berpihak pada Cyntia. 


“Oke... sekarang kita kasihani ayahmu ya!” batin Cyntia lagi, lama- lama kasihan melihat Rendra. 


Cyntia pun membetulkan posisi tidur Rendra memakaikan bantal dengan benar. Menyalakan ac dengan suhu yang standar.

__ADS_1


Cyntia ikut tidur di samping Rendra dan memakaikan selimut untuk mereka berdua.  Bahkan tanpa ragu Cyntia memeluk tubuh Rendra.


Saat Cyntia memegang- megang pipi Rendra, Rendra terbangun tapi dia diam saja. Setelah membiarkan Cyntia memeluknya, Rendra pun tersenyum lega dan senang.


__ADS_2