
Alarm alam berbunyi, Mbok Mina yang terbiasa bangun pagi bekerja pun bangun. Pangeran yang dilatih bangun pagi juga tersadar dari tidurnya.
“Ibu...” gumam Pangeran mencari ibunya.
Semalam kan Pangeran tidur bareng Kia kenapa sekarang dia sendirian.
“Ibu kemana?” lirih Pangeran bangun kehilangan ibunya.
Pangeran yang masih kecil kemudian berjalan mencari ibunya. Pangeran bingung mau apa? Kebiasaan di kota Y, mereka akan sholat bersama.
“Apa ibu di kamarnya yah?” batin Pangeran kemudian berjalan ke kamar ibunya.
Pangeran kan semalam tidak ketemu ayahnya, Pangeran tidak berfikir boleh atau tidak ke kamar orang tuanya, yang pasti mau ketemu ibu ayahnya.
“Thok... thook..!” Ipang mengetuk pintu kamar ibunya sesuai nasehat Aslan, tapi tak kunjung dibuka.
“Kata Ibu dan kata Mbok kemarin aku boleh masuk!” batin Pangeran.
Pangeran kemudian masuk ke kamar Kia. Dia masuk dan berjalan tanpa dosa.
"Kenapa setelah menikah ibu jadi payah sih? Bangunya telat terus!" gerutu Ipang. Di Kota Y, kan Kia selalu bangunin Ipang duluan, menyambut paginya Ipang, menyiapkan makan dan pakaianya.
Sekarang ibu dan ayahnya masih terbalut selimut rapat. Ibunya tampak nyaman bergelung dalam pelukan ayahnya, hal yang baru Ipang lihat sekarang. Pangeran pun mendekat dan naik ke atas kasur ayah dan ibunya.
“Ibu... ayah bangun!” ucap Pangeran membangunkan ibu dan ayahnya menarik selimutnya.
Kia dan Aslan pun kaget begitu juga Pangeran. Aslan dan Kia lagi- lagi lupa menutup pintu. Ipang kaget Ibu dan ayahnya ternyata tidur tanpa busana.
“Ipang?” pekik Kia mengerjapkan matanya dan reflek menarik selimutnya.
“Ibu dan ayah nggak masuk angin? AC nya dingin, kok nggak pakai baju?” ceplos Ipang jujur.
“Ehm... ehm...!” Kia berdehem mencubit paha suaminya agar tersadar dan bantuin Kia menjawab
“Oh AC nya udah nyala ya? Semalam belum nyala sayang, makanya ayah sama ibu nggak pakai baju, gerah!” jawab Kia berbohong.
"Oh gitu?"
“Anak ayah udah bangun? Ayah pernah bilang kan? Kalau mau masuk kamar ayah ketuk pintu dulu!” jawab Aslan ngawur lagi. Kia pun mencubit lagi kok malah marahin Ipang lagi.
“Ipang udah ketok- ketok lama Yah!” jawab Pangeran membela diri.
“Nggak apa- apa Sayang! Maafin Ibu dan ayah ya, nggak denger!” jawab Kia membela Ipang.
“Ayo bangun sholat Bu. Kan ada ayah sekarang, ayah jadi imam!” ucap Pangeran masih polos tidak tahu kalau ayah dan ibunya dilanda malu untuk kedua kalinya.
“Iyah, ibu dan ayah ambil air wudzu, kita sholat di ruang tengah ya! Ipang tunggu di sana ya!” tutur Kia memberitahu.
“Ya Bu! Ibu leher dan ininya kenapa? Ibu gatal? Apa sakit?” tanya Pangeran polos menunjuk bagian bawah leher Kia. Ipang melihat leher ibunya penuh warna merah. Dan itu baru kali ini.
Kia kemudian nyengir dan melirik suaminya.
“Ibumu tadi malam sakit makanya di kerikin!” jawab Aslan.
“Oh, ibu sakit? Tuh kan? Kalau sakit tidurnya pakai baju ya Bu jangan kaya gini! Ayah gimana sih! Ipang nggak mau ibu Ipang sakit! Kalau Ac di sini mati, ibu nggak usah pindah, tidur di kamar Ipang aja!” ucap Pangeran lagi dengan polosnya memarahi ayahnya yang dianggap tidak biaa jaga ibunya.
Kia dan Aslan kemudian sama- sama mengelus tengkuknya merasa malu dan bingung jawabnya lagi. Pangeran dibilang kecil tapi sudah di atas balita dibilang besar tapi masih polos dan rasa penasaranya tinggi.
__ADS_1
"Mmwah, Sayangnya ibu memang pintar makasih ya!" ucap Kia mencium Pangeran sambil memegangi selimutnya agar buah ranumnya yang juga sudah penuh bercak merah tak terlihat Ipang.
"Ya udah ayo Bu! Bangun!"
“Iya...ya udah Ipang duluan sana ke tempat sholat! Tunggu Ibu dulu ya, sana wudzu dan siap- siap sholat dulu!” ucap Kia mengusir Kia halus.
“Iya Bu, Ayah jaga Ibu ya Yah. Ibu kan lagi sakit! Awas!” tutur Pangeran lagi dengan gaya jagoanya.
“Siap Bos!” jawab Aslan sambil memperagakan hormat pada atasan.
Pangeran pun keluar berjalan sendirian ke ruangan khusus tempat sholat mereka.
Pangeran wudzu sendiri, menggelar sajadahnya sendiri bahkan Ipang juga meyiapkan sajadah untuk ayah dan ibunya.
Lama Pangeran duduk sendiri tapi ayah dan ibunya tak kunjung datang sampai Ipang ketiduran lagi di atas sajadahnya. Teenyata ayah dan ibunya mandi wajib dulu.
“Ya ampun, Bang! Tuh liat kasian anak kita!” ucap Kia kesal ke Aslan bahkan di kamar mandi masih egois mengikuti dorongan hasraaatnya tidak ingat anaknya. Pangeran sampai ketiduran lagi sendirian pula.
“Ehm...!” Aslan berdehem diam merasa bersalah.
“Lain kali juga, kalau habis begituan langsung bersih- bersih dan pakai pakaian lagi, jangan langsung tidur! Ingat waktu juga!” omel Kia kesal. Aslan benar- benar dikasih hati minta ampela masa semalam maksa minta tiga kali.
“Sudah- sudah ayo sholat!” jawab Aslan tidak mau dipojokan terus. Dasar Aslan.
Akhirnya mereka membiarkan Pangeran tidur toh Pangeran belum akhil baligh.
****
Pagi nya.
Rendra yang memeriksa hasil konferensi persnya merasa bangga dengan dirinya yang tampak tampan di kamera. Dia juga bisa melakukan seperti yang Cyntia lakukan. Bukan hanya Cyntia yang jadi tante yang baik. Rendra jadi Om yang baik juga untuk Pangeran.
“Ah mungkin dia udah liat gue! Dia pasti ngefans lagi kan sama gue?” batin Rendra Gr, merasa dirinya tampan maksimal.
“Gue harus temui dia!” batin Rendra lagi.
Entah kenapa Rendra gatal ingin mengatai Cyntia. Seharian kemarin Rendra tak menghina Cyntia, bahkan ketemu pun tidak.
Rendra kemudian mandi pagi- pagi dan berdandan rapih. Rendra tak memakai jas dan kemeja, melainkan memakai kaos casual bermerek dan celana chinos selutut, tapi rambutnya tetal disisir wangi dan rapih.
“Duh! Apa alasanku ke sini ya?” batin Rendra bingung dan kikuk di depan pintu apartemen Cyntia.
“Minta maaf? Minta bantuan? Atau pinjam sesuatu? Sssshhh Ah! Dia pasti akan ke gr an?” batin Rendra bingung berputar- putar di depan pintu apartemen Cyntia.
Rendra sampai jongkok berdiri jongkok dan plintat plintut di depan pintu itu, seperti orang hilang.
“Aku tanya saja persiapan ke resepsi Aslan aja kali ya?” batin Rendra menemukan ide.
Tangan Rendra pun terulur memencet bel apartemen Cyntia belum mendapat jawaban, dari belakang Rendra seseorang menyapa.
“Den Ganteng temanya Den Aslan?” tanya Mbak Narti menenteng belanjaan.
Rendra pun menoleh kaget dan malu.
“Ah iya Mbok?” jawab Rendra.
“Bener kan? Temenya Den Aslan?” tanya Mbak Narti.
__ADS_1
“Iya bener!”
“Waaah kok ada di sini? Cari Non Cyntia ya?” tanya Mbak Narti.
Rendra pun semakin plintat plintut. Mau jawab Iya gengsi, mau jawab enggak, udah ketahuan. Belum Rendra menjawab Mbok Narti memberitahu.
“Neng Cyntia udah berangkat pagi- pagi. Katanya ada pemotretan iklan sama ada kontrak bintang tamu, terus siang juga ada meeting. Setelah itu juga dia ada janji sama temanya!” ucap Mbak Narti memberitahu jadwal Cyntia yang padat merayap selayaknya bintang kelas atas.
Rendra sampai menelan ludahnya. Cyntia sesibuk dan setenar itu ternyata.
“Oh gitu ya Mbok?” tanya Rendra.
“Iya. Ada perlu apa ya? Biar saya sampaiakan nanti?” tanya Mbak Narti.
“Nggak, nggak ada!” jawab Rendra kecewa lalu balik ke apartemenya.
“Lhoh! Den temanya Den Aslan tinggal di sini?” tanya Mbak Narti.
“Iya!” jawab Rendra menutup pintu apartemenya.
“Waah jodoh!” guman Mbak Narti tersenyum lalu masuk ke apartemen Cyntia bersiap melakukan pekerjaanya.
Entah kenapa Rendra sangat kecewa tidak berhasil menemuia Cyntia. Dia juga merasa kalah,Cyntia ternyata sehebat itu. Bahkan karena kekecewaan Rendra itu, Rendra jadi hilang mood. Rendra tidak menyadari kalau dirinya kini kena penyakit yang dinamakan rindu.
Rendra kemudian berangkat ke kantor Aslan bersiap bekerja. Rendra bekerja dengan sangat lemas dan muka bete. Bahkan tidak Rendra sadari dari tadi Rendra mainan ponsel terus dan berulang kali scroll scrool media sosial dimana di situ uploadan wajah Cyntia yang sedang menjadi trending topik seperti dirinya. Tak bosan- bosanya Rendra memandangi Cyntia di media sosial.
"Dia memang cantik ternyata!" batin Rendra.
Sementar Aslan datang ke kantor denga aura yang berbeda. Aslan tampak sangat bersemangat dan berwajah cerah. Sampai dia memeriksa laporan tanpa lelah dan mengeluh.
“Lo kenapa sih wajahnya ditekuk gitu? Manaa proposalnya, siang ini harus selesai, sore nanti kita berangkat!” ucap Aslan bersemangat dan mengatai Rendra yang bermuka bete.
“Kenapa nggak kita bahas sepulang dari Pulau D aja sih? Gue pulang dulu ya?” jawab Rendra tidak tahu diri ingin bolos kerja.
Aslan langsung memukul dengan kertas.
“Enak aja lo! Pulang! Selesaikan kerjaan!”
“Tuan Aslan terhormat, tolong jangan gila kerja, besok pagi hari pernikahanmu dan resepsimu, berliburlah! Please ya! Kenapa kau sangat semangat sekali bekerja!” ucap Rendra memohon dan mengiba, Rendra ingin ke apartemenya dan menunggu Cyntia pulang lewat depan apartemenya.
Aslan mendelik dengan tatapan tajamnya menusuk ke Rendra.
“Tidak! Selesaikan pekerjaan sebelum dzuhur!” ucap Aslan tidak mau tahu.
Rendra pun menelan ludahnya, kenapaa Aslan sangat bersemangat sekali?
Aslan pun menatap curiga, kenapa Rendra jadi lancang dan pemalas begini?
****
Kakak
Meski mungkin nupel aku masih sepi. Tapi kami sesama author kan emang saling bantu, dan gantian bergilir.
Mohon maaf atas ketidaknyamananya jika banyam Iklan.
Jika tak berkenan boleh lewat, alangkah terimakasihnya jika mau mampir dan tengok2..
__ADS_1
Makasih ya.