Sang Pangeran

Sang Pangeran
166. Cerita Aslan.


__ADS_3

Cyntia menutup pintunya pelan setelah punggung Rendra menghilang. Seharusnya Cyntia biasa saja, tapi entah kenapa, Cyntia merasa ada yang sakit di dadanya. Benarkah, Rendra akan semudah itu, melupakan apa yang terjadi dengan mereka, meskipun setengah sadar, tapi Rendra tau kan apa yang sudah terjadi dengan mereka? Bahkan minta maaf saja tidak, apalagi berterimakasih dan beritikad baik. 


Demi menjaga harga diri, Cyntia memang bisa bersikap berani pada Rendra, tapi sebagai perempuan baik- baik, meski janda tetap saja apa yang terjadi pada Cyntia menorehkan dan meninggalkan jejak mendalam. Cyntia bukan tipe gampangan, bahkan pada saat dia menjadi sugar Baby Cyntia juga menjaga. 


“Dasar grandong!” umpat Cyntia kesal sambil berjalan masuk ke apartemenya. 


Di tengah lamunanya, Cyntia berjingkat, Cyntia terperanjak dan kaget. Betapa tidak teman gesreknya yang membuatnya khawatir kini berkacak pinggang menunggunya dengan tatapan menghakimi. 


“Hoh! Shela!” ucap Cyntia spontan mengelus dadanya dan memperhatikan Shela dari ujung kepala sampai ujung kaki. 


“Ehm!” Shela justru hanya mendelik. 


“Lo baik- baik aja? Lo boongin gue?” tanya Cyntia kaget mendekat ke Shella dan memutar badan Shela.


“Harusnya yang tanya gitu tuh gue! Lo udah bohongin gue! Gini lo ya? Pantes lo rekam- rekam si selebgram itu? Ternyata? Lo mau embat juga pacarnya, pantes!” omel Shela, ke Cyntia. 


Cyntia mendadak pucat berarti Shela dengar semuanya. 


“Bilangnya kesel, bilangnya laki- laki saraf, apaan lo doyan juga! Tidur bareng lagi” ejek Shela lagi.


Mau ngelak, Cyntia sudah kalak telak, akhirnya Cyntia tidak menjawab dan langsung membekap mulut Shela yang comel. 


“Iiiih cerewet banget sih Lo, ini bukan seperti yang lo liat gue bisa jelasin!” ucap Cyntia malu dan kesal. 


“Emmpt” Shela langsung melawan dan membuang tangan Cyntia. 


“Gue nggak percaya lagi sama Lo! Udah gue mau cabut aja!” ucap Shela ngambek merasa dibohongi Cyntia. 


Cyntia kemudian menarik tangan Shela mencegah dia pergi. 


“Gue nggak bohongin Lo, suer, dia mabuk!” ucap Cyntia. Shela kemudian diam dan balik kanan menatap Cyntia diam. 


“Lo nggak usah ngambek gitu? Percaya sama gue!” ucap Cyntia lagi. 


“Hmm!” Shela hanya berdehem. 


“Ya udah kalau lo ngambek sama gue, sok aja pergi, gaji lo gue anggap lunas ya!” ucap Cyntia cerdas. Masa iya Shela ninggalin Cyntia hanya karena itu. 


Benar saja, Shela justru tersenyum dan memeluk Cyntia erat. Cyntia yang tadinya pucat dan malu malah jadi heran sendiri. 


“Lo waras kan? Lo kenapa sih?” tanya Cyntia sambil melepas pelukan Shela. 


“Lo keren banget Cyn! Mana bisa gue ninggalin artis sekeren Lo!” ucap Shela berubah jadi centil.


“Hoh!” Cyntia terbengong dan tertawa kecil, mengernyitkan keningnya. Shela aneh.  “Keren apanya?” tanya Cyntia tidak mengerti.


“Kedatangan gue kesini, ganggu waktu kalian berdua ya? Harusnya lo bilang sama gue kalo lagi ***_*** sama dia, jadi kan gue nggak kesini! Lo lanjutin aja. Gue cabut dulu!” ucap Shela di luar dugaan Cyntia. 


Mendengarnya membuat Cyntia gemas dan langsung menarik kedua pipi gembul Shela. 

__ADS_1


“Auww! Iiih!” pekik Shela menyingkirkan tangan Cyntia.


“Keep silent! Ini nggak seperti yang lo liat!” 


“Gue denger semuanya Cyn, kalian udah gituan kan? Nggak apa- apa jujur aja. Lo keren banget kalau lo bisa rebut dia dari si Meta itu, gue dukung lo!” ucap Shela lagi menggebu- gebu. 


“Ih, Lo apa- apaan sih? Nggak! nggak ada rebut- rebutan, di antara kita nggak ada apa- apa!” ucap Cyntia menyangkal.


“Lo tidur bareng, Cyn! Lo masih bilang nggak ada apa-apa?” tanya Shela dengan mata melotot.


“Semalem gue nggak sengaja ketemu dia, dia mabuk, dan dia perkosa gue. Mobil dia ngehalangin mobil gue!” ucap Cyntia lagi tetap mengelak. Bukanya mendengarkan, Shela menutup kupingnya. 


“Gue nggak peduli. Yang gue tau lo tidur dengan Si Rendra ganteng itu. Lo masih waras kan, bukan perempuan murahan yang obral barang lo dan open bo? Berhubungan badan! Fiks, Lo harus dapetin dia!” ucap Shela lagi.


“Hiiish!” desis Cyntia lagi memukul Shela. "Apaan sih. Ngaco. Nggak! Ini kesalahan, dan cukup diakhiri dan dilupakan!" ucap Cyntia lagi.


“Udah sih, biasa aja, ngaak usah malu. Pokoknya gue dukung kalian, gue siap buat nunggu go publiknya kalian berdua! Sekarang lo mandi! Setengah jam lagi jam meeting kita bareng Pak Dewa, cepet!” 


“Shel! Tapi ini sungguh nggak seperti yang lo kira, Rendra mabuk!” 


“Mandi nggak!” 


“Oke gue mandi, tapi please lo percaya gue!” 


“Mandi!” 


“Shel, please, jangan sampai Kia tau, apalagi orang lain!” 


“Yaya!” 


Cyntia tidak berkutik, segimana ngejelasin, kenyataan Cyntia memang kepergok. Cyntia kemudian mengambil pakaianya dan masuk ke kamar mandi untuk bersiap bekerja. Masa bodo anggapan Shella, Shella kan gesrek yang penting Aslan dan Kia jangan sampai tau.


*****


Di rumah Ipang. 


“Abang, hari ini agak sibuk, kemungkinanan pulang telat, kamu rencananya mau apa?” tanya Aslan ke Kia yang sedang memakaikan dasi ke dirinya.


“Yang penting Abang ingat Ipang ya, Abang dateng!"


"Ya!"


"Kia di rumah, nyiapin buat nanti malam Bang. Ipang nanti malam pulang, kan? Oh ya, Kia punya permintaan buat Abang!” tutut Kia merapihkan karena dasinya sudah terpasang. 


“Apa?” tanya Aslan menatap istri cantiknya yang kini berdiri di depanya dengan rambut panjang tergerai masih sedikit basah dan mengenakan dress cantik berwana biru muda. 


Kia dan Aslan masih belum membuka media sosial atau televisi. Seusai menyenangkan suaminya, Kia dan Aslan langsung mandi dan bersiap- siap bekerja. Padahal wartawan sedang sibuk mencari keberadaan Aslan, mengorek pekerjaan dan kehidupanya. Mereka berdua malah tenang- tenang saja. 


“Pelan- pelan ya, sampai Ipang sekolah, kita nanti tidur bareng bertiga!” tutur Kia lembut malah membahas tentang kepulangan putra mereka nanti malam.

__ADS_1


“Tapi Ipang sudah besar, Sayang. Kita juga harus ajarin Ipang untuk mandiri dan berani!” jawab Aslan berbeda pandangan dengan istrinya.


“Iya, Kia ngerti, Kia juga udah ajarin, agar Ipang punya kamar sendiri. Tapi kan Ipang cukup lama di karantina, Bang. Ipang juga bertahun- tahun nunggu ketemu Abang, ngerasain punya orang tua yang utuh. Kia kangen Ipang Bang, Ipang juga pasti kangen Kia dan Abang. Biarin yah sampai Ipang sekolah kita tidur bertiga!” tutur Kia memberi pengertian.  


Aslan menghela nafas  menyadari keegoisanya. Aslan berfikir anaknya sudah besar dan hanya memikirkan dirinya penganten baru harus mendapatkan apa yang seharusnya didapat. Padahal di antara mereka ada makhluk lain yang harus dipikirkan juga agar beradaptasi dan mendapatkan haknya.


“Iya, maafin Abang nggak berfikir kesitu. Abang juga kangen kok sama Pangeran, yang penting kamu ingat kewajiban kamu ke Abang ya!” tutur Aslan lagi. 


“Hemmm!” jawab Kia manyun dengan mata mendelik, nggak ada materi lain apa di otak Aslan. “Hal seperti itu kan fleksibel Bang! Bisa diatur!” jawab Kia. 


“Abang kan juga lama nunggu kamu dan nyari kamu!” jawab Aslan. 


“Ya Ipang kan anak Abang!” 


“Iya, Abang setuju, Abang minta maaf, tapi kamu juga harus mikirin Abang!” 


“Yaya! Kia ngerti kok, nggak usah dijabarin” jawab Kia kesal. 


“Gitu dong! Ya sudah, abang berangkat ya! Cup” pamit Aslan menarik kepala Kia dan memberinya kecupan. 


“Abang, kan belum sarapan! Sarapan dulu!” ucap Kia mengingatkan. 


Aslan kemudian melihat jam tanganya. Ternyata masih ada waktu 30 menit. 


“Ya, Sayang, ayok!” jawab Aslan mengangguk. Lalu mereka berdua keluar kamar menuju ke ruang makan. 


“Oh ya, Bang, Kia dikasih tau dong, isi berkas yang dibawa pak pengacara itu apa sih?” tanya Kia sambil berjalan ke ruang makan. 


“Kamu masih mau tau?” tanya Aslan menyindir. 


“Ya masih lah Bang! Emang Kia nggak boleh tau ya? Katanya Kia istri yang Abang cinta, Kia juga pengen tau tentang Bapak.” 


“Kirain nggak penting, sampai ke kamar mandi lama banget!” sindir Aslan lagi. 


“Astaghfirulloh!” gerutu Kia mencubit pinggang Aslan. “Masih bahas juga, kasih tau nggak? Penasaran nih!” ucap Kia manyun. 


Aslan kemudian menatap Kia tajam, dan diam sejenak. Mereka sampai di meja makan. Aslan menarik kursinya, duduk. Kia mengikutinya dan menyiapkan piring sambil menunggu jawaban Aslan. 


“Alex, yang bunuh Ayang abang!” ucap Aslan kemudian. 


“Woah, ayah mertua dibunuh?” tanya Kia syok. 


“Pak Tiko itu supir ayah Abang. Papa , Alex dan Ayah mereka bersahabat, mereka merintis Nareswara bersama, dan ayah Abang sebagai pencetus, dan pemodal utama. Dulu namanya bukan Nareswara, tapi Surya Pustaka! Suatu hari, Alex melakukan kecurangan, dan mempunyai perbedaan pendapat dengan ayah. Alex ingin mencetak majalah- majalah dewasa yang waktu itu rame di pasaran. Tapi ayah Surya tidak setuju, Ayah Surya justru mempunyai kebijakan sendiri sehingga mereka bertengkar!” 


“Hoh lucu sekali!” ucap Kia menanggapi, ternyata sejahat dan sekotor itu cara orang tua Paul mencari nafkah. Pantas Paul jadi seperti itu. 


“Alex tetap sesuai pendirianya. Sampai pada suatu hari, Alex kena teguran dari beberapa ormas agama dan pemerintah. Ayah menyelamatkanya, tapi jabatan Alex diturunkan. Alex tidak terima karena dia dijadikan pegawai rendahan. Sehingga dia merencanakan balas dendam dan ingin merebut kembali jabatanya!” sambung Aslan lagi. 


“Astaga! Terus apa hubungan Tuan Agung dan Bapak, Bang?” 

__ADS_1


“Ayah mertua mendengar dan mengetahui semua yang Alex lakukan dan rencanakan. Hari itu, sebenarnya, Ayah Abang juga pergi bersama Pak Tiko. Papa bantu Alex, membawa pergi Pak Tiko agar Alex berhasil menjalankan rencananya.” 


“Astaghfirulloh!” ucap Kia lagi tidak menyangka. “Lalu isi berkas- berkas itu apa Bang?” 


__ADS_2